
Empat hari ini Karenina bisa dengan leluasa keluar masuk S&M tanpa gangguan dan halangan karena William sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Sejak makan malam yang cukup menyenangkan hari itu William dan Karenina tidak pernah bertemu lagi.
Makan malam hari itu memang sangat menyenangkan bagi mereka, bahkan menyisakan kesan yang mendalam di hati keduanya karena pada hari itu mereka membicarakan banyak hal pribadi yang jarang mereka ceritakan pada orang lain. Tapi itu tetap tidak membuat Karenina mau menerima William menjadi kekasihnya, dia masih terlalu takut menjalin hubungan yang terlalu jauh dengan lawan jenis. Lagi pula dia merasa kalau William hanya ingin bermain-main dengannya.
“Kantor terasa aman dan damai tidak ada Tuan William”, Karenina terkekeh mendengar celetukan salah seorang pegawai S&M.
‘Dasar karyawan laknat, tapi benar juga sih. Di Dimension saja kalau Pak Luis sedang ke luar kota atau ke luar negeri, semua orang pasti senang karena bisa bermalas-malasan. Hehehe’
Karenina selesai dengan urusannya di S&M, hari ini dia datang sendiri tanpa di temani siapapun. Jam masih menunjukkan pukul tiga sore ketika dia keluar dari gedung S&M, matahari masih bersinar sangat cerah di luar sana. Taksi online pesanannya datang setelah menunggu beberapa menit. Tapi baru saja dia ingin masuk ke mobil itu setelah membukan pintunya seseorang sudah lebih dulu memegang lengannya.
“William, eh maksudku Tuan William”, William yang baru tiba melihat Karenina akan naik ke mobil segera berlari menghentikan wanita itu.
“Ke ruanganku, ada yang mau aku bicarakan denganmu” katanya melepaskan cengkramannya pada lengan Karenina dan berjalan memasuki gedung perusahaannya. Karenina menundukkan kepalanya pada orang-orang yang tadi berdiri di belakang William, orang-orang itu memandangnya heran. Kenapa seorang wanita dengan penampilan yang sangat biasa sampai membuat Tuan William berlari untuk menghentikannya.
“Jadi naik nggak, Mbak” seru driver taksi online dari dalam mobilnya melihat Karenina yang masih diam membatu memegang pintu mobil yang sudah dia buka.
Eh, iya maaf”, Karenina membuka tasnya dan mengambil uang sesuai dengan tarif driver itu, dia tetap membayarnya karena takut driver itu akan memakinya kalau dia membatalkan pesanannya begitu saja. Driver taksi itu mengambil uangnya dan pergi tanpa membawa penumpangnya.
‘Padahal aku sudah senang beberapa hari ini tidak bertemu dengannya, mau apa lagi sih dia’.
Karenina berhenti di depan ruangan William yang terbuka saat mendengar suara laki-laki itu, dia sepertiya sedang marah lagi entah pada siapa.
‘Kenapa aku selalu melihatnya marah, Tapi dia tidak pernah melampiaskan kekesalannya padaku, iya dia hanya marah padaku saat membuang motorku dulu. Apa dia benar-benar menyukaiku, tindak mungkin kan?’
Orang-orang yang Karenina lihat di bawah tadi keluar dengan wajah pucat, ada dua wanita ternyata di dalam.
‘Apa William marah pada wanita itu juga, apa dia tidak bisa berbicara yang baik di depan wanita. heehh, aku jadi hilang respect padanya’
“Nin, sudah di tunggu Tuan William di dalam” sekeratis William yang lain yang lebih ramah dan sopan dari yang lain memberi tahu Karenina. Di antara tiga sekertaris William hanya satu itu yang baik padanya.
Takut-takut Karenina melangkah, dia tidak melihat William di sofa dan tidak juga di kursi kebesarannya, lalu ada di mana dia.
“Kenapa kau tidak langsung masuk tadi”.
__ADS_1
“Astaga, kau mengagetkanku saja”, William ternyata ada di belakangnya dan sengaja membuatnya terkejut.
“Memangnya aku Nyonya William sampai tidak tahu diri masuk saat boss sedang marah-marah”
“Kau mau jadi Nyonya William, kau percaya diri sekali”, Karenina berdesis dan menjauh dari William, rasa takutnya hilang entah kemana.
