
Sementara itu di suatu tempat yang sangat jauh dari kota, Karenina yang tangan dan kakinya terikat terus menangis ketakutan. Dia berada di tempat gelap yang hanya ada cahaya matahari dari balik pentilasi. Dia duduk meringkuk di lantai yang dingin dengan mulut yang tersumbat kain.
Karenina tidak tahu siapa yang sudah melakukan ini padanya dan apa tujuannya, dia sama sekali tidak pernah merasa menyakiti orang lain. dia selalu berusaha bersikap baik pada orang lain.
‘William, aku takut’ katanya dalam hati sambil terisak pilu.
Terdengar suara langkah kaki dari depan pintu, Karenina ingin mundur tapi tubuhnya sudah mentok bersandar di tembok. Pintu di buka, ada dua laki-laki dengan tubuh tegap dan memakai topeng masuk ke dalam. Mereka memberi minuman pada Karenina.
Salah seorang laki-laki itu membuka kain yang membeka mukut Karenina dan memaksanya minum air yang tadi dia bawa tapi mulut Karenina tidak mau terbuka dan membuat kesal penculik itu hingga dia membuang airnya.
“Kalian siapa? Lepaskan aku, aku mohon” pinta Kareninan dengan suara memelas.
“Huh, kenapa kami harus susah-susah menculikmu dan membawamu ke tempat ini kalau hanya untuk langsung melepaskanmu”, kata salah satu penculik itu.
“Kenapa kalian menculikku, aku tidak mengenal kalian, kan. Apa aku sudah berbuat jahat pada kalian” tanya Karenina lagi masih dengan terisak, “Aku minta maaf” katanya lalu menangis tersedu-sedu membuat penculik itu saling pandang.
“Kau tidak membuat masalah dengan kami, kau juga tidak mengenal kami” kata penculik itu.
“Lalu kenapa kalian menculikku. Kalian tahu siapa calon suamiku, dia sangat galak, dia tidak akan memaafkan kalian kalau dia tahu kalian menculik dan mengikatku seperti ini” kata Karenina lagi.
“Tapi aku akan minta dia memaafkan kalian kalau kalian mau mengantarku kembali ke rumahku”
Salah satu penculik itu mulai kesal dengan Karenina yang terlalu banyak bicara, dia mengambil kain yang tadi membekap mulut Karenina lalu kemudian memasangnya kembali. Karenina berteriak tapi suaranya tidak bisa lagi terdengar jelas.
Karenina berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya, tapi usahanya itu hanya sia-sia saja karena ikatan tali itu terlalu kuat sehingga hanya membuat tangannya terluka jika dia terus memaksa membuka tali itu.
__ADS_1
‘Apa mereka orang-orang suruhan Tante Rina? hiks hiks hiks.... kenapa Tante Rina sampai setega itu menyuruh orang menculikku, kenapa dia sampai membenci ku seperti itu’ tangis Karenina kembali pecah. Siapa lagi yang akan melakukan hal sejahat ini padanya kalau bukan Tantenya itu, hanya Rina yang paling membencinya di dunia ini, dan hanya dia yang akan tega melakukan hal itu padanya.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam, beberapa mobil yang termasuk William dan anggota polisi tiba di suatu tempat yang di yakini adalah tempat di mana Karenina di sembunyikan setelah di culik. Pimpinan polisi mengarahkan beberapa anak buahnya ke beberapa titik untuk menerobos masuk ke dalam rumah yang terlihat tidak berpenghuni itu.
Polisi mendobrak pintu dan menerobos masuk ke dalam, mereka dan juga William mencari di setiap sudut ruangan tapi yang mereka dapatkan hanyalah ruang kosong yang berdebu.
“Pak, kami menemukan ini” kata salah satu polisi membawa sebuah sepatu yang langsung di rampas William. Dia menggenggam sepatu itu dengan sekuat tenaga. Sepatu itu milik Karenina yang sebelahnya tertinggal di rumah.
“Apa sepatu itu milik saudari Karenina?” tanya polisi.
“Iya, Pak. Itu milik Nona Karenina” jawab Ryan karena William tidak bisa lagi di ajak berbicara.
