Takut Menikah

Takut Menikah
Liburan


__ADS_3

Karena sudah merasa aman dari Halim, Karenina memutuskan untuk kembali tinggal di rumah kontrakannya saat tiba di Jakarta. William tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarang Karenina dan dengan terpaksa mengantar kekasihnya itu kembali ke rumah kontrakannya. Kepulangannya kembali ke rumah itu di sambut dramatis teman-temannya.


Ketiga wanita itu membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Karenina dan tinggal kembali bersama mereka. Baik Rara ataupun Merry tidak ada yang tahu apa yang sudah terjadi di Lampung.


“Om kamu sudah baik-baik aja?” Tanya Rara memasukkan buah kiwi ke mulutnya. Karenina mengangguk dengan malas.


“Terus, mantan pacar kamu”, tanya Rara lagi. Karenina menghela nafas sebelum menjawabnya.


“Dia, dia nggak akan pernah ganggu aku lagi”, katanya dengan yakin. Mengingat wajah menyebalkan Halim membuat mood Karenina jadi buruk, dia meletakkan semangkuk salad buah lalu meninggalkan temannya yang masih ingin mendengar ceritanya.


“Aku tidur duluan, capek banget”, katanya beralasan.


Saat sampai di kamarnya, Karenina menghidupkan ponselnya. Ada puluhan panggilan tidak terjawab dari William. Seketika moodnya kembali normal. Dia menekan nomor ponsel William  dan langsung terhubung di dering pertama.


“Dari mana saja, kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?” omel William sebelum Karenina sempat megucapkan halo.


“Aku matiin terus aku tinggal di kamar”. Katanya dengan santai tidak tahu William sudah seperti orang gila menunggu kabarnya. Obrolan mereka berlanjut sampai akhirnya Karenina tertidur sementara William masih asyik mengajaknya bicara.


“Nina, Nina. Kau tidur”, William menghela nafas pelan saat mendengar dengkuran halus dari seberang telepon.


“Tidurlah, kau pasti sangat lelah. I love you”, katanya sebelum mematikan sabungang teleponnya.


Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun William kembali menjeputnya. Hari ini juga hari pertama Karenina kembali ke kantor setelah beberapa hari menghilang.


Seperti teman serumahnya, teman-teman di kantor pun menyambut kedatangannya dengan gembira. Dimension tidak akan sempurna tanpa kehadirannya.


“Cieeh yang habis lamaran”, seperti biasa, mulut Juwita tidak bisa di kontrol. Asal bicara walaupun tidak tahu apa-apa. Karenina memelototinya membuatnya terkekeh.


“Beneran Nin, Tuan William sudah melamar kamu?” Rendra yang mendengar Juwita pun ikut bertanya dengan serius. Karenina malah melirik kesal Juwita yang sudah asal bicara.


“Nggak kok, Juwi tuh asal ngomong” katanya kesal.


“Benar juga tidak apa-apa Nin. Itukan berita baik. Untuk apa di sembunyikan” lanjut Rendra lagi. Karenina geleng-geleng kepala dan mulai menyalakan komputernya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda seminggu ini.

__ADS_1


“Kamu pake pelet apasih, kok Tuan William bisa klepek-klepek sama kamu”. Karenina memejamkan matanya, menarik nafas dalam dan siap menerkam Juwita yang sejak tadi menggodanya. Tepat saat Karenina membuka matanya dan siap mancabik-cabik Juwita, Luis muncul membuat Juwita kembali ke kursinya dan menyalakan komputernya.


“Karena Nina sudah kembali bekerja, maka kita akan pergi liburan seperti yang sudah saya janjikan pada kalian”, suara riuh gemuruh terdengar di ruangan itu. Semua bersorak menyambut rencana liburan bersama. Pekerjaan pun terhenti sementara, semua sedang sibuk membahas liburan yang sudah di pastikan akan berjalan sangat seru itu.


Sepulang kantor, Karenina melihat kiri kanan mencari keberadaan William. Kekasihnya itu mengatakan akan menjemputnya untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal di apartemen William. Karenina tidak melihat adanya tanda-tanda kehadiran William, dia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi William.


“Aku ada di depanmu, kau mau aku keluar menjemputmu atau mau masuk sendiri?”


“Tidak usah main petak umpet, bilang saja kau di mana. Aku tidak melihatmu di manapun”, lampu mobil berkedip kedip, Karenina berjalan mendekati mobil itu tanpa menjauhkan ponsel dari telinganya.


Saat dia sudah berada di dekat mobil pajero sport warna hitam, kaca mobil itu terbuka menampakkan William di balik kemudi. Karenina mematikan ponselnya dan masuk ke dalam mobil.


“Kau beli mobil baru?” tanyanya menelisik interior mobil itu dan mengelusnya.


