Takut Menikah

Takut Menikah
Salah pergaulan


__ADS_3

“Mer…” Karenina mengtuk pintu kamar Merry dengan pelan berulang kali tapi tidak ada jawaban dari dalam. Karenina membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, dia melihat Merry sudah berada di bawah selimutnya. Karenina mendekat dan naik di atas tempat tidur Merry.


“Nina..” Merry bangun dan membuka masker yang menempel di wajahnya.


“Sttt, nanti Rara tahu aku ada di kamar kamu, kan nggak enak. Nanti pikirnya kita lagi gibahin dia”


“Habisnya kamu, di tungguin nggak datang-datang. Ngga tahunya malah lagi kencan”


“Sorry”. Merry bangun lalu mengunci pintu kamarnya.


“Sekarang jelasin, kamu kencan sama siapa. Siapa brengsek yang seenaknya matikan telepon tadi”, sudah seperti yang Karenina duga akan reaksi Merry.


“Pelan-pelan Mer, tapi kamu juga harus cerita ada hubungan apa kamu sama Ryan” Merry mendesah kesal mendengar Karenina menyebut Ryan.


“Dia William Anggoro..”


“William Anggoro, CEO S&M Company”, kedua bola mata Merry rasanya sudah seperti mau keluar dari kelopaknya “Jadi dia William Anggoro, pantas saja dia terkenal arrogan nyatanya dia memang arrogan dan kurang ajar” Karenina menganguk setuju, William memang seperti itu kan?.


“Bagaimana kau bisa dekat dengannya dengan penampilanmu seperti ini, aku dengar William Anggoro seorang pemain hebat. Atau jangan-jangan kau sudah..”


“Mer…” Karenina memotong cepat ucapan Merry lalu secepatnya memberi tatapan tajam pada temannya itu. “tapi apa maksudmu dengan penampilanku yang seperti ini, memangnya aku kenapa?” balik Karenina yang sewot. Itu sudah termasuk penghinaan untuknya, walaupun memang benar.


“Kau terlalu sederhana untuk seorang William Anggoro, aku yakin dia tidak serius denganmu”, dasar Merry teman tidak ada akhlak malah membuat Karenina semakin berfikir yang tidak-tidak tentang William.


‘Aku tahu Mer, tapi tidak usah juga kau mengatakannya di depanku. Bikin hatiku sakit saja’


“Dengar Nina, jangan berikan apapun yang dia inginkan darimu. Jangan pernah berikan tubuhmu padanya. Aku yakin setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan dia pasti akan meninggalkamu”


“Kau kan juga sering seperti itu bersama teman kencanmu, awww” Meryy menyentil keningnya dengan cukup keras.


“sakit Mer”, teriaknya mengusap-usap keningnya.

__ADS_1


“Kau fikir aku sering bercinta dengan mereka, aku menyerahkan diriku pada mereka begitu fikirmu?” kata Merry dengan kesal.


“Kau dan Juwita kan selalu cerita kalau kalian habis bercinta, kau bilang rasanyaa….”


“Hahahahaaa. Nina, kau benar-benar polos dan juga bodoh” wajah Karenina pucat seketika “Jadi kau ttidak pernah melakukannya?” tanyanya dengan suara pelan.


“Tentu saja tidak pernah, aku hanya pernah melakukannya sekali dengan laki-laki brengsek itu” Karenina jatuh lemas di tempat tidur, jadi selama ini dia hanya termakan omomg kosong Merry dan Juwita.


Mungkin ini yang di sebut salah pergaulan, berteman dengan Merry dan Juwita membuat otaknya selalu berfantasi dengan liar. Dia benar-benar berfikir kalau dua temannya itu memiliki pergaulan bebas seperti apa yang mereka ceritakan.


Bagaimana juga dia tidak berfikir seperti itu kalau dia sering melihat Merry dan teman laki-lakinya berciuman dengan penuh na*fsu.


“Lalu kenapa kau mengganti teman kencanmu hampir setiap bulan?”


“Tidak setiap bulan juga sebenarnya, kalau mereka sudah mau macam-macam denganku, aku pasti meninggalkan mereka. Aku hanya bisa memberi mereka ciuman panas, tidak lebih”.


‘Hiks hiks, aku sampai menyerahkan diriku pada William karena seringnya mendengar mereka cerita. Harusnya aku bergaul sama Rara saja agar fikiranku tidak teracuni’


“Jangan pernah menyerahkan dirimu pada laki-laki yang tidak ada ikatan apapun  denganmu, kendalikan dirimu sedalam apapun suasana yang tercipta. Sekali kau melakukannya, kau akan menyesalinya seumur hidupmu”.


