Takut Menikah

Takut Menikah
Sepupu-sepupu William


__ADS_3

Dua hari lagi adalah hari yang paling di nantikan keluarga Anggoro dan Karenina. Dua hari lagi William dan Karenina akan menikah. Keluarga Karenina juga sudah ada di Jakarta, mereka tinggal di apartemen yang sebelumnya di tempati Karenina sementara Rara dan Merry sudah kembali ke rumah kontrakan mereka.


Persiapan sudah mencapai sembilan puluh sembilan persen, hanya tinggal menunggu calon pengantin duduk di pelaminan dan semuanya akan menjadi seratus persen.


Rumah Anggoro sudah ramai oleh kerabat yang datang dari berbagai kota dan negara untuk sekedar menyapa Mutiara dan Sebastian dan sedikit basa basi lalu kembali lagi ke hotel tempat mereka menginap. Karenina begitu tegang menunggu hari pernikahannya. Untung saja Caca selalu menemaninya dan mengajaknya bercerita hal-hal receh sehingga Karenina bisa sedikit menghilangkan rasa tegangnya.


“Hai, Caca...”


“Kak Stevi...” Caca berdiri dan memeluk sepupunya yang datang jauh dari Aussie.


“Ini kak, Kak Nina. Calonnya Kak William” Caca mengenalkan Karenina pada Stevi. Ini adalah kesekian kaliya Caca mengenalkan Karenina pada keluarganya yang datang.


Stevi melihat Karenina dari ujung kepala sampai ujung kakinya, dia menilai seperti apa calon istri seorang William Anggoro yang seorang putra mahkota kerajaan bisnis Anggoro.


‘Ternyata hanya gadis kampung, aku pikir seperti apa calon istri William. Kalau hanya seperti ini aku jauh lebih baik dari pada dia’


“Kamu pernah kerja di mana?” tanya Stevi yang sok akrab dengan Karenina. Karenina sudah bertemu banyak keluarga William dan hanya ada beberapa yang menerimanya dengan baik, selebihnya hanya asal basa basi saja mengajaknya bicara.


Seperti Stevi, jelas-jelas wanita itu menunjukkan kalau dia tidak meyukai Karenina. Tapi Karenina sudah mulai terbiasa dan sudah bisa beradaptasi dengan keadaan yang tidak menyenangkan itu. toh setelah ini dia dan keluarga William yang tidak menyukainya tidak akan pernah bertemu lagi.


“Aku kerja di Dimension” jawab Karenina dengan ramah dan sopan.


“Kok aku nggak pernah ya dengar nama perusahaan itu, perusahaan apa sih?”


“Kontraktor” jawab Karenina singkat.


“Ohh, kamu lulusan universitas mana? Luar negeri atau dalam negeri?” pertanyaannya jelas ingin merendahkan Karenina.

__ADS_1


Karenina menyebut sebuah kampus negeri di Jakarta, Stevi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil membentuk huruf O di mulutnya. Karenina hanya memanyunkan bibirnya melihat reaksi Stevi.


Stevi berkeliling kamar yang Karenina tempati, dia melihat semua barang-barang mahal terpajang dalam ruang ganti. Bahkan ada yang masih berlabel karena belum pernah Karenina pakai.


‘Beruntung banget perempuan kampung itu, bisa menikah dengan William. Dan bagaimana dia bisa membuat Tante sama Om suka padanya. Dia pasti seorang penjilat ulung’


“Pasti semua ini di belikan Tante Mutiara, kan. Masih ada labelnya begini. Kamu memang nggak bawa barang kamu dari rumah”


“Iya, Kak. Itu aku sama Ibu yang beli untuk Kak Nina. Kak Nina punya banyak kok, tapi Ibu memberikan semua itu untuk Kak Nina” Caca yang mewakili Karenina menjawab, tidak hanya itu, dia juga menunjukkan perhiasan-perhiasan yang di beli khusus untuk Karenina.


“Ini pesanan khusus untuk Kak Nina, ini di pesan langsung dari Paris. Ibu tidak mau menantunya pakai barang yang tidak berkualitas. Kak Stevi lihat ini” kata Caca menunjuk sebuah kalung berlian yang membuat mata Stevi menyala.


