
“Apa perusahaan membayar kalian dengan mahal hanya untuk membuat laporan sampah seperti ini”, William melempar kertas-kertas laporan di hadapan beberapa orang yang sedang menundukkan kepala di hadapannya. Pintu ruangannya terbuka lebar sehingga Karenina dan Rendra bisa mendengar dan melihat dengan jelas.
Hari ini mereka datang untuk meminta tanda tangan William untuk secara resmi melakukan pembangunan proyek perumahan. Ada beberapa staf S&M yang akan menemani mereka menemui William. Sebagai perwakilan khusus, harusnya Karenina bisa datang sendiri tanpa di dampingi Rendra, tapi tadi dia mati-matian membujuk Rendra agar ikut bersamanya. Dia takut William masih marah padanya. Saat makan semalam, laki-laki itu tidak bicara apapun sampai menurunkannya di depan rumahnya.
“Kita balik aja, Tuan William mungkin sedang tidak bisa di temui”, kara Rendra yang takut melihat amukan William. Apa lagi tadi mereka sempat bersitatap, atau lebih tepatnya William melirik sebentar ke arah Karenina.
Staf S&M itu nampak berfikir, lalu mengangguk setuju. Karenina dan Rendra lalu berjalan menuju lift dan menunda pertemuan dengan William.
“Perbaiki dalam waktu satu jam, jika tidak serahkan surat pengunduran diri kalian. Sekarang keluarlah”. Orang-orang itu kelar dari ruangan CEO dengan tubuh yang gemetar, menyelesaikan laporan ini dalam waktu satu jama adalah hal yang mustahil.
“Dia ternyata tidak sebodoh Ayahnya” kata salah satu dari mereka saat sudah berada di dalam lift.
“Apa yang harus kita lakukan, usaha kita selama lima tahun akan sia-sia kalau anak brengsek itu menyingkirkan kita”, kata yang lainnya.
“Sial, harusnya kita bisa lebih hati-hati lagi”, kata orang lainnya. William sudah mencium gelagat mencurigakan dari ketiga orang itu, oleh sebab itu dia membuat rencana untuk menyingkirkan mereka semua. Dia tidak akan membiarkan kerja keras Ayahnya di hancurkan tikus seperti mereka. bukan hanya tiga orang manager senior itu, tapi ada beberapa lagi yang akan William singkirkan.
Sementara itu di ruangan CEO.
“Kenapa Ayahku bisa mempekerjakan pencuri seperti mereka, berapa banyak uang Ayahku yang sudah merekan curi”. William masih teriak-teriak di ruangannya, hanya tersisa Ryan sebagai pelampiasan kekesalannya.
“Suruh perwakilan Dimension itu masuk”, katanya kemudian.
“Mereka sudah pulang, Tuan”.
‘Siapa yang mau bertemu anda setelah melihat anda marah-marah tadi, mereka pasti tidak nyaman’
“APA, siapa yang meminta mereka pulang, panggil mereka kembali. SEKARANG”, Ryan berlari mencari perwakilan Dimension, mereka belum lama pergi mungkin masih ada di loby.
Benar, mereka masih terlihat sedang berbincang dengan Adam di loby.
“Maaf”, Ryan mengatur nafasnya yang memburu, dia habis lomba lari marathon dengan banyangannya untuk menemukan Karenina dan Rendra.
‘Aku mau mengundurkan diri saja, aku sudah tidak tahan bekerja dengan orang gila seperti Tuan William’
“Ryan, kamu kenapa” Karenina mengkertutkan keningnya.
“Tuan Williaam meminta anda ke ruangannya, maksud saya memita perwakilan Dimension ke ruangannya”. Karenina dan Rendra bergidik ngeri membayang kan tadi William seperti orang kesurupan yang marah-marah.
“Besok aja deh, Tuan William pasti masih marah. Aku takut”, kata Karenina yang di setujui Rendra.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Tuan William tidak akan marah jika tidak ada kesalahan” kedua perwakilan Dimension itu akhirnya menemui William setelah Adam meyakinkan mereka.
Karenina berjalan di belakang Renda dan meremat kuat kemeja laki-laki yang sudah dia anggap seperti kakaknya. Dia masih menunduk takut untuk bersitatap dengan William.
“Berikan padaku dokumen yang harus aku tandangani”
“Ini Tuan”, Rendra memberikan padanya sebuah map. Dia mengeluarkan beberapa kertas yang sudah tersusun rapi dan membacanya dengan teliti, sesekali Karenina mengangkat wajahnya menatap laki-laki itu.
‘Astaga, jantungku. Dia tampan sekali membaca serius seperti itu. hiks hiks, apa dia itu bukan manusia, dia itu titisan dewa yunani yang sedang menyamar jadi manusia. Eh aku pikir apa sih’
William membubuhkan tanda tangan berharganya pada tiap lembar dokumen itu setelah tidak menemukan adanya kesalahan, dia menyerahkan kembali dokumen yang sudah dia masukkan kembali kedalam map kepada Rendra.
