
Bab 17
William benar-benar mengantarkan Karenina pulang malamnya, laki-laki itu sudah melupakan amarah yang sempat muncul di hatinya tadi.
“Jangan menolak mobil dan sopir yang ku kirim untukmu”. William menahan tangan Karenina yang akan membuka pintu mobil. Karenina terdiam sebentar lalu mengatupkan kedua tangannya di depan William.
“Jangan melakukannya, aku mohon. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada teman-temanku, kau tidak tahu bagaimana mengerikannya mereka ketika sedang penasaran” Karenina memohon dengan sangat agar William tidak melakukannya lagi.
Wiilliam berdecak, laki-laki itu nampak berfikir. “Lalu kau ke kantor naik apa?”
“Aku beli motor lagi saja, pakai uang yang kau berikan. Anggap saja ganti rugi motorku yang kau buang”
“Jangan mulai lagi Karenina, aku bilang kau tidak boleh lagi bawa motor. Kenapa kau tidak mau mendengarku”, amarahnya tersulut lagi, Karenia diam sebentar menelisik William dengan fikirannya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?”
“Aku penasaran, kenapa kau sangat perduli padaku. Apa kau memperlakukan semua wanita yang sudah kau tiduri seperti aku. Aku rasa kau sudah sangat jauh mencampuri hidupku. Aku tidak nyaman, aku paling benci ada orang yang melarangku melakukan apa yang ku mau”.
Karenina keluar dari mobil William setelah mengatakan kata-kata yang membuat William tertegun. Laki-laki itu masih di tempatnya ketika Karenina sudah masuk ke dalam rumahnya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu melajukan mobilnya kembali ke apartemennya.
“Nina, kamu dari mana aja?” Merry dan Rara sedang duduk di ruang tamu menunggu Karenina.
“Sudah lapor polisi kalau motor kamu hilang”, Karenina melirik Rara, yang di lirik hanya mengendikkan bahu, dia tidak tahan menyimpan sendiri.
“Nggak, aku sudah ikhlas kok”, jawabnya tidak sepenuhnya bohong karena dia memang sudah mengikhlaskan motornya di buang William.
“Kenapa bisa hilang?” Merry masih memberondongnya dengan pertanyaan, Karenina tahu kalau teman-temannya perduli padanya tapi sekarang dia sedang tidak ingin bicara pada siapapun.
“Aku istirahat dulu ya, besok aja aku ceritanya”, katanya. Merry dan Rara saling pandang saat Karenina meninggalkan mereka dengan rasa penasaran di hati.
‘Maunya apasih, memangnya dia siapa seenaknya melarangku melakukan apa yang ku mau’ Karenina melempar tasnya di atas tempat tidur membuka semua pakaiannya menggantinya dengan baju tidur super seksi yang hanya berani dia pakai di dalam kamarnya, dia bahkan tidak mau menunjukkannya bahkan pada Rara dan Merry.
Pagi harinya, Karenina tidak melihat ada mobil lain terpakir di depan rumahnya selain mobil kekasih Rara dan Merry.
‘Dia tahu diri juga akhirnya, syukurlah’. Karenina dengan perasaan tenang berangkat ke kantor dengan ojek online yang sudah dia pesan. Merry dan Rara menawarkan tumpangan tapi di tolaknya, dia merasa tidak enak pada kekasih mereka.
“Nin, aku dengar dari Merry kalau motor kamu hilang. Kok bisa?” Karenina menghela nafas dengan gusar, dia lolos dari Merry dan Rara tapi malah sudah di hadang Juwita bahkan sebelum dia meletakkan tasnya.
__ADS_1
“Jangan di bahas lagi ya, aku malas banget kalau bahas motorku”, katanya dengan wajah memelasnya. Berhasil, Juwita menepuk bahunya lembut lalu kembali ke mejanya.
‘Maafin aku ya teman-temanku sayang, aku nggak mungkin jujur sama kalian kalau motorku bukan hilang, tapi di buang, di buang. Dan hubunganku dengan seorang laki-laki sinting yang semaunya, biarkan itu semua menjadi rahasiaku, menjadi aib terbesarku. Aku harap dia benar-benar tidak menggangguku lagi’
Karenina melanjutkan pekerjaannya, dia menyibukkkan diri seperti biasa tenggelam dengan pekerjaannya.
“Nina, kita ada meeting dengan bagian perencanaan S&M siang ini. Kamu siap-siap ya” kata Rendra menyerahkan beberapa map pada Karenina.
“Hanya dengan bagian perencanaanya kan, tidak dengan Tuan William?” tanyanya memastikan.
“Tidak, tapi kita meeting di gedung S&M” Karenina mengangguk, “Oke”, jawabnya.
