
“Kau mau membawaku kemana lagi?” William menoleh padanya. Sejak dia masuk kedalam mobil dia bisa melihat Karenina di sampingnya ini tidak seperti Karenina yang biasanya. Bukan Karenina yang menyebalkan atau manis tapi Karenina yang menjadi lebih dingin.
Seperti biasa William tidak menjawabnya. Dia hanya terus melajukan mobilnya.
“Kita terlambat, harusnya kita bisa melihat matahari terbenam tadi”, William mengajaknya ke rostoran yang pernah mereka kunjungi, restoran yang berada di sebuah dermaga di pinggir pantai. Pemandangannya masih sama, lampu-lampu hias mengiasi pembatas besi yang ada di pinggir dermaga itu. Tapi bulan yang ada waktu itu berbeda dengan yang sekarang menghiasi langit malam, malam ini bulan bulat dengan sempurna, ada cahanya merah muda yang mengelilinginya membuatnya terlihat sangat indah.
William menarik kursi untuknya tidak perduli dengan wajah datar Karenina yang sangat mengganggu penglihatannya.
“Aku pikir kau suka disini, jadi aku mengajakmu ke sini lagi”, katanya sambil menatap lekat Karenina.
“Will” William menaikkan sebelah alisnya, dia tidak pernah mengalihkan pandangannya pada wanita di depannya itu. Wanita sederhana yang sudah mengalihkan dunianya.
“Kau mau tahu alasan sebenarnya aku meningglkan kota kelahiranku?” William meletakkan dagunya pada jemari yang saling menggenggam yang bertumpu pada kedua sikunya di atas meja.
“Tanteku ingin menikahkanku dengan seseorang yang sangat aku benci, bukan benci juga tapi aku benar-benar tidak suka padanya. Dia sebenarnya pacarku dan awalnya aku suka padanya. Di awal-awal hubungan kami dia memperlakukanku cukup baik” William mendengarnya bercerita, kisah yang tidak pernah dia ceritakan pada siapapun sebelumnya .
“Tapi lama kelamaan sikapnya berubah, dia mulai mengatur hidupku dan mencampuri semua urusanku tidak perduli aku suka atau tidak, aku mau atau tidak mau. Semakin hari aku semakin takut padanya, dia semakin posesif aku tidak boleh melakukan ini dan itu dan juga melarangku berteman dengan laki-laki lain selain yang sudah dia kenal baik. Aku muak padanya tapi tidak bisa melepaskan diri darinya. Dan puncaknya saat dia melamarku pada Om dan Tanteku.
Aku ketakutan setengah mati apalagi saat Tanteku dengan mudahnya menerima lamarannya tanpa bertanya aku mau atau tidak, aku siap atau belum. Aku semakin takut membayangkan hidup dengan orang yang seperti itu sepanjang hidupku”.
Karenina menjeda ceritanya saat pelayan datang menyajikan makanan mereka, setelah semua hidangan tertata rapi di atas meja, pelayan meninggalkan mereka dan Karenina melanjutkan ceritanya tanpa di potong William sedikitpun.
“Sampai pada akhirnya aku memutuskan pergi dari kota itu, tentu setelah aku mendapatkan semua sertifikat kelulusanku. Omku memberiku ijin pergi, dia juga memberiku sedikit uang sebagaai bekalku sebelum mendapatkan pekerjaan.
Walaupun setelah kepergianku Om dan Tanteku bertengkar hebat karena Tanteku sudah banyak menerima barang-barang dari laki-laki itu dan Omku malah membiarkanku pergi”.
Karenina menghela nafasnya, kali ini tatapannya sudah tidak sedingin tadi. William melihat dia sudah kembali seperti Karenina yang dia kenal.
“Kau tahu kenapa aku menceritakannya padamu? Aku ingin katakan padamu kalau aku tidak mau merasakan hal seperti itu lagi dalam hidupku, aku ingin menjalani hidupku seperti apa yang aku inginkan tanpa ada yang menggangguku tanpa ada yang mengaturku”.
William mengkerutkan keningnya “Apa aku membuatmu takut?”, Karenina mengangguk dengan cepat.
“Kau juga mengganggu ketenangan hidupku”, katanya langsung tanpa basa basi.
“Di bagian mananya aku mengganggu hidupmu?”
“Kau masih bertanya di bagian mana, apa perlu aku jabarkan satu persatu apa yang sudah kau lakukan. Apa perlu aku menghitung berapa kali kau membawaku dengan paksa”.
__ADS_1
“Aku tidak merasa pernah melakukan semua itu” William meneguk wine yang sudah di tuangkan pelayan tadi.
“Aku hanya sedang berusaha mengejarmu, seperti yang sering orang-orang lakukan saat mengejar wanita yang di sukainya. Aku tulus padamu Karenina dan aku tidak akan menyakitimu”. Karenina kehabisan kata-kata, dia sudah menceritakan kisahnya mengapa dia takut menjalin hubungan dengan orang lain tapi William kalihatannya sama sekali tidak perduli.
Tapi tunggu, tulus. William memang menjengkelkan, suka seenaknya sendiri tapi dia tidak lagi pernah menunjukkan amarah pada dirinya. Beberapa menit yang lalu dia bisa marah pada orang lain tapi di menit berikutnya ia sudah melupakan amarahnya bila itu bersamanya.
