
Sopir taksi yang membawanya tidak berhenti meliriknya dari kaca spion, penampilannya sekarang sangat mengenaskan. Belum lagi tadi Malik memeluknya sebelum dia masuk ke dalam taksi membuat supir taksi berfikir kalau dia seorang wanita simpanan yang tertangkap basah oleh istri sah sampai babak belur di pukuli.
Karenina menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya saat jalan di lobi hotel. Beberapa orang memperhatikannya karena terlihat aneh.
“Awww…” Karenina meringis saat membuka kaosnya, dia bisa melihat dari pantulan cermin punngungnya yang membiru. Belum lagi wajahnya yang babak belur di tampar Rina.
“Perih banget”, rintihnya “Apa aku ke rumah sakit aja ya”. Karenina membersihkan dirinya dengan menahan perih, penampilannya sekarang terlihat sangat mengenaskan setelah di aniaya Rina.
“Coba saja aku ambil kamar vip, pasti aku bisa berendam air panas di buthutb”. Kamar yang Karenina pesan hanya kamar biasa yang kamar mandinya hanya ada shower, padahal dia sangat ingin merendam punggungnya yang memar denga air hangat.
‘Kalau saja William ada disini, dia pasti yang obatin aku. Aku rindu William’. Karenina menghidupkan ponselnya, dia sengaja mematikannya agar William tidak mengganggunya. Dia masih merasa canggung walau hanya sebatas bicara lewat telepon.
Entah kenapa seperti ada yang aneh di hatinya saat tidak menemukan pesan apapun dari William, bahkan balasan untuk pesan yang dia kirim pun tidak ada. Karenina menggigit bibirnya kelu, untuk pertama kalinya dia merasa sangat kecewa.
“Apa William marah karena aku nggak jawab dia, apa dia nggak mau lagi ketemu sama aku. Bagaimana kalau dia benar-benar meninggalkan aku”, tanpa dia sadari ada air yang menetes dari matanya. Rasa sakit di hatinya membayangkan William meninggalkannya ternyata jauh lebih sakit dari luka yang ada di tubuhnya sekarang.
Malam sudah semakin larut tapi Karenina masih tenggelam dengan pikirannya sediri. Dia terus menatap layar ponselnya menunggu panggilan ataupun pesan, bahkan nama William sudah berada di layar ponselnya tapi Karenina masih ragu menekan tombol call.
“Tapi kalau dia kecewa dan mencari wanita lain”, Karenina menggeleng-gelengkan kepalanya, mengenyahkan semua pikiran buruknya hingga akhirnya dia tertidur dengan rasa kecewa yang teramat dalam.
Hari sudah semakin siang, Karenina bangun dengan mata sembab semakin menambah sempurna wajahnya. Karenina berjalan dengan mata yang masih menyipit menuju pintu karena seseorang di luar sana terus saja menggedor pintu.
Karenina mengucek-ngucek matanya, memastikan penglihatannya dan bahwa dia tidak sedang bermimpi melihat siapa yang sedang berada di depannya saat ini. William, kekasihnya itu ternyata datang mencarinya sampai ke Lampung.
Mereka berdua saling pandang dengan pandangan yang berbeda, Karenina memastikan yang dia lihat di depannya adalah laki-laki yang dia tangisi semalaman sedangkan William melihatnya dengan tatapan yang sulit di tebak. Karenina ingin memeluknya sedangkan William menahannya tapi Karenina terus mencoba sampai William mengalah dan memeluknya erat.
Orang-orang yang kebetulan lewat di depan kamar yang Karenina tempati melihat mereka dengan risih, sepasang kekasih itu mungkin lupa kalau mereka masih beada di luar kamar.
William mengurai pelukannya lebih dulu, mengangkat dagu Karenina dan memutarnya kiri kanan memperhatikan dengan seksama wajah mengenaskan kekasihnya. William mendesah lalu menarik tangan Karenina dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“Apa tante kamu yang melakukannya?”
“Mmm…?”
“Wajah kamu, apa tante kamu pukulin kamu”, Karenina memegangi pipinya, lalu dengan cepat berlari melihat dirinya di cermin.
‘Astagaa… apa William melihat ini?, dia tidak takut setelah melihat wajah ini?. Kenapa aku tidak cuci muka dulu tadi sebelum buka pintu’.
Karenina nampak lebih segar setelah mandi, dia langsung mandi dan sedikit berdandan setelah melihat dirinya di cermin tadi.
__ADS_1
“Kenapa kamu bisa ada disini?”, William menyimpan ponselnya di atas meja begitu Karenina duduk di sampingnya. Dia tersenyum sambil memandangi kekasihnya itu.
