
Hanya tinggal Karenina bersama Malik dan Rina di rumah itu. Merry dan Rara bukan sengaja meninggalkan mereka, kedua wanita itu memang sudah punya rencana masing-masing sebelumnya. Mereka bahkan sempat ingin membatalkan rencananya hanya untuk menemani Karenina, tapi Karenina mengatakan kepada kedua temannya itu kalau dia akan baik-baik saja. Ini rumahnya katanya, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya di sini.
“Rumah kontrakan kamu besar juga”, mata Rina mulai menerawang, dia tidak bicara banyak tadi karena melihat wajah Merry yang tidak bersahabat saat melihatnya. “Pantas aja kamu betah di Jakarta, sudah punya pacar orang kaya, punya teman-teman juga kaya. Lupa deh sama asalnya yang miskin”.
“Rina”, Malik agak meninggikan suaranya, sementara Karenina hanya memutar bola matanya.
“Eh, jam tangan kamu itu asli ya” Rina sudah dengan cepat duduk di samping Karenina sambil memegang tangannya dengan sedikit kasar. Dia memperhatikan jam yang melingkar di tangan Karenina.
“Buat Tante aja, nanti kamu minta lagi sama William. Ini pasti dari William, iya kan? Kamu mana mampu beli sendiri”. Dengan tidak tahu malunya Rina memaksa Karenina melepas jam tangan pemberian William. Tapi karenina dengan cepat menarik tangannya dan memegang jam itu, dia melindungiya seperti benda itu sangat berharga untuknya.
“Aku nggak mau, Tante minta Halim saja yang belikan”, seru Karenina.
“Kurang ajar kamu, ya. Berani sekarang kamu melawan Tante”
“Rina..., lebih baik kamu pulang saja”, tegas Malik yang juga muak melihat istrinya yang tidak ada hentinya menindas Karenina. Rina melotot pada Karenina lalu kembali duduk diam di tempatnya. Mana mau dia pulang, dia tentu sangat penasaran sekaya apa keluarga Anggoro itu. matanya bahkan sudah hampir keluar saat melihat mobil yang di pakai Sebastian dan istrinya saat datang ke rumahnya di Lampung waktu itu.
“Om mau nginap di mana?” tidak mungkin kan Karenina membiarkan Rina tinggal bersama teman-temannya. Kalau itu hanya Malik, Karenina pasti akan dengan suka rela meminjamkan kamarnya dan dia bisa tidur bersama Merry.
“Apa nggak ada yang bisa di minum atau di makan, gini cara kamu memperlakukan tamu kamu. Lagi pula kami ini bukan sembarang tamu, kami ini keluarga kamu”. Karenina rasanya mau muntah mendengar Rina menyebut kata keluarga, tapi demi menghargai Malik, dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
Tidak lama kemudian, Karenina muncul dengan nampan di tangannya. Dia meletakkan dua cangkir teh panas dan sepiring brownies keju milik Rara. Tanpa di persilahkan, Rina sudah mencicipi hidangan yang Karenina siapkan.
“Kamu bisa kan antar kami mencari hotel, kami mau istirahat”, kata Malik sambil meletakkan cangkir yang baru saja dia teguk. Karenina mengangguk, tidak mungkin dia menolak juga kan.
__ADS_1
Setelah teh di dalam kedua cangkir itu habis tak bersisa, juga brownies di piring hanya sisa beberapa potong, Karenina lalu mengajak Malik dan Rina untuk mencari hotel yang akan mereka tempati untuk menginap selama tinggal di Jakarta.
Taksi online yang mereka tumpangi berheti di depan sebuah hotel yang cukup sederhana.
“Kamu nggak salah membawa kami menginap disini?” tanya Rina setelah mereka sudah berada di dalam salah satu kamar hotel. Dia sudah membayangkan hotel mewah bintang lima yang akan di pilihkan Karenina mengingat calon suaminya adalah orang kaya.