“Aku harap Dimension tidak mengecewakanku dan pembangunan kalian sesuai dengan apa yang kalian presentasikan padaku”, katanya dengan wajah datarnya
“Kami tidak akan mengecewakan anda”.
“Keluarlah, aku ingin bicara berdua dengan Karenina”. Rendra dan yang lainnya terkejut, untuk apa bicara berdua saja, kenapa tidak bicara sekarang.
“Silahkan”, Ryan yang mendapat pelototan tajam dari William mengarahkan mereka semua keluar ruangan, Rendra melihat tatapan memohon Karenina agar dia tidak meninggalkannya sendiri bersama orang sinting di sampingnya itu merasa tidak tega meninggalkannya.
“Silahkan” kata Ryan sekali lagi yang di tujukan pada Rendra.
‘Kenapa ekspresinya sudah berubah, di matanya sudah tidak ada api yang menyala kayak tadi. Dia punya kepribadian ganda barang kali’
“Kau kenapa sih”, William meletakkan minuman kaleng di depannya dengan cukup kasar setelah membuka penutupnya membuat Karenina memegangi dadanya karena terkejut.
“Maaf”
“Kenapa minta maaf, karena menolakku semalam”
‘Kenapa dia membahas itu sih, ini kan di kantor, di kantormu Tuan William’
“Maaf, apa yang mau anda bahas dengan saya, Tuan William”
“Karenina, kau benar-benar mau membuatku marah ya”
‘Aku kan bertanya dengan sopan, kenapa kau mau marah’
“Sudahlah”, William kembali duduk di kursi kebesarannya dan meningalkan Karenina yang sedang bingung di tempatnya. Karenina yang melihatnya fokus pada layar komputer di depannya kembali terpesona, tidak berhentinya dia mengagumi keindahan yang terpampang dengan jelas di depan matanya.
__ADS_1
“Kau sepertinya sangat terpesona denganku, lalu kenapa tidak mau jadi kekasihku. Aku akan membiarkanmu melihat wajah tampanku ini selama yang kau mau” William mendapatinya sedang memperhatikannya tanpa mengedipkan mata.
‘Narsis, tapi dia memang tampan, sangat malah’.
“Emmm, kalau tidak ada yang mau anda bicarakan saya mau pulang saja”, Karenina sudah berdiri dari duduknya, William sejenak mengalihkan pandangan padanya.
“Duduklah, tunggu sebentar lagi aku menyelesaikan ini. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat”
“Kemana? ke apartemenmu?”
“Kau mau, boleh juga”, Karenina mendesis, dia berjalan mendekati kursi William.
“Memangnya apa yang kau kerjakan”,
“Jangan bicara formal padaku kalau hanya ada kau dan aku, aku tidak suka mendengarnya”.
“Tapi kau kan memang seorang yang harus aku hormati, Tuan William”, memancing terus sengaja mau membuat William kesal, padahal kalau William kesal dia juga yang takut.
“Aku mau kembali ke Dimension, Will. Banyak yang harus aku kerjakan”. William tidak memperdulikan rengekannya dan tetap fokus pada layar komputer di depannya. Karenina berdecak lalu kembali duduk di sofa di dalam ruangan William, dia meminum minuman kaleng yang tadi William berikan padanya. Sambil matanya berkeliaran memandang sekeliling ruangan itu.
“Will, apa aku boleh buka ini”, Karenina mendapati kulkas mini di ruagan itu. William melirik yang di tunjuk Karenina lalu mengangguk.
‘Apa ini, kenapa isinya hanya minuman dan tidak ada cemilan atau buah’. Karenina menutup kulkas mini itu dan kembali melihat sekitar.
“Kau mau makan sesuatu”, Karenina mengangguk cepat.
“Mau makan apa?” tanya William.
“Buah” jawabnya cepat. William lalu menghubungi sekertarisnya lewat sambungan intercom. Tidak lama setelah itu seorang wanita masuk membawa pesanan yang di minta William, tatapannya tertuju pada Karenina yang tersenyum lebar pada nampan yang di bawa wanita itu.
‘Dia kan perwakilan Dimension, apa hubungannya dengan Tuan William?’
“Simpan di meja dan keluarlah” wanita itu menunduk sopan pada William. “Tunggu”, langkah wanita itu terhenti, William berjalan mendekatinya dengan tatapan yang sangat dingin.
“Aku tidak mau mendengar gosip murahan di kantorku, jika aku mendengarnya maka kau adalah orang yang bertanggung jawab. Apa kau mengerti”. Wanita itu langsung berwajah pias, bisa-bisanya William tahu apa yang mau dia lakukan nanti.
“Apa kau mengerti”, katanya mengulang pertanyaannya saat wanita yang sekertarisnya itu belum menjawab pertanyaannya. Bukan tidak mau menjawab, tapi dia terkejut seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
“I-I iya, Tuan” jawabnya. Dia langsung keluar begitu William mengusir dengan tangannya. Karenina, jangan tanya dia, dia diam membeku di tempatnya melihat William memperlakukan orang lain dengan… kasar? Dan itu adalah seorang wanita.
__ADS_1
William kembali duduk di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya seolah dia tidak sudah membuat orang lain gemetaran.