‘Mimpi juga aku tidak akan mau jadi istrimu’
“Apa kau juga tadi memarahi wanita yang keluar dari ruanganmu” William menjawabnya bergumam.
“Kenapa”, Karenina tahu dia tidak berhak ikut campur, hak William untuk memarahi bawahannya. Dia hanya merasa kesal pada laki-laki itu sekarang.
“Karena mereka bodoh mau di manfaatkan orang-orang kurang ajar itu untuk mencuri uang Ayahku”
“Maksudmu mereka mau korupsi begitu” William mengaggukkan kepala sekali, “Tapi kenapa mereka memanfatakkan wanita itu”, tanya penasaran. William menariknya mendekat dan memeluknya.
‘Eh, dia kenapa lagi’.
“Sudahlah, itu bukan urusanmu. Aku tidak mungkin marah tanpa alasan”, Karenina melepaskan pelukan yang terkesan memaksa itu.
“Kau pergi bertahun-tahun tanpa mengabariku juga aku tidak akan marah, hahaha” William meliriknya tajam membuatnya semakin tertawa.
“Karenina”
“Hemm”
“Apa kua benar-benar tidak memiliki sedikitpun perasaan padaku?”.
“Emm”, Karenina membulatkan matanya, dia mengigit bibir bawahnya tidak tahu harus menanggapi seperti apa pertanyaan William barusan.
“Apa yang kita lakukan di Bali itu sama sekali tidak membekas di hatimu?”
“Ha…”
__ADS_1
‘Kenapa dia tiba-tiba jadi seperti ini, apa dia makan sesuatu yang aneh di luar sana atau karena stres dengan pekerjaannya membuatnya bicara sembarangan, dan kenapa juga dia masih mengungkit liburan sialan itu sih’
“Aku tidak pernah melupakannya, Karenina. Kau satu-satunya wanita yang meninggalkan bekas di hatiku setelah bercinta”
Glek. Adakah pintu ajaib, Karenina rasanya ingin menghilang saja sekarang, bicara William semakin tidak terarah.
“Will, kalau tidak ada yang penting yang mau kau bcarakan, aku pulang saja ya”
“Ini sangat penting, apa yang ku bicarakn sekarang denganmu sangat penting untukku”
“Haa, apanya yang penting, kau hanya melantur tidak jelas”
‘Aku tidak akan menyerah semudah itu Karenina, aku semakin tertantang menaklukanmu’
“Sudahlah, ayo kita pulang” helaan nafas lega terdengar berhembus, suasana tadi sangat canggung untuknya. Dia berdiri dan merapikan rambut dan bajunya padahal tidak ada yang berubah dari saat dia masuk tadi.
“Ayo”, ajaknya dengan semangat. Tapi kamudian laki-laki itu kembali menarik tangannya duduk di sofa.
“Beri aku ciuman dan aku akan melepaskanmu hari ini”
“Hanya hari ini? Maksudmu kau ma…” William langsung menempelkan bibirnya tidak membiarkan Karenina melanjutkan ucapannya.
William mengu*lum dan mencecap bibirnya sangat lembut, Karenina masih diam dan tidak membalas ciuman itu. Namun semakin lama ciuman itu semakin membuainya dia menutup mata, memegang kedua bahu William dan membalas ciuman itu. William yang merasa mendapat sambutan mulai memperdalam ciumannya dengan memegang tengkuk Karenina.
Ciuman itu terlepas, mereka mengatur nafas yang terengah. William mengusap bibir Karenina yang basah, dia mendekatkan wajah dan mencium keningnya. Mereka sudah benar-benar seperti sepasang kekasih, padahal hanya salah satu dari mereka yang menganggap ada hubungan istimewa di antara mereka. Ya, hanya William yang merasa kalau mereka sudah seperti terikat hubungan yang lebih dalam.
‘Sial, Aku hampir saja hilang kendali. Kenapa aku hanya mau dirinya, aku hanya mau merasai bibirnya. Kenapa aku tidak tertarik lagi dengan wanita lain selain dirinya. Sial’ William.
‘Aku sudah gila, kenapa aku malah membalas ciumanya’ Karenina.
“Ayo, kenapa kau malah diam di situ. Apa kau mau kita melanjutkannya di apartemenku”.
“Haa”, William tergelak melihat wajah terkejut Karenina. “Kau mau pulang tidak?”.
__ADS_1
“Iya, mau. Ayo”.