
Matahari sudah semakin meninggi saat Karenina membuka matanya, semalam dia tidak bisa tidur memikirkan William yang memintanya menikah padahal William jelas tahu Karenina tidak ingin memiliki hubungan yang akan mengikatnya.
Saat membuka matanya tadi, dia sudah tidak melihat William di sampingnya. Laki-laki itu pasti sudah berangkat ke kantor saat dia masih tidur tadi. Pasti berkas-berkas sudah menumpuk di atas meja kerjanya untuk dia periksa.
‘Ck, aku canggung banget ketemu sama William nanti. Tapi mau sampai kapan juga kayak gini’, Karenina mendesah menjatuhkan dirinya di sofa yang empuk. Sudah ada mocaccino kesukaannya dan juga roti isi yang dia temukan di atas meja, mungkin William yang membuatnya.
Drttt… Karenina menjatuhkan ponsel itu dari tangannya kerena terkejut, ada panggilang masuk saat dia sedang asyik melihat sosial medianya.
“Om Malik” Karenina membaca nama yang tertera di layar ponselnya, lalu dengan cepat dia menggeser icon berwarna hijau yang bergetar naik turun itu.
“Nina, akhirnya tante bisa menemukan kamu”, Karenina terkejut bukan main mendengar suara di seberang telepon. Suara wanita yang juga dia hindari seumur hidupnya, entah bagaimana tantenya itu bisa menemukan kontaknya padahal om nya sudah menyamarkan namanya di kontak sehingga tiga tahun ini wanita itu tidak bisa menghubunginya.
Selama tiga tahun, Karenina dan omnya masih sering berhubungan walaupun sembunyi-sembunyi. Omnya itu tidak mau kalau sampai istrinya mengetahui keberadaan Karenina karena dia pasti akan mengatakannya pada Halim.
“Om kamu kecelakaan Nina, dia tidak sadarkan diri sekarang”, kata wanita di sebrang dengan suara gemetar seperti menahan tangis. Karenina sekali lagi menjatuhkan ponselnya karena terkejut, untung saja jatuhnya masih di atas pahanya.
Karenina mengambil kopernya, mengemasi barang-barangnya dan bergegas menuju bandara. Dia menangis sepanjang perjalanan ke bandara, tidak sanggup membayangkan jika dia harus kehilangan satu-satunya orang tuanya yang masih ada, yang masih perduli padanya dan menyayanginya tanpa pamrih.
Keberuntungan berpihak padanya, dia mendapatkan tiket dan akan berangkat satu jam kemudian.
‘Will, aku ke Lampung ya. Om ku kecelakaan dan sekarang tidak sadarkan diri dirumah sakit, aku ingin ada di sampingnya sekarang. Aku akan mengabarimu begitu aku sampai disana’. Terkirim, pesan itu sudah Karenina kirim.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup singkat, Karenina sampai di Lampung. Dia langsung menuju rumah sakit tempat omnya di rawat, tantenya sudah mengirimkan lewat pesan padanya.
Karenina berlari seperti orang gila sambil menarik kopernya mencari ruang ugd rumah sakit itu, seorang suster mengatakan padanya korban kecelakaan berada di tempat itu.
Langkahnya terhenti, dia mengatur nafasnya yang terengah karena berlarian dan khawatir. Ada rasa lega bercampur haru di hatinya, dia berlari memeluk laki-laki paruh baya yang memandangnya penuh kerinduan.
“Om, aku takut banget kalau om juga ninggalin aku kayak ayah sama ibu” katanya memeluk laki-laki itu.
__ADS_1
“Akhirnya kamu pulang juga”, wanita di sebelah omnya yang tidak lain adalah tantenya menatapnya dengan jengkel. Sejak dulu, istri om nya itu tidak pernah menyukainya.
“Rina”, Malik menegur istrinya, Rina melirik kesal Karenina dan melepaskan tangan yang di kalungkan di lengan suaminya untuk memapahnya.
Sebelah tangan Karenina memapah omnya dan sebelahnya lagi menarik kopernya. Di depan lobi rumah sakit, Karenina lagi-lagi terkejut melihat Halim sudah menunggu mereka. laki-laki itu mengambil koper Karenina dan menuntun mereka menuju mobilnya. Karenina hanya bisa pasrah dan mengikuti Hallim.
Selama perjalanan, Halim dan Rina yang duduk di depan sedang asyik bercerita, Karenina sama sekali tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Bukan kerena mereka bicara bisik-bisik, tapi karenina sedang sibuk memikirkan bagamana caranya melepaskan diri kali ini.
“Maafkan om, om tadinya mau mengirimkan pesan ke kamu bertanya apa kamu baik-baik saja setelah bertemu Halim, tapi om malah ke sambar motor. Orang yang sambar om bawa om ke rumah sakit dan memberikan ponsel om pada tante kamu, dan tante kamu melihat pesan yang belum terkirim itu”.
