Takut Menikah

Takut Menikah
Minta maaf dan berlutut


__ADS_3

Ririn masih terkurung di rumahnya, dia tidak berani keluar dari kamar orang tuanya sejak polisi datang mencarinya. Dia mondar-mandir berfikir bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah itu. sementara Hartono tetap bekerja seperti biasanya dan tidak perduli lagi pada anaknya. Toh dia memang harus bertanggung jawab pada kesalahannya, walaupun sudah sangat terlambat mengajarkan itu pada anaknya.


Ibunya masuk dan membawakannya makan malam, wanita itu mengambil nampan dari tangan ibunya dan memakan makanan itu. dia sama sekali tidak terlihat menyesal dan merasa bersalah sudah membuat kegaduhan seperti ini.


Pintu kamar terbuka membuat Ririn hampir saja melempar makanannya dan lari bersembunyi. Tapi yang masuk adalah Hartono membuatnya bernafas lega.


“Papa sudah fikirkan jalan keluarnya?” mendengar itu membuat Ririn tersenyum, dia yakin Ayahnya tidak mungkin akan membiarkannya di penjara.


“Apa, Pa” tanyanya dengan senyum manis.


“Ikut Papa ke rumah Tuan Anggoro, berlutut dan meminta maaf pada mereka dan juga pada calon istri William yang hampir saja kehilangan nyawanya itu”


Hartono sudah mendengar beritanya, terlambat di temukan sedikit lagi, Karenina mungkin akan kehilangan nyawa. Dia berkesimpulan kalau anaknya memang ingin melenyapkan wanita itu.


Ririn tertawa sinis mendengar usulan Hartono.


“Papa suruh aku, Ririn Sarasya berlutut di depan orang. Memangnya mereka siapa sampai aku harus berlutut di depan mereka. Apalagi di depan wanita kampung yang derajatnya jauh lebih rendah di bawah aku. Papa mau aku berlutut di depan wanita kampungan itu” teriak Ririn dengan amarah.


“Setidaknya itu bisa mengurangi hukumanmu, kau tidak tahu kalau Tuan Anggoro sudah meminta pihak kepolisian untuk menangani ini dengan tegas. Tidak akan ada ampun untukmu. Kalau kau memohon pada wanita itu, mungkin dia akan meminta William untuk meringankan hukumanmu” kata Hartono. Hanya itu satu-satunya cara mendapatkan mengampunan Karenina dan keluarga Anggoro.


Sepertinya hal itu masuk akal untuk Ibu Ririn, dia juga setuju dengan ide suaminya. Tidak apa-apa merendah sekali ini saja, setelah itu dia akan membawa Ririn ke tempat yang sangat jauh dan melupakan kejadian ini.


Tapi sayangnya Ririn dengan tegas menolak mati-matian jalan pintas yang di tawarkan orang tuanya. Dia lebih baik mendekam di penjara dari pada harus merendahkan dirinya di depan Karenina.


“Nggak akan” katanya.

__ADS_1


“Tersesarah kamu” kata Hartono yang terlihat sangat lelah. Hartono lalu meninggalkan kamarnya, untuk sementara dia harus tidur di kamar tamu karena Ririn tidak bisa keluar dari kamar utama saat ini.


“Aku pasti akan membalas ini, Will. Aku tidka akan membiarkanmu tenang bersama wanita kampungan itu. kalian akan membayar semua ini” Ririn mengepalkan tangannya dengan erat. Huh, bukannya bertobat, dia malah semakin dendam.


“Apa lagi yang ingin kau lakukan, apa kejadian ini tidak cukup memberimu pelajaran?” Ibu yang mendengarnya pun menasehatinya, tapi Ririn malah membelakangi Ibunya. Wanita paruh baya itu hanya bisa menarik nafas berat melihat anaknya. Sepertina Ririn sudah terkena gangguan jiwa.


Sementara itu di sebuah club malam tempat yang biasa Merry datangi, William memegang tangan Karenina mencari di aman keberadaan Merry. Ketemu, mereka melihat Merry sedang duduk termenung di depan meja bartender, di depannya sudah ada minuman yang siap di teguk.


“Mer..., Merry” Karenina harus teriak karena suara musik yang ribut membuat suaranya tenggelam. Dia menghampiri Merry sendirian dan meminta William hanya melihat mereka dari kejauhan. William menurutinya kali ini. Dia kagum dengan hati baik dan tulus yang di miliki kekasihnya. Saat dirinya sendiri juga sedang tidak baik-baik saja dan hampir kehilangan nyawa karena penculikan, dia masih bisa mengkhawatirkan orang lain. William sangat bersyukur bisa mencintai wanita seperti Karenina.


