
Karenina bertemu Farel di depan pintu masuk restoran, dia menyambar bahu laki-laki itu saat berpapasan dengannya. Karenina benar-benar marah sekarang.
“Nina, kamu kenapa? Tante Mutiara bilang apa sama kamu?” Karenina mengabaikan Farel, dia berdiri di pinggir jalan menunggu taksi yang lewat.
“Ayo, aku antar pulang”, kata Farel. Melihat wajah merah padam Karenina, Farel tidak berani mengajaknya bercanda. Karenina masih tidak memperdulikannya, matanya fokus pada jalanan di mana kendaraan lalu lalang dan mengamati taksi yang tidak membawa penumpang.
Karenina berhasil menghentikan taksi, dia masuk dengan cepat begitu taksi itu berhenti di depannya. Farel bahkan tidak sempat menghentikannya. Setelah taksi yang di naiki Karenina semakin menjauh, Farel berlari kembali ke dalam restoran itu dan mencari Mutiara.
“Dasar anak kurang ajar, kamu bilang apa sama Karenina sampai dia menganggap tante ini istri kamu”, belum sempat Farel bertanya apa yang terjadi, Mutiara sudah menarik kupingnya. Bukannya kesakitan, Farel malah terkekeh.
“Tante sendiri kan yang bilang kalau aku harus membawa calon menantu tante dengan cara apapun”, kata Farel mengusap-usap kupingnya yang di jewer Mutiara tadi.
“Memangnya Tante bilang apa sama Nina, kenapa dia marah begitu”, Farel berjalan dengan merangkul pundak Mutiara menuju parkiran.
Sebastian dan Mutiara sudah menganggap Farel seperti anak kandungnya, mereka memberi kasih sayang yang sama antara William, Farel dan Meisya. Bahkan istri Farel menjabat sebagai direktur di salah satu anak perusahaan S&M. Sedangkan Farel sendiri, dia punya bengkel mobil yang sederhana karena dia memang hobi dengan mesin-mesin kendaraan.
Farel tidak terlalu suka kemewahan, dia juga tidak mau banyak memikirkan bisnis. Itu sebabnya dia tidak mau memegang jabatan apapun di S&M.
“Tante cuma sedikit bercanda”, kata Mutiara terseyum licik. Farel memicingkan mata melihat tantenya itu, dia berfikir bercada Mutiara mungkin sedikit keterlaluan sampai membuat Karenina sangat marah.
“Tante setuju kalau William sama gadis itu, dia seperti bisa menaklukkan sepupu kamu yang arogan. Pantas saja dia menolak Ririn yang cantik, ternyata dia dapat Karenina yang manis dan lucu”.
Setelah mendengar gosip yang sempat beredar di S&M, Mutiara menjadi sangat penasaran dengan sosok Karenina. Dia lalu meminta Farel membawa Karenina untuk menemuinya, dan setelah bertemu Mutiara merasa puas dengan pilihan anaknya.
Sebastian dan Mutiara juga sudah menyelidiki latar belakang Karenina, mereka tahu Karenina seorang yatim piatu yang di besarkan oleh om dan tantenya. Mereka juga sudah tahu kalau Karenina merantau ke kota besar ini seorang diri untuk menghindari pernikahan yang sudah di atur oleh tantenya yang tidak memberinya kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1
Walaupun pertemuan pertama mereka meninggalkan kekecewaan di hati Karenina, tapi Mutiara sudah berjanji akan meminta maaf padanya saat mereka bertemu lagi dalam waktu dekat ini.
Sepulangnya dari bertemu Mutiara, Karenina tidak kembali lagi ke Dimension. Dia langsung pulang ke rumah dengan hati yang marah dan kecewa.
‘Sial, aku sakit hati banget sama ucapannya Nyonya Mutiara. Semiskin-miskinnya aku, aku juga nggak mau menjual hubunganku. Apalagi William baik banget sama aku. Bagaimana kalau Nyonya Mutiara tahu William kasih aku kartu kredit tanpa batas, untung nggak pernah aku pakai’.
Karenina memutuskan tidak memberitahukan pada William pertemuannya dengan Mutiara, dia tidak mau membuat hubungan ibu dan anak menjadi renggang. Biarkan dia menjalani hubungannya dengan William seperti biasa, sampai William bosan dan meninggalkannya. Sesederhana itu pemikirannya.
“Aku nggak mau lagi melibatkan hatiku terlalu dalam, aku nggak mau sakit hati cuma karena cinta. Sial, ini ni yang paling bikin aku malas punya pacar. Bikin pusing”.
