Takut Menikah

Takut Menikah
Karenina di culik


__ADS_3

Usaha Merry dan Rara menghubungi William akhirnya membuahkan hasil walaupun harus memakai ponsel Karenina. Kebetulan Merry tahu sandi ponsel Karenina, jadi mudah bagi Merry membuka ponsel temannya itu.


“Haloo... William” teriak Merry begitu panggilannya terhubung, William di seberang sana menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia melihat di layar ponselnya, benar nama Karenina tertera di sana tapi kenapa bukan suara Karenina?


“Siapa ini? Dimana Nina?” pertanyaan tidak sabar dari William.


“Ini aku, Merry. Teman Nina”,jawab Merry tergesa-gesa.”Aku mau tanya, apa Nina bersamamu?” William di sebelah sana mengkerutkan keningnya.


“Tidak, aku baru saja mengantarnya pulang”, Merry dan Rara lemas seketika.


“Hanya ada sepatu dan tas Nina, aku sudah mencarinya di seluruh rumah tapi aku tidak menemukannya. Aku...” suara tut tut sudah terdengar saat Merry masih ingin berbicara. William memutuskan panggilan teleponnya.


“Kenapa Mer?”, tanya Rara, “Di putus”, jawab Merry.


Sementara William yang mendengar berita itu dari Merry langsung menuju ke rumah Merry, tidak lupa dia menghubungi Ryan terlebih dahulu agar menyusulnya segera ke rumah Merry.


Ryan sampai lebih dulu, begitu Merry melihat Ryan di depan pintu dia langsung memalingkan wajahnya.


“Ada apa dengan Karenina?” tanya Ryan begitu sampai, dia hanya memakai baju kaos yang di tutupi hoddie dan celana training. Willam menyuruhnya segera ke rumah Karenina jadi dia tidak sempat mengganti bajunya.


“Nina hilang”, pertanyaannya tertuju pada Merry tapi Rara yang menjawabnya melihat Merry yang tidak mau bicara pada Ryan.


“Apa? Kenapa bisa? Apa kalian sudah mencoba mencarinya di semua tempat?” tanya Ryan dengan panik. Itu sebabnya William memintanya segera datang setelah mengatakan terjadi sesuatu pada Karenina di telepon tadi.


“Mer, kita fokus sama Nina dulu ya”, kata Rara. Kerja sama semua orang saat ini pasti sangat di butuhkan untuk segera menemukan Karenina.


Rara lalu menceritakan apa yang Merry ceritakan padanya. Saat ini Ryan masih menunggu William untuk mengikuti perintahnya.


Selang berapa lama William sampai di rumah Merry, saat melihat William, Merry langsung mendekatinya dan menceritakan semua yang dia ketahui pada William.

__ADS_1


“Apa kau kenal orang-orang di mobil itu”, Merry menggeleng. Firasatnya memang sudah tidak baik saat melihat mobil itu keluar dari rumahnya.


“Aku baru melihat mereka tadi, dan wajah mereka sangar-sangar. Will, tolong segera temukan Nina, dia pasti sangat ketakutan sekarang”, pinta Merry dengan tulus yang tanpa permintaan itupun William pasti akan segera mencari calon istrinya itu.


William memerintahkan pada Ryan untuk menghubungi polisi dengan menggunakan nama besar Ayahnya. Dan tidak berapa lama setelah Ryan menghubungi polisi, para petugas keamananpun datang ke tempat kejadian.


Mereka mendengarkan semua penjelasan Merry dan segera memeriksa cctv yang ada di kompleks. Polisi lalu dengan cepat mendapatkan nomor polisi mobil yan membawa Karenina pergi dan bergegas mencari kendaraan itu.


“Kami akan segera memberikan Anda informasi begitu kami mendapatkan lokasi mobil itu”, kata salah satu petugas. William hanya mengangguk saja. Wajahnya bercampur cemas dan marah. Dia bersumpah tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba menyakiti wanita yang sangat dia cintai itu.


Setelah polisi pergi, William kembali memberikan perintah pada Ryan.


“Gunakan semua orang di S&M, dan cari Nina”, perintah William yang langsung di laksanakan oleh Ryan.


“Jangan khawatir, aku pasti akan menemukan Karenina. Istirahat saja, aku akan memberimu kabar secepatnya”, Ryan berusaha menenangkan Merry walaupun wanita itu sama sekali tidak meresponnya.


