Takut Menikah

Takut Menikah
Maukah kau menikah denganku


__ADS_3

Karenina meninggalkan dapur dalam keadaan berantakan, William tidak protes dan dengan sabar membersihkan dapurnya.


“Will bantu aku, lakukan sesuatu agar Halim tidak menggangguku lagi”. Mereka sedang duduk di ruang tengah, memutar film tapi tidak benar-benar menontonnya.


“Aku sudah punya cara agar dia tidak mengganggumu lagi, dan aku pikir hanya itu satu-satunya cara”, William tersenyum menyeringai terlebih melihat Karenina yang mengangguk-angguk setuju tanpa mendengar apa rencananya.


“Aku setuju, apapun asal dia benar-benar pergi dari hidupku”


“Kau sudah setujukan, jadi tidak boleh menolak lagi”, Karenina lagi-lagi mengangguk dengan pasti.


“Tapi aku puya satu syarat?”


“Apa?”


“Kau harus tinggal disini mengurusku dan apartemenku, Bi Mar sudah tua, kasihan kalau dia masih bekerja”.


Karenina mendesah, “syaratmu terlalu berat, aku tidak sanggup”, katanya melipat tangannya di atas perut.


“Ya sudah kalau kau tidak mau, aku juga tidak memaksamu. Tapi aku akan jadi penonton saat mantan pacarmu itu menyeretmu pulang”.


“Benarkah, kalau begitu aku akan pergi ke tempat dimana kau dan dia tidak akan menemukanku. Kau dan aku tidak akan pernah bertemu lagi”.


Karenina lalu bangkit, dia bermaksud membereskan semua barangnya dan pergi sejauh mungkin. Ada sedikit kecewa di hatinya melihat William tidak mau membantunya.


“Aku hanya bercanda, kenapa kau suka sekali menanggapi candaaku dengan serius”, William menarik tangan Karenina sehingga wanita itu jatuh terduduk di atas sofa.


“Maksudmu? Kau mau membantuku?”


“Mana mungkin aku akan membiarkan laki-laki itu membawamu pergi dariku, tidak ada yang bisa memisahkan aku darimu Karenina”.


Karenina terdiam sejenak, dia memandang William dengan tatapan yang aneh lalu melempari laki-laki itu dengan bantalan sofa setelah menyadari bahwa ucapan William sebelumnya hanya sebuah candaan.


“Aku pikir kau akan benar-benar meninggalkanku”, William tertawa terbahak-bahak di buatnya.


“Kau itu benar-benar bodoh, apa kau tidak bisa menyadari bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu?”. Karenina diam, dia tidak menjawab. Dia bisa melihat dan merasakan sedalam apa perasaan William padanya tapi masih enggan mengakuinya.


“Jadi apa rencanamu?” mereka sudah memperbaiki posisi duduknya, bantalan sofa yang tadi beterbangan sudah kembali pada tempatnya. William mengendikkan bahunya dan fokus pada layar besar di depannya seolah sedang serius menonton.


“Will…” katanya manarik-narik lengan William.


“Aku akan mengatakan rencanaku saat aku membawamu menemui ibuku”. Karenina mengibas-ngibaskan tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku tidak mau bertemu ibumu, dia pasti akan langsung mengusirku begitu melihatku. Aku tidak mau”, membayangkan tatapan merendahkan Mutiara waktu itu membuat Karenina merinding. Jika bisa, dia tidak mau lagi bertemu dengan Mutiara.


William membelai rambut panjang Karenina dan menatapnya dengan sayang kemudian tersenyum penuh makna, dia tidak sabar mempertemukan Karenina dengan orang tuanya. Hatinya sudah mantap untuk memilih. Dia merasa sangat bahagia pagi ini, saat bangun pagi melihat ada wanita yang di cintainya itu di sampingnya.


William ingin merasakan momen seperti ini setiap hari, dimana wanita yang di cintainya itu selalu berada di sampingnya, tidur di sampingnya dan makan bersamanya setiap hari. William ingin mengikat Karenina selamanya, tapi apakah Karenina akan bersedia?


Hari semakin beranjak senja, William berada di ruang kerjanya sementara Karenina sedang membalas pesan di grup chat kantornya. Dia rebahan di atas sofa di ruang tengah di temani semangkok ice cream vanila kesukaannya. William tadi pergi membelikannya setelah dia merengek seperti anak kecil.


Pintu ruang kerja William terbuka, dia tidak menguncinya hanya menutup rapat dan Karenina tidak masuk karena memang tidak mau mengganngu William. Laki-laki itu mendapati Karenina tertidur di atas sofa dengan mulut sedikit terbuka dan rambut yang terburai sampai menyentuh lantai.


 William memperbaiki letak kepalanya dan menyelimutinya kemudian beranjak ke dapur dan membuat makan malam untuk mereka berdua.


“Kamu masak apa?” Karenina terbangun, dia jatuh dari sofa karena kebanyakan gaya tadi saat tidur.


“Mandi sana, abis itu makan”, tidak mendengarkan William malah menarik kursi dan duduk manis.


“Makan dulu deh, mandinya sebentar aja”, katanya. “ini kamu yang masak?” tanyanya lagi. William sudah menyajikan dua piring spagheti di atas meja.