Karenina dan Rendra sudah memasuki gedung S&M, mereka di sambut bagian perencanaan perusahaan itu dan mengarahkan mereka ke ruang meeting. Mereka bersitatap dengan William yang baru saja kembali dari makan siang, Rendra dan staf perencenaan S&M menunduk dengan hormat padanya. William sama sekali tidak melihat ke arah Karenina, laki-laki itu berjalan dengan kepala tegak dan wajah yang datar. Karenina mengendikkan bahunya tidak perduli sama sekali.
‘Baguslah kalau dia tidak perduli padaku lagi. Haaa, akhirnya aku bebas darinya’.
“Silahkan, salah satu staff perencanaan itu mempersilahkan mereka duduk. Mereka lalu membahas rencana pembangunan yang akan di mulai bulan depan setelah merampungkan semua rinciannya.
“Kami akan sampaikan pada Tuan William hasil meeting kita hari ini”, kata salah satu staff perencanaan itu. Meeting mereka memakan waktu cukup lama tadi, dan sekarang sudah waktunya pulang kantor.
“Kami tunggu konfirmasi anda secepatnya”, kata Rendra. Mereka lalu berjalan keluar ruangan itu.
“Kenapa kau tidak menyapa Tuan William, Karenina?”
“Pak Rendra kan sudah menyapanya, untuk apa aku menyapanya juga, dia bisa besar kepala nanti”,
“Kau ini, ayo pulang”
“Aku langsung pulang aja ya, nggak usah balik kantor lagi”
“Aku akan mengantarmu pulang”
“Oke”.
Mobil William memasuki halaman rumah orang tuanya, Ibunya tadi menelpon dan memintanya datang untuk mengunjunginya.
“Tidak bisakah kau datang tanpa harus di telpon dulu”, William memeluk Ibu lalu Ayahnya.
__ADS_1
“Maaf, Bu. Ayah meninggalkanku banyak sekali pekerjaan”, William berkilah sambil melirik Ayahnya yang sedang asyik menonton berita tentang sepakbola. Laki-laki paruh baya itu menoleh padanya.
“Kau bekerja bahkan di hari minggu?” tanya Ayahnya sarkas. William menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba gatal.
“Aaah, atau membawa kekasihmu jalan ke mall juga termasuk pekerjaan yang Ayah tinggalkan untukmu”.
“Ayah, sudahlah. Kalau kalian hanya akan menggodaku lebih baik aku kembali saja ke apartemen”, rengeknya pada Ayahnya.
“Jadi siapa gadis itu?” Ibu bertanya dengan antusias mengabaikan wajah kesalnya setelah Ayah menggodanya.
“Dia bukan siapa-siapa, Bu”
“Tapi Ayah lihat kau sangat perduli padanya, kau bahkan menggenggam tangannya sepanjang jalan”
“Apa Ayah dan Ibu memata-mataiku?” William memicingkan matanya menaruh curiga pada orang tuanya.
“Memang Ayah dan Ibu kurang kerjaan memata-mataimu, kami sedang jalan-jalan ke mall kemarin dan tidak sengaja melihatmu. Kami juga lihat kau meninggalkan mall tanpa membeli apapun untuk kekasih mu itu”
“Dia tidak mau ku belikan apa-apa, Yah. Dan juga dia bukan kekasihku”.
‘Kalau aku tahu Ibu memanggilku hanya untuk membahas ini, aku pasti tidak akan datang’
“Kenapa kau tidak menjadikannya kekasihmu saja lalu bawa dia kemari dan perkenalkan pada Ibu”. Ibu masih seantusias tadi membahsa wanita yang kemarin dia lihat jalan bersama putranya.
“Kalau Ayah dan Ibu melihatnya, harusnya kalian tahu kalau dia bukan seleraku”, Ayah tiba-tiba melemparnya dengan bantalan sofa membuatnya sedikit mangaduh.
“Ayahh”.
“Berhentilah mempermainkan wanita, Will. Kau pikir Ayah tidak tahu kelakuanmu di luar negeri”, William lagi-lagi menggaruk pelipisnya. “Kau punya seoranga adik perempuan, kau tidak mau ada yang mempermainkan adikmu kan”, sambung Ayah.
“Will, kalau kau memang tidak menyukainya jangan memberi harapan padanya”. Ibu mulai menyerah dengan kekasih William, ada raut kecewa yang nampak di wajahnya.
“Aku tidak memberinya harapan, Bu. Dan aku juga tidak mempermainkannya. Dia tidak menyukaiku, dia manis hanya karena ada maunya saja”.
“Dia tidak menyukaimu, hahahahaha. Ayah jadi penasaran wanita sepertia apa itu yang tidak menyukaimu”. William sudah gusar, dia meninggalkan Ayah dan Ibunya yang masih menertawainya.
__ADS_1