Kata-kata Merry seakan menampar Karenina. Dia dengan bodohnya malah dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang baru dia temui hanya karena penasaran.


‘Terlambat Mer, terlambat. Aku bahkan melakukannya dua malam berturur-turut’


“Mau kemana?” Karenina turun dari tempat tidur Merry “Balik kamar”, katanya sayup-sayup.


Karenina merebahkan dirinya di tempat tidur, dia tidak punya tenaga lagi untuk membersihkan dirinya. Menyesal, sudah pasti dia sangat menyesalinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada yang bisa dia rubah tentang itu.


Tanpa terasa pagi sudah datang lagi tidak perduli ada seseorang yang masih tidak rela menyambut kedatangannya. Cahaya matahari yang memaksa masuk dari tirai yang tidak terttutup rapat membuat seseorang yang masih berada di dalam selimut terpaksa membuka matanya.


Masih dengan pakaian yang ia pakai kemarin, Karenina keluar kamarnya dengan handuk dan perlengkapan mandi. Dia mau menggguyur kepalanya dengan air dingin agar fikirannya bisa segar kembali.

__ADS_1


“Nina, Tuan William mau jemput kamu”, Karenina mengangguk “sudah di depan malahan”.


Rara sudah lebih dulu keluar dari rumah. Dia mendapati kekasihnya sedang berbincang bersama William, Rara menunduk sopan pada William karena dia sudah tahu kalau laki-laki itu adalah boss besar kekasihnya, lalu tersenyum manis pada teman Merry dan masuk ke dalam mobil. Kekasih Rara menundukkan kepalanya pada William lalu masuk ke dalam mobilnya, mobil pertamapun melaju meninggalkan rumah itu.


“Kamu keluar duluan deh, Nin. Aku malas ketemu pacar kamu itu”, Merry entah harus bereaksi apa menghadapi William. Dia kesal setelah teleponnya di putus begitu saja, tapi dia juga tidak bisa memaki laki-laki itukan.


“Kamu aja deh yang duluan, aku malu tahu sama teman kamu itu”. sepuluh menit mereka saling berdebat di belakang pintu tentang siapa yang akan keluar duluan, dan akhirnya Karenina yang mengalah.


Dia keluar sambil sok sibuk memainkan ponselnya padahal yang dia lakukan hanya scrol-scrol tidak jelas. Dia malu bertemu dengan teman Merry. Benar kata Merry, penampilannya yang sederhana dan biasa ini tidak mungkin membuat seorang seperti William mau melihatnya kalau tidak ada yang William inginkan.


“Jangan melihat ponselmu kalau kau sedang jalan, kau bisa tersandung”, William menarik tangannya dengan lembut dan mendudukkannya di dalam mobil. Hari ini dia membawa mobilnya sendiri, bukan karena tidak ingin kejadian kemarin terulang tapi karena Ryan langsung ke kantor untuk menyiapkan rapat penting pagi ini.


“Temanmu itu marah padamu semalam?”, Karenina menggeleng. Wanita itu memandangi William lalu menghela nafas sepelan mungkin. Dia teringat kata-kata Merry semalam juga pada kesalahan bodoh yang sudah dia lakukan.


Tiba-tiba saja ada pertanyaan aneh di hatinya, bagaimana nanti jika ada orang yang berhasil meyakinkannya untuk menikah, membuatnya percaya bahwa pernikahan tidak semenakutkan yang dia bayangkan. Lalu orang itu mengetahui bahwa dia sudah tidak perawan lagi, apa yang akan dia katakan.


“Kau kenapa Karenina?” Karenina membenturkan kepalanya di kaca mobil tanpa sadar.


“Emmm, aku tidak apa-apa”, memberi senyum manisnya pada William.


William menahan tangan Karenina yang akan membuka pintu saat mobil itu sudah berhenti di depan gedung kantornya, Karenina menaikkan kedua alisnya. William mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut keningnya membuat wanita itu terperanjak.


“Jangan dengarkan apapun yang orang katakan, aku benar-benar menyukai kau yang apa adanya dan sederhana seperti ini. Aku sudah mengganti seleraku asal kau tahu”, William mengelus pipinya dengan lembut. Karenina tanpa sadar menarik sudut bibirnya, kata-kata William barusan seperti angin sejuk yang melenyapkan kegundahannya.


“Keluarlah, dan ingat jangan berfikir terlalu banyak”, Karenina mengangguk dan keluar dari mobil William.


Dia menghirup udara banyak-banyaknya sebelum melangkahkan kakinya memasuki gedung Dimension.   


 


 

__ADS_1


__ADS_2