
William melepaskan tangan Ririn dari leher Karenina dan menampar wanita itu dengan segenap kemarahnnya membuat Ririn terlempar hingga tubuhnya jatuh di atas meja kaca. Meja itu hancur bersamaan tubuh Ririn yang jatuh ke lantai dengan serpijah-serpihan kaca yang berhamburan.
Ririn terpaku antara, tubuhnya sakit terhantam kerasnya lantai dan tajamnya pecahan kaca yang juga ikut menusuk beberapa bagian tubuhnya dan hatinya yang jauh lebih hancur dari pecahan kaca yang berserakan. William menamparnya hanya demi seorang wanita yang belum lama dia kenal. William mengabaikan hubungan bertahun-tahun mereka hanya demi wanita kampungan yang berada jauh di bawah levelnya.
“Kau tidak apa-apa?” William segera menggendong Karenina dan melarikannya ke rumah sakit. Sementara polisi menangkap Ririn yang sudah tidak berdaya.
“Sabar yah, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit” William begitu panik melihat darah sudah menetes di baju Karenina. Karenina hanya diam saja dalam pelukan William walau ada banyak pertanyaan di kepalanya.
Karenina sudah berhasil mendapatkan perawatan, sementara Ririn yang juga terlukua cukup parah juga sudah mendapatkan perawatan. Orang tua Ririn sudah ada di rumah sakit begitu mendengar kabar anaknya berada di rumah sakit dan di awai ketat oleh polisi. Tapi mereka belum di perbolehkan bertemu dengan anaknya itu.
Ririn membeku seperti patung, dia diam saja tidak bereaksi apapun pada semua luka di tubuhnya yang sedang di obati. Tatapannya hampa dan pikirannya kosong. Mungkin tamparan William tadi membuatnya kehilangan semua ingatannya.
Iya, dia terpukul, sangat terpukul melihat kenyataan di depan matanya bahwa laki-laki yang dia harapkan kembali padanya malah lebih memilih wanita lain dari pada dirinya. dia benar-benar sudah kehilangang William untuk selamanya. Bodohnya, dia sudah kehilangan William sejak bertahun-tahun yang lalu saat dia mengkhianatinya, tapi mengapa dia baru menyadarinya sekarang.
Air matanya lolos membasahi pipinya. Dia pasrah, dia sudah siap dengan apapun yang akan dia hadapi.
Sebastian dan Mutiara sudah ada di rumah sakit menemani William dan Karenina. Mereka langsung datang begitu mendapat kabar dari William bahwa Ririn ada di apartemen dan sedang berusaha menyakiti Karenina.
Untungnya Willian menjawab panggilan Karenina hingga dia bisa mengetahui Kekasihnya sedang dalam bahaya. William langsung memutar arah mobilnya kembali ke apartemen, tidak lupa dia menghubungi polisi agar segera menyusulnya ke apartemen.
Luka-luka Karenina sudah di obati, lukanya kali ini tidak begitu parah di bandingkan sewaktu penculikan. Tapi William merasa ada yang aneh dengan Karenina.
“Sayang, kau baik-baik saja. Kepalamu masih sakit?” tanya William dengan lembut.
__ADS_1
“Will...”
“Kenapa, sayang. Kau butuh sesuatu?”
“Kenapa tidak bilang kalau mantanmu itu yang menculikku?” hal yang sejak tadi ingin Karenina tanyakan. Kenapa William selalu menutupi hal itu darinya.
William mengusap keningnya lalu mengecupnya dengan mesra. Kacupan itu membawa kehangatan yang mengalir di sekujur tubuh Karenina. Tapi dia tetap tidak melupakan kekesalannya pada William yang menutupi kebenaran sepenting ini darinya.
“Aku kan juga berhak tahu siapa yang ingin menyakitiku, aku juga sudah berdosa menuduh Tante Rina pelakunya” kata Karenina. Dia kesal dan tidak bisa menutupinya walaupun di sana ada calon mertuanya.
“Aku bukan menyembunyikannya, sayang. Aku hanya tidak mau itu membebanimu. Aku tidak mau kau memikirkannya dan membuatmu tidak nyaman” jelas William. Tentu William sengaja tidak menceritakannya agar Karenina tidak cemas apalagi mengetahui Ririn belum di tangkap.
