
Ririn datang lagi menemui William di kantornya hari ini, tapi penjaga keamanan yang sudah mengenalinya mencegahnya saat akan memasuki pintu utama.
“Maaf, Nona. Tuan William berpesan kalau anda tidak boleh lagi masuk ke dalam gedung ini”, kata penjaga keamanan. Ada dua orang yang menghalanginya masuk ke gedung itu. Ririn mengepalkan tangannya, William ternyata tidak main-main dengan ucapannya.
‘Aku tidak terima kamu perlakukan seperti ini, Will. Aku hanya mau bicara baik-baik denganmu dan kau sampai melarangku masuk ke perusahanmu’
“Ada apa ini?”, kedua penjaga keamanan langsung menunduk sopan pada seorang wanita paruh baya yang baru keluar dari mobil.
“Ririn, kamu Ririn anaknya Hartono kan”, seperti mendapat angin segar, Ririn menghampiri Mutiara dan mencium punggung tangannya.
“Tante apa kabar, lama banget kita baru ketemu lagi”, ucap Ririn mencoba semanis mungkin di depan calon mertuanya.
“Tante baik, kamu yang nggak mau nengokin tante” Mutiara mengusap dengan lembut punggung tangan Ririn, senyumnya mengembang penuh makna.
“Kamu kesini mau ketemu sama William?” tanya Mutiara.
“Iya, Tante. Tapi mereka nggak ngijininn aku masuk”, katanya seperti mengadu pada ibu mertuanya. Mutiara langsung memberi tatapan tajam pada kedua laki-laki yang tadi sempat mencegah Ririn di depan pintu utama.
“Maaf, Nyonya. Tuan William sendiri yang memerintahkan kami untuk melarang nona ini masuk ke dalam gedung ini” kata salah satu dari mereka.
“Sejak kapan anak itu kurang ajar pada perempuan”, Mutiara menarik tangan Ririn melewat dua penjaga keamanan di depan pintu utama. “Ayo, tante akan kasih pelajaran sama anak kurang ajar itu”.
‘Kenapa aku tidak kepikiran untuk mendekati Tante Mutiara sejak dulu, William mungkin tidak bisa menolakku bila ibunya sendiri yang memintanya menikahiku’.
Ririn merasa seperti ada angin segar yang berhembus di dadanya, dia mengikuti langkah Mutiara yang mengenggam tangannya seraya memamerkan senyum lebarnya.
__ADS_1
Ketiga sekertaris William berdiri memberi salam dan sedikit menundukkan kepalanya kepada Mutiara saat wanita itu keluar dari lift khusus. Mereka lalu saling pandang saat seseorang juga ikut keluar dari lift dan berdiri tepat di belakang Mutiara.
“Maaf, Nyonya. tapi Tuan William sudah memerintahkan agar Nona ini tidak masuk ke dalam ruangannya”, Mutiara berdecak dengan kesal lalu memukul bahu sekertaris William dengan pelan.
“Nggar perlu khawatir, saya yang akan tanggung jawab kalau dia marah. Lagian ini teman lamanya William, dia mungkin nggak serius waktu bilang begitu”. Mutiara memang terkenal sangat ramah pada semua karyawan S&M, dia tidak pernah berlaku sombong dengan predikatnya sebagai Nyonya Besar. Bahkan kadang dia berbicara pada karyawannya seperti pada temannya walaupun mereka memiliki usia dan status yang berbeda.
Ririn tersenyum penuh kemenangan kepada tiga wanita itu, dia berjalan melewati mereka dengan dagu yang terangkat.
“Sombong, padahal sudah di usir kemarin masih aja ngotot untuk datang, pakai bawa Nyonya Mutiara segala sebagai perisai”.
“Kasian Karenina kalau Tuan William sampai ninggalin dia”
“Kalau aku jadi Tuan William sih pasti aku lebih pilih wanita yang tadi dari pada Karenina, secara dia kan lebih cantik dan pasti status mereka sama”
“Karenina manis tahu, dia juga baik dan lucu. Kalau aku Tuan William Aku pasti bakalan pilih Karenina”.
William mendongak melihat ke arah pintu ruagannya saat merasa ada yang membukanya. Dia sudah akan marah, siapa yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
“Ibu”, lalu tatapannya berubah dingin saat melihat wanita yang paling tidak lagi ingin dia lihat berjalan dengan kalemnya di belakang ibunya.
“Kenapa Ibu kemari tidak bilang-bilang”, katanya mencium kedua pipi ibunya. Dia melirik tajam pada Ririn, tapi wanita itu tanpa tahu malu malah tersenyum padanya.