Malik merasa sangat menyesal tidak bisa menyembunyikan putri adik kesayangannya itu dari istrinya selamanya. Dia tahu niat jahat istrinya yang ingin menikahkan Karenina dengan Halim agar Rina bisa mendapatkan uang seprti yang Halim janjikan.
Karenina menggenggam tangan kasar omnya itu, mengelusnya dengan hangat dan tersenyum.
“Nggak apa-apa, aku bahkan bersyukur bisa ketemu sama om lagi. Aku nggak bisa bayangin gimana aku kalau sampai om kenapa-napa”. Katanya menenangkan Malik.
“Jadi gimana rencana kamu?”
“Kamu nggak perlu kembali ke Jakarta, pernikahan kamu sama Halim akan di adakan minggu depan”, Rina muncul tiba-tiba dengan pernyataannya membuat Karenina tersentak. Karenina mengepalkan tangannya, rasanya kesabarannya pada istri omnya itu sudah sampai pada batasnya.
“Memangnya tante siapa sampai seenaknya mengatur pernikahan aku, apa tante tanya aku setuju atau tidak. Kenapa tante memutuskan masa depan aku seenaknya”. Rina maju beberapa langkah, sekarang dia sudah berdiri tepat di depan Karenina.
“Kamu sekarang jadi kurang ajar ya, apa karena kamu sudah tinggal di Jakarta jadi kamu sudah merasa hebat sampai berani melawan saya”, hardik Rina. “kamu lupa siapa yang sudah membesarkan kamu sampai seperti ini, hah”.
Karenina mengdengus “memangnya tante yang membesarkan aku, om Malik yang sudah membesarkan aku dengan kasih sayang sedangkan tante hanya memperlakukan aku seperti pembantu. Tante nggak berhak ikut campur kehidupan aku”.
“Berani kamu ya”
Plak…
__ADS_1
“RINAA”, Malik menghardik istrinya dengan keras setelah satu tamparan ia daratkan di pipi Karenina. Selama ini Rina selalu menahan dirinya untuk tidak menyakiti Karenina secara fisik karena segan pada suaminya. dia hanya menyiksanya dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya sampai Karenina merasa hanya di jadikan pembantu oleh Rina.
“Ini akibatnya karena kamu terlalu memanjakan dia, dia cuma anak adik kamu yang sudah meninggal, dia bukan anak kandung kamu…”
“Cukup, Nina adalah anakku dan aku tidak mau kamu menyakiti anakku”, kata Malik dengan lantang. Kebencian Rina pada Karenina semakin berkobar, Karenina selalu menjadi sumber pertengkarannya dengan suaminya sejak wanita itu tinggal bersama mereka.
“Kamu nggak apa-apa” Malik melihat pipi Karenina memerah bekas tamparan istrinya, Rina yang semakin kesal melihatnya meninggalkan mereka dengan amarah.
“Kamar aku sudah nggak ada om?” sejak dia meninggalkan tumah itu, Rina membongkar kamarnya dan membuatnya menjadi gudang. Karenina yang sangat lelah tidak tahu harus kemana mengistirahatkan dirinya.
Lalu dia teringat dengan kartu tanpa batas yang William berikan padanya. “Aku nginap di hotel saja om”, katanya.
“Nginap di hotel kan mahal, kamu punya uang?” Karenina mengangguk sambil tersenyum.
“Kita jalan-jalan ya sebelum aku balik ke Jakarta”. Malik tersenyum mengusap rambutnya “Maaf, om nggak bisa antar kamu”, kakinya masih sedikit nyeri setelah kecelakaan tadi. Hanya lukas memar di kakinya, selebihnya laki-laki paruh baya itu terlihat baik-baik saja.
Rina hanya membohongi Karenina agar wanita itu mau pulang ke kampung halamannya, dia sudah tidak sabar mendapatkan uang yang di janjikan Hali setelah berhasil menikahkan Karenina dengannya. Mendengar omnya mengalami kecelakaan sampai tidk sadarkan diri membuat Karenina panik dan segera pulang untuk melihat keadaan omnya tanpa memikirkan apapun juga.
Karenina berhasil chek in menggunakan kartu yang William berikan padanya, dia memilih hotel bintang tiga yang letaknya tidak jauh dari rumah omnya.
“Perih banget, nenek sihir itu sudah berani menampar aku. Di depan om Malik lagi. Dia bisa lebih nekat lagi nanti”, Karenina mengompres pipinya yang lebam dengan es batu yang tadi dia minta dari petugas hotel.
“Aku akan menghadapi tante Rina dan Halim, kenapa aku harus takut dan sembunyi selama ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengacaukan kehidupan indah ku ini, lagi pula aku juga punya William, dia pasti mau bantu aku”.
****
Maafkanlh diriku yang jarang up, sibuk banget dengan kerjaan. aku janji kok cerita ini bakalan selesai. terima kasih banyak untuk kalian yang masih setia menunggu. aku memang nggak dapat cuan dari sini, tapi ada kebahagiaan tersendiri kalau baca komen kalian yang minta lanjut. makasih yaaa 😘😘😘
__ADS_1