“Sudah lama hanya baru aku pakai”, jawab William menyalakan mesin mobil kemudian melajukannya. Karenina tidak melepaskan pandangannya dari William, dia semakin terpesona saja dengan laki-laki itu yang nampak semakin macho di belakang kemudi.


“Will…”


“Hemm”


“Kau juga mau ikut?”


“Tentu saja. Liburannya pasti seru karena dengan teman-teman kantor”. William diam, dia terlihat fokus mengemudikan mobil sedangkan Karenina sudah memasang wajah cemberutnya karena reaksi William tidak seperti yang dia harapkan.


Mobil pajero itu sudah memasuki basement apartemen. Setelah mobil terparkir, William dan Karenina keluar dari mobil.


“Kau tidak suka aku mau pergi liburan” Karenina mengejar William yang berjalan sangat cepat memasuki lift. William masih diam, tapi dari raut wajahnya jelas terlihat ketidak sukaannya.


“Apa kau akan pamer perut ratamu di liburan itu?”, Karenina terdiam lalu dia tertawa sambil memegangi perutnya. Dia memperthatikan wajah cemberut William yang sangat menggemaskan.


“Jadi kau diam saja karena itu”, kata Karenina mengejek William. William menarik pinggang Karenina dengan sebelah tangannya dan tangannya yang lain memegang tengkuknya lalu menyambar bibir merah gadis itu dengan rakus saat mereka sudah ada di dalam unit apartemen William. Karenina meletakkan tangannya di dada William, sambil berjinjit diapun menikmati ciuman memabukkan William.


“Hanya aku yang boleh menikmati pemandangan indah itu, Nina. Aku akan menghukummu dengan sangat berat kalau kau berani memperlihatkannya pada orang lain”. Katanya setelah melepaskan ciumannya tapi belum melepaskan tangannya dari pinggang Karenina.

__ADS_1


Karenina tersenyum lalu mengangguk “Aku hanya akan memperlihatkannya padamu”, bisiknya di telinga William dengan nada sensual.


“Kau mau memancingku”, William kembali ******* bibirnya, menciumi lehernya dan menggosok-gosokkan rahangnya yang mulai di tumbuhi bulu halus di pipi Karenina.


“Will, ampun” Karenina merasa geli dengan apa yang di lakukan William pada wajah dan juga lehernya. Dia berusaha mendorong William tapi malah berakhir di kursi karena William menariknya.


“Will, ampun”, teriaknya lagi sambil tergelak masih berusaha melepaskan diri dari kukungan William.


“Pergilah”, William akhirnya melepas Karenina, bukan karena wanita itu terus berontak tapi karena ada yang lain yang tiba-tiba saja mengeras di bawah sana. Karenina buru-buru bangun dan mengancing bagian atas kemejanya yang sudah terbuka dan berlari secepat kilat masuk ke dalam kamar William.


William mendesah dengan berat “Kenapa kau selalu membuatku sakit kepala Karenina”, katanya lalu bangkit menyusul Karenina setelah mengendalikan dirinya.


Di dalam kamar Karenina mencari kemeja dan jam tangan yang tempo hari dia lupa saat tinggal di apartemen William. Dia tidak menemukan kedua benda yang dia cari itu tapi malah menemukan sebuah jam tangan wanita dengan brand yang harganya selangit. 


“Nina…”


“Heemm”


“Kapan kau akan pergi liburan?”


“Akhir pekan ini, kenapa?”. Hening, William yang di tanya balik malah aysik memandangi Karenina yang kelihatan berantakan. Dia kembali menghela nafas berat lalu megambil kotak jam tangan yang ada di atas nakas.


“Aku tidak sengaja menjatuhkan jam tanganmu”, katanya menyodorkan kotak jam tangan itu pada Karenina. “Ambilah sebagai gantinya”. Karenina menatap William lalu melirik benda di tangan William.


“Kau membuangnya?” 


“Itu pecah jadi aku membuangnya, maaf”. Karenina mendesah “Aku bukannya tidak suka barang mahal, tapi aku lebih suka barang yang aku beli sendiri”.


Karenina lalu mengambil benda itu dari tangan William “Terima kasih”, katanya kemudian. William menunduk menahan seyumnya.


Setelah sedikit perdebatan, akhirnya Karenina pulang menggunakan taksi online. Dia tidak tega melihat William mengantarnya pulang, kekasihnya itu juga terlihat sangat lelah. Sejak pulang dari Lampung, dia belum punya istirahat yang cukup.


“Aku pasti akan secepatnya membuatmu tinggal bersamaku Karenina”. Kata William memnadangi mobil yang membawa kekasihnya pergi.

__ADS_1


 


__ADS_2