
Merry dan Rara mengunjungi Karenina di rumah sakit, suasana haru pun terjadi.
“Kami khawati banget” kata Merry. Mereka bertiga duduk di atas ranjang tempat tidur yang besar itu. kemana William? dia sudah kembali ke kantor. Ada dua orang bodyguard yang menjaga Karenina di depan pintu.
“Aku takut banget, tangan sama kaki ku di ikat kencang banget” cerita Karenina mempelihatkan kaki dan tangannya yang lecet karena di ikat.
“Kamu sudah tahu siapa yang menculik kamu?” Karenina menggeleng.
“William tidak mau bilang” katanya sedikit kesal. Walau dia sudah pulih sepenuhnya, tapi rasa trauman masih selalu membuatnya mengigau setiap malam.
“Apa mungki mantan kamu itu?” tanya Rara. Dia dan Merry berfikir bahwa Halim lah yang paling bisa menculik Karenina. Dia pasti sakit hati mendengar Karenina akan menikah.
“Walaupun Halim begitu, tapi dia nggak mungkin tega sampai menyakiti aku seperti ini” kata Karenina membela Halim. Dia pernah menjalin hubungan dengan mantan pacarnya itu, dia tahu kalau Halim menyayanginya dan tidak akan melakukan hal seperti itu hingga hampir membuatnya kehilangan nyawa.
“Tapi kalau orang sakit hati, semuanya mungkin saja kan” Merry menambahkan.
“Mungkin relasi William” jawab asal Karenina. “Kalau benar, dia harus tanggung jawab, aku sampai mau mati karena dia” kata Karenina bercanda.
Ketiga gadis itu sama sekali tidak berfikir bahwa ada mantan William yang sangat sakit hati dengan berita pernikahan William.
Saat asyik cerita, Ryan mengetuk pintu dan Karenina mempersilahkannya masuk. Dia membawa beberapa buah dan juga makanan untuk Karenina dan teman-temannya. Dokter sama sekali tidak melarang Karenina memakan apapun karena dia memang tidak sakit hanya trauma.
Merry yang melihat Ryan langsung membuang wajahnya. Dan hal itu di lihat oleh Karenina dan Rara. Sementara Ryan, sebelum pergi dia melihat Merry dan tersenyum pada wanita itu. Lama dia berdiri di depan ketiga gadis itu, ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya seakan terkunci rapat.
“Kamu mau ngobrol sama Merry?” tebak Rara yang langsung di berika pelototan tajam oleh Merry.
__ADS_1
“Mungkin ada yang harus kalian selesaikan” kata Karenina menambahkan.
“Nggak ada yang perlu kami bicarakan, kalian apa-apaan sih” Merry lalu keluar meninggalkan ruangan Karenina, saat itulah Ryan mengejarnya.
“Mer, tunggu...” teriak Ryan. Merry tidak perduli dan terus melangkah menjauhi Ryan.
“Merry, kita harus bicara” Ryan berhasil mengejar Merry, dia menahan lengan wanita itu. Merry melihat tajam tangan Ryan yang memegang lengannya. Secepat kilat Ryan melepaskan tangannya.
“Kasih aku kesempatan, Mer. Aku mohon” pinta Ryan dengan wajah memelas. Merry hanya meliriknya tajam lalu kembali melanjtkan langkahnya. Tidak menyerah, Ryan kembali mengejarnya dan langsung membalikan tubuh Merry, membawa wanita itu dalam pelukannya.
Peluka spontan Ryan berhasil membuat Merry membeku, dia seperti patung dalam pelukan Ryan. Namun saat kesadarannya kembali, dengan cepat Merry mendorong tubuh Ryan dan... plak. Satu tamparan Merry hadiahkan untuk pelukan Ryan.
“Kurang ajar ya, kamu. Sekali lagi kamu berani melakukan itu, aku akan melaporkan kamu ke polisi sebagai pelecehan” teriak Merry dengan wajah yang merah karena marah.
“Mer, apa nggak ada kesempatan buat aku. Apa kamu tidak mau mendengar penjelasanku, aku tidak keberatan kau mau memaki atau memukulku. Tapi kau harus mendengarku dulu, Merry” sepertinya Ryan tidak menyerah untuk membuat Merry mau mendengarnya.