“Tadinya aku mau bikin steak, tapi dagingnya ternyata habis jadinya masak apa yang ada aja”


“Ya udah, habis makan kita belanja aja”, William mengangguk, mereka berdua makan dengan Karenina yang tidak berhentinya memuji masakan William. Padahal itu hanya spagheti yang bahan-bahannya sudah tersedia dalam kemasan siap saji.


Pintu apartemen William terus di ketuk dengan tidak sabaran, Karenina yang sedang membersihkan dapurpun berlari keluar dan membuka pintu. Lalu dia mundur beberapa langkah sesaat setelah membuka pintu itu.


“Kenapa diam di situ, ayo masuk” ajak Sebastian. Karenina berjalan di belakag Sebastian dengan menundukkan kepalanya.


Mutiara sudah duduk di sofa dengan memangku kaki dan tangan yang bersedekap di atas perutnya, Sebastian hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


“Kalian sudah datang”, William keluar kamar dengan penampilan yang lebih fresh. Dia mencium pipi kedua orang tuanya lalu menarik Karenina duduk di sampingnya.


‘Maskudnya William memang menunggu orang tuanya. Dia meminta orang tuanya datang saat aku ada disini. Dasar William brengsek’.


“Maaf aku baru bisa memperkenalkan kalian. Ayah, Ibu, ini Karenina calon istriku”. Mutiara bangkit, mengambil bantalan sofa dan memukuli William dengan bantalan itu.


“Kalau karyawan di kantor tidak ribut-ribut tentang kekasihmu, kami tidak akan tahu kalau kau sudah punya calon istri”


“Bu, malu di lihat Karenina”,


“Kau juga, kenapa tidak memperkenalkan dirimu sebagai calon istrinya kemarin, hah?”.


Karenina membuka mulutnya lebar-lebar, baru saja di depan pintu tadi Mutiara memasang wajah galaknya sekarang dia melihat wanita itu seperti layaknya seorang ibu yang cerewet karena sayang pada anaknya.

__ADS_1


“Makanya jangan sembunyikan apapun dari orang tuamu” Sebastian ikut berkomentar, dia melirik Karenina lalu memberikan calon menantunya itu senyum yang hangat.


“Maafkan Ibu ya, lupakan apapun yang dia katakan padau kemarin. Itu hanya tanda perkenalan darinya”. Kata Sebastian lagi. Mutiara menggeser William dan duduk di samping Karenina.


“Kau tidak marah pada Ibu kan?”


“I-ibuu???”


“Iya, Ibu. Memangnya kau mau panggil siapa”. Karenina menatap William penuh tanya, kekasihnya itu mengendikkan bahunya sambil tersenyum.


“Sudah ku bilang, Ibuku tidak seperti yang kau bayangkan”, kata William yang sudah kembali duduk di samping Karenina.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, Sebastian dan Mutiara akhirnya pulang. Tadinya mereka memaksa Karenina untuk tinggal bersama mereka karena tidak mau timbul fitnah jika saja mereka ketahuan tinggal bersama tanpa ikatan, Karenina tentu saja menolaknya, dia bisa bayangkan secanggung apa dia tinggal bersama keluarga Anggoro.


Sebastian dan Mutiara baru melepaskan mereka setelah William membisikkan sesuatu pada orang tuanya.


“Jangan melakukan hal-hal di luar batas”, tegas Sebastian sebelum meninggalkan sepasang kekasih itu.


“Aku tidak meyangka ibumu sebaik itu”, mereka sudah berada di atas tempat tidur. William masih sibuk dengan laptopnya, Karenina duduk bersandar pada kepala tempat tidur di samping William.


“Will, aku bicara padamu”, William masih diam, jemarinya masih sibuk menari di atas keyboard laptopnya. Karenina berdecak kesal lalu menarik selimut menutupi tubuhnya dan tidur dengan memunggungi William.


“Kau sudah tidur?” William selesai dengan pekerjaannya, dia sudah menyimpan laptopnya di atas nakas.


“Hei”,


“Kerja saja, aku mau tidur”, kata Karenina dengan ketus.


“Kau tidak mau tahu apa rencanaku?” Karenina membalikkan tubuhnya “Apa?” katanya penasaran. William mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibir Karenina.


“Menikah denganku”.


“A-apaa???”


“Nina, kau mau kan menikah denganku?”. Karenina mengerjapkan matanya berkali-kali, dia bangun lalu memperbaiki duduknya di atas tempat idur.


“Menikah?” tanyanya sekali lagi meyakinkan pendengarannya. William mengangguk pasti.


“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, tapi aku harap kau bisa menjawabku secepatnya. Aku mencintaimu”. William mengecup kening Karenina, wanita itu seperti patung yang sama sekali tidak bereaksi. William sudah menarik selimut meninggalkan Karenina dan tertidur lebih dulu, walaupun belum sepenuhnya terlelap.


‘Menikah? Denganku?’ Karenina melihat William yang tidur memunggunginya. Dia menghela nafas berat lalu kembali menjatuhkan dirinya di samping William.

__ADS_1


 


__ADS_2