
Malam semakin larut saat William dan Karenina meninggalkan restoran itu, makanan yang sudah di sediakan pihak restoran di bagikan kepada semua karyawan restoran yang menunggu sampai mereka berdua selesai menikmati indahnya suasana romantis.
“Aku tidak suka mengantarmu pulang setiap hari” kata William saat rumah kontrakan Karenina sudah terlihat dari kejauhan.
“Tadi bilang mencintaiku, sekarang bilang tidak suka mengantarku pulang. Kalau memang tidak suka tidak usah antar, aku bisa pulang naik taksi”. William diam saja, laki-laki itu memperlambat laju mobilnya saat mobilnya sudah dekat dengan rumah kontrakan Karenina.
“Maksudku aku ingin kita pulang bersama, dengan tujuan yang sama, di rumah kita. Aku sudah tidak sabar membawamu pulang setiap hari bersamaku”. Karenina tersenyum malu, menyelipkan rambutnya yang teruarai ke belakang telinga.
Mobil William berhenti di depan rumah kontrakan Karenina, mereka berdua sama-sama diam entah apa yang sedang mereka pikirkan.
“Aku masuk dulu yah”, kata Karenina akhirnya. William menatapnya membuat wanita itu salah tingkah.
“Kau tidak mau memberikanku sesuatu sebelum meninggalkanku?” Karenina yang sedikit demi sedikit mulai memahami William mendekatkan wajahnya, lalu memberi kecupan lembut di bibir William.
“Hanya seperti itu?”
“Memangnya kau mau seperti apa?”. Tanpa memberi kesempatan Karenina untuk memperbaiki posisi duduknya, William sudah memegang tengkuk Karenina, memberinya ciuman yang lebih panjang dan lebih memabukkan dari pada ciuaman singkat Karenina tadi.
“Yang seperti itu”, kata William mengusap basah di bibir Karenina. Wanita itu berdecak, memukul bahu William pelan “Aku masuk”, katanya. Dan tanpa menoleh lagi dia berjalan memasuki rumah.
William tersenyum memandang punggung Karenina yang menghilang di balik pintu. Sekilas William tadi melihat pipi merah Karenina saat wanita itu keluar dari mobilnya. Dengan perasaan senang dan bahagia, William kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemennya. Dia juga butuh istirahatkan.
Di dalam rumah saat Karenina membuka pintu, sudah ada Merry dan Rara yang menunggu. Mereka yang sejak tadi memang menunggu Karenina langsung menarik Karenina duduk di sofa dan mulai memberondong wanita itu dengan pertanyaan untuk mengilangkan rasa penasaran mereka.
Karenina tersenyum dia tahu kalau teman-temannya belum tidur memang hanya untuk menunggunya pulang. Karenina sengaja mengusap hidungnya dengan jari manisnya untuk memamerkan pada kedua temannya cincin berlian permberian William.
__ADS_1
“Gila, ini berlian asli?” tanya Merry memegang tangan Karenina dan memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis Karenina.
“Pastilah, Mer. Tidak mungkin seorang William Anggoro memberikan cincin imitasi”. Rara yang memebri jawaban. Dia juga ikut memperhatikan cincin itu.
“Jadi William sudah melamar kamu?” Karenina mengangguk malu dan seketika Rara dan Merry menjadi heboh.
“Cieh cieehhh”
“Selamat yah”
Ketiga gadis itu berpelukan penuh haru, mereka tidak menyangka bahwa Karenina akan menjadi pengantin pertama di antara mereka bertiga. Padahal Karenina tidak pernah terlihat menjalin hubungan dengan siapapun selama mereka tinggal bersama.
“Tapi kamu sudah yakin mau menikah, bukannya kamu takut menikah?”. Tentu saja alasan Merry dan Rara tidak pernah melihat Karenina mengenalkan seseorang pada mereka sebagai kekasih adalah karena wanita itu tidak mau menjalin hubungan yang jauh dengan seorang laki-laki dengan alasan trauma dengan hubungannya dengan mantan pacarnyan dulu. Lalu tiba-tiba saja Karenina mengenal William, dan tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuat hatinya yakin menerima William sebagai pasangan hidupnya.
