Takut Menikah

Takut Menikah
Kelelahan akibat gempuran William


__ADS_3

William terkejut mendapati Karenina dengan tubuh yang gemetar dan panas seperti bara api.


“Nina, kau kenapa?” tanya William dengan panik. Berulang kali dia menepuk pipi Karenina tapi wanita itu tidak meresponnya sama sekali. William lalu memakaikan baju tebal pada Karenina dan menutupnya dengan selimut dan menggendongnya, dia akan membawa Karenina ke rumah sakit. William bahkan tidak melihat kalau saat ini jam masih menunjukkan pukul empat pagi.


Karenina langsung mendapat penanganan begitu sampai di ruang ugd, William memberi kabar lewat pesan singkat pada orang tuanya begitu melihat jam. Masih terlalu pagi untuk menghubunginya lewat panggilang telepon, jadi William hanya mengirim pesan singkat.


“Bagaimana istriku, Dok. Kenapa dia meggigil padahal suhu tubuhnya sangat tinggi” William langsung mencecar dokter itu dengan pertanyaan begitu melihat dokter keluar dari ruang ugd.


“Mari kita bicara, Tuan William”


“Tapi, Nina...”


“Perawat sedang memasang selang infus, dia akan baik-baik saja” William dan dokterpun meninggalkan ruang ugd dan menuju ruangan pribadi dokter. Sepertinya apa yang akan mereka bicarakan cukup pribadi sampai dokter itu harus mengajak William ke ruangannya.


“Ada apa, Dok?” tanya William dengan tidak sabaran.


“Maaf kalau pertanyaan saya kurang sopan, tapi apa Nona Karenina bekerja keras setiap hari?” William terkejut mendengar pertanyaan dokter, jangankan bekerja keras, mencuci piring bekas makannya saja tidak.


“Apa hubungannya dengan istriku menggigil dan deman?”


“Bukan begitu, Tuan. Tapi istri anda kelelahan secara fisik. Itu yang membuatnya sampai demam. Atau mungkin...” Dokter tidak melanjutkannya dia takut membuat William tersinggung.


“Atau mungkin apa?”


“Sekali lagi saya minta maaf” kata Dokter itu dengan hati-hati.


“Apakah saat terkhir anda berhubungan badan dengan Nona Karenina dia sudah terlihat lemas?”


“Apa maksud anda Dokter, aku memaksa istriku melakukannya?” tanya William dengan kesal. Lalu dia ingat Karenina memang terlihat lemah sekali semalam, dia hanya berbaring dan tidak melakukan apapun.


‘Apakah dia memang sudah sakit tapi aku tidak menyadarinya dan malah menggempurnya habis-habisan semalam?’


William lalu sadar bahwa dia terlalu berapi-api dalam berhubungan badan dengan istrinya. Dia lalu meninggalkan ruangan dokter dan berlari menuju ruangan ugd untuk melihat keadann istrinya. Saat sampai, ternyata Karenina sudah di pindahkan ke ruang rawat. William lalu mencarinya ke ruang rawat.

__ADS_1


Dia melihat Karenina tertidur dengan damainya, dia mengusap kening yang masih terasa panas itu lalu menciumnya berkali-kali.


“Maafkan aku, Nina, maafkan aku. Aku terlalu serakah, aku tidak bisa menahan diriku hingga melukaimu, maafkan aku, sayang. Maafkan aku” bisik William lembut. Tapi Karenina yang masih di bawah pengaruh obat tentu tidak mendengar apapun.


William mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Mutiara mendengar penyebab sakitnya Karenina, dia memarahi dan menyalahkan William karena terlalu tidak sabaran.


“Pokoknya kalian akan tinggal di rumah sampai Karenina benar-benar sembuh, titik. Ibu tidak mau di bantah” Mutiara tidak sedang main-main kali ini, dia sangat serius. William tidakbisa berbuat apa-apa lagi karena Mutiara sudah memutuskannya.


“Apa yang kau rasakan, sayang?” tanya Mutiara. Dia tidak membiarkan William berada dekat dengan Karenina.


“Badanku rasanya sakit semua, aku juga hanya mau tidur saja” jawaban Karenina kembali membuat Mutiara menatap tajam anaknya itu.


“Memang aku sakit apa?” tanya Karenina yang sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya terbaring seperti sekarang.


“Kau hanya kelelahan, sayang. Tidak sakit apa-apa” jawab Mutiara.


