Takut Menikah

Takut Menikah
Foto mesra William dan Ririn


__ADS_3

Matahari sudah semakin meninggi tapi ketiga wanita penghuni rumah itu masih terlelap dalam tidur mereka. Bagaimana tidak, keasyikan cerita sampai mereka lupa untuk tidur. Tiga ponsel di atas nakas di samping tempat tidur Merry bergantian bergetar bahkan tidak bisa membuat mereka membuka mata.


Hingga akhirnya Merry yang tidur paling pinggir terjatuh dari tempat tidur saat akan membalikkan tubuhnya.


“Awww...” pekik Merry membuat Karenina dan Rara sontak bangun dengan terkejut. Mereka semakin terkejut saat mendapati Merry terduduk di lantai sambil merintih memegangi punggungnya.


“Kamu kenapa, Mer”, Karenina dan Rara bangun dari tempat tidur dan membantu Merry berdiri.


“Jatuh”, katanya.


“Kok bisa?” tanya Rara. Belum sempat Merry menjawan, Karenina sudah lebih dulu teriak.


“Astaga” katanya berjalan membuka tirai jendela di kamar Merry dan mendapati matahari yang sudah meninggi. “Kita kesiangan”, seru Karenina melihat kedua temannya.


“Biar aja kali, Nin. Ini kan juga hari minggu”, Merry sambil masih memegangi punggungnya naik kembali ke atas tempat tidur, sementara Karenina dan Rara sibuk mencari di mana ponsel mereka.


Karenina menutup mulutnya karena terkejut melihat ada puluhan panggilan tidak terjawab dari beberapa orang, termasuk Malik dan William. Begitupun dengan Rara, dia membaca pesan dari Adhit sambil mendesah.


“Aku padahal mau antar Om Malik ke bandara”, kata Karenina.


“Aku juga janji sama Adhit mau ke rumahnya tadi pagi buat masak opor ayam kesukaannya”, sambung Rara.


Berbeda dengan Rara dan Karenina yang panik melihat ada begitu banyak panggilan tidak terjawab, Merry malah terlihat santai walau dia juga punya beberapa panggilan tidak terjawab dari para penggemarnya.


“Ya sudah, ayo kita tidur lagi”, kata Karenina. Tapi baru saja dia ingin naik ke tempat tidur, terdengar suara ketukan pintu tidak sabaran di luar.


Mereka saling tatap saling bertanya dalam hati siapa yang akan membuka pintu, setelah tahu tidak ada yang mau membuka pintu dengan wajah bantal, Karenina akhirnya mengalah. Dia memakai sweater Merry yang tergeletak di atas sofa dan keluar untuk membuka pintu.


 Pintu terbuka, sudah ada William berdiri di depan pintu dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Kau baru bangun? Jam segini?” William yang melihat Karenina masih memakai piyama dengan celana pendek semakin kesal saja.


“Ganti bajumu sekarang”, katanya sudah seperti memberi perintah pada bawahannya.


“Iya, iya”, balas Karenina. Dia tidak langsung kembali ke kamarnya melainkan masuk kembali ke dalam kamar Merry terlebih dahulu.


“William”, katanya memberitahu Rara dan Merry.”Aku balik ke kamar ya, mau ganti baju”.


Setelah hampir setengah jam membuat William menunggu, Karenina keluar dari kamarnya dengan handuk kecil di tangannya. Sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah, Karenina menghampiri William di ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, ternyata sudah ada Adhit yang juga sedang menunggu Rara, William yang melihat Karenina dengan rambut basahnya dan juga pakaian rumahan yang cukup pendek, menarik Karenina entah kemana.


“Tunjukan di mana kamarmu?” kata William sedikit kesal.


“Kenapa?” Tanya Karenina takut. Otaknya langsung mengarah ke hal-hal jorok.


“Kau mau pamer pada laki-laki di ruang tamu pahamu”, kata William sedikit berbisik. “Dan apa ini, kenapa kau keluar kamar dengan rambut basah”, sambungnya lagi mengibaskan rambut basah Karenina.


Sudah ada Rara di ruang tamu menemani kekasihnya. Sepertinya Rara akan pergi karena dia sudah terlihat rapi dengan drees di bawah lutut dan juga tas yang sudah tersampir di bahunya. Mereka berdua tampak canggung duduk berhadapan dengan William yang tidak lain adalah bos besar Adhit, kekasih Rara.


