
Karenina kedatangan tamu yang tidak di undang, dia terkejut melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamu menunggunya.
“Kia...?” katanya memperjelas penglihatannya, ada apa sepupunya itu tiba-tiba datang ke jakarta dan menemuinya. Sejak kapan sepupunya itu memperhitungkannya sebagai manusia. Ah, pasti karena sebentar lagi Karenina akan menikah dengan seorang pangeran jadi yang dulu tidak menganggapnya sebagai keluarga sekarang malah datang mencarinya dan malah mengaku sebagai sepupunya.
“Kia, ada apa kau mencariku?” kata Karenina dengan sok jual mahal.
‘Kau kan yang paling membenciku di dunia ini, karena aku mengambil Ayahmu’
“Tidak ada apa-apa, aku hanya mau menjengukmu saja” jawab Kia masih dengan sifatnya yang dingin pada Karenina.
“Aku melihat beritanya di media-media, jadi aku mampir kemari. Apa kau baik-baik saja?” Kia menelisik Karenina, wanita itu terlihat segar bugar dan juga wajahnya nampak berseri-seri.
“Sepertinya kau baik-baik saja, aku pulang dulu kalau begitu”
“Eh, tunggu dulu. Kau dari Lampung dan ke sini hanya untk menanyakan kabarku? Kau habis minum obat apa?” Karenina tentu tidak percaya kalau sepupunya itu mengkhawatirkannya.
“Aku tinggal di Jakarta sekarang, baru dua minggu lalu. Aku kerja di sini” katanya menjelaskan pada Karneina. Karenina terkejut mendengar sepupunya itu sekarang berada di kota yang sama dengannya.
“Kau tinggal dimana?” tanya Karenina. Walau bagaimanapun mereka adalah sepupu yang di besarkan bersama, rasa perduli Karenina tetap ada walau Kia tidak pernah baik padanya.
“Kenapa, kau mau mengajakku tinggal disini”
‘Dia masih jutek seperti biasa, berarti dia memang datang kesini untuk bertanya kabarku. Ah, kenapa aku terharu’
“Tidak, maksudku aku kan bisa datang mengunjungimu kalau ada waktu”
“Tidak perlu, aku sibuk. Aku pulang dulu” saat Kia sudah berdiri, Mutiara tiba-tiba datang. Wanita paruh baya itu baru saja pulang membeli beberapa perhiasan untuk menantunya.
“Ini siapa, Nin” tanya Mutiara karena dia baru pertama kali melihat Kia.
“Ini Kia, Bu. Sepupu Nina, anaknya Om Malik” jawab Karenina.
“Oh, kamu sudah mau pulang?”
__ADS_1
“Iya, Tante” jawab Kia dengan sopan. Karenina melirik sepupunya itu. Kia memang seorang wanita yang berpendidikan, juga sopan santunnya lebih baik dari Karenina.
“Sebentar aja, kita makan malam sama-sama” kata Mutiara menawarkan Kia untuk makan malam bersama. Kia melirik Karenina bermaksud membantunya mengatakan kepada calon mertuanya itu kalau dia tidak bisa ikut makan malam seperti yang di tawarkan Mutiara. Tapi Karenina hanya mengendikkan bahunya membuat Kia kesal sekali padanya.
Kia termasuk tipe yang introvert, dia tidak suka dengan keramaian. Dia juga tidak suka acara kumpul-kumpul. Dia lebih suka menyendiri, membaca buku dan mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.
‘Anggap saja ini balas dendamku karena kau dulu jahat padaku. Yah walaupun aku mengerti kenapa kau marah padaku’
Akhirnya dengan terpaksa Kia tinggal lebih lama di rumah Mutiara. Karenina mengajaknya ke kamarnya yang dulunya adalah kamar William.
“Kenapa kau selalu beruntung, sih. Kau mendapatkan kasih sayang ayahku, dan sekarang kau mendapatkan keluarga baru yang sayang padamu” kata Kia sambil mengamati kamar yang luas itu. Barang-barang Karenina juga sudah tertata dengan rapi dan semuanya adalah barang baru. Baju, sendal, sepatu, tas dan juga perhiasan, semuanya masih baru. Semua itu memang di siapkan khusus Mutiara untuk menantunya.
