
Sudah beberapa hari William dan Karenina tidak bertemu karena kesibukan mereka masing-masing, mereka hanya sempat bertukar kabar lewat pesan singkat. William kadang-kadang ingin melakukan video call tapi Karenina tidak pernah mau meledeninya.
Hingga sore ini, William menghebohkan Dimension dengan kunjungan tiba-tibanya di kantor kekasihnya itu. Luis yang mengetahui kedatangan William ke kantornya menunda acara penting bersama keluarganya untuk menyambut William padahal dia sudah bersiap untuk pulang.
“Maafkan saya Tuan William, saya tidak tahu anda akan datang ke kantor reyot saya ini”, kata Luis menyambut William di depan pintu utama bersama beberapa manager dan staffnya.
“Tidak perlu sungkan, saya hanya ingin mengetahui langsung dari anda sudah sejauh mana proyeknya berjalan”, kata William membalas basi basi Luis. William yang di temani Ryan berjalan bersama Luis dan beberapa orang lainnya menuju ruang rapat utama Dimension.
Rendra dan timnya sudah berada di ruang rapat menjelaskan sudah sejauh mana proyek kerja sama mereka berlangsung, telinganya mendengar tapi matanya tertuju pada satu orang yang sudah dia rindukan.
Juwita menendang kaki Karenina di bawah meja, dia bisa melihat tatapan penuh damba dari William saat melihat temannya itu.
“Apa sih, Juwi” bisik Karenina yang sudah kesal melihat Juwita terus menggodanya. Wanita polos itu berfikir kalau William datang ke kantornya benar-benar untuk berkunjung sebagai relasi. Dia terlihat serius mendengar penjelasan Rendra kepada para petinggi itu dan sama sekali tidak memperhatikan William yang terus menatapnya.
“Kamu nggak lihat, Tuan William liatin kamu terus”, Juwita berbisik lagi, Karenina seketika melihat ke arah William dan baru menyadari kalau sedari tadi William memang terus melihatnya. William tersenyum hangat padanya saat tatapan mereka bertemu.
‘Will, jangan tersenyum seperti itu padaku, aku tidak bisa mengimbangi detang jantungku’.
Karenina bukannya membalas senyum William malah menghela nafas dan memberi kode padanya untuk mendengarkan penjelasan Rendra dengan serius. William terkekeh, semua orang melihat kearahnya. Juwita sampai menahan senyumnya melihat kelakuan William yang terlihat seperti orang yang benar-benar di mabuk cinta.
“Aku rasa semuanya sudah cukup jelas, kalian bisa memberikan pada asistenku rekapannya”, katanya menghentikan Rendra yang masih terus menjelaskan.
__ADS_1
“Tujuanku datang kemari bukan hanya untuk mendengar sudah sejauh mana kalian mengerjakan proyeknya. Aku juga mau minta maaf atas nama S&M karena sempat membuat orang-orang salah faham pada kalian. Aku tegaskan sekali lagi kalau Dimension memang layak mendapatkan proyek itu dan bukan karena hal lain. Jadi bekerja keraslah untuk membuktikan pada orang-orang kalau kami memang tidak salah memberikan proyek itu pada kalian”.
William berdiri dari duduknya dan sedikit membungkukkan kepalanya, “sekali lagi aku benar-benar minta maaf”, katanya meminta maaf sekali lagi.
Luis berdiri dengan cepat dan menghampirinya. “Tidak apa-apa Tuan William, anda tidak perlu sampai seperti ini. Dalam dunia bisnis hal seperti itu memang sering terjadi”, kata Luis yang merasa tidak nyaman melihat William Anggoro sampai menundukkan kepalanya di hadapan banyak karyawan Dimension.
Karenina dan Juwita saling pandang, untuk apa dia sampai minta maaf, toh bukan dia yang melakukan kesalahannya.
“Kalau begitu, bolehkah aku membawa kekasihku pergi”. Beberapa orang menautkan laisnya, dan beberapa lagi saling pandang tidak mengerti. Hanya Juwita dan Ryan yang tersenyum melihat kekonyolan William mengakui kekasihnya di depan semua orang.
Bagaimana dengan Karenina, wanita itu terugu di tempatnya. Di ruangan itu hanya ada dirinya yang pernah William minta jadi kekasih, dan bahkan mereka sudah resmi jadi kekasih beberapa minggu ini jadi yang William maksud kekasih adalah dirinya kan?