“Iya sih. Setelah pesta, aku sudah mulai kelelahan. Tapi aku pikir setelah istirahat aku akan baik-baik saja, tapi badan ku rasanya tambah sakit” cerita Karenina dengan wajah polosnya. Demamnya sudah turus, suhu badannya juga sudah normal.


“Makan yang banyak,” kata William sambil membenarkan selang infus Karenina.


“Maaf yah, aku janji tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau. Aku benar-benar akan menahan diriku kali ini. Aku menikahimu untuk membuatmu bahagia bersamaku, tapi aku malah yang menyakitimu, maafkan aku”


Karenina hanya melongo mendengarWilliam mengoceh di depannya, dia belum mengerti kalau dia kelelahan akibat William yang terlalu berapi-api meyetubuhinya. Sehari dia bisa melakukannya dua kali dalam tempo yang cukup lama. Karenina tidak pernah bersitirahat sejak hari pertama mereka menikah.


“Memangnya aku kenapa?”


“Sudahlah, kau makan yang banyak. Aku akan marah kalau kau sampai sakit lagi”


“Siap boss”


Naffsu makan Karenina sepertinya sudah membaik, dia makan cukup banyak. Dokter memberinya banya Vitamin sehingga badannya bisa pulih dengan cepat.


Hari ini Karenina sudah di perbolehkan pulang, bukan ke apartemen tapi ke rumah keluarga Anggoro. William tidak bisa berbuat apa-apa bahkan mendengar rengekan dari istrinya. Dia ingin Karenina berada di bawah pengawasan Ibunya selama Karenina masih dalam masa penyembuhan. Membiarkannya tinggal sendiri di apartemen terlalu berisiko.

__ADS_1


“Nina tidur sama Ibu yah, William biar tidur sama Ayah...”


“Bu...”


“Sayang...”


Protes William dan Sebastian secara bersamaan. Kedua laki-laki itu tidak terima jika harus tidur terpisah dari istrinya.


“Aku tidak akan melakukan apa-apa, jadi biarkan aku tidur bersama istriku” kata William. Karenina juga ingin protes tapi dia takut pada Mutiara, wanita paruh baya itu tidak terlihat ramah seperti biasanya.


“Ini semua gara-gara kamu, Wil” protes Sebastian yang menyalahkan William.


“Kalau begitu Ayah bujuk istri Ayah, aku juga ingin tidur memeluk istriku” kata William yang juga protes pada Ayahnya.


“Maaf, yah. Ini semua gara-gara aku” Karenina menunduk merasa bersalah.


“Bukan sayang, ini semua salahku. Jangan menyalahkan dirimu” William berpindah duduk di samping Karenina, dia lalu menjauh saat Mutiara memberi tatapan tajam padanya.


“Bu, aku janji akan menjaganya dengan baik. Biarkan dia tidur denganku, aku bisa gila bila tidak ada dia di sampingku, Bu. Masak aku harus memeluk Ayah. Aku tidak mau” katanya kembali protes pada Mutiara.


“Kau pikir Ayah mau, Ayah juga tidak mau memelukmu. Lebih baik aku memeluk istriku saja. Iya kan, sayang” Sebastian juga masih berusaha membujuk istrinya. Melihat kedua laki-laki kesayangannya itu terus berusaha membuatnya membuat Mutiara segera menarik Karenina dan meninggalkan kedua laki-laki itu.


“Ayo, Nina kita ke kamar saja” kata Mutaira. Karenina hanya bisa mengikutinya, dia memberikan ciuman lembut di kening William sebelum meninggalkannya.


“Maaf ya, sayang. Ibu sengaja memberi pelajaran pada William agar dia tidak mengulang kesalahannya” kata Mutaiara saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar.


“Tapi kasian mereka, Bu. Ayah juga kelihatan sedih, padahalkan Ayah tidak salah apa-apa. Lagi pula Nina juga sudah baikan kok” melihat Mutiara yang sudah lembut seperti biasa, Karenina mulai bicara dan membela kedua laki-laki itu.


“Sudahlah, hanya beberapa hari saja” bola mata Karenina membulat.


‘Beberapa hari, maksudnya bukan hanya malam ini. Aahhh, aku tidak mau tidur sama Ibu, aku mau tidur sama suamiku’


Karenina memejamkan matanya dengan terpaksa, baru sehari saja tidak tidur bersama William dia sudah sangat merindukan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2