Takut Menikah

Takut Menikah
Malam pertama yang bukan lagi pertama


__ADS_3

William sudah kesal setengah mati karena gaun Karenina. Kalau bukan Karenina merengek untuk tidak merusak gaunnya itu, William pasti sudah merobeknya dari tadi.


“Huh...” seru William ketika masih juga kesulitan membuka gaun itu. Karenina tertawa garing membuat William membungkam tawanya dengan ciuman.


“Kau mau tidak, malam pertama” goda Karenina. William menghela nafas lalu kembali membuka gaun itu. Karenina yang sejak tadi hanya diam saja ingin melihat sejauh apa usaha William agar bisa kembali menikmati keindahan tubuhnya akhirnya turun tangan membantu William, dan hanya sekali tarikan gaun itu berhasil lolos dari tubuh Karenina.


“Kau... kau sengaja ya mengerjaiku dari tadi” kata William tidak terima Karenina mempermainkannya. Karenina hanya tertawa, dia membuka semua pernak pernik di rambutnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Setelahnya, Karenina juga membuka semua yang menutupi tubuhnya.


Setelah polos tanpa sehelai benangpun yang menutupinya, Karenina lalu mendekati William dan memeluk laki-laki itu dengan sensual.


“Mau aku bantu atau mau kau buka sendiri” bisik Karenina di telinga William. Hembusan Nafas Karenina di telinganya membuat William sudah tidak sabar untuk segera bercumbu dengan wanita yang sudah sah menjadi istirnya itu.


William menatap Karenina dengan pandangan yang tidak terbaca, dia tidak menjawab Karenina dan membuka sendiri seluruh kain yang menempel di tubuhnya dan juga membuangnya asal. Mereka sudah sama-sama polos sekarang. William memeluk Karenina hingga tubuh polos mereka saling bersentuhan menimbulkan rasa yang luar biasa untuk keduanya.


“Siap-siaplah, aku tidak akan mengampunimu walaupun kau berteriak minta ampun” bisik William membuat Karenina merinding.


“Ayo, siapa takut” kata Karenina malah menantang William. William lalu mendorong tubuh Karenina hingga terpental di atas tempat tidur. Dia juga ikut naik dan langsung menindih Karenina.


Karenina sudah siap dengan serangan yang akan William lakukan mengingat selama ini William sangat menahan dirinya.


‘Eh, kenapa ciuamannya malah sangat lembut. Aku pikir dia akan menggigit bibirku sampai berdarah’ di luar dugaan Karenina, William ternyata melakukannya sangat lembut dan tidak seperti saat mereka melakukannya pertama kali.


Tapi itu tentu awalnya saja, semakin lama permainan mereka semakin panas hingga sama-sama berada di luar kendali. Suara penyatuan dua tubuh terdengar riuh di tengah malam yang semakin dingin. Tapi tentu hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarnya.


Entah berapa kali mereka menyatukan diri semalam, hingga pagi mereka terbangunpun mereka masih melanjutkannya. Hingga Karenina sudah tidak berdaya lagi, William lalu berhenti dan menarik senjatanya dari dalam tubuh Karenina.


“Masih mau menantangku?” kata William dengan nafas yang tersengal, keringat sudah memenuhi seluruh tubuhnya.


“Ampun, aku tidak akan lagi menantangmu” kata Karenina yang sudah tidak berdaya. William tersenyum puas, dia mengecup kening Karenina cukup lama lalu mencium kedua pipinya.

__ADS_1


“Terima kasih, sayang” kata William dengan tulus.


“Gendong aku kalau begitu, aku sudah tidak bisa jalan” kata Karenina. Bukan karena manja tapi karena dia memang sudah kehabisan tenaga meladeni keganasan William.


“Dengan sengan hati.”


William menggendong tubuh Karenina, dia meletakkannya di wastafel terlebuih dahulu. William lalu mengatur suhu air di dalam bathub dan memasukkan Karenina di dalammya. Dia menggosok seluruh tubuh Karenina dengan begitu lembutnya, Karenina yang keenkaan malah tidur di dalam buthub sehingga membuat William kembali menggendongnya setelah selesai memandikannya.


Karenina tertidur sampai menjelang sore, William yang tidak tega terpaksa membangunkannya karena wanita itu belum makan apapun sejak pagi tadi karena tertidur lagi.