‘Laki-laki ini benar-benar sudah tidak waras, bagaimana dia bisa bilang seperti itu di depan Pak Luis dan yang lainnya. Hiks hiks, bagaimana aku menjelaskan pada mereka nanti tentang hubunganku dengannya orang gila ini’.
“Apa dia tidak bilang”, William berjalan menghampiri Karenina lalu merangkul bahunya, “Dia kekasihku”, katanya dengan santainya. Karenina mendongak menatapnya, laki-laki itu tersenyum menyeringai membuatnya bertambah kesal.
Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa William sangat kekanak-kanakan dengan mengatakan Karenina adalah kekasihnya. Itu bisa saja menjadi bumerang untuk Karenina dan akan membuat orang semakin berfikir kalau memang ada timbal balik dari proyek yang mereka dapatkan.
Ryan menunduk sopan pada Luis lalu mengikuti William yang sudah lebih dulu jalan di depan dengan menarik tangan kekasihnya. Karenina menengok sebentar melihat wajah terkejut orang-orang sebelum akhirnya hilang di balik pintu.
Karenina melepaskan tangan William dari bahunya tapi laki-laki itu malah mengenggam tangannya, Karenina melotot tapi pandangan William sedang lurus kedapan dengan wajah keren khas William Anggoro.
__ADS_1
William mendudukkan Karenina di kursi penumpang lalu di menyusul masuk ke dalam mobil, Ryan melajukan mobilnya setelah kedua penumpangnya sudah duduk dengan nyaman.
“Aku minta maaf, kata-katanya hari itu pasti sangat melukaimu kan”, Karenina yang tadinya sudah mau meledak karena kelakuan William di Dimension tadi menjadi bungkam. Dia tidak menyangka William akan perduli pada hal-hal seperti itu.
Hatinya memang sedikit terluka hari itu, tapi yang Rudy katakan memang separuh dari kebenarannya kalau memang ada hubungan tidak biasa antara dia dan William tapi sekarang dia tidak lagi mempermasalahkannya.
Karenina menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di sandaran mobil, “Aku nggak apa-apa, toh yang dia bilang juga benar. Aku dan kamu memang ada memiliki hubungan kan, dan aku juga sudah…” Karenina menghentikan ucapannya, dia melirik ke arah Ryan yang pasti mendengar apa yang mereka katakan.
“Ryan, kau bisa pulang naik taksi kan”, William yang mengerti mengusir Ryan dengan halus dan sebagai laki-laki yang peka Ryan pun mengerti kalau pembicaraan mereka sedikit sensitif dan tidak boleh dia dengar.
“Iya, Tuan”, katanya meminggirkan mobilnya. Ryan menundukkan kepalanya sopan dan mempersilahkan kedua orang itu duduk di depan. Ryan melihat wajah bersalah Karenina, dia menunduk dan tersenyum seolah mengatakan saya tidak apa-apa, nikmati waktu kalian sebagai sepsang kekasih.
Mobil itu melaju meninggalkan Ryan sendiri di pinggir jalan.
“Bukankah kau sudah tidak mau membahasnya lagi, kenapa masih selalu kau ulangi. Kau melarangku membicarakan masalah itu tapi kau sendiri yang selalu mengatakannya”. William meminggirkan mobil saat mobil itu baru saja melaju.
“Mari mulai semuanya dari awal, Nina. Walaupun pertemuan kita sebelumnya tidak biasa, tapi ayo mencoba menyimpannya sebagai kenangan indah yang mengawali kisah kita. Kita tidak perlu membicarakannya lagi tapi setidaknya kita tidak akan melupakannya”
“Aku benar-benar ingin bersamamu dan membuatmu bahagia, Karenina. Jadi percayalah padaku dan jangan lagi merendahkan dirimu di depanku”.
Untuk pertama kalinya sejak dia bertemu William, Karenina merasakan ada kehangatan yang mengalir di dalam tubuhnya. Bukan hanya kata-kata yang William ucapkan, tapi juga tatapannya yang begitu lembut padanya. Hatinya yang keras mulai tersentuh, dia mulai bisa merasakan ketulusan yang coba di perlihatkan William dari caranya menatapnya.
__ADS_1
Wanita itu masih diam sampai William kembali melajukan mobilnya. Dia mencerna dalam hatinya kata-kata yang William ucapkan padanya.