
Merry sudah bangun sejak subuh tadi, dia sengaja bangun cepat untuk membuat sarapan yang terkhusus untuk Karenina sebagai permitaan maaf padanya semalam. Dia mengetuk pintu kamar Karenina dan masuk ke dalam ketika mendengar Karenina berteriak dari dalam.
“Nin, aku benar-benar minta maaf untuk yang semalam yah” katanya masih menyisakan penyesalan.
“Aku takut banget liat kamu marah semalam, tapi saat aku bangun tidur tadi pagi aku sudah lupa kok kejadian yang semalam itu. Dan tentang laki-laki yang kamu benci itu kamu tenang aja, aku tidak akan membiarkan dia muncul di hadapan kamu kalau kamu tidak suka lihat dia. Sejujurnya aku juga nggak suka banget sama dia, aku juga pulang terpaksa banget kok di antar sama dia. Lebih tepatnya di antar sama William sih” Karenina menampilkan senyumnya, Merry membalas senyumnya lalu mreka berpelukan.
“Aku mau minta tolong juga”,
“Ih, nggak tahu diri banget sih, sudah marah-marah sampai teriak masih juga mau minta tolong” seperti biasa, Karenina suka bicara seenaknya. Merry tersenyum kecut mendengarnya.
“Mau minta tolong apa?”
“Jangan ceritain kejadian semalam sama Rara apalagi sama Juwi, yah”,
“Kenapa” tanya Karenina dengan wajah sok polosnya.
“Aku nggak mau aja kalau mereka banyak tanya”, Karenina menarik sudut bibirnya tersenyum sangat lebar, lalu senyuman itu berubah menjadi tawa renyah atau tawa megejek tepatnya. Itulah yang dia rasakan selama ini, perasaan takut kalau teman-temannya akan bertanya yang macam-macam kalau lihat William mengantarnya pulang.
‘Hahahaa, aku punya kartu Rara sekarang. Aku tidak perlu takut dia akan menceritakan siapa yang mengantarku pulang semalam’
“Ok”, jawab Karenina. Mereka keluar sarapan bersama, sudah ada Rara yang menunggu mereka di meja makan. Mereka makan dalam diam, Rara tidak mau bertanya lagi karena tahu pasti tidak akan ada yang menjawabnya.
“Mer, kamu baik-baik saja?” Laki-laki yang mengantar Merry kemarin mendekati Merry saat wanita itu keluar dari pagar besi.
Merry mengangguk “Ayo”, katanya.
Karenina sudah sampai di Dimension, belum juga pantatnya menyentuh kursi Rendra sudah datang memberikan sebuah map padanya.
“Tolong antar ini ke S&M, kita butuh tanda tangan Tuan William hari ini juga”,
‘Bertemu dia lagi, masih pagi begini sudah harus bertemu dengannya lagi’.
“Nina…”
“Ngga bisa sebentar aja ya, aku baru juga sampai. Habis makan siang begitu, aku kerja yang lain dulu”
“Baiklah, tapi kau buat janji dulu dengan sekrtarisnya siapa tahu Tuan William tidak ada di tempat saat kau datang”
“Oke”.
‘Kenapa lewat sekertarisnya kalau aku bisa menghubunginya langsung’, Karenina mulai mengetikkan pesan untuk William, tapi setelah dia berfikir lagi, dia kemudian menghapus pesan itu dan menyimpan ponselnya. “Urusannya bisa panjang kalau aku yang menghubunginya duluan”. Karenina lalu menghubungi sekertaris William dan membuat janji.
“Nin, kamu udah sarapan”? Juwita baru datang dengan membawa kotak yang wanginya sudah tercium dari jauh.
__ADS_1
“Sudah, Merry yang masakin tadi pagi”, jawabnya tapi matanya terarah pada kotak yang di pegang Juwita.
“Merry? Nggak salah, diakan paling sering bangun telat, bisa-bisanya dia buat sarapan” kata Juwita.
‘Dia punya rahasia, sengaja buat sarapan supaya aku tutup mulut. Tanpa aku bersusah payah membuatnya tutup mulut, hehehe’
“Tapi kayaknya Merry ganti cowok lagi”,
“Masak sih, perasaan yang terakhir belum cukup dua minggu deh”
“Masih pagi pikiran masih segar buat kerja, kenapa kalian malah bergosip. Ingat proyek kita punya deadline, jangan sampai perusahaan kita tidak bisa mencapai terget yang sudah di berikan S&M karena kalian berdua bukan sibuk kerja tapi malah sibuk gibah”, Yoga datang dan langsung memberi ceramah pagi pada Karenina dan Juwita.