Rara yang melihat kejadian itu dari jauh buru-buru kembali ke ruang rawat Karenina, dia menceritakan apa yang dia lihat tadi pada Karenina. Hal itu membuat mereka sangat khawatir karena mereka tahu lari ke mana Merry jika suasana hatinya sedang kacau.
“Kamu pulang aja deh, temani Merry” pinta Karenina pada Rara.
“Kalau begitu aku pulang dulu yah, aku juga takut kalau Merry mabuk-mabukan lagi” Karenina mengangguk cepat. Dia juga rasanya ingin pulang dan menemani Merry, tapi William pasti akan melarangnya untuk keluar dari rumah sakit.
Hal sudah Rara dan Karenina duga, Merry tidak ada di rumah. Rara lalu segera menghubungi Karenina. Karenina berfikir kalau Merry tidak akan mau bicara msalah pribadinya pada Rara, jadi dia memutuskan kalau dia saja yang mencari Merry. Wanita itu pasti ada di tempat hiburan langganannya.
Karenina menghubungi William bermaksud meminta ijinnya untuk keluar mencari Merry, tapi yang dia dapatkan hanyalah ceramah panjang dari William.
__ADS_1
“Tenanglah, sayang. Aku akan meminta Ryan mencari temanmu itu” kata William. Dia segera pulang begitu mendengar Karenina ingin keluar dari rumah sakit.
“Kau gila yah, Merry tidak mau ketemu sama Ryan, kau malah minta Ryan mencarinya” kata Karenina dengan kesal. William yang sebisa mungkin menahan emosinya di depan Karenina pun mulai terlihat kesal melihat Karenina yang tetap ignin mencari Merry.
Bukan tanpa sebab Karenina sangat mengkhawatirkan Merry, dia takut Merry bertemu dengan laki-laki jahat yang akan mengambil keuntungan dari temannya itu ketika sednag mabuk. Karenina pernah mendapati Merry di bawa pergi orang tidak di kenal saat mabuk, untungnya dia datang tepat waktu sehingga Merry masih selamat. Karenna takut kejadian seperti itu terulang lagi, apalagi sekarang suasana hati Merry pasti sangat buurk.
“Baiklah, aku akan menemanimu” putus William pada akhirnya. Dia juga tidak mau Karenina terus-terusan khawatir memikirkan temannya.
“Heemm, kalau begitu sekalian saja antar aku pulang. Aku kan sudah tidak apa-apa” Karenina sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Dia merasa sudah sangat sehat dan siap untuk kembali bekerja.
“Siapa bilang kau bisa kembali ke rumah kontrakan mu itu? kau tidak akan tinggal di sana lagi” kata William dengan tegas. Dia sudah menyiapkan sebuah apartemen untuk Karenina sampai mereka menikah.
“Jadi aku akan tinggal di mana? Di apartemenmu?”
“Boleh” tentu William akan sangat sengang kalau Karenina mau tinggal sementara waktu di apartemennya.
“Enak saja” balas Karenina mencibir William.
William memakaikan jacket untuk Karenina, setelah itu dia juga memakaikan sepatu untuk kekasih yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu. Diam-diam Karenina tersipu malu dan juga sangat senang. Dia merasa sangat di sayangi dan dincintai.
‘Gila, William Anggoro memakaikan aku sepatu. Dia berlutut di kakiku dan memakaikan aku sepatu. Kalau aku foto terus upload, dia mengamuk tidak yah’ Karenina sudah mengambil ponselnya dan siap mengambil gambar. Tapi dia mengurungkannya setelah takut dengan akbitanya.
‘Lebih baik cari aman saja, Nina’
Setelah merasa karena sudah cukup terlindungi dari angin malam, William lalu menggendongnya turun dari tempat tidur. Karenina patuh saja dan tidak banyak protes, dia bahkan mulai suka saat William memanjakannya seperti ini.
__ADS_1
Mereka berdua lalu pergi mencari Merry. Kali ini William tidak mau kejadian yang sama terulang pada kekasihnya sehingga dia menempatkan orang-orangnya untuk menjaga Karenina tanpa wanita itu ketahui.