Takut Menikah

Takut Menikah
Gara-gara motor


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang sekaligus akan menjadi makan malamnya, Karenina melanjutkan pekerjaannya. Dia jadi semangat kembali setelah perutnya kenyang. Hari ini mereka lembur lagi untuk melanjutkan rancangannya agar proyek yang sudah jatuh ke tangan mereka bisa di kerjakan tepat waktu.


“Ayo pulang, besok kita lanjutkan lagi”, Rendra membubarkan anggotanya ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


“Nin, kamu bawa motor?” tanya Juwita “Bawa, kenapa?”, katanya balik bertanya.


“Nggak apa-apa, tanya aja”


“Ohh”.


Seperti biasa saat mengendarai motornya, Karenina akan menggunakan keahlian tersembunyinya sebagai seorang pembalap. Dari jauh Karenina sudah melihat trafigh light sudah berwarna kuning dia melajukan motornya agar tidak sampai mendapat lampu merah, namun sayangnya sebelum dia melewati zebra cross lampunya sudah berganti merah.


Suara berdecit membuat pengandara lain berbalik ke arahnya, tidak terkecuali sebuah mobil mewah yang tadi menjemput dan mengantarnya tapi wanita itu tidak menyadarinya.


“Tuan, bukankah itu nona Karenina?” William sudah mengeraskan rahangnya saat dia menoleh ke asal suara, dia membuka pintu mobilnya akan keluar tapi lampu sudah berganti hijau dan Karenina sudah kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


“Kejar dia Ryan”, Perintah William. Laki-laki itu sangat marah melihat cara Karenina membawa motor.


‘Memangnya dia pikir jalanan ini seperti sirkuit balapan’


“Baik, Tuan”. Ryan pun menambah laju kecepatan mobilnya dan baru berhasil mensejajari motor Karenina ketika hampir sampai di rumahnya saat jalanan sepi.


“Hadang dia, cepat”. Terdengar lagi suara berdecit. Motornya hampir saja menabrak mobil mahal William.


Setelah Karenina berhenti, William segera keluar dari mobil. Dia bisa mendengar sumpah serapah yang Karenina ucapkan.


“Will, apa yang kau lakukan. Kau mau membunhku, kalau aku menbrak mobil mu tadi…” William menarik tangannya dengan cepat turun dari motornya tidak lupa juga dia melepaskan helm Karenina dan melemparnya.


“Apa yang kau lakukan, kita jadi tontonan orang-orang”, William tidak perduli, dia membawa Karenina masuk ke dalam mobilnya dan mendudukannya di samping kemudi dan memakaikan sabuk pengaman untuknya.

__ADS_1


“Tuan, lalu saya pulang naik apa?” Ryan menjadi bingung saat William sudah mengambil alih tempatnya di belakang kemudi. William tidak memperdulikannya dan langsung melajukan mobilnya.


“Will, motorku”, rengek Karenina. Sekali lagi William tidak perduli, dia dengan wajah menakutkannya terus melajukan mobilnya.


“William…!” Karenina berteriak, William baru bereaksi. Dia melihat wanita itu sekilas dan meminggirkan mobilnya.


“Motorku. Lagi pula aku juga hampir sampai di rumahku tadi. Kau apa-apan sih”.


‘Kenapa wajahmu jadi menakutkan, kau yang harusnya takut aku marah karena sudah membuatku meninggalkan motor kesayanganku’


Ponsel William berdering, William menjawab panggilan dari Ryan tapi matanya menatap lekat kedua bola mata Kaenina.


‘Tuan kalau nona Karenina mencari motornya, katakan padanya kalau saya akan mengembalikan ke rumahnya’


“Bodoh, buang saja motor itu di laut. Kalau aku masih melihat motor itu aku akan melenyapkan kepalamu”.


Glek, Karenina yang mendengar menjadi gemetar sendiri.


Kembali pada Karenina yang antara marah dan takut.


“Kenapa kau membuang motorku, cicilannya baru lunas bulan lalu. Aku susah payah membayarnya setiap bulan dan kau malah membuangnya”. Karenina menangis tanpa dia sadari, mengingat pengorbanan yang dia lakukan menyisikan uangnya untuk liburan, membayar cicilan motor, bayar kontrakan dan juga mengirimkan uang pada Omnya yang sudah membesarkannya. Belum lagi untuk kebutuhan sehari-harinya, dan orang kaya ini seenaknya saja membuang hasil kerja kerasnya.