“Ini sudah jam berapa?” tanya Karenina yang merasa seluruh badannya patah dan bagian intinya terasa nyeri.


William membuka gorden besar, warna langit di luar sana sudah menunjukkan kalau sebentar lagi matahari akan tenggelam.


Setelah makan, Karenina kembali melanjutkan tidurnya. Dia ingin istirahat saja di dalam kamar. William sama sekali tidak melarangnya. Dia malah membenarkan selimut Karenina dan mencium keningnya sebelum meninggalkan kamar hotel. Di luar ada Ryan yang menunggunya untuk melaporkan hal penting.


“Aku sudah bilang jangan menggangguku, kenapa kau malah berani datang kemari” William sudah memperingatkan semua orang kalau tidak ada yang boleh menghubunginya selama dia berada di hotel bersama istrinya karena dia tidak bisa melakukan perjalanan bulan madu dalam waktu dekat.


‘Makanya aktifkan nomormu, kalau kau menjawab teleponmu aku juga tidak perlu repot-repot kemari’ oceh Ryan yang juga kesal mendapat amarah dari Willaim.


“Ririn melakukan percobaan bunuh diri, Tuan” William mematung. Dia ingin berusaha tidak perduli tapi walau bagaimanapun dia masih manusia yang memiliki hati nurani.


“Lalu bagaimana keadaanya sekarang, dia sudah berada di rumah sakit dan berhasil di selamatkan.”


Willam memikirkan apa yang baru saja Ryan laporkan, walaupun Ririn hampir membuat Karenina kehilangan nyawa, tapi dia juga merasa tidak nyaman mendengar Ririn hampir mengakhiri hidupnya.


‘Apa perduliku’ katanya yan bertentagan dengan hati nuraninya. Walau bagaimanapun, nyawa manusia tetaplah sangat berharga lebih dari apapun.


Suara leguhan dari tempat tidur mengalihkan perhatian William seutuhnya, dia naik ke atas tempat tidur dan menciumi Karenina.

__ADS_1


“Kau bertemu siapa tadi?” Karenina sempat terbangun dan mendengar William sedang berbicara dengan seseorang.


“Ryan” jawab William


“Ada hal penting yah sampai dia mendatangimu?” tanya Karenina lagi. William merasa Karenina berhak tahu apa yang terjadi pada Ririn. William lalu menceritakan semuanya pada istrinya, tentang orang tua Ririn yang juga ikut menjadi tersangka sampai laporan terbaru mengenai Ririn yang hampir mengkahiri hidupnya sendiri.


“Kasihan yah, dia melakukan itu karena dia sangat mencintaimu. Dia sakit hati karena kamu mninggalkannya dan menikah denganku”


“Itu salahnya sendiri”


“Jadi apa yang akan kau lakukan. Kalau melihat dari sifatnya sepertinya dia akan melakukannya lagi, walaupun dia jahat tapi aku tidak tega kalau sampai dia mengakhiri hidupnya sendiri.” Willian dan Karenina masih ada di atas tempat tidur, Karenina masih tidak mau bergerak dari tempat tidur karena seluruh tubuhnya masih terasa sakit.


“Will...”


“Heemm”


“Aku boleh tidak ketemu sama dia?” William menoleh menatap istrinya dengan memicingkan matanya.


“untuk apa?”


“Aku mau bilang kalau aku memafkannya”


“Kau bodoh ya, dia sudah hampir membunuhmu”


“Aku tahu, tapi aku juga akan jadi pembunuh kalau aku tidak menemuinya dan mengatakan kalau aku memaffkannya.”


William juga terlihat berfikir sejenak, Karenina benar, mereka juga akan jadi pembunuh kalau sampai Ririn meninggal.


“Aku aku juga boleh minta kau mencabut laporanmu” William tersentak mendengarnya. Walaupun dia juga merasa kasihan, tapi hukumannya harus tetap berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku.

__ADS_1


“Itu tidak mungkin, Nina. Semua sudah di proses dan sebentar lagi pengadilan akan memutuskan hukuman yang pantas untuknya” kata William dengan tegas.


Karenina tidak bisa lagi berbicara, Ririn memang harus di hukum atas perbuatannya sendiri.


__ADS_2