Takut Menikah

Takut Menikah
Membuatnya hilang ingatan


__ADS_3

Karenina mengatur nafasnya sambil memegangi dadanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


“Apa dia laki-laki yang membuatmu takut membangun sebuah hubungan?”. Dari reaksi yang Karenina perlihatkan tadi, William bisa menebak kalau-laki-laki yang mengganggu mereka tadi adalah laki-laki yang pernah Karenina ceritakan padanya dulu.


Karenina mengangguk, wajahnya terlihat pucat padahal tadi sebelum bertemu mantan pacarnya itu dia baik-baik saja.


“Kenapa dia ada disini? Bagaimana kalau dia tahu di mana aku kerja dan juga di mana aku tinggal, hiks hikss… kenapa aku bertemu dengannya lagi” Karenina membenturkan kepalanya di sandaran mobil. William berdecak sambil geleng-geleng kepala melihatnya.


“Apa yang kau khawatirkan kalau aku ada di sampingmu” kata William dengan tenang mencoba tidak terpengaruh.


“Memangnya kau selalu di sampingku, kau kan juga punya banyak pekerjaan”. Balas Karenina, mereka memang tidak bisa sering bertemu karena kesibukan William yang luar biasa.


“Bagaimana kalau aku sewakan bodyguard untuk menjagamu, jika dia berani mengganggumu aku akan suruh mereka menghajarnya sampai dia hilang ingatan dan tidak lagi mengingatmu”, pandangan mereka bertemu sebentar sebelum William kembali fokus pada jalanan di depannya.


“Bagus juga kalau dia hilang ingatan. Wah, idemu masuk akal juga”. William lagi-lagi geleng-geleng kepala, Karenina selalu menanggapi candaannya dengan serius tidak sadar kalau dia juga sering menanggapi candaan Karenina dengan serius.


William memang  berfikir menyewa bodyguard untuk menjaga kekasihnya itu, tapi untuk menghajar orang sampai hilang ingatan dia masih berfikir beberapa kali untuk berurusan dengan hukum dan membuatnya di marahi habis-habisan oleh orang tuanya.


“Aku akan suruh Ryan mencarinya besok, kau tenang saja”, kata William.


“Cari apa?”


“Bodyguard, kau mau kan?”


“Aku tidak mau ya, jangan coba-coba melakuaknnya. Kau cukup membuatnya hilang ingatan saja, bagaimana?”


“Lalu kalau aku di penjara, siapa yang akan menjagamu”, Karenina menatap William, diam sejenak seolah mencerna sesuatu di kepalanya.

__ADS_1


“Benar juga”, katanya kemudian menggaruk kepalanya. Karenina kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil dan mendesah.


“Aku sudah senang tidak perlu melihatnya lagi tiga tahun ini, kenapa dia tiba-tiba datang lagi” Karenina lagi-lagi menghela nafas dengan berat, orang yang paling dia hindari dalam hidupnya tiba-tiba datang kembali. Bagaimana kalau orang itu berhasil membawanya dengan paksa, kemana lagi dia harus pergi untuk menghindarinya.


‘Apa aku kabur lagi saja, tapi aku sudah sangat nyaman berada disini, bekerja di Dimension, tinggal bersama Rara dan Merry dan juga… orang ini, aku sepertinya suka padanya, aku nyaman berada di dekatnya. Apapun alasannya mau bersamaku, aku tidak perduli selama dia tidak memintaku tidur dengannya, aku tidak akan meninggalkannya’.


Mobil William sudah sampai di depan rumah kontrakannya, tapi Karenina sepertinya tidak menyadarinya. Dia masih tenggelam dalam fikirannya tentang Halim, laki-laki yang sudah membuatnya takut untuk menjalin hubungan apapun.


“Jangan fikirkan laki-laki lain selain aku, Karenina. Aku tidak akan membiarkannya menganggumu apa lagi sampai menyakitimu. Aku bisa menjamin itu padamu”. Kata William dengan yakin. Karenina mengangguk dengan terpaksa.


“Kenapa tadi kau tidak memakai kartu yang kuberikan padamu?” kata William. “Aku tidak membawanya, aku lupa di kamar”, jawabnya. Karenina memang tidak pernah membawa kartu yang pernah William berikan padanya.


