
Rumah Sakit
Nadia telah sampai di rumah sakit, ia segera berlari ke ruang UGD dimana ayah sambungnya sedang ditindak. Terlihat Lyla sedang berdiri di depan pintu UGD menangis dipelukan Rahma, Lyla benar-benar ketakutan jika harus kehilangan sosok yang sangat dikasihi untuk yang kedua kalinya. Sementara di kursi koridor tunggu Elang terduduk lesu sambil sesekali mengusap wajah. Terlihat sekali mereka sangat menghawatirkan keadaan ayahnya.
Elang pria berusia 29 tahun bernama lengkap Erlangga Putra Rahadi merupakan anak tertua dari Toni. Elang langsung terbang dari luar kota begitu mendengar sang
Nadia menghampiri mereka, "bagaimana keadaannya sekarang?" semua orang menoleh kepada Nadia dan Lyla segera berlari menghambur kepelukan Nadia sambil kembali menangis.
"Dokter masih memeriksa, kita tunggu saja." Ucap Rahma berusaha menenangkan semuanya meski sebenarnya dirinyapun sangat khawatir.
Tiit
Pintu ruangan UGD terbuka. Terlihat seorang dokter keluar dari ruangan. Semua orang menghampiri dokter tersebut.
"Om, gimana keadaan Papih saya Om?" tanya Elang.
"Toni mengalami pecah pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan kelumpuhan. Besok kita akan melakukan tes CT Scan dan MRI untuk melihat bagaimana kondisinya dan bagaimana ditindak, sekarang ia belum siuman kita tunggu saja perkembangannya, Om harap kalian bisa bersabar dan terus berdoa." ucap dokter tersebut.
"Tapi Papih bisa sembuh kan om?" tanya Elang.
"Om akan lakuin yang terbaik agar Papih kalian bisa sembuh. Om pergi dulu Arga akan memantau perkembangannya." ucap dokter tersebut sambil menepuk pundak Elang membuat Elang meremas rambutnya frustasi. Rahma merasa lututnya lemas perlahan terduduk di kursi sambil berpegangan pada apa saja yang ada sementara Lyla semakin menangis tersedu dipelukan Nadia. Mereka benar-benar khawatir.
Drtt..drtt...drtt
Suara ponsel berdering, Rahma membuka tas kecilnya mengeluarkan ponsel tulisan Bi Nimah tertera di ponselnya.
"Hallo,, iya bi."
"..."
"Iya bilang padanya saya akan pulang sekarang."
"..."
__ADS_1
Rahma memasukkan ponselnya dia berdiri sambil mengusap sudut air matanya.
"Elang, Mamih harus pulang Dyo sejak keberangkatan Papih menangis sampai sekarang belum berhenti, sebenarnya Mamih berat tapi Mamih juga khawatir dengan Dyo."
"Iya Mih, Dyo bisa sakit kalau terus nangis. Kalian juga pulang. Biar kakak tunggu disini." Ucap Elang yang mengarah pada Lyla dan Nadia.
"Engga, Lyla mau disini temenin Papih." Ucap Lyla tergugu.
"Lyla, besok harus sekolah, besok Lyla boleh kesini lagi ya.?" Bujuk Nadia sambil mengusap lembut kepala Lyla.
Akhirnya setelah dibujuk Lyla pulang bersama Rahma. Kini Toni sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sebuah ruangan yang cukup mewah didalamnya terdapat sofa, lemari dan kamar mandi pribadi. Nadia sudah tertidur di sofa, sementara Elang tertidur di kursi samping ranjang pasien mereka berdua terlihat sangat letih setelah perjalanan jauh.
Esok hari di rumah sakit seorang dokter bersama 2 orang perawat memasuki ruangan Toni, terlihat keningnya berkerut saat melihat sang penunggu pasien adalah orang yang tak dikenalnya. Tapi dia tak menghiraukannya dan melanjutkan pemeriksaannya.
"Kita cek CT scan sekarang, bangunkan keluarga pasien kita akan menjelaskan kondisi pasien." ucap sang dokter.
Perawat pun membangunkan Nadia namun Nadia begitu sulit dibangunkan.
"Kalian bawa saja pasien sambil mempersiapkan tes saya akan membangunkannya." ucap dokter.
"Nona" ucap sang dokter sambil menepuk bahu tepukan pun berubah jadi guncangan karna Nadia masih tak mau bangun.
"Bentar lagi Mih." Racau Nadia, dokter pun hanya menggeleng kemudian ia beralih menepuk pipi Nadia. Nadia pun membuka matanya dilihat sebuah tangan lelaki yang tak dikenal berada dipipinya sedangkan ia sedang dalam posisi tidur membuatnya kaget dan melotot.
Grep.. Dreekkk
"Aw.." sang dokter hanya dapat berteriak ketika tangannya dengan cepat dipelintir dan dikunci ke
belakang.
"Heh, mau mesum ya!" ucap Nadia garang memperkuat kunciannya.
"Aw.. aw.. apaan sih saya ini dokter."
__ADS_1
!!!!
"Iya dokter mesum, mentang-mentang liat perempuan tidur gak berdaya, seenaknya." ucap Nadia. Elang masuk ke ruangan dengan menenteng plastik berisi makanan kaget bukan main dengan pemandangan yang dilihatnya.
"Ya Ampun Nad, lepasin Nad." ucap Elang segera melerai Nadia, Nadia pun terpaksa melepaskannya. Dokter itu hanya meringis sambil mengibas-ngibaskan tangannya kemudian menatap tajam Nadia.
"Kakak apaan sih dia ini mesum tau." ucap Nadia menunjuk-nunjuk si tersangka dengan emosi.
"Bener Ga?" ucap Elang.
"Mana ada? gue itu mau bangunin dia, tapi dia salah paham." ucap dokter
"Mana ada maling ngaku." ucap Nadia melipat tangan di depan dada sambil melirik tajam.
"Ga, lo jujur sama gue lo apain adek gue?" Elang berbicara dingin berusaha menahan emosi.
"Kalo ga percaya cek cctv, tapi kalo gue terbukti ga bersalah, gue mau dia dituntut karena melakukan tindak kekerasan terhadap tenaga kerja medis." tunjuk dokter tersebut terhadap Nadia. Ekspresi Nadia seketika berubah berusaha tersenyum karena merasa bersalah, ia kini yakin bahwa dokter itu tidak bersalah.
"Ya sudah berarti ini hanyalah kesalah pahaman saja. Kalian belum kenalan kan, Nadia kenalkan ini Arga teman kakak, dia dokter yang akan menangani papi. Arga ini Nadia dia adek gue dari Mamih Rahma." ucap Elang mengenalkan keduanya.
Nadia semakin melebarkan senyumnya dan mengulurkan tangannya pada Arga.
"Nadia, maaf dok karna tadi saya kasar sama dokter." Namun Arga hanya terdiam melirik sekilas.
"Lang, ikut gue kita bakal ct scan om Toni sekarang." Ucap Arga pada Elang dan membiarkan tangan Nadia yang terulur menggantung di udara tanpa membalasnya.
"Dasar cewe liar!" ucap Arga sambil berlalu meninggalkan ruangan. Nadia yang mendengarnya seketika melemparkan pukulan di udara yang mengarah pada posisi Arga tadi.
'Ih rese!'
Sementara Elang hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua.
Elang pun menyimpan kantung bawaannya di atas nakas. Dia segera menyusul dr. Arga. "Ayo" ucapnya pada Nadia sambil menepuk pundaknya yang masih diam mematung.
__ADS_1
Nadia menghela nafas panjang.
'Huufftt... Kayaknya gue mesti minta maaf lagi.'