Takut Menikah

Takut Menikah
Rencana masa depan


__ADS_3

Tidak terjadi seperti apa yang Ryan katakan, tidak ada tatapan tajam dan sinis dari pegawai wanita yang melihat Karenina mengekori William. Tentu saja mereka tidak akan berani menunjukkannya di depan William.


“Kau belum makan ya, kenapa jalan mu lama sekali”. William sudah menunggunya di lift khusus yang  hanya di naiki oleh orang penting. William keluar dari lift dan menarik tangannya masuk, Karenina hanya bisa menyeret langkangnya mengikuti William.


Karenina mendaratkan pan*atnya di sofa empuk yang ada di ruangan William, masih pagi tapi tenaganya sudah terkuras. Bukan fisik, tapi batinya. Tapi laki-laki yang tidak tahu diri itu malah tersenyum melihatnya duduk dengan menumpukan kepalanya pada kedua tangannya yang dia telungkukpan di pinggiran sofa.


‘Ini tidak bisa di biarkan’. Karenina mengangkat wajahnya, dia menarik nafas sangat dalam lalu mendatangi William yang sudah duduk dengan nyaman di kursinya.


“Will, aku mau tidur denganmu sekali lagi. Tapi setelahnya kau tidak boleh mengangguku, anggap kita tidak pernah bertemu seperti apa yang pernah aku katakan. Dan kita hanya akan bertemu bila itu tentang pekerjaan. Bagaimana”. Kata Karenina dengan mantap. Mungkin William memang hanya menginginkan tubuhnya, dan dia akan memberikan itu pada William sekali lagi selama itu bisa membuatnya bebas darinya.


William sudah sepenuhnya mengalihkan atensinya pada Karenina, laki-laki itu menatap Karenina dengan pandangan yang tidak bisa Karenina tebak. William menghela nafasnya pelan, dia berdiri dan menghampiri Karenina yang berdiri di depan mejanya. Laki-laki itu menyandarkan ujung punggungnya di pinggiran meja, melipat kedua tangannya dan meletakkannya di atas perut.


“Hanya itu yang kau fikirkan, kau fikir aku hanya mau tubuhmu makanya mendekatimu” William mendesah lagi “Dengar Karenina, aku tidak perlu bersusah payah jika yang ku inginkan hanya tubuhmu, aku bisa melakukannya bahkan bila kau tidak menginginkannya”. Kata-kata terakhir William membuat Karenina membeku.


‘Apa yang dia maksud itu memperkosaku’. Karenina masih membeku di tempatnya saat William meletakkan keduan tanganya di kedua pundak Karenina.


“Aku hanya ingin mencoba menjalani hubungan yang normal denganmu Karenina. Aku bukan hanya menginginkan tubuhmu, tapi aku juga menginginkan hatimu”. Karenina masih diam mencerna apa yang di maksud William.


‘Kau ingin hatiku, apa kau benar-benar menyukaiku?’


“Ma-manaa dokumen yang kemarin aku titip pada sekertarismu, aku sudah mau kembali ke kantor”, William mendesah. Dia mengambil sebuah map dan memberikannya pada Karenina.


“Aku pulang dulu ya”, William menahan tangannya.


“Jangan abaikan telepon atau pesanku kalau kau tidak mau kejadian yang tadi pagi terulang”, Karenina hanya mengangguk pasrah.


“Farel akan mengantarmu”


“Hah, ohh iyaa” William menarik kedua sudut bibirnya. Wanita itu menjadi semakin manis billa tidak banyak mebantah.


Karenina jalan dengan menundukkan kepalanya, dia malu pada orang-orang setelah tadi William berteriak memanggilnya. Dia sampai di depan pintu utama, sudah ada Farel yang menunggunya.

__ADS_1


“Silahkan, Nona”, kata Farel mempersilahkannya masuk ke dalam mobil dengan sopan. Karenina membuka jendela mobil menghirup udara sebanyak yang ia bisa ketika mobil itu sudah jauh meninggalkan gedung S&M.


“Ini, Nona”, Farel memberikannya air mineral. William yang menyuruhnya menyediakan air mineral di mobilnya sejak hari itu.


“Terimakasih” Karenina mengambil dan meminum secukupnya. Dia hanya diam menyadarkan kepalanya di pintu mobil.


‘Apa yang sudah William lakukan pada wanita ini, kenapa dia jadi seperti mayat hidup begitu’ 


“Sudah berapa lama kau bekerja dengan Will, maksudku Tuan William”, Karenina mencoba mengalihkan fikirannya dengan mengajak Farel bicara. Farel terkekeh “Anda bisa santai, Nona”.


“Kau juga bisa santai, jangan memanggilku nona nona aku tidak suka mendengarnya. Kau boleh panggil aku Nina seperti teman-temanku yang lain”. Farel tegelak kali ini.


