Takut Menikah

Takut Menikah
Sehari bersamamu


__ADS_3

William membawa Karenina ke sebuah Mall di tengah kota. Dengan menggenggam tangan wanita itu, dia membawanya masuk ke sebuah toko brand ternama yang menyediakan berbagai macam lingeri dan pakain dalam. Karenina menarik paksa William ke luar setelah melihat isi toko itu.


“Kenapa kita keluar, kau belum memilih satupun”


“Kau gila ya, kenapa membawa ke toko ini?” melirik kiri kanan berharap tidak ada yang mengenalinya.


“Aku kan sudah bilang akan mengganti bajumu yang ku robek malam…” Karenina membungkam mulut William, dengan tangannya pasti.


“Tapi aku kan juga sudah bilang tidak perlu, aku juga tidak akan memakai pakaian seperti itu lagi” ucapnya dengan bisik-bisik lalu menarik tangan William menajuh dari toko itu.


“Kalau begitu, ke toko itu saja”, kali ini William yang menarik tangannya masuk ke sebuah toko pakain. Toko itu menyediakan berbagai macam model dress, mulai dari yang terbuka hingga yang tertutup. Karenina melihat-lihat dengan mata yang berbinar, wanita mana sih yang tidak tertarik kalau di ajak belanja, apalagi pakaian yang cantik seperti yang sekarang Karenina lihat.


Karenina mengambil dari gantungan satu dress warna maroon berlengan pendek dengan dada yang cukup terbuka, dia menempelkan dress itu ke tubuhnya dengan sebuah senyum. Tapi senyum di wajahnya hilang begitu melihat harganya. Karenina menyimpan kembali dress itu, dia kemudian melihat yang lain yang ternyata harganya tidak jauh berbeda dengan yang dia lihat tadi.


‘Aku memang suka banget barang-barang seperti ini, tapi kalau dia masih memberiku barang mahal apa itu tidak seperti aku menjual diriku. Aku tidak mau, uangnya seratus juta saja masih aku simpan’.


“Will, kita cari di tempat lain aja” katanya.


“Kenapa? Tidak ada yang kau suka?” Karenina mengangguk, kalau dia bilang alasan sebenarnya William pasti akan memaksanya memilih.


“Baiklah, ayo cari di tempat lain saja”, merekapun keluar dari toko itu, kali ini Karenina tidak mau tangannya di genggam William. Dia tepat di belakang laki-laki itu sambil menunduk.


‘Kau mau apa sebenarnya dariku, kenapa kau baik padaku. Tidak mungkin kau suka padaku kan, kau sendiri yang bilang waktu itu kalau aku ini bukan seleramu. Atau kau mau meniduriku lagi jadi mengambil hatiku dengan cara seperti ini, tapi kau kan bisa membayar wanita yang seperti seleramu kalau hanya untuk teman tidurmu. Ck, buat orang bingung saja’.


Bruugh. Karenina menabrak dada William, laki-laki itu sejak tadi berhenti menunggu Karenina mensejajari langkahnya.


“Kenapa kau melamun, kau tidak lihat disini sangat ramai, bagaimana kalau yang kau tabrak itu orang lain dan bukan aku” William menarik tangan Karenina dan membawa wanita itu berdiri di dampingnya.


“Will, aku mau pulang saja. Aku mau istirahat”


“Tapi kau belum membeli apapun, aku akan membelikan apapun yang kau mau hari ini”.


“Lain kali saja, ya”, William mengangguk pasrah, dia sebenarnya masih ingin mengajak Karenina keliling mall dan membeli apapun yang dia inginkan.


‘Kalau wanita lain justru akan memintaku membeli ini itu, tapi wanita ini justru tidak mau aku membelikannya apapun’.


“Will, kita mau kemana?” Karenina melihat jalan yang di lalui William bukan jalan kembali ke rumahnya.


“Kau bilang mau istirahat kan”, jawab William, walaupun dia tidak bicara dengan lembut tapi ucapannya masih enak di dengar.

__ADS_1


“Iya, tapi kenapa kau lewat sini. Ini bukan jalan pulang ke rumahku”.


“Siapa bilang aku mau membawamu pulang ke rumahmu, kita akan kembali ke apartemenku”.


“Hah…”


“Aku mau menghabiskan hari ini denganmu”.


“Apa…”


‘Gila, dia benar-benar gila. Apa yang dia mau dariku, menghabiskan hari ini denganku, yang benar saja’.


“Kau suka padaku ya?” Karenina akhirnya bertanya.  Menurutnya, apa yang William lakukan padanya sekarang sudah seperti yang seorang kekasih lakukan pada pujaan hatinya.


