
Setelah mengumpulkan serpihan-seprihan hatinya yang tadinya retak, Karenina keluar dari toilet. Rasa lapar yang tadi menganggunya tidak terasa lagi sama sekali. Sekarang yang ada hanya rasa kesal, sedih, penasaran yang lebih mengganggunya.
‘Tidak mungkin William mempermainkan aku, dia sudah memperkenalkan aku pada orang tuanya dan kami akan segera menikah. Tidak mungkin dia juga mempermainkan orang tuanya’.
Lalu langkahnya terhenti saat melihat Ririn baru saja berdiri dari kursi yang tadi dia duduki di samping William. Hati Karenina kembali bergejolak melihat Ririn tersenyum walaupun William terlihat hanya fokus pada layar ponselnya.
Karenina melangkah cepat, William yang masih sibuk dengan layar ponselnya terkejut melihat Karenina mengambil tasnya yang berada di atas meja.
“Kenapa?” tanya William “Minumanmu sudah hampir dingin, duduk dan habiskan makananmu”, katanya dengan tegas seperti sebuah perintah. Karenina yang kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun memutar bola matanya kesal. Dia mengabaikan ucapan William dan meninggalkan laki-laki itu.
William tercengang sesaat, lalu dengan segera berlari mengejar Karenina.
“Kau kenapa, tadi kau bilang lapar dan sekarang malah pergi begitu saja. Kau habis melihat apa sampai kau sekesal ini?”.
Nafas Karenina naik turun dengan cepat, kali ini sepertinya dia benar-benar marah.
“Nina”, lembut William memanggilnya. “Apa kau bertemu Ririn tadi”, bola mata Karenina kembali membulat.
“Jadi namanya Ririn”
“Benar kau bertemu dengannya, apa yang dia katakan padamu sampai kau semarah ini?” Karenina melepas pergelangan tangannya yang di genggam William,.
“Dia tidak bilang apa-apa” kening William mengkerut. “Di layar ponselnya ada fotomu yang lagi peluk dia” katanya dengan air mata yang sudah hampir menetes.
“Kalau kau masih ada hubungan sama dia, kenapa mendekatiku. Kenapa membuat aku masuk terlalu jauh dalam hidupmu. Kau bahkan ingin menikahiku”, katanya masih mencoba menahan air matanya.
William membuang nafas kasar, sepertinya dia yang terlihat lebih kesal. William menarik tangan Karenina masuk kembali ke dalam cafe, dia terus menariknya tidak perduli Karenina yang terus berontak ingin melepaskan tangannnya.
“Tolong singkirkan semua ini, dan bawakan lagi yang masih panas”, katanya pada pelayan cafe.
__ADS_1
‘Dasar gila, mana mungkin aku bisa menelan makanan sekarang ini. Aku hanya ingin pergi yang jauh biar tidak bisa melihatmu lagi’.
Mereka masih diam, William masih tidak ingin menjelaskan apapun yang membuat karenina semakin merasa terluka. Pelayan cafe datang membawa minuman dan cake seperti yang sebelumnya. Dia melirik Karenina yang matanya sudah berair, lalu melirik William yang terlihat cuek pada Karenina.
“Habiskan semuanya baru aku jelaskan padamu”, kata William dengan tegas.
“Aku sudah tidak lapar”, jawab Karenina dengan lirih. Sepertinya dia benar-benar terluka. “Kau juga tidak perlu menjelaskan apapun padaku”, sambungnya.
“Nina, kau tidak mau melihat aku marah di sinikan. Jadi habiskan makananmu sekarang”.
‘Sialan, kenapa aku malah takut padannya sekarang. Makanan itu pasti tidak bisa aku telan, tapi kalau dia benar-benar marah aku juga yang repot. Tapi harusnya kan aku yang lebih marah...’
“Nina...”
“Iya, iya. Aku makan”. Karenina pun makan dengan terpaksa, dia bahkan tidak bisa menikmati cake terenak di cafe itu. Rasa coklat panas yang terlihat begitu menggoda terasa hambar melewati kerongkongannya.
William sesekali meliriknya, memastikan Karenina memasukkan semua makanan dan minuman itu ke dalam mulutnya walaupun dengan terpaksa.