“Brengsek...” maki William kepada siapapun yang menculik calon istrinya. Rombomgan William beserta semua polisi meninggalkan rumah itu setelah tidak menemukan appaun lagi di sana.
“Istirahat dulu yah, jangan sampai kamu sakit dan tidak bisa melanjutkan mencari Nina” bujuk Mutiara yang melihat anaknya sudah semakin lusuh.
“Jangankan istrirahat, Bu. Menelan nasi sebiji saja aku tidak bisa” katanya. William benar-benar panik, dia sangat khawatir dengan Karenina. Gadis bertubuh kecil itu pasti sudah sangat ketakutan berada sendirian dengan orang jahat.
“Ibu tahu, tapi dengan tubuh lelah dan perut yang kosong kau tidak akan bisa berfikir dengan baik” Mutiara masih mencoba membujuk anaknya itu. William belum tidur sejak semalam, dan bahkan air setetespun belum masuk ke tubuhnya sejak pagi.
“Ayah...” katanya saat Sebastian ikut duduk di sampingnya.
“Dengarkan Ibumu, makan walau sedikit saja” William melihat Ibunya, wanita itu juga terlihat sedih, dia menkhawatirkan anaknya yang sedang khawatir juga megkhawatirkan calon menantunya yang entah berada di mana dan bagaimana keadaannya sekarang. Mutiara hanya berharap Karenina cepat di temukan agar William juga bisa istrihat.
William akhirnya mau mendengarkan orang tuanya, dia naik ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Saat keluat dari kamar mandi William tiba-tiba saja teringat pada Ririn. Dia buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Ryan.
__ADS_1
Ryan yang sedang mimun tiba-tiba tersedak mendengar ponselnya berdering terlebih lagi melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Kau dimana?” tanya suara dari seberang sana.
“Saya sedang di rumah, Tuan. Apa ada perkembangan?” tanya Ryan.
“Tidak akan ada perkembangan kalau kau hanya di rumah saja” Ryan menelan ludahnya mendengar perkataan sarkas William.
“Ikuti Ririn, aku yakin dia dalangnya” perintah William. Ryan mengekrutkan keningnya, dia tidak mengenal siapa itu Ririn.
“Aku akan mengirimkan foto dan alamat rumahnya, ikuti dia dan siapapun yang keluar dari rumahnya. Cepat kabari aku kalau kau melihat ada hal yang aneh padanya” William menutup teleponnya padahal Ryan masih ingin bertanya. Tidak berapa lama, ponsel Ryan kembali berdering dan masih nama William yang tertera di layar. Ryan mencibir sebelum menjawab panggilan dari bosnya.
“Iya, Tuan”
“Aku tidak punya fotonya lagi, aku juga tidak hafal alamatnya. Jemput aku sekarang, pakai mobilmu saja” lagi-lagi William mematikan secara sepihak panggilannya. Ryan merasa kesal dan ingin mengabaikan perintah William kali ini.
“Tapi Tuan William dalam keadaan yang tidak waras, membantahnya sekarang sama saja cari mati” Ryan membatalkan niatnya dan segera menyelesaikan makannya dan menjemput William.
Mereka sudah berada di depan gerbang rumah Ririn, cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya sebuah mobil keluar dari rumah itu, William memperhatikan siapa yang menegndarai mobil itu. dan ketika melihat itu adalah Ririn, buru-buru dia memerintahkan kepada Ryan untuk segera mengikuti mobil itu.
Mobil sedan yang di kendarai Ririn berhenti di sebuah cafe di pinggir jalan.
“Wanita itu, aku yakin dia yang berada di balik hilangnya Karenina” William menunjuk Ririn dengan dagunya. Memperlihatkan pada Ryan kalau wanita itukah yang harus dia awasi.
“Ikuti dia, lihat siapa yang dia temui di dalam” perintah William. Ryan pun segera turun dan mengikuti Ririn. Wanita itu tidak mengenalnya hingga mempermudah dia mengambil posisi yang tidal jauh dari tempat Ririn duduk.
__ADS_1