Kedua wanita itu mengepalkan tinjunya di belakang Yoga bersamaan, Yoga melihat ke belakang dan seketika Juwita kembali ke mejanya sementara Karenina baru menekan tombol power pada cpu komputernya. Dan mereka kembali diam tenggelam dalam pekerjaannya masing-masing.
“Nin, habis makan siang jangan lupa langsung ke S&M”, Rendra mengingatkan Karenina saat wanita itu akan keluar makan siang bersama Juwita, melanjutkan cerita unfaedah mereka tadi pagi.
“Iya, Pak. Aku ingat kok” katanya.
“Juwi, sekalian antar ke S&M ya”,
“Oke”. Setelah makan siang Juwita langsung mengantar Karenina ke S&M.
“Sekalian temani masuk dong, biar kamu bisa ketemu sama Tuan William yang gantengnya ngga ada obat”. Bujuk Karenina, niatnya supaya Willam tidak menahannya kalau dia mau pulang setelah mendapatkan tanda tangannya. Bukan ge er, tapi sepert itulah yang sering terjadi.
“Ngga ah, aku sudah ikhlasin dia buat kamu”
“Mba Nina, sudah di tunggu Taun William di dalam”, sekertaris yang tadi dia kabari menyambutnya dengan ramah.
“Aku masuk ya”, katanya.
“Siang Tuan William” sapa Karenina dengan sopan. Dia menyerahkan map yang dia bawa pada William.
“Kami membutuhkan tanda tangan anda”, katanya. Dia hanya berdiri di depan meja, tidak mau duduk sebelum William mempersilahkannya duduk. Walaupun ada hubungan yang entah apa antara dia dan William, dia tetap harus menjaga sopan santun jikan William tidak mulai duluan mengganggunya.
William terlihat sangat serius membaca kertas-kertas yang dia ambil dari map yang Karenina bawa, dia belum melihat ke arah Karenina sejak dia masuk keruangannya.
‘Tidak di ragukan lagi, dia memang sangat tampan. Coba sifatnya manis, aku pasti akan tergila-gila’.
“Kau mau berdiri terus di situ”, akhirnya dia menegur Karenina. Dia membubuhkan tanda tangannya setelah membacanya dengan teliti dan memasukkan kembali kertas-kertas itu ke dalam map.
William berdiri dari kursi kebesarannya, dia membawa map yang isinya sudah dia tanda tangani.
“Ini”, katanya memberikan map itu pada Karenina.
__ADS_1
‘Apa-apaan lagi sih dia’. William sudah mengukungnya di kursi yang ada di depan mejanya.
“Kau tahu kan tanda tanganku sangat berharga, jadi aku minta bayarannya”, Karenina melongo “Kau salah minum obat lagi”, katanya mendorong William agar dia bisa berdiri. William mencium pipinya dengan lembut lalu melepaskannya.
‘Huh, aku kira dia mau mencium bibirku tadi. Eh, kenapa aku jadi berharap sih’.
“Terima kasih tanda tangannya”, Willam menahan tangannya dan langsung memeluknya. Karenina diam saja, sudah tidak banyak protes seperti biasa. Bukanya mulai menerima tapi berontakpun percuma.
“Maaf ya, aku tidak bisa mengajakmu ke tempat itu lagi nanti malam”
“Heemm… kenapa kau minta maaf”
“Aku kan sudah bilang padamu akan membawamu lagi ke sana sabtu ini”
‘Astaga, aku pikir kau hanya asal ucap saja hari itu’
“Tidak apa-apa, aku pulang ya”. William sangat ingin menahan Karenina, tapi banyak sekali berkas yang harus dia periksa. Mau tidak mau dia membiarkan wanita itu pergi.
“Kau naik apa?”
“Naik taksi” terdengar William menghela nafas.
“Aku akan meminta supir mengantarmu”
“Tidak perlu, aku mohon jangan”
“Nina”, Karenina membulatkan matanya, baru kali ini dia mendengar Wlliam memanggilnya seperti itu.
‘Kenapa lagi sih jantungku, semua orangkan juga memanggilku seperti itu. Tapi kenapa saat dia yang panggil begitu aku merasa sangat berbeda, seperti…'
William mendekat, dia mengusap pipi wanita itu dengan lembut.
“Jangan menolakku terus, aku tidak bisa sabar lagi kalau kau selalu menolakku”
“Haa” William kembali memberikan ciuman lembut di pipinya, dan itu benar-benar membuatnya membeku.
“Pulanglah, supir akan mengantarmu. Maaf aku tidak bsa mengantarmu keluar, aku sedang banyak pekerjaan”.
“Karenina…”
“Emmm”
“Kau kenapa”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, aku pulang ya” sebelum membuka pintu Karenina berbalik, dia melihat William masih menatapnya di sana.
“Terima kasih”, katanya dengan senyum tulus lalu hilang di balik pintu.