“Terimakasih” kata William sebelum pergi, “Tolong segera kabari aku kalau kalian mendapatkan berita tentang Nina”, lanjut William lalu benar-benar pergi.


“Menurut kamu siapa yang culik Nina?” tanya Merry, mereka sudah ada di dalam kamar Merry karana mereka tidak mau tidur sendirian.


“Kalau Nina beneran di culik, menurut aku yang paling patut di curigai itu Halim”, terka Rara.


“Halim mantannya Nina itu”, Rara menganguk. “Dia berani sampai nyusul Nina ke sini hanya karena mau balikan sama Nina. Jadi mendengar Nina mau nikah dia pasti sakit hati dan tidak rela Nina menikah dengan orang lain”, sambung Rara panjang lebar.


“Kalau benar dia yang menculik Nina, berarti dia juga bukan orang sembarangan karena berani menantang William Anggoro yang sudah pasti Tuan Sebastian Anggoro juga akan ikut campur”, kata Merry yang di setujui Rara.


Sepanjang malam mereka menerka siapa yang sudah berani berurusan dengan Karenina yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga Anggoro. Walalupun begitu, mereka juga tidak henti-hentiya memanjatkan doa untuk keselamatan Karenina di manapun wanita itu berada.


Tanpa terasa pagi sudah menjelang dan belum ada kabar terbaru dari Karenina yang tiba-tiba saja menghilang. Kabar hilangnya Karenina tentu sudah sampai ke teling keluarga Anggoro. Mutiara terus mendesak suaminya agar ikut membantu mencari Karenina, karena jika sesutau yang tidak di inginkan terjadi pada Karenina, William pasti akan menjadi gila.

__ADS_1


“Bagaimana kalau dia tidak di temukan sampai hari pernikahannya?” kata Mutiara dengan cemas.


“Tenanglah, William pasti akan segera menemukan Nina. Dia bahkan tidak tidur mengikuti orang-orangnya mencari Nina”, terang Sebastian menenangkan istrinya.


“Semoga saja William bisa segera menemukan Nina, dan semoga Nina baik-baik saja” pinta Mutiara dengan tulus. Mereka juga tidak bisa makan dan minum dengan tenang saat tadi pagi William mengabarkan berita hilangnya Karenina.


Polisi dan orang-orang William berhasil melacak mobil yang di pakai membawa Karenina pergi, mereka segera menuju ke lokasi itu dengan harapan menemukan Karenina di sana. Setelah sampai di lokasi yang ternyata adalah sebuah tempat rental mobil. Polisi di ikuti Ryan menginterogasi pemilik rental itu dan tidak mendapatkan apa-apa karena tanda pengenal yang di pakai sang penculik ternyata palsu.


“Sial, brengsek”, maki William meninju-ninju mobil hingga membuat buku-buku tangannya terluka.


“Tuan, tenanglah, jangan melukai diri anda”, kata Ryan mencoba menenangkan William yang di bakar amarah.


“Kau menyuruhku tenang, kau menyuruhku tenang, hahh. Bagaimana aku bisa tenang sementara aku tidak tahu di mana Nina, bagaimana keadannya sekarang dan kau menyuruhku tenang” teriak William.


“Maafkan saya”, kata Ryan. Dia bisa mengerti bagaimana khawatirnya William sekarang melihat bagaimana dia sangat menyayangi Karenina.


Terdengar bunyi dering dari pinsel Ryan.


“Benarkah?” tanyanya pada orang yang menghubunginya.


“Baiklah, kirimkan aku lokasinya sekarang, terimakasih”.


“Tuan William, kami berhasil menemukan lokasi Nona Karenina”, kata Ryan setelah mendapat kabar dari perusahaan yang terus memantau lewat cctv.


“Di mana?” tanya William.


“Mari ikut saya”.


William dan beberapa orang beserta polisi mendatangi tempat di mana Karenina di sembunyikan. Amarah William benar-benar sampai di ubun-ubunnya. Dia tidak sabar segera menemukan Karenina dan membuat perhitungan dengan siapapun yang berani mengganggu orang-orang yang dia sayangi.

__ADS_1


“Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu, siapapun kau aku tidak akan memaafkanmu”, katanya dengan kilatan amarah di matanya.


__ADS_2