“Siapa yang mengajari kamu untuk kurang ajar pada perempuan, Will. Ibu selalu mengajarkan kamu untuk menghormati mereka seperti kamu menghormati ibu”, kata Mutiara mengomeli anaknya.
“Aku selalu menghormati wanita yang memang pantas untuk di hormati dan di hargai, Bu” tatapannya sudah teralihkan sepenuhnya pada wanita yang sudah melahirkannya dua puluh tujuh tahun yang lalu.
__ADS_1
“Terus kenapa kamu melarang Ririn datang menemui kamu, pakai bilang sama penjaga kemanan dan sekertaris kamu. Kan Ririn jadi malu” William hanya menghela nafas tidak menyangka Ririn akan menggunakan cara licik dengan mendekati ibunya.
William tidak pernah menceritakan pada orang tuanya alasan sebenarnya dia pindah ke luar negeri waktu itu. Sebastian dan Mutiara pasti akan menertawakannya bila dia mengatakan alasannya pergi waktu itu adalah karena patah hati mendapati wanita yang dia cintai sepenuh hati ternyata adalah wanita yang liar di belakangnya.
“Bu, aku sedang banyak pekerjaan. Jika tidak ada yang penting aku mau melanjutkan pekerjaanku”, kata William yang langsung mendapat pelototan tajam dari ibunya.
“Pekerjaan kamu kan bisa nanti-nanti, masak sih kamu cuekin Ririn. Dia sudah datang ke sini buat ketemu kamu”. Mutiara mengedipkan sebelah matanya pada anaknya itu.
Mutiara tanpa tahu apa yang pernah terjadi di antara mereka seperti memberi lampu hijau pada hubungan William dan Ririn, dia sangat senang melihat ada wanita cantik mendekati anaknya. Sudah lama dia tidak melihat William bersama seorang wanita. Dan mengingat usianya yang sudah cukup matang untuk menikah, dia tentu saja akan sangat senang bila Ririn bisa segera menjadi menantunya.
“Kalau begitu, Ibu pulang dulu”, William menautkan kedua alisnya, “Jadi Ibu hanya datang mengantarnya kemari”, katanya menatap curiga pada ibunya.
“Ibu tadi mau ajak kamu makan siang tapi malah nggak sengaja ketemu Ririn di depan, terus Ibu liat penjaga keamanan melarang dia masuk. Jadi Ibu ajak saja dia masuk bersama Ibu”. Ririn terus tersenyum membiarkan kedua ibu dan anak itu berbicara tidak menyela sedikitpun, dia juga takut William akan kehilangan kendalinya jika dia ikut sok manis di depan ibunya.
“Ibu pergi ya, bicara yang baik sama Ririn. Ingat, wanita itu harus di hormati”. Dengan malas William memeluk ibunya yang cerewet, dia mengantar ibunya sampai di depan pintu ruangannya dan meminta salah satu sekertarisnya mengantar ibunya sampai masuk ke dalam mobil.
“Kau tidak punya harga diri rupanya, aku sudah bilang tidak mau bertemu denganmu lagi kau tidak mengerti bahsa yang aku pakai. Kau mau aku pakai bahasa apa supaya kau mengerti aku tidak mau melihatmu lagi”, William melangkah cepat mendekati Ririn ketika melihat Ibunya sudah masuk ke dalam lift.
“Will, apa tidak ada kesempatan untuk aku memperbaiki kesalahanku. Aku menyesal untuk yang terjadi di masa lalu, aku sudah berubah. Aku mau berubah untuk kamu”. William menyentak dengan keras tangannya ssat Ririn mencoba memegangnya sehingga wanita itu sedikit terdorong.
“Bagaimana kamu bisa memperbaikinya, apa dengan merendam tubuhmu di lautan busa bisa membersihkan dirimu dari noda. Apa dengan berlutut di bawah pecahan kaca bisa membuat pengkhianatan kamu termaafkan. Kau pasti sudah tahu alasan aku meniggalkanmu kan, kalau begitu kau harusnya juga tahu kalau aku tidak akan memaafkanmu dan jangan pernah mimpi aku akan kembali padamu. Aku pastikan itu tidak akan terjadi”.
Ririn jatuh lemas di sofa, kata-kata tajam William seakan sudah menusuk jantungnya sampai membutanya kehilangan kesadaran.
“Kalau kau masih mau nama baikmu terjaga, jangan pernah temui ibuku lagi. Aku tidak mau mencertakan aibmu pada siapapun, termasuk orang tuaku”.
__ADS_1
William memanggil salah satu sekertarisnya untuk membantu Ririn yang masih terkulai di sofa untuk keluar dari ruangannya. Ririn tidak melawan saat sekertaris William membawanya keluar ruangan utama, wanita itu menyeret langkahnya dengan air mata yang jatuh perlahan-lahan dipipinya.