“Nina, aku kan sudah bilang padamu kalau kau pakai kartu itu untuk kebutuhanmu dan simpan uangmu. Kalau kau tidak mau memakai kartu itu, aku akan bilang pada semua orang apa yang pernah kita lakukan di Bali. Kau bayangkan saja bagaimana kau akan mengahadapi mulut jahat orang-orang”


“Ck, tidak usah mengancamku seperti itu. aku hanya merasa tidak punya hak untuk memakai uangmu, jadi aku tidak mau memakainya”


“Kenapa, kau kekasihku kan, tentu saja kau punya hak memakai uangku. Aku kan sudah bilang padamu kalau kau boleh pakai sebanyak yang kau mau”


William mencium kening Karenina sebelum dia keluar dari mobil. “Ingat, jangan pikirkan laki-laki lain selain aku”, kata William sekali lagi. Karenina mengangguk dan keluar dari mobil.


Walau tidak menapakkannya di depan Karenina, William sebenarnya sangat marah sewaktu Halim mengatakan bahwa Karenina adalah calon istrinya.


“Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku, dia akan menjadi milikku selamanya” katanya dengan mata yang lurus menatap jalan di depannya.


Sudah beberapa minggu ini Merry selalu ada di rumah sebelum Karenina pulang, dia dengan santainya berselonjoran di depan televisi dengan beberapa snack di pangkuannya.


“Sudah pulang”, sapa Merry saat Karenina sudah duduk di sampingnya. Karenina hanya menjawab dengan bergumam.

__ADS_1


“Mer, kamu benerak nggak mau cari pacar lagi?”, sejak bertemu lagi dengan Ryan, Merry tidak pernah lagi terlihat di antar atau di jemput seseorang. Dia meminta di belikan mobil oleh orang tuanya dan membawa mobil sendrir kemanapun sekarang.


Merry memang berasal dari keluarga yang berada, walau tanpa bekerja pun dia masih bisa hidup dengan nyaman. Bahkan uang bulanan yang di kirim orang tuanya jauh lebih besar dari gajinya. Dia hanya ingin belajar mandiri agar tidak selalu bergantung pada orang tuanya. Dan jga mencari kesibukan untuk mengobati luka hatinya.


“Cari, tapi nanti”, jawabnya dengan mulut yang sementara mengunyah. “Kenapa?” tanyanya balik.


“Nggak, cuma aneh aja liat kamu anteng di rumah”, Karenina terkekeh.


“Kenapa?” Merry menautkan alisnya melihat kekehan karenina.


“Kamu kayak orang yang gagal move on karena mantan kamu muncul lagi, kamu langsung berenti jadi playgirl”, tawa Karenina pecah, Merry mencubit pingganggnya cukup dalam membuatnya menjerit.


“Merry, sakit”, pekiknya. Karenina melanjutkan tawanya sambil mengusap pinggangnya yang sedikit nyeri.


Pagi ini William tidak bisa menjemput Karenina karena dia sedang berada di luar kota, dia tidak menolak saat Merry menawarkan tumpangan padanya. William melarangnya di jemput atau di antar dengan Yoga. William merasa kalau teman laki-laki Karenina itu memiliki perasaan yang berbeda pada kekasihnya.


Dan setelah kalah dalam perdebatan, Karenina akhirnya mengalah dan mulai menjaga jarak dengan Yoga.


“Nin, ada yang cariin”, Susi dari bagian front office mendatanginya.


“Siapa?” tanya Karenina. Tidak mungkin William, kekasihnya itu sedang berada di luar kota dan mereka sedang bertukar pesan sekarang.


“Cowok, nggak jauh beda gantengnya sama Tuan William”, kata Susi. Karenina manautkan alisnya, mencoba berfikir siapa yang mencarinya. Lalu wajahnya seketika pucat membayangkan kalau Ilham yang ternyata datang mencarinya.


“Bilang aja aku ngga ada, bilang kalau nggak ada nama Karenina disini”, katanya panik. Susi memicing kan matanya melihat curiga pada Karenina.


“Itu selingkuhan kamu, kamu selingkuh dari Tuan William yang tampan dan tajir itu. Keterlaluan banget kamu” cecar Susi menghakimi dengan ciri khasnya.

__ADS_1


“Ihh, apaan sih. Sudah, keluar sana. Bilang kamu nggak kenal sama yang namanya Karenina”. Karenina mendorong Susi keluar. Dia berjalan mengendap-endap di belakang Susi ingin melihat siapa yang datang mencarinya.


Dia sampai di loby lalu bersembunyi di belakang meja front office. Matanya membulat saat tatapannya bertemu dengan tatapan laki-laki yang mencarinya itu, terlebih ketika laki-laki itu berjalan mendekatinya setelah melihatnya. 


__ADS_2