“Tidak, akukan pernah bilang kalau kau bukan seleraku”, William merasa kesal sendiri dengan ucapannya. Dia sendiri masih tidak tahu seperti apa perasaannya pada wanita itu, terlalu dini kalau mengatakan dia menyukainya. Dia hanya penasaran, bagaimana bisa wanita yang sangat jauh dari seleranya itu membuatnya selalu ingin berada di dekatnya.


Sedangkan Karenina merasa seperti ada sesuatu yang lain di hatinya mendengar jawaban William, tapi dia juga tidak berharap laki-laki itu akan menyukainya.


“Baguslah”. William menatapnya tajam, “Kenapa?” tanyanya dengan kesal.


“Karena aku tidak mau punya hubungan apapun dengan siapapun, akukan sudah pernah mengatakannya padamu kalau aku tidak mau ada yang mengatur hidupku. Kau hanya akan patah hati kalau menyukaiku”.


‘Sial, kenapa aku tidak suka dengan jawabannya. Kenapa malah aku berharap kalau dia menyukaiku’.


“Sial” Ucapnya tanpa sadar memukul setir mobil. “Ada apa?” tanya Karenina kaget. William diam saja, pandangannya masih lurus ke depan jalan. Karenina mengendikkan bahunya, dan kembali bersandar di kursi mobil.


Mobil sudah memasuki parkiran apartemen khusus pemilik unit. William keluar lebih dulu tanpa menunggu Karenina, dia masih marah dengan ucapan Karenina tadi.


“Kau marah, ya?” Karenina bisa merasakan perubahan sikap William, laki-laki itu berubah dingin padanya.


“Tidak”, jawab William singkat. Karenina berhenti di depan pintu lift yang sedag terbuka.


“Kenapa tidak masuk, tunggu aku menggendongmu”, katanya lagi masih dengan wajah dinginnya.


“Aku pulang saja ya, tidak perlu mengantarku, aku akan naik taksi”, William menarik tangannya masuk ke dalam lift dan menekan tombol di samping pintu untuk menutup pintu lift.


“Istirahalah dulu, aku akan mengantarmu pulang nanti malam”. Karenina menundukkan kepalanya, William melunak melihat ketidak nyamanan Karenina.


‘Kau sangat membuatku bingung Karenina, apa yang harus aku lakukan padamu’

__ADS_1


William memeluk wanita itu dan entah kenapa itu membuat hatinya yang membara sedikit lebih tenang. Pintu lift terbuka, William sudah menggenggam tangan Karenina dan membawanya masuk ke apartemennya.


“Maaf”, Karenina hanya memajukan bibirnya pertanda protes pada sikap William yang tiba-tiba berubah.


“Aku mau ganti baju”, Karenina meninggalkan William yang masih berdiri di ruang tamu  (Serasa dia saja yang punya rumah) dan menuju kamar untuk mengganti pakaian dengan yang dia pakai tadi malam.


“Will, aku tidak melihat baju yang ku pakai tadi malam. Apa kau memindahkannya ke tempat lain”.


“Bi Mar mungkin sudah mencucinya”


“Apaa, padahal baju itu baru kupakai semalam”


“Pakai yang lain saja”. Karenina lalu kembali ke dalam kamar.


‘Apa dia benar-benar menyiapkan semua ini untukku?, tapi kenapa?’


Mengabaikan rasa penasarannya, Karenina mengambil sepasang baju tidur untuk dia pakai bersantai. Karenina membuka lemari William, dia melihat baju yang pernah dia beli untuk laki-laki itu di Bali.


 ‘Dia masih menyimpan baju yang ku belikan, heheh aku kira dia langusng membuangnya’.


“Kenapa kau lama sekali, aku menunggumu untuk makan”. William tiba-tiba masuk, untung saja dia sudah pakai baju.


“Maaf ya, aku membuka lemari mu. Aku…”


“Tidak apa-apa, ayo makan”. Karenina tersenyum, dia berjalan mendekati William.


“Aku lihat kau masih menyimpan baju yang ku belikan dulu” katanya dengan riang.


“Aku bahkan menyimpan uang dan suratmu”


“Benarkaah? Kau tahu, aku juga khawatir saat aku pergi, aku pikir orang yang membawa barangmu tidak akan datang secepat itu”


“Kau khawatir padaku?” Karenina mengagguk cepat.


“Kenapa?”


“Karena kau tidak membawa apapun, bagaimana kalau kau kelaparan nanti” Salah satu sudut bibir William tertarik, ada perasaan hangat menjalar di hatinya.


‘Wanita ini benar-benar polos dan baik hati, aku rasa aku harus semakin dalam menyelami perasaanku. Apakah aku memang menyukainya atau aku hanya penasaran saja dengannya. Apapun itu, sekarang aku ingin bersamanya’.

__ADS_1


“Will, kau tidak apa-apa?”


“Tidak, ayo makan”.


__ADS_2