Setelah puas mengeluarkan isi hatinya pada dinding di kamarnya, Karenina merasa perutnya keroncongan, dia baru ingat kalau sejak semalam dia belum menyentuh nasi sama sekali.
“Aku jadi lapar habis marah-marah”, Karenina lalu keluar kamarnya dan menuju dapur.
“Sejak kamu masuk rumah sambil ngomel” kata Merry yang matanya hanya tertuju pada makanan di depannya. Karenina mengambil sendok dan manarik kursi agar lebih dekat dengan mangkok Merry lalu kemudian tanpa permisi mulai membantu Merry menghabiskan baksonya.
“Tumben sudah ada di rumah jam segini, kamu sakit?” tanya Karenina. Dia melirik Merry menunggu wanita itu menjawabnya.
“Aku nggak sengaja ketemu ibunya asisten pacar kamu di restoran, aku jadi nggak mood lanjut kerja” jawab Merry tanpa merubah mimik wajahnya. “kalau kamu?” tanyanya balik dengan acuhnya.
Karenina tidak melanjutkan memasukkan bakso yang sudah ada di depan mulutnya, dia menyimpan kembali sendok itu ke dalam mangkok.
“Kok sama kayak aku”, Merry menautkan alisnya tidak mengerti “Aku juga nggak mood lanjut kerja karena tadi habis ketemu Ibunya William”. Kini Merry juga sudah menyimpan sendoknya di mangkok, dia meminum air dingin yang sudah dia sediakan sebelum makan tadi.
“Maksud kamu?”. Karenina mengheka nafas dengan berat. Dia meminum air dingin yang tadi di minum Merry sebelum menjawab pertanyaan Merry.
__ADS_1
Belakangan Karenina dan Merry menjadi lebih dekat dari sebelumnya dari segi emosional, Karenina tidak lagi sungkan membagi cerita dengan Merry yang sudah dia anggap lebih dari sekedar teman. Dan Merry juga menjadi pendengar yang baik untuk Karenina.
“Nyonya Mutiara mau memberikan aku uang asal aku meninggalkan William”. Hening, tidak ada suara yang terdengar sama sekali. Kedua wanita itu saling memandang, dari matanya seolah Merry bertanya benarkah itu?.
Karenina mengendikkan bahunya lalu kembali memasukkan bakso ke dalam mulutnya sementara Merry masih diam memandangnya.
“Terus?” tanya Merry kemudian “Kamu terima tawarannya?”
“Kamu pikir aku cewek matre, walaupun aku suka uang tapi aku juga nggak mau dapat uang dengan cara hina seperti itu. Itu sama saja aku mengkhianati William” katanya menegaskan. Merry mengangguk lega.
“Kalau William yang minta hubungan kami berakhir, aku akan terima. Walaupun…” Karenina diam lagi, dia memainkan bakso yang masih ada beberapa biji di dalam mangkok. Merry mengamatinya, dia tahu kalau William sudah memiliki tempat di hati temanya itu.
Merry menghela nafas, dia cukup mengerti kerumitan Karenina.
“Aku sadar diri juga kali Mer, aku sama William itu terhalang dinding pembatas yang sangat tinggi. Walaupun aku panjat dinding itu sampai ratusan tahun juga aku nggak bakalan bisa melewati pembatas itu”.
Karenina berfikir dia tidak memiliki kualifikasi untuk melewati pembatas yang menghalangi mereka, sebuah dinding kokoh yang bernama status sosial, derajat atau kasta. Dia berada di bagian terbawah dari status sosial sedangkan William ada di barisan paling atas
“Tapi bagaimana kalau William menghancurkan pembatas itu tanpa harus kamu susah payah melewatinya?” Karenina tertawa sumbang, William tidak mungkin melawan orang tuanya hanya untuk wanita seperti dirinya.
“William nggak mungkin bisa, karena untuk mengahancurkan dinding itu dia harus melawan orang tuanya. Dan aku nggak mau William jadi anak durhaka cuma karena aku”.
“Ck, kita bicara apa sih. Intinya aku akan menikmati waktu menjadi kekasih William, seperti apapun ke depannya aku nggak akan sakit hati”, katanya lagi walau ada yang aneh di hatinya. rasa sesak yang tidak bisa di ceritakan seperti apa bentuknya tapi cukup menganggunya.
‘Wil, aku rindu kamu’.
__ADS_1