Kata-kata lembut William di setiap ucapannya melelehkan hati Karenina. Kekesalannya berangsur hilang dan hatinya juga sudah mulai lega. Dia tersenyum memberi tanda pada William kalau dia sudah merasa baik sekarang.
“Kau tenang saja, Ayah pastikan dia tidak akan pernah muncul di hadapanmu lagi” Sebastian ikut memberi semangat pada Karenina.
Karenina tersenyum, dia sangat bersyukur bisa di cintai oleh orang-orang baik seperti William dan keluarganya.
Setelah merasa sudah lebih baik, Karenina ngotot meminta agar dia di rawat di rumah saja. Tapi William tetap bersih keras agar dia tetap berada di rumah sakit sampai dokter mengatakan kalau dia sudah di perbolehkan pulang.
Karenina akhirnya mengalah, toh ini semua juga demi kebaikannya.
Merry sudah ada di rumah sakit, dia langsung menuju rumah sakit sepulang kerja setelah Karneina menghubunginya.
__ADS_1
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau Wiliam punya mantan pacar yang sakit hati” Merry sama dengan Karenina yang sama sekali tidak menyangka kalau otak dari kejahatan itu adalah mantan kekasih William.
“Dia pasti masih berharap bisa kembali sama William kalau seandainya dia berhasil menyingkirkan kamu” tebak Merry.
“Tapi waktu itu William sudah tegas bilang ke dia kalau hubungan mereka sudah berakhir. Dia aja yang nggak tahu diri, masih berkhayal bisa mengambil William dari Karenina” kata Karenina.
“Tapi kamu hampir habis sih seandainya William tidak cepat datang” Merry mengejek Karenina karena dari ceritanya dia kalah telak dari Ririn saat mereka berkelahi.
“Aku belum siap dia sudah main cekik aja, lagi pula kepalaku sakit tahu di benturkan ke tembok” bela Karenina sambil memegang kepalanya yang di balut perban.
“Tapi kamu hebat, Nin. Kamu bisa selamat dari perempuan psyco seperti mantannya William. Kamu mungkin akan habis kalau ketemu lagi sama dia” ejek Merry.
“Nggak akan lagi. Dia sudah di penjara dan nggak akan keluar sampai nenek-nenek” kata Karenina. Sebastian sudah memastikan itu padanya tadi. Ririn akan berada di penjara untuk waktu yang sangat lama.
“Syukurlah”, kata Merry. “Tapi kamu harus memastikan ke William, Nin. Berapa banyak mantanya. Mungkin di luar sana ada banyak wanita yang merasa sakit hati karena mantan mereka yang seorang pangeran di negeri ini mau menikah” tambah Merry sengaja menakut-nakuti Karenina. Dan bodohnya, Karenina percaya dengan ucapan Merry.
“William sialan, sebenarnya apa yang sudah dia lakukan pada mantan-mantannya sampai sakit hati begitu. Aku kan yang jadi bulan-bulanan mereka. Satu Ririn saja aku hampir mampus, bagaimana kalau ada banya Ririn, ak mungkin sudah habis tercabik-cabik” Merry tertawa puas melihat Karenina ketakutan.
Tentu tidak ada lagi Ririn yang lain karena mantan William hanya ada satu yanitu Ririn.
Sementara William sedang ada di kantor polisi di dampingi lima pengacara terbaik S&M.
“Orang tuanya juga harus bertanggung jawab karena sudah menyembunyikan serang buronan di rumah mereka selama berhari-hari” tegas William kepada para pengacaranya. Tidak akan ada ampun siapapun mereka untuk yang sudah melukai calon istrinya.
__ADS_1
“Baik, Tuan” jawab pengacara. Mereka tentu akan bekerja sangat baik agar para tersangka mendapatkan semua hukkuman yang setimpal. Tidak terkecuali orang tua Ririn yang juga bersalah karena tidak menyerahkan anaknya kepada polisi dan malah menyembunyikannya hingga dia bisa kembali melakukan kejahatan.