
Karenina merenggangkan ototnya, dia membuka matanya satu persatu. Dia terdiam memandangi sosok yang sedang dia rindukan sedang berbaring di sampingnya sambil menatapnya. Karenina kembali menutup matanya lalu membukanya lagi memastikan dia tidak sedang bermimpi. Lama mereka saling memandang sebelum akhirnya sama-sama tersenyum. William yang bangun lebih dulu mulai mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka.
Walaupun awalnya cukup terkejut, Karenina perlahan membalas ciuman William. Hanya sebentar, ciuman itu hanya berlangsung sesaat saja. Hanya sebagai ciuman pelepas rindu yang William berikan dengan sangat lembut. Mereka kembali tersenyum saat melepaskan ciuman itu. Tidak bsa di bayangkan bagaimana perasaan William saat ini.
“Kenapa kau ada disini?” William mengawali pembicaraan mereka pagi ini dengan sebuah pertanyaan yang sudah membuatnya penasaran sejak semalam.
“Kamu pulang jam berapa? Kok aku nggak rasa sama sekali”, kata Karenina yang malah balik bertanya.
“Kamu tidur seperti kerbau, aku peluk, aku cium nggak bangun-bangun”, Karenina memberi beberapa kali pukulan di lengan William, laki-laki itu hanya terkekeh, senang sekali membuat Karenina kesal.
“Kenapa kau bisa ada disini?” katanya mengulang pertanyaannya. Mereka masih tidur berhadapan dengan posisi miring. Baik William ataupun Karenina sama-sama enggan beranjak dari rasa nyaman yang sekarang mereka rasakan tidak perduli matahari diluar sana yang terus bergerak naik.
“Dia mencariku ke kantor, aku takut dia mencariku ke rumah juga makanya aku sembunyi disini”, katanya menjawab dengan jujur. “Maaf ya, aku lagi-lagi masuk ke apartemenmu tanpa permisi”,
“Aku justru akan marah kalau kau pergi ke tempat lain. Aku sudah bilang kan, kau boleh datang kapan saja, anggap ini juga milikmu”. Karenina tersenyum, seperti yang dia duga kalau William tidak akan marah dia masuk ke apartemennya tanpa ijin.
“Aku pikir dia sudah melupakan aku”, Karenina berdecak kesal mengingat Halim, “dia tidak berubah sama sekali, selalu saja menyusahkanku”
“Apa ibuku masih menemuimu?”. William mengalihkan pembicaraannya, dia tidak mau Karenina membicarakan laki-laki lain sekarang. Menurutnya, sekarang adalah suasana yang paling romantis yang pernah dia rasakan. Bicara berdua di atas tempat tidur saat bangun tidur, dengan Karenina yang sudah dia luluhkan hatinya.
“Nyonya Mutiara semalam mendatangiku di rumah, tapi dia nggak bilang apa-apa malah langsung pergi”, William terkekeh, ibunya mungkin tahu kalau Karenina sedang tidak baik-baik saja makanya dia tidak mau mengganggunya.
“Panggil ibu, jangan panggil Nyonya. aku tidak suka mendengarnya”
“Tapi kan Nyonya mutiara bukan Ibuku, lagi pula dia tidak suka padaku. Bisa-bisa telinganya sakit mendengar aku memanggillnya ibu”, William bukan lagi terkekeh, kali ini dia tertawa hingga membuat Karenina mengkerutkan kenignya.
“Ibuku wanita yang sangat baik dan penyayang, dia tidak mungkin membeci wanita yang di sukai anaknya”, William menyingkirkan ke belakang telinga anak-anak rambut Karenina yang menutupi separuh pipinya.
“Rambutku sudah panjang ya”, katanya menyatukan rambutnya dan menyimpannya ke belakang. “Justru karena itu ibumu tidak menyukaiku, karena kau suka pada wanita miskin dan jelek seperti aku”.
Walaupun Karenina tidak menceritakan tentang ibunya yang menawarkan sejumlah uang agar dia meninggalkannya, William sudah mengetahui semuanya dari Farel. William yakin Karenina tidak akan menceritakan hal itu padanya.
__ADS_1
“Hahaaa, orangtuaku tidak pernah memandang orang lain dari status sosialnya apalagi dari fisiknya”, Karenina mencibir, jelas-jelas Mutiara menentang hubungan mereka.
“Tapi dari mana kamu tahu kalau ibumu menemuiku?”, seingatnya dia tidak pernah menceritakan apapun pada William. Karenina tidak mau hubungan William dengan ibunya menjadi renggang hanya karenna dirinya.