‘Astaga, dia manis sekali. Tapi William masih manis sih, kenapa aku jadi mengingatnya lagi’.


“Baru saja, Nona. Saat Tuan William menggantikan Tuan Sebastian, saya baru menjadi supir saat itu”.


“Kenapa kau mau jadi supir?”, selalu mengatakan teman-temannya kepo padahal dia juga tidak kalah keponya dengan kehidupan orang lain.


Mobil sudah berhenti di depan Dimension sebelum Karenina mendengar jawaban dari Farel. Wanita itu bahkan sudah keluar sebelum Farel membukakan pintu mobil untuknya.


“Jangan terlalu sopan padaku, santai saja. Terima kasih ya dan maaf sudah sering merepotkanmu”


“It’s oke, itu sudah jadi kewajiba ku” Karenina terkekeh, dia meninggalkan Farel dan masuk ke gedung Dimension.


“Maaf ya Pak, tadi aku langdung ke S&M” Karenina menyimpan map di atas meja, “Tidak apa-apa, Pak Luis sudah bilang”


“Pak Luis?” Karenina melirik Yoga, laki-laki itu sedang membelakanginya.


“Yoga, kamu bilang sama Pak Luis kalau aku pergi sama William”


“Kayaknya kamu memang akrab sama dia” Karenina menunduk sambil menggaruk tengkuknya. Dia sudah ketahuan sekarang, tidak ada gunanya mengarang cerita pada Yoga. Laki-laki itu tidak akan bisa Karenina kelabui.

__ADS_1


“Kerja Nin”, katanya menunjuk meja Karenina dengan matanya. Karenina jadi salah tingkah dan kembali ke mejanya.


Tanpa terasa siang yang terik sudah berganti sore yang sejuk, matahari mulai membenamkan dirinya di ufuk barat. Karenina sudah mendapat pesan dari Merry kalau mereka berdua harus bicara tanpa Rara.


“Aku antar pulang ya, Nina”, Yoga menawarkan dirinya.


“Nggak usah”, tolaknya dengan intonasi yang masih di bilang baik di dengar.


“Yoga”


“Emm”


“Kamu beneran nggak lagi pdkt sama aku kan?” Karenina merasa akhir-akhir ini sikap Yoga sangat aneh, dia jadi lebih perhatian dan hal itu membuat Karenina merasa tidak nyaman. Dia lebih senang Yoga yang tidak banyak bicara tapi sekalinya bicara bisa lebih pedas dari cabe bubuk, Yoga yang tegas dan ketus. Mungkin Yoga memang lebih cocok dengan sikapnya seperti biasa dari pada yang perhatian seperti sekarang.


Yoga mendengus, dia bosan dengan pertanyaan Karenina yang itu-itu saja.


“Aku duluan kalau begitu”, Yoga pergi begitu saja tanpa memperdulikannya.


“Juwi, duluan” teriaknya, Karenina mengambil tasnya dan mengejar Yoga, dia belum puas kalau Yoga tidak menjawabnya.


“Yoga, jawab…aargg”, Yoga berhenti di depan pintu utama membuat Karenina yang mengejarnya menabrak punggung kerasnya. Wanita itu mengelus kepalanya, lalu mengintip dari balik punggung Yoga melihat apa yang membuat temannya itu terdiam di tempatnya.


Mata Karenina membulat, dia berbalik kebelakang memastikan tidak ada yang melihat orang itu di depan gedung kantornya. Karenina berjalan cepat mendekatinya, tanpa berdebat panjang dia masuk ke dalam mobil di samping kemudi.


Karenina memejamkan matanya bersandar di sandaran kursi. Dia bosan, dia lelah dengan William yang terus berada di dalam bayang-bayang kehidupannya.


William menyukainya?, dia tidak perduli. Dia tidak pernah ingin menempatkan dirinya dalam hubungan macam apapun itu. Dia masih trauma, masih takut untuk memulai kisah yang baru apalagi William tidak pernah perduli pada sekitarnya. Laki-laki itu seenaknya saja melakukan apapun yang dia inginkan tanpa melihat dari sisi Karenina.


Mati-matian dia mempertahankan kehidupannya yang bebas tiga tahun ini, hidup dengan tenang seperti yang sudah sejak lama dia impikan. Walaupun awalnya dia merasa sangat takut sendirian di kota besar yang asing baginya, tapi dia akhirnya terbiasa dan menemukan banyak orang baik di sekitarnya.


Dia tidak mau Kedatangan William dalam hidupnya mengacaukan rencana masa depan yang sudah dia susun dengan manis walau tanpa dia sadari dia sendiri yang sudah mengundang William masuk di kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2