Takut Menikah

Takut Menikah
Tanggung jawab


__ADS_3

Seperti yang william katakan, hari ini sebuah mobil sedan mewah sudah terparkir di depan rumah kontrakan Karenina lengkap dengan supirnya. Mobil dan supirnya jadi perhatian orang-orang yang kebetulan lewat. Supir dengan postur tinggi tegap memakai kemeja putih yang di gulung sebatas siku dan celana bahan hitam juga kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya membuat banyak orang hampir saling bertabrakan melihatnya. Terpesona. 


Merry keluar pertama dari rumah itu, dia sampai hampir tersandung melihat pemandangan tidak biasa di depan rumahnya. Supir yang di utus William melihat ponselnya lalu melihat Merry, dia membiarkan Merry berlalu karena foto yang ada di ponselnya tidak mirip dengan wanita yang baru saja masuk ke dalam mobil lain.


Hal yang sama dia lakukan pada Rara, wanita itu mengkerutkan keningnya melihat mobil dan supirnya berada tepat di depan rumah mereka. lalu dengan cuek masuk ke dalam mobil kekasihnya yang sudah menunggunya.


Dan yang terakhir Karenina, wanita itu mengumpulkan banyak tenaga sebelum bangun tadi pagi. Ojek online yang dia pesan sudah menunggu di depan rumah, Karenina yang sudah akan memakai helm langsung di cegat oleh supir yang di utus William setelah laki-laki itu memastikan bahwa wanita yang keluar terakhir adalah wanita yang di maksud William.


Laki-laki itu membuka kacamata hitamnya, membungkuk hormat pada Karenina dan memperkenalkan dirinya.


“Silahkan masuk ke dalam mobil, Nona. Saya akan mengantar dan menjemput anda bekerja mulai hari ini dan seterusnya”, Karenina membulatkan matanya.


‘William sialan, apa lagi yang dia mau lakukan padaku’.


“Baikah”, kata Karenina “Sini, berikan helmnya. Aku akan mengembalikannya dulu pada ojeknya“, supir itu memberikan helm kepada Karenina, wanita itu langsung naik ke atas motor begitu supir itu berbalik menuju mobilnya.


 “Jalan Pak, cepat”


“NONA, NONA KARENINAAAA…..”  Supir itu berlari memburu motor yang melaju dengan cepat. “Sialan, bisa-bisanya aku di kelabui seorang wanita”, ucapnya gusar.


“Tuan William pasti akan mengamuk kalau tahu aku gagal melakukan tugas penting yang dia berikan padaku”. Dengan lemas supir tampan itupun masuk kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya kembali ke S&M Company.


“Kenapa nggak naik mobil aja Non, kan lebih enak nggak kena matahari”, kata tukang ojek ketika motornya sudah membaur dengan kendaraan lain di jalan yang sesak.


“Saya nggak kenal, Pak. Siapa tahu aja dia mau culik saya”. Kata Karenina menjawab dengan sedikit ketus, bukan bermaksud marah pada tukang ojeknya tapi dia marah pada William.


Sesampainya di Dimension, Karenina langsung mencari Pak Luis. Dia bermaksud untuk menarik diri dari proyek ini dan juga sebagai wakil untuk Dimension. Dia tidak akan sanggup bertemu William selama kerjasama mereka terjalin yang mungkin akan berlangsung selama kurang lebih lima tahun.


“Saya mau bicara penting, Pak” Luis mempersilahkan Karenina duduk di depannya.


“Ada apa, Nina?”


“Saya nggak bisa melanjutkan proyek ini pak, maafkan saya”. Karenina menundukkan kepalanya takut menatap mata Luis yang saat ini pasti sedang mengarah padanya.


“Kenapa Nina, Kenapa tiba-tiba kamu ingin menarik diri”.


“Aku, aku…”

__ADS_1


“Apa ada hubungannya dengan Tuan William, tapi saya dengar dari teman-teman kamu kalau Tuan William memperlakukan kamu dengan baik. Lalu ada apa?”


Karenina masih menunduk, dia tidak bisa memberikan alasan yang tepat atas penarikan dirinya.


“Nina, kamu tahu kalau proyek ini sangat besar, kamu dan teman-teman kamu juga sudah menaruh banyak usaha untuk proyek ini. Saya harap kamu tidak menghancurkannya hanya untuk keegoisan kamu”.


“Maaf”


“Baiklah, kalau tidak ada lagi yang mau kamu katakan, silahkan lanjutkan pekerjaan kamu dan saya akan menganggap kamu tidak mengatakan apapun hari ini”. Karenina keluar dari ruangan Luis dan laki-laki itu melanjutkan pekerjaannya. Dia mendongak menatap punggung Karenina yang kemudian menghilang di balik pintu.


