Takut Menikah

Takut Menikah
Datangnya Ariya


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan sore, namun Nadia masih termenung dengan pikirannya. Sejak makan siang tadi Nadia memilih berdiam diri di ruangan pribadinya. Bayangan masalalu kembali terngiang dipikirannya. Segala pertanyaan muncul dibenaknya ada apa laki-laki itu mencarinya.


Laki-laki yang pernah membuatnya percaya bahwa ia bisa bahagia meski ia tidak pernah memiliki keluarga yang utuh namun dengannya ia bisa membangun kebahagiaan bersama yang ia mimpikan. Tapi nyatanya takdir tidak berpihak padanya karna terhalang oleh restu orang tua Ariya.


Tok.. tok.. tok..


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Nadia. "Iya, masuk." Handle pintu berputar menampilkan sosok winda.


"Teh ada yang nyariin di depan."


"Siapa?"


"Yang kemarin Ariya katanya mau ketemu teteh."


'Deg' Nadia merasa tenggorokannya tercekat.


"Gapapa suruh aja masuk kesini."


"Iya teh." Winda menganggukan kepala lalu keluar dan menutup pintu ruangan. Tak lama suara langkah kaki terdengar diikuti dengan terbukanya pintu ruangan.


"Assalamu alaikum" ucap Ariya dengan senyum manisnya yang masih terasa canggung.


"Wa alaikum salam, duduk kak." ucap Nadia sambil tersenyum dan berusaha menetralkan hatinya yang sebenernya sedang kacau.


"Makasih"


"Ngomong-ngomong ada apa kesini?"


"Kenapa tidak boleh ya?"

__ADS_1


"Bukan seperti itu.." Nadia menggantung ucapannya menghela nafas sejenak lalu mengalihkan tatapannya kesisi lai "Kakak tau alasannya."


"Nadia aku minta maaf atas semua yang telah terjadi di masa lalu. Ayo kita mulai lagi dari awal, aku sudah memutuskan berpisah dengan Clara, bisakah kita memulainya lagi?"


"Semuanya sudah selesai kak. Kakak juga tahu bagaimana sikap Tante kepadaku." Nadia hanya memalingkan tatapannya tidak berani menatap Ariya. Ariya meraih tangan Nadia dan menggenggamnya.


"Aku akan memperjuangkannya kalau perlu kita kawin lari."


Nadia menatap Ariya dengan tatapan yang berkaca-kaca lalu melepaskan genggaman Ariya. "Gak bisa kak, semuanya sudah selesai. Tolong kakak pergi aku masih kerja."


Ariya merasa kecewa dengan jawaban Nadia tapi ia tidak mungkin memaksakannya. "Baiklah kakak pergi." Ariya beranjak dari duduknya. "Tapi kakak akan kembali lagi kakak akan berjuang berusaha mendapatkan hatimu kembali, Assalamu'alaikum." ucap Ariya sambil berlalu keluar ruangan.


"Tidak perlu, karna sampai kapanpun keputusanku tidak akan berubah." lirih Nadia air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya menetes juga. Ingin rasanya ia menangis tersedu-sedu melepaskan segala sesak di dada, tapi ia tak ingin membuat semua orang bertanya-tanya.


Drttt.. drtt... drtt...


Ponsel Nadia bergetar. 'Lyla?' batin Nadia


"Hiks... hiks... hiks..."Hanya terdengar suara isak tangis di sana.


"Kenapa dek? Kamu kenapa?" Nadia mulai khawatir.


"Papih kak, huuu..." Tangis Lyla malah semakin pecah.


"Papih kenapa? Bicara pelan-pelan, Mamih kenapa?"


"Papih, hiks... jatuh dari tangga.. sekarang lagi.. di- bawa ke- rumah sakit."


'Deg. Ya Tuhan ada apa ini?' Batin Nadia.

__ADS_1


"Iya kamu tenang ya, kamu hubungi saja kak Elang. Kakak langsung kesana sekarang juga." Nadia mematikan handphone-nya mengambil jaket di kursinya. Langsung bergegas keluar ruangan.


"Teh, mau kemana?" Tanya Winda di meja kasirnya.


"Mau ke B**** Papih masuk rumah sakit."


"Ya Allah.. Trus sekarang keadaannya gimana?"


"Mudah-mudahan gak kenapa-napa, nitip bengkel ya." ucap Nadia sambil berlalu menuju garasi.


"Iya teh hati-hati."


Nadia memakai helmnya dan mengeluarkan motornya diluar garasi ia melihat Haris dan pegawai lainnya sedang memperbaiki motor pelanggan.


"Ris, gue mau ke B**** mungkin lama gak balik. Lo tolong jagain bengkel ya." Ucap Nadia sambil menghidupkan motornya. Karna bila Nadia pergi maka Haris akan menjaga bengkel menginap di lantai 2 yang merupakan rumah kedua Nadia.


"Ada apaan tiba-tiba?" Haris mendongak melihat Nadia.


"Papih masuk rumah sakit?"


"Trus sekarang keadaannya gimana?" Haris kaget dan berdiri berbicara dengan Nadia.


"Gak tau, gue berangkat ya?" Nadia mulai melajukan motornya.


"Gue anterin ya? Gue khawatir kalo lo berangkat sendirian."


"Ga usah, jagain aja bengkel." Nadia melambaikan tangannya sambil melajukan motornya.


"Hati-hati, jangan panik." Haris berteriak karna Nadia sudah mulai jauh dari hadapannya.

__ADS_1


Nadia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi berharap cepat sampai di kota tujuan.


'Ya Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja. Hanya ia yang benar-benar Mamih miliki. Aku mohon padamu semoga beliau tidak kenapa-napa'


__ADS_2