Laki-laki itu sangat pandai mengatur emosinya. Saat Karenina berlari dengan penuh kekesalan meninggalkannya, dia sudah tahu kalau Ririn pasti telah melakukan sesuatu padanya tadi. William tetap terlihat tenang dan masih memperlihatkan sifat arogannya padahal dalam hati dia sangat ingin menenangkan Karenina dan memeluknya.
‘Dasar wanita bodoh, bisa-bisanya kau berfikir aku masih ada hubungan dengan masa laluku. Asal kau tahu, melihatnya saja aku sudah tidak sudi’.
Amarah William yang susah payah dia atur mulai mereda. Dia mengusap sisa coklat yang menempel di bibir Karenina dengan jarinya. Sementara Karenina memalingkan wajahnya dengan bibir yang cemberut saat matanya menatap kedua bola mata William. William tersenyum.
“Dengar baik-baik Karenina”, William memegang dagu Karenina dan membalikkan wajah wanita itu untuk melihatnya.
“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita yang tadi kau lihat, aku dan dia...”
“Tapi aku lihat di ponselnya kau memeluknya, mesra lagi” William menghembuskan nafas dengan frustasi, sepertinya Karenina tidak ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat.
__ADS_1
“Kalau begitu aku akan menemuinya dan menghapus semua fotoku yang masih ada padanya”
“Kau ingin bertemu dengannya?” Karenina kembali tersulut emosi, sementara William masih dengan tenangnya meladeni drama Karenina.
“Bukankah hanya karena ada fotoku di ponselnya sampai membuatmu cemburu buta seperti ini?”
“Siapa yang cemburu buta, aku hanya merasa sedang di permainkan”, suara Karenina muai meninggi membuat beberapa pengunjung cafe menoleh ke arah mereka.
“Pelankan suaramu, kau mau jadi tontonan gratis di sini”,
“Kamu jahat”, Karenina memukul bahu William cukup keras lalu meninggalkan laki-laki itu. William hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia meninnggalkan beberapa lembar uang kertas di atas meja lalu berlari kecil mengejar wanitanya yang sedang marah padanya.
William berhasil menangkap Karenina dan menarik paksa wanita itu. Dia memasukkan Karenina ke dalam mobil, memasangkan sabuk pengaman lalu menyusul masuk ke dalam mobil.
“Nina, jangan seperti anak kecil. Kau jelas tahu kalau aku hanya memliki seorang wanita di dalam hidupku, tidak aku punya tiga”, Karenina melotot tajam pada William.
“Maksudku tiga wanita itu, Ibu, Meisya dan kau”. Karenina kembali mengalihkan pandangannya pada jalan raya yang ramai di depannya.
“Kalau begitu kita temui dia bersama, biar kau saja yang menghapus semua fotoko yang masih ada pada wanita itu”.
“Kau mau aku melihat semua foto mesramu dengannya”. William mengacak rambutnya frustasi, sepertinya dia lebih baik menghadapi klien yang sulit di taklukkan dari pada menghadapi kecemburuan seorang Karenina.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” kata William dengan lembut setelah meminggirkan mobilnya. Mereka mungkin akan berakhir menabrak atau di tabrak bila William masih tetap melajukan mobilnya sambil berdebat.
“Kau sungguh sudah tidak punya hubungan apapun dengannya?” Karenina mnatap dalam mata Willam, tapi dia sungguh tidak bisa menebak sedikitpun ketulusan dan kejujuran yang terpancar jelas dari cara William menatapnya.
William menggeleng, “Aku dan dia sudah berakhir sangat lama dan tidak ada appaun yang tersisa antara aku dan dia”, jelas William.
“Bohong”, William mengkerutkan keningnya. Karenina yang tadinya dia fikikr sudah mulai melunak dan mengerti kembali ke mode saat awal perdebatan mereka.
__ADS_1
“Fotomu dan dia, itu yang masih tersisa”. William benar-benar kehabisan kata.
‘Aku sampai lupa kalau kau itu bodoh dan menjengkelkan. Sampai kapanpun kau pasti akan selalu mengungkitnya kan?’. William menarik nafas panjang lalu kembali mengemudikan mobilnya. Sepertinya rencana hari ini untuk membawa Karenina mencoba beberapa gaun pengantiin bersama Mutiara harus di undur sampai otaknya bisa berfikir dengan jernih.