“Ada-ada saja”, gumamnya.


Sebelum kembali ke mejanya, Karenina singgah di pantry lebih dulu membuat secangkir moccacino kesukaannya.


“Wangi banget”, dia duduk dengan nyaman di salah satu kursi sambil menyesap moccacinonya.


‘Benar juga, proyek ini adalah masa depan Dimension, bagaimana aku bisa berfikir meninggalkan proyek ini hanya karena orang brengsek seperti William dan kenapa juga aku jadi cengeng begini. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku menangis. Tapi laki-laki kurang ajar itu sudah membuang motorku, hiks hikss. Aku benar-benar mau mencekik lehernya sampai lidahnya keluar’.


Karenina menyesap habis moccacinonya dan menyemangati dirinya sendiri, dia  membuang fkiran untuk menarik diri dari proyek ini, dia akan mengahadapi William.


‘Aku kan bukan wanita lemah, sejak kapan ada orang yang boleh menindasku. Tapi dia sangat menakutkan semalam, suaranya sudah seperti petir yang menghancurkan gendang telingaku dan juga dia membuang motorku, hiks hikss’.


“Nin, ada yang cariin”, Susi datang memberi tahu Karenina, gadis itu sudah akan pulang terlihat dari tas yang sudah tersampir di bahunya.


“Siapa?”


“Liat aja”


‘Issh, bilang aja siapa susah amat’


“Kenapa”, kata Karenina dengan ketus melihat yang datang mencarinya adalah Ryan.


“Tuan William ada di mobil, Nona”


“Teruss”


“Tuan ingin bertemu dengan anda”

__ADS_1


“Aku sibuk” Karenina lalu membuang wajahnya sok angkuh dan berjalan untuk kembali ke mejanya, tapi…


“Kalau anda tidak mau, Tuan William yang akan datang sendiri dan menggendong anda, Nona”


“Apa…”, Karenina mengepalkan tangannya dengan mata yang menyala.


‘Kesabaranku benar-benar sudah habis sekarang’.


Karenina masuk memtikan komputernya, merapikan mejanya asal, “guys, aku nggak bisa lembur, maaf ya”. Tanpa menunggu jawaban teman-temannya Karenina langsung berlari keluar.


‘Apa yang akan aku katakan kalau laki-laki sinting itu menggendongku di depan teman-temanku’


 Ryan membukakan pintu depan untuk Karenina, dia melihat William sudah duduk di belakang kemudi.


‘Sial, kenapa dia keren banget padahal aku sudah sering lihat laki-laki dengan satu tangan memegang stir mobil dan satu tangannya memegang ponsel. Kenapa dia sangat berbeda dengan yang lain’


Karenina menggelengkan kepalanya ‘ Sadar Karenina, dia hanya laki-laki sinting yang kebetulan sangat tampan’


“Pakai sabuk pengamanmu, atau kau mau aku yang pakaikan”. Dengan emosi yang membara Karenina memasang sabuk pengamannya.


‘Sempat-sempatnya aku memuji orang sinting ini’


Setelah Karenina sudah duduk dengan nyaman, William melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Berhenti di sini saja” William menoleh lalu meminggirkan mobilnya.


“Kenapa, kau lupa sesuatu?”


‘Apa, kenapa dia bicara santai sekali seolah dia tidak sudah melakukan dosa besar’


“Apa mau mu sebenarnya, kau membuang motorku baiklah, aku akan memaafkanmu untuk itu. Tapi bisakah mulai sekarang kau jangan menggangguku lagi, biarkan aku hidup dengan baik seperti kehidupanku yang biasanya. Dan masalah pekerjaan, mari kita melakukannya secara profesional. Bukankah sudah aku bilang, anggap saja kita tidak pernah bertemu setelah liburan itu” Karenina merasa puas setelah mengatakan apa yang mau dia katakan.


“Kau pikir kau bisa pergi semudah itu setelah kau datang dan mengacaukan hidupku, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu”


“Tanggung jawab? Tanggung jawab apa, memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu, aku kan tidak menghamilimu kenapa aku harus tanggung jawab padamu”


‘Sinting, di mana-manakan wanita yang minta pertanggung jawaban, tapi kenapa laki-laki sinting ini malah minta aku bertanggung jawab padanya’ Karenina

__ADS_1


‘Kau membuatku bingung dengan perasaanku padamu, sebelum aku yakin seperti apa perasaanku padamu, aku tidak akan melepaskanmu’. William


__ADS_2