Karenina menghela nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Merry, dia terlihat menerawang dan mengingat kejadian saat dia datang ke Lampung beberapa hari yang lalu.
“Tapi saat aku di Lampung, aku terus melihat ponselku berharap ada pesan atau panggilan dari William. Dan saat dia tidak menghubungiku sama sekali, aku baru menyadari kalau aku sudah sangat jatuh cinta padanya”.
Merry dan Rara menjadi pendengar yang sangat baik, mereka mendengar tanpa sedikitpun menyela.
“Aku baru menyadari kalau aku sangat mencintanya, dia merubah semua ketakutanku menjadi sebuah keyakinan. Caranya memperhatikanku, caranya memperlakukanku, aku benar-benar di buat jatuh cinta olehnya. Hingga aku mau menukar kebebasan yang selama ini sudah aku dapatkan dengan seumur hidup bersamanya. Bahkan bila dia mengurungku juga tidak apa-apa, karena kebebasanku tidak akan sebanding dengan rasa rindu yang akan aku tanggung bila tidak bersamanya”.
“Hahahaaa”, tawa Merry menggema di tengah malam. Dia serasa sedang mendengar seorang yang puitis menjelaskan kisah asmaranya. Sedangkan Rara berusaha menahan tawanya karena sadar bahwa sekarang ini sudah lewat tengah malam.
Karenina memasang wajah cemberutnya, tapi diam-diam dia juga merasa aneh dengan kalimatnya sendiri.
__ADS_1
‘Dari mana aku dapat kata-kata seperti itu sih, Merry dan Rara kan jadi menertawakanku. Sialan memang dua orang ini’.
Orang yang sedang jatuh cinta memang kadang tiba-tiba jadi pujanggga, banyak kata-kata romantis dan puitis yang bahkan belum pernah mereka dengar sebelumnya tiba-tiba saja bisa mereka ucapkan. Orang yang jatuh cinta bisa merangkai kata indah yang tiba-tiba saja lewat di pikirannya.
“Kau benar-benar sedang jatuh cinta rupanya. Hahahaaa”, Karenina merasa kesal karena Merry terus meledeknya, sampai-sampai dia mencubit paha mulus Merry untuk mengehentikan wanita itu tertawa.
“Tapi apa kau sudah siap menjadi Nyonya Muda keluarga Anggoro. Yang aku dengar di luar sana kalau Tuan Sebastian Anggoro itu sangat tegas dan keras. Apa kau yakin bisa menghadapi semua itu?”
Karenina mendenguskan tawa, mengingat bagaimana Sebastian dan Mutiara terus saja menggoda William dan dirinya. Sama sekali tidak terlihat seperti apa yang Merry dan orang-orang katakan. Sebastian terlihat sangat hangat menyambutnya. Mungkin Sebastian hanya terlihat tegas dan keras di luar sana agar orang-orang dapat menghormatinya.
Tapi jika sudah berada di rumah bersama istri dan anak-anaknya, dia akan menjadi seorang Ayah yang lembut dan hangat untuk keluarganya. Dan Karenina sebentar lagi juga akan menjadi bagian dari keluarga Anggoro.
Mereka berpindah tempat ke kamar Merry yang lebih besar dan melanjutkan cerita tentang Karenina yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya William Anggoro. Tidak ada rasa iri di hati Merry dan Rara meskipun calon suami Karenina adalah calon suamin impian semua wanita, mereka dengan tulus berbahagia untuk teman mereka.
“Kau pakai pelet apa sih sampai bisa membuat William tergila-gila padamu”, tanya Rara.
“Ada deh”, jawab Karenina
“Kasih tahu dong, aku juga kan mau pelet satu yang seperti William”
“Lalu Adhit mau kamu kemanakan?” seru Merry di ikuti anggukan Karenina.
“Simpan di lemari”. Tawa mereka kembali memenuhi kamar itu.
Mereka lalu jatuh tertidur saat malam hampir berganti pag karena ke asyikan berceritai. Mereka tidur di atas tempat tidur Merry yang besar dan nyaman. Hingga sampai matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, ketiga wanita itu masih terlelap di alam mimpi.
__ADS_1