“Nina..., kamu kan sakit kenapa ada di tempat seperti ini” kata Merry yang langsung berdiri melihat Karenina. Tadinya Merry sangat kesal pada Karenina dan Rara karena memintanya berbicara dengan Ryan, tapi melihat Karenina yang datang mencarinya padahal dia adalah seorang pasien rumah sakit membuat kemarahannya hilang seketika.


“Aku cari kamu, Rara bilang kamu nggak ada di rumah” katanya menga,bil duduk di smaping Merry.


“Maaf ya, tadi aku ...”


“Sudah, nggak apa-apa” potong Merry dengan cepat. Dia bermaksud mengantar Karenina kembali ke rumah sakit.


“Mer...”


“Heem...”


“Kamu nggak mau cerita ada apa kamu sama...” Karenina tidak mau menyebut nama Ryan, takut Merry akan murka lagi.


“Aku kecewa sama dia” tidak di sangka-sangka, Merry akhirnya mau bercerita.

__ADS_1


“Dia meninggalkan aku hanya karena orang tuaku mmeberi dia uang untuk melanjutkan sekolahnya” Merry mulai bercerita. Dia meminggirkan mobilnya dan mulai menceritakan kisahnya pada Karenina.


“Kami pacaran sejak SMA, aku sayang banget sama dia. Aku menolak banyak laki-laki yang saat itu menjadi idola di sekolah hanya karena dia, karena aku tulus suka sama dia” Karenina menyimak dan belum bisa mengomentari.


“Lalu Mama ku tahu tentang hubungan kami dan melarang ku untuk berhubungan sama Ryan karena saat itu Ayahnya hanya seorang sopir dan Ibunya berjualan di sekolah. Tapi aku dan Ryan tetap melanjutkan hubungan kami sampai kami selesai sekolah” lanjut Merry.


“Mamaku akhirnya mendatangi orang tua Ryan dan meminta mereka untuk memaksa Ryan menjauhiku karena aku tidak mau menjauhinya, aku sayang banget sama dia, Nin”


“Mereka tidak berhasil membujuk Ryan untuk menjauhiku karena saat itu hubungan kami sedang sangat romantis. Ryan perhatian banget sama aku, dia berani menentang Mamaku yang dengan terang-terangan mengancam akan membuat keluarganya hidup susah kalau masih melanjutkan hubungannya denganku”


“Tapi suatu hari, Ryan tiba-tiba berubah padaku, dia menjauhiku dan tidak mau lagi bertemu denganku. Dan kamu tahu apa alasannya, kenapa akhirnya dia memutuskan hubungannya denganku?” Karenina menggeleng.


“Karena Mama memberinya uang yang sangat banyak untuk melanjutkan sekolahnya dan juga biaya sekolah adiknya. Diamenukan hubungan kami dengan uang. Laki-laki macam apa yang mengorbankan pacarnya hanya demi uang” Merry akhirnya menangis di pelukan Karenina.


Sejak saat itu, Merry tidak mau lagi percaya pada laki-laki dan sejak itu juga hubungannya dengan Ibunya menjadi sangat berjarak. Dia meninggalkan rumah dan hidup sendirian di luar karena masih kecewa dengan Ibunya yang selalu menggunakan uang untuk mengatasi masalah.


“Tapi kenapa kamu tidak mau mendengar penjelasan, Ryan. Mungkin dia punya alasannya sendiri” kata Karenina.


“Alasannya sudah sangat jelas, Nin. Dia butuh uang itu. dia bisa bilang sama aku kalau memang dia butuh uang, aku bisa minta sama Oma atau Opa atau sama Papa. Tapi dia mengambil uang dari Mama dan meninggalkan aku. Aku kecewa banget, Nin. Aku nggak bisa maafin dia” Merry yang ceria menangis di pelukan Karenina.


Setelah sedikit lebih tenang, Merry kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Karenina ke rumah sakit.


“Mer, aku pikir kamu harus mendengar penjelasan Ryan. Mungkin kamu salah faham” Karenina masih mencoba membujuk Merry.


“Salah faham apa lagi, Nin. Jelas-jelas dia mengambil uang itu. kalau tidak, bagaimana dia bisa sekolah setinngi itu dan menjadi asisten pribadi direktur S&M. Orang tuanya tidak mungkin mampu membiayai sekolahnya” Karenina menghela nafas, sepertinya sekarang masih sangat sulit untuk membuat Merry mau mendengar oenjelasan Ryan.

__ADS_1


__ADS_2