“Mungkin karena aku dulu anak yang teraniaya jadi Tuhan memberikan semua ini atas balasan karena kesabaranku menghadapimu dan Ibumu”
Telak, jawaban Karenina tidak bisa di kembalikan oleh Kia. Wanita itu hanya mencibir tapi dalam hatinya dia membenarkan apa yang Karenina ucapkan.
“Makanya kau juga harus bersikap baik agar kau bisa mendapatkan seseorang yang mencintaimu dengan tulus” kata Karenina sok bijak.
“Kau mau, ambil saja” kata Karenina saat Kia memegang sebuah tas bermerk yang masih baru. Kia buru-buru menyimpannya.
“Kenapa kau baik padaku, padahalkan kita tidak pernah akur. Aku selalu menjahatimu, kenapa kau tidak mengusirku waktu aku datang tadi?”
“Aku tidak mau merusak kebahagianku dengan mengingat masa lalu, lagipula walau bagaimanapun kita ini saudara. Aku tidak pernah dendam padamu” Karenina benar-benar memiliki hati yang baik dan tulus.
‘Kau memang baik, Nina. Kau memang pantas untuk semua ini.’
Seorang pelayan datang dan memanggil mereka untuk makan malam. Karenina berlari melihat ada William di ruang tengah yang sedang berbincang dengan Ayahnya. Dia duduk di samping William dengan santainya padahal ada Sebastian disana.
“Sudah lama?” tanya Karenina, William mencium keningnya “Baru saja” jawabnya.
Karenina lalu menarik tangan Kia dan mengenalkannya pada Sebastian dan William. Kia menunduk sopan pada Sebastian juga pada William. Dia terlihat sangat malu bertemu dua orang besar ini. Baru saja Sebastian mengajak mereka duduk untuk mengobrol, Mutiara sudah datang memanggil mereka semua untuk makan malam.
Setelah makan malam yang canggung untuk Kia, dia lalu pamit pulang pada semua orang.
__ADS_1
“Kau kemari naik apa?” tanya Mutiara.
“Naik motor, Tante” jawab Kia. Mutiara terlihat khawatir seorang anak gadis naik motor sendirian malam-malam begini. Mutiara lalu memerintahkan supirnya untuk mengikuti Kia sampai di rumahnya.
“Apa dia baik padamu?” tanya William menarik Karenina duduk di sampingnya. Karenina memicingkan matanya berfikir apakah Kia baik padanya atau tidak.
“Yang jelas di tidak suka padaku, wajar saja karena aku mengambil separuh haknya” William dan sebastian mengkerutkan keningnya, Mutiara dan Caca terlihat sibuk melihat majalah fhasion.
“Dia anak satu-satunya, harusnya dia bisa mendapatkan banyak dari orang tuanya. Tapi karena ada aku, dia jadi harus membagi semuanya denganku. Dan mungkin yang paling tidak dia terima adalah aku mengambil Ayahnya”
“Maksudmu?” tanya Sebastian.
“Om Malik selalu membalaku dari pada Kia. Om Malik juga banyak memberikan ku barang-barang, dan itu selalu membuat Kia cemburu bahkan marah padaku” jelas Karenina.
“Kau tidak membencinya?” tanya Sebastian. Karenina tersenyum.
“Tadi Kia juga bertanya seperti itu padaku” kata Karenina. Semua orang diam menunggu jawabannya.
“Aku tidak membencinya, aku bilang padanya aku tidak mau merusak kebahagianku dengan mengingat semua hal buruk yang sudah aku lewati. Aku mau menjalani hidupku dengan bahagia, bersama William.”
William tersenyum bangga pada hati seluas samudra milik calon istrinya.
“Kau memang tidak salah pilih calon istri, Will” kata Sebastian yang juag di setujui Mutiara.
“Kak Nina keren. Kalau aku jadi Kak Nina, sudah aku usir dari tadi. Aku juga mau balas dendam seperti di novel-novel, buat dia kehilangan pekerjaan dan menderita seumur hidupnya. Aawww”
Ucapan Caca di hadiahi cubitan oleh Mutiara.
“Siapa yang mengajarimu seperti itu?” kata Mutiara.
“Di novel yang aku baca, Bu. Pemeran wanitanya balas dendam pada semua orang yang sudah menyakitinya saat dia sudah sukses.”
Semua orang hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan jawaban Caca.
__ADS_1
“Kamu terlalu banyak baca novel” kata William tersenyum hangat pada adiknya dengan Karenina duduk bersandar disampingnya.