“Aku pergi dulu ya” pamit Rara saat Karenina sudah duduk di samping William. Adhit menunduk sopan pada William dan mereka berdua menghilang di balik pintu.


“Memangnya kau tidur jam berapa semalam, kenapa baru bangun jam segini? Aku lihat temanmu yang tadi itu juga baru bangun tadi, apa kalian bergosip sampai pagi sampai bangun kesiangan begini? Memangnya apa yang kalian bicarakan?”


Karenina sampai melongo mendengar pertanyaan bertubi-tubi William, tidak biasanya William banyak bicara seperti itu.


“Ambil tas mu”, kata William padahal Karenina baru saja mau menjawab semua pertanyaan William.


‘Terus buat apa kamu tanya banyak begitu kalau tidak mau dengar jawabannya’, makinya kesal di dalam hati.

__ADS_1


Tanpa bertanya mau kemana, Karenina langsung berdiri dan masuk kembali ke kamarnya. Dia tentu mengganti pakaiannya yang tadi secepat mungkin sebelum keluar lengkap dengan sepatu flat dan tasnya. William bahkan mengkerutkan keningnya saat Karenina masuk dengan sukarela saat William membukakan pintu mobil untuknya.


“Kau sudah bangun kan?” Karenina mengalihkan pandangannya dari penjual bubur ayam langganannya yang sedang membereskan sisa-sisa jualannya tadi pagi. Dia memegang perutnya yang terasa lapar.


“Aku lapar”, katanya dengan wajah memelas. William melihat jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi akan masuk waktu makan siang, sudah sangat terlambat untuk sarapan.


 William menghentikan mobilnya saat melihat ada sebuah cafe di pinggir jalan.


“Ayo, lapar kan?” Karenina tersenyum cerah lalu turun dari mobil.


Karenina memesan mocaccino kesukaannya tapi William malah memesankan coklat panas untuknya. Saat Karenina menatap tidak suka padanya, William hanya mengendikkan bahunya dan mulai sibuk dengan layar ponselnya.


“Aku mau ke toilet”, kata Karenina dengan kesal. William menatap punggung Karenina dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Saat Karenina kesal, wanita itu terlihat semakin menarik bagi William.


“Maaf” di toilet Karenina tanpa sengaja di tabrak seorang wanita, Karenina yang jatuh tersungkur di lantai toilet diam sebentar mencoba mengingat di mana dia pernah melihat waniita itu tapi sama sekali tidak bisa mengingatnya.


“Sekali lagi maaf ya”, kata wanita itu mengulurkan tangannya bermaksud membantu Karenina berdiri tapi dengan sengaja melepasnya saat Karenina sudah mau bangun. Akhirnya Karenina jatuh lagi.


“Maaf, tangan kamu licin sekali”, katanya. Karenina yang sudah kesal bertambah kesal lagi. Dia berdiri sendiri, membersihkan celananya yang kotor dan masuk ke dalam bilik kamar mandi.


Saat Karenina keluar, tanpa sengaja Karenina melihat layar depan wanita yang tadi menabbraknya. Mata Karenina membulat dengan sempurna saat melihat foto laki-laki yang sedang merangkul mesra seorang wanita yang tiak lain adalah Ririn. Ya, wanita yang menabrak Karenina dengan sengaja adalah Ririn.


Otak Karenina berjalan dengan cepat mengingat wanita yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin itu. Dia ingat dimana pernah melihatnya.


Wanita itu pernah jalan bersama William di kantor William.


Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya, wajahnya yang berubah pias terlihat jelas oleh Ririn sehingga wanita itu tersenyum licik merasa rencananya berhasil.


‘Kenapa wanita itu masih menyimpan foto William. Bukannya mereka sudah putus. Terus kenapa dia juga ada disini. Apa William sengaja membawaku ke sini agar dia bisa bertemu dengan mantan pacarnya atau mungkin belum jadi mantan’.

__ADS_1


Berbagai pikiran buruk tentang hubungan William dan Ririn sudah merasuk ke dalam pikirannya. Ingin sekali dia bertanya pada wanita itu tentang hubungan apa yang dia punya dengan calon suaminya, tapi tidak mungkin kan dia melakukannya.


Senyum kemenangan terbit di bibir Ririn, “aku tidak akan menyerah semudah itu”, katanya meninggalkan Karenina yag masih diam terpaku.


__ADS_2