“Ini  hanya ada tiga di dunia, dan Ibu berhasil mendapatkan satu untuk Kak Nina” Caca kesal karena sejak tadi Stevi hanya bertanya tentang hal-hal yang membuat Kakak iparnya itu merasa rendah. Keluarga mereka saja tidak pernah merendahakan Karenina walaupun dia bukan berasal dari kalangan atas seperti mereka, kenapa orang lain seenaknya ingin membuat Karenina merasa tidak pantas berada di antara mereka.


Stevi tidak bicara lagi, dia pamit keluar karena tahu Caca mulai kesal padanya.


“Kak Nina nggak usah meladeni pertanyaan orang-orang lagi, biar aku yang jadi juru bicara Kak Nina” kata Caca membela Kakak iparnya.


“Memang itu siapa?” Karenina hanya tahu namanya Stevi, tapi tidak tahu apa hubungannya dengan keluarga Anggoro.


“Dia anaknya sepupunya Ayah. Sebelum pindah ke Aussie dia sering main ke sini, dia itu dulu suka loh sama Kak Will. Tapi Kak Will selalu bilang kalau mereka itu saudara dan nggak boleh ada perasaan lebih. Kak Stevi jadi patah hati dan akhirnya pindah ke luar negeri”


‘Wah, itu bisa termasuk dalam orang-orang yang tersakiti karena William. Apa dia juga akan balas dendam padaku. Aku jadi trauma dengan orang yang sakit hati’


“Ca, nanti malam kita tidur bareng aja yah” Karenina takut tidur sendirian. Dia sudah membayangkan Stevi datang dan mencekiknya seperti yang di lakukan Ririn padanya.


“Kenapa, Kak” tanya Caca heran.

__ADS_1


“Aku takut, nanti ada Ririn kedua”


Caca tertawa mendengarnya, Karenina yang kesal malah mencubit bahu Caca karena di tertawakan.


“Tidak ada yang akan menyakiti Kak Nina disini, mereka semua takut sama Ayah. Kalau aku aduin sama Ibu semua yang sudah bicara kurang ajar sama Kak Nina, pasti akan langsung kena semprot Ibu. Jadi Kak Nina jangan khawatir apapun, Kak Nina aman di sini”


Siapa yang berani menyakitinya jika dia berada di bawah lindungan keluarga Anggoro. Tapi bukan tanpa alasan juga Karenina takut, rassa trauma atas kejadian bertubi-tubi yang menimpanya masih belum hilang dan sesekali dia masih mimpi buruk karena kejadian itu.


Sepeninggal Caca, Karenina langsung menghubungi William dan menceritakan tentang Stevi padanya. Dia mengadu pada William bagaimana pertanyaan Stevi seolah ingin merendahkannya. Mulai dari pekerjaan, pendidikan hingga barang-barang.


“Tidak usah kau pikir, nanti kau jadi stres dan sakit. Biarkan saja Caca yang mengurusnya” kata William lewat sambungan telepon. Mereka sudah tidak bisa bertemu sampai hari pernikahan. Walaupun mereka saling merindukan, tapi mereka harus mematuhi aturan yang sudah di tetapkan.


“Kau sudah makan?” tanya William, sekarang masih jam delapan malam, biasanya mereka sudah makan malam.


“Di bawah masih banyak orang, Ibu masih sibuk dengan tamu-tamunya. Aku malu untuk turun ke bawah” kata Karenina. Di bawah memang sedang ramai oleh keluarga yang datang dari berbagai daerah.


“Nina, itu adalah rumahmu. Kau tuan rumah sekarang, lalukan apa yang kau mau. Toh Ibu juga tidak pernah melarangmu kan. Turun dan makan, kalau kau sakit bagaimana” omel William.


“Aku juga tidak akan sakit hanya karena belum makan malam kali, Will. Lagi pula aku juga belum lapar. Eh, tapi kau sudah makan kan?” Karenina malah balik bertanya.


“Belum, aku belum makan dari pagi” Karenina yang sedang berbaring langsung bangun.


“Kenapa, kalau kau sakit bagaimana?” Karenina panik, sedangkan William di seberang sana hanya senyum-senyum mendengar intonsi suara Karenina yang meninggi.


“Kalau kau makan, aku baru mau makan”


“Ihh, William. Sejak kapan kau jadai lebay begini, ya sudah ayo kita makan."

__ADS_1


__ADS_2