Karenina mengingat semua hal yang sudah dia lewati bersama laki-laki itu, makin hari William memang makin memperlihatkan sifat manusianya. Selain selalu seenaknya, William tidak pernah melakukan hal-hal yang menyakiti hatinya. Kecuali kejadian motornya waktu itu.
“Kalau aku jadi kekasihmu, apa kau akan seenaknya padaku?” Karenina mulai membuka pikirannya. Mungkin membiarkan William masuk di hidupnya juga tidak terlalu buruk, William mungkin hanya penasaran dengannya dan bila dia bosan dia akan meninggalkan dirinya. Toh, dia juga tidak punya perasaan apapun pada William selain mengagumi ketampanannya jadi bila William meninggalkannya dia tidak akan sakit hati.
“Aku akan menjagamu dengan baik” kata William dengan tulus. Karenina mengangguk “Baiklah, ayo kita coba” katanya dengan yakin.
“Tapi aku punya satu syarat?” Kening William berkerut. “Aku tidak mau tidur denganmu” lanjutnya.
“Syaratmu terlalu berat”, benarkan yang William inginkan hanya tubuhnya.
“Maksudku, aku mau sekali-sekali tidur sambil memelukmu bukan menidurimu. Aku janji hanya memelukmu, aku tidak akan lakukan bila kau tidak mau” Karenina membuang nafas lega, tadinya dia fikir William benar-benar hanya menginginkan tubuhnya.
“Nina…”
Deg, jantung Karenina berpacu dengat cepat. Mendengar William memanggilnya seperti itu masih membuat tubuhya membeku.
“Karenina”
“Hemm”
“kau dengar apa yang aku bilang”
“Kau bilang apa” William memicingkan matanya “Apa yang kau fikirkan” Karenina menggeleng dengan cepat “Tidak ada”, jawabnya. William lalu mengalihkan pandangannya pada makanan di hadapannya.
“Makanannya jadi dingin, aku akan pesan ulang”
“Kenapa? Kan masih baru juga”
“Aku tidak suka makan makanan yang sudah dinging”, Karenina melongos ‘Dasar orang kaya’
“Jadi yang ini mau di apakan”
__ADS_1
“Terserah mereka” pelayan restoran membereskan makan di atas meja itu yang tidak tersentuh sama sekali. Karenina memandang makanan itu tidak tega.
“Jangan suka buang-buang makanan Will, kau tidak tahu di luar sana banyak orang yang kelaparan karena tidak punya apa-apa untuk di makan”
“Aku tidak membuangnya, aku memberikan pada mereka. Itu bukan makanan sisa karena semuanya masih utuh, tidak tersentuh sama sekali”. Kata William menegaskan, Karenina hanya mencibir.
“Nina”
“Will, jangan memanggilku seperti itu”
“Kenapa”, lagi-lagi terlihat kerutan di kening William “Aku dengar semua orang memanggilmu seperti itu, kenapa aku sebagai kekasihmu tidak boleh”, katanya protes.
“Aneh”
“Maksudmu?”
“Terserah kau saja”, entah benar atau tidak William menjadikan wanita menjengkelkan seperti Karenina sebagai kekasihnya, dia mau mencobanya. Dia juga hanya sedang mencoba meyakinkan hatinya, benarkah dia sudah jatuh cinta pada wanita itu atau dia hanya penasaran karena belum bisa menaklukan wanita itu.
Walaupun mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih tapi William tahu kalau Karenina belum memiliki perasaan apapun padanya dan itu membuatnya semakin tertantang untuk masuk lebih jauh ke dalam hidup wanita itu.
Malam semakin larut, restoran itu semakin ramai oleh pengunjung yang kebanyakan berpasangan. William mengajak Karenina meningglkan tempat itu, mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
“Matilah aku”, Karenina melihat ponselnya, ada banyak panggilan tidak terjawab dari Merry. Dia sampai lupa sudah membuat janji dengan Merry malam ini.
“Merry pasti akan membunuhku”, katanya lagi dengan wajah memprihatikan.
“Kenapa?” tanya William yang masih fokus menyetir.
“Ini semua gara-gara kau, aku janji ketemu Merry malam ini tapi kau malah menarikku ke sini”. William merampas ponselnya dan mendial nomor Merry.
“Kareninaaa, kau mati ya. Kenapa kau tidak datang, aku menunggumu berjam-jam” suara teriakan Merry di ujung telepon membuat William menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Siapa yang kau telepon” Karenina ingin mengambil ponselnya tapi William sudah kembali mendekatkan ponsel itu di telinganya dan bicara denga Merry.
“Maaf, aku membawa Karenina ke suatu tempat tadi” tidak ada suara dari sana, sampai beberapa detik. “Halo” katanya dengan suara datarnya khas William Anggoro.
“Ini siapa?, dimana Karenina?” baru terdengar lagi suara di sebrang.
__ADS_1
“Dia bersamaku, jangan marah padanya. Aku yang bertanggung jawab”. William mematikan sambungan telepon dan memberikan ponsel tu kembali pada Karenina.
Karenina membuka mulutnya lebar, bagaimana bisa dia seperti itu pada temannya.