“Hanya untuk tempat istirahat kan?” Rina mendengus lalu mencoba merampas ponsel Karenina.
“Tante mau apa?” Karenina dengan cepat mengambil kembali ponselnya yang sudah di rebut Rina.
“Aku mau telepon Nyonya Mutiara”, katanya kembali mencoba merebut ponsel Karenina. “Kamu nggak malu sama calon mertua kamu kalau mereka tahu kamu membawa Om sama Tante kamu menginap di hotel murahan seperti ini”, serunya.
“Sudahlah, Rina. Toh besok juga kita sudah akan pulang”, suara Malik sudah terdengar sangat lelah. Lelah karena istrinya terus-terusan membuat keributan bahkan untuk hal sepele.
Karenina merogoh ponsel di saku celananya saat merasakan benda itu bergetar. Nama William tertera di layar. Karenina menarik nafas sambil memejamkan mata sebelum menggeser ikon hijau di layar ponselnya.
“Kau di mana, kenapa lama sekali menjawab teleponnya” suara di sana sudah terdengar kesal panggilannya lama di jawab.
“Will, kau tahu kan hari ini aku akan pergi liburan bersama teman kantorku?” malah balik bertanya dengan tidak kalah kesalnya. Seandainya mereka bicara sambil bertatap muka, mungkin William akan gemas melihat wajah Karenina yang merah karena kesal.
“Kenapa malah mengundang Om sama Tante aku, kamu sengaja kan?” lanjutnya masih dengan nada suara yang terdengar tidak ramah. Karenina sudah bisa menduga seperti apa rupa William di seberang sana, laki-laki itu sedang tersenyum lebar karena berhasil menggagalkan rencana liburan yang sudah di susun rapi oleh Karenina.
“Apa kau punya pakaian untuk kau pakai nanti malam?” tanya William mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Willl...”, beberapa orang yang berada di sekitar lobi hotel menoleh melihat orang yang sedang berteriak, sementara William di seberang sana menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Aku sangat ingin pergi berlibur, aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama dan seenaknya saja kau membuat rencana tanpa bilang apa-apa padaku lebih dulu”,
“Maaf”, kata maaf yang terdengar tidak tulus karena William memang hanya asal mengatakan maaf. Dia sengaja meminta orang tuanya mengundang Malik dan Rina hari ini agar wanitanya itu membatalkan liburannya. Dia tahu, Karenina tidak akan menolak jika Malik yang memintanya. William tidak mau Karenina pergi bersama teman-temannya, dia takut Karenina akan memakai baju yang tidak pantas seperti waktu bersamanya dulu. Apalagi di sana banyak laki-laki teman sekantornya yang akrab dengannya.
“Aku akan membawamu berlibur kemanapun kau ingin pergi saat kita sudah menikah. Hanya kita berdua, aku janji”. Kekesalan Karenina belum juga mereda walau suara William terdengar sangat lembut. Dia masih saja memasang wajah cemberutnya.
“Kau dimana?” tujuan utamanya menelpon Karenina tadi hanya untuk menanyakan keberadaannya. Rencananya dia akan mengirim sopir untuk membawa Malik dan Rina ke hotel yang sudah dia persiapkan.
“Di Hotel”, jawabnya masih ketus. William di sebarang sana mengkerutkan keningnya.
“Di hotel? Hotel mana?” Karenina menyebut nama hotel tempatnya berada. William sekali lagi mengkerutkan keningnya karena tidak mengetahui hotel yang Karenina sebutkan.
“Kau membawa Om dan Tantemu menginap di hotel itu?”
“Heemm”
“Ya sudah kalau begitu, padahal aku sudah mempersiapkan tempat untuk mereka tinggal selama di Jakarta”
‘Tante Rina pasti akan mengamuk lagi padaku kalau tahu William sudah menyiapkannya tempat tinggal’.
“Ya sudah, sampai jumpa nanti malam”, William masih mendengar Karenina mengoceh sebelum laki-laki itu memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1