“Kau pakai kemejaku?” William tidak menjawab pertanyaan Karenina dan malah memberi pertanyaan lain. Senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya, untungnya Karenina sudah mulai terbiasa melihat senyum rupawan William.
“Iya, maaf ya. Nanti aku cuci”, katanya.
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kau pakai kemejaku?” Karenina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia malu mengatakan kalau dia merindukan kekasihnya itu dan ingin mencium aroma tubuhnya melalui kemejanya.
“Nggak sengaja pakai, eh malah ketiduran”, katanya berkilah. Senyum William semakin merekah, sekali lagi dia mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibir Karenina.
“Kamu nggak ke kantor?” Karenina tanpa sengaja melirik jam di atas nakas, jam digtal itu sudah menunjuk ke angka sembilan tigah puluh, William berbalik melihat jam itu.
“Kalau begitu aku juga tidak akan ke kantor, aku akan temani kamu disini” William menarik Karenina dan memeluknya, menciumi kepala dan rambutnya. Karenina melepaskan dirinya dari pelukan William, dia bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihakan dirinya.
“Bangun Will, masakkan aku sesuatu, aku sangat lapar”, katanya merengek sambil menarik William yang masih asyik rebahan di atas tempat tidur.
“Cium aku dulu”, Karenina memutar bola matanya dan meninggalkan William di kamar itu, William terkekeh lalu beranjak dari tempat tidur. Dia membersihkan dirinya lebih dulu sebelum menyusul Karenina ke dapur.
Karenina terperanjak melihat Bi Mar yang sedang memasak di dapur, wanita berhijab itu menundukkan kepalanya sopan pada Karenina sambil tersenyum.
“Bi Mar, masak apa?” tanyanya sok akrab.
“Lagi masak cumi saus tiram, non”, jawab Bi Mar dengan sopan.
“Nina, Bi, Nin bukan Non”, Bi Mar tertawa lalu Karenina mengambil alih spatula yangh Bi Mar pegang dan mulai menyatukan semua bumbu di dalam penggorengan yang sudah di tuang Bi Mar sebelumnya.
__ADS_1
“Biar saya aja non”
“Bi Mar, Bi Mar sudah bisa pulang. Biar calon istri saya ini yang melanjutkannya”, William tiba-tiba muncul denga wajah yang nampak lebih segar dan cerah. Bi Mar menunduk sopan lalu pamit pulang.
“Bi, tunggu sebentar”, kata William menahan Wanita tua itu. William masuk kembali ke kamar, beberapa menit kemudian dia muncul kembali membawa paper bag.
“Ini oleh-oleh untuk Riska” katanya menyerahkan paper bag di tangannya kepada Bi Mar. Wanita itu mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Dia mengintip isinya lalu membulatkan matanya.
“Tuan, ini…”
“Nggak apa-apa, nggak mahal kok” katanya. William lalu meninggalkan pengurus apartemennya itu lalu mendekati Karenina yang sudah memelototinya sejak tadi.
Karenina menyikut perut William dengan sikunya saat laki-laki itu memeluk pinggangnya. William hanya terkekeh dan bahkan masih berani mencium pipinya.
“Memangnya siapa yang mau jadi istri kamu” katanya dengan ketus.
“Kamu nggak mau jadi Nyonya William Anggoro”
“Nggak”
“Yakin?” Karenina memutar bola mataynya, William lagi-lagi terkekeh. Dia menarik kursi lalu duduk sambil menopang dagu melihat Karenina yang sibuk dengan pengorengan dan spatula.
William tersenyum menatap pemandangan di depannya, mungkin dia harus berterima kasih pada Halim karena laki-laki itu sudah membuat Karenina mau tinggal bersamanya, walaupun William tahu kalau Karenina hanya terpaksa melakukannya.
Masakan yang tadi di tinggal Bi Mar sudah di selesaikan Karenina, William tidak membantunya sama sekali, laki-laki itu hanya sibuk mengamati gerak-gerik Karenina sambil sesekali tersenyum entah sedang membayangkan apa.
“Jangan melihatku seperti itu”, Karenina menata masakannya di atas meja dan William masih setia memandanginya. “Kau mau makan atau hanya melihatku”, kata Karenina lagi yang sudah sangat kesal.
Dia mengambil piring mengisinya dengan nasi dan lauk pauk lalu meletakkannya di hadapan William, laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada piring yang di letakkan Karenina di hadapannya, dia tersenyum dengan makna yang berbeda kali ini. Mereka berdua lalu makan, sarapan sekaligus makan siang.
__ADS_1