“Kau pikir nyawamu ada berapa, hah”. William tidak tersentuh denga air matanya dan malah suaranya makin meninggi. “Mulai sekarang kau tidak boleh naik motor lagi”. Katanya kemudian dengan suaranya yang masih mempertahankan volumenya. Dia lalu kembali melajukan mobilnya.


“Kau fikir aku itu sama seperti mu, punya mobil dan sopir yang bisa mengantarmu kemana saja” Karenina masih terisak. Sudah dua kali dia bertemu William hari ini, dan dua kali pula laki-laki itu membuatnya menangis.


“Aku akan mengirimkan mobil dan sopir untukmu mulai besok. Dan untuk harga motormu, aku akan menggantinya”.  


Air mata Karenina jaut semakin deras, hatinya merasa terluka mendengar setiap kata yang keluar dari mulut pedas William. Bukan tentang nilai uangnya, tapi itu menjadi bukti dari kerja kerasnya dan laki-laki sombong itu seperti tidak menghargai setiap keringat yang dia keluarkan untuk membayar motornya itu.

__ADS_1


“Aku mau pulang”, suara serak Karenina mengalihkan pandangan William ke padanya. William membuang nafas kasar dan memutar mobilnya. Isak Karenina tidak terdengar lagi selama perjalanan mengantarnya kembali ke rumah kontrakannya.


Mobil William berhenti tepat di depan pagar besi warna hitam. Entah bagaimana caranya William bisa tahu alamatnya.


“Karenina, aku tidak bermaksud melukai hatimu dengan tidak menghargai kerja kerasmu. Percayalah, aku juga seorang pekerja keras sepertimu. Aku hanya tidak mau kau mencelakai dirimu dengan caramu membawa motor, aku tidak mau kau melukai dirimu. Maafkan aku”. Amarah William sudah mereda, tapi wanita di sampingnya tidak akan semudah itu memafakannya.


Buktinya, dia keluar dari mobil William tanpa mengatakan apapun dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa berbalik atau menunggu William meninggalkan lebih dulu.


“Nina, kamu dari mana?” Rara yang sejak tadi menunggunya langsung menghampirinya ketika wanita itu membuka pintu. Pandangan Rara lalu terarah pada mata sembab dan pipi basah Karenina.


“Kamu kenapa?” Karenina kembali menjatuhkan air matanya, dia bersandar di dada Rara tanpa aba-aba.


“Nina, kamu kenapa?” Rara menjadi panik dan memeluk wanita itu. ini pertama kalinya dia melihat seorang Karenina menangis. Karenina masih terisak saat Rara meninggalkannya ke dapur  mengabilkan minum untuknya.


“Kamu nggak mau cerita?” tanya Rara lagi yang kesekian kali, sambil mengambil gelas dari tangan Karenina yang tidak di minum airnya.


“Motor ku hilang”, jawabnya setengah jujur.


“Astaga, kenapa bisa?” pekik Rara. “sudah lapor polisi?”


‘Apa bisa aku melaporkannya, kan tidak ada bukti. William, aku sangat membencimu sekarang’


“Nggak usah, aku sudah ikhlas kok” katanya menghindari lebih banyak pertanyaan Rara. “Nggak usah cerita sama Merry ya, pliss”. Katanya lagi sebelum masuk ke dalam kamar. Rara mengangguk sebagai jawaban walaupun dia tidak yakin bisa menyimpannya dari Merry lebih lama.


“Dasar William brengsek, brengsek”, Karenina terus memaki William, laki-laki seenaknya seperti William memang pantas di maki kan.


Saat Karenina sedang menangis sambil memakinya dengan sumpah serapah, laki-laki itu juga sedang merasa ada yang tidak nyaman di hatinya.


‘Kenapa aku bisa seperti ini padanya, kenapa aku sangat marah melihatnya membawa motor seperti orang kesetanan. Hatiku juga sakit melihat air matanya tadi. Sial, sejak kapan aku perduli pada orang lain selain keluargaku’

__ADS_1


Laki-laki itu mendesah, dia juga tidak mengerti dengan perasaanya pada Karenina. Dia awalnya hanya penasaran dengan keseharian wanita itu dan entah kenapa setelah dia melihatnya begitu berbeda saat mereka di Bali membuat dirinya semakin penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi.


William naik ke tempat tidur dan berusaha memejamkan matanya sama seperti yang Karenina lakukan saat ini. Dua anak manusia itu sedang mencoba melupakan kejadian hari ini yang menguras emosi masing-masing dengan perasaan yang berbeda. 


__ADS_2