“Kenapa lagi, karena kamu ada disini” katanya membuat semua kekecawaan Karenina melebur. William mengelus pipinya yang masih tampak kebiruan lalu kembali mendesah.
“Lain kali tunggu aku kalau kamu mau pergi, kalau aku bisa aku pasti akan menemani kamu”, katanya lagi yang membuat hati Karenina semakin berbunga-bunga.
“Aku panik banget waktu dengar om kecelakaan, tapi aku pamit kan. Aku kirim pesan tapi kamu nggak balas” Karenina memanyunkan bibirnya, William lalu menyambarnya sekilas membuat Karenina berdecak tapi senang dalam hati.
Pintu di ketuk, Karenina yang sudah akan berdiri untuk membuka pintu di tahan William. Laki-laki itu yang akan membuka pintu. Saat William masuk kembali, ada dua orang room service yang mengikuti di belakangnya. Salah satu dari mereka mendorong troli makanan dan yang satunya membawa sesuatu yang tadi William minta.
William mengusap rambutnya dengan sayang melihat Karenina makan dengan begitu lahap. dia sebenarmya menahan kesal dan amarahnya melihat wajah babak belur kekasihnya. William tahu kalau Karenina tidak akan suka kalau dia melakukan hal-hal yang dapat mencelakai keluarganya.
“Kamu nggak makan?” William menggeleng. karenina lalu meletakkan sendok dan garpu, meminum sedkit air lalu menjauhkan meja itu dari mereka.
“Will…”
“Hemm”
“Apa tawaran kamu masih berlaku?” William menautkan alisnya tidak mengerti.
“Menikah, apa itu masih…” Karenina tidak melanjutkan ucapannya, dia menunduk malu hingga tidak bisa melihat senyuman tipis yang tergambar di bibir William.
“Tidak lagi, tawarannya sudah tidak berlaku”
“Tidak ada wanita lain”
“Lalu?” William mengendikkan bahunya dan menarik meja itu kembali mendekat lalu memaksa Karenina untuk melanjutkan makannya.
Setelah berdebat singkat, Karenina akhirnya membawa William menemui om dan tantenya. tidak di sangka, di sana sudah ada Halim yang masih berharap bisa menikahi Karenina.
“Nina” Rina dan Malik melihat ke pintu ketika Halim menyebut nama Karenina.
“Nina, kamu sudah baik-baik saja. Ini siapa?” Malik yang berbicara, Rina berdiri memandangi William dari atas ke bawah seperti sedang menilai penampilannya.
“Jadi kamu lebih memilih laki-laki miskin ini di bandingkan aku?”
“Jangan berteriak di depannya”, suara khas William Anggoro mulai terdengar. Dia menundukkan kepalanya dengan sopan kepada laki-laki tua yang dia yakinin adalah om yang di sayangi kekasihnya, begitupun pada Rina. Walaupun dia tahu ap yang sudah Rina lakukan pada kekasihnya, tidak mengurangi sedikitpun rasa hornatnya padanya.
“Saya William”, katanya memperkenalkan dirinya. “Bisa saya duduk”.
__ADS_1
“Silahkan nak William”, kata Malik memeprsilhakan.
“Maaf kalau saya datang kemari tidak membawa apapun”, katanya dengan sopan yang langsung mendapat cemooh dari Halim.
“Memangnya kamu bisa beli apa, membelikan lipstik untuk Karenina saja kamu tidak sanggup” katanya dengan senyum mengejek.
“Tidak apa-apa nak, tidak perlu repot-repot”,
“Mau apa kamu datang kemari”, Rina mulai menunjukan sikap tidak sukanya ketika Halim mengatakan dia tidak bisa membeli apapun.
“Maafkan atas kelancangan saya, saya datang kemari bermaksud untuk melamar Karenina menjadi istri saya. Orang tua saya akan datang secara resmi nanti”. Karenina menatapnya tanpa berkedip. Ada rasa haru yang menyeruak di hatinya.
“Memangnya kamu bisa menafkahi Nina, dan asal kamu tahu saja kalau Karenina itu masih menjadi tulang punggung keluarga ini. Kalau dia menikah dengan orang miskin seperti kamu, lalu bagai mana dengan kami yang sudah membesarkannya”. Di sana Halim tersenyum penuh kemenangan, dia merasa berada di selangkah di depan William. Untuk urusan orang tuanya, dia akan mengurusnya nanti.
“Rina, apa yang kamu katakan. Sejak kapan Nina menjadi tulang punggung kita. Aku masih bekerja dan Kia juga bekerja, kita tidak perlu menyusahkan Nina dan nak William”. Malik mencoba meluruskan, dia tahu itu hanya akal-akalan Rina untuk membuat William menyerah.
William tersenyum, sementara Karenina geleng-geleng kepala.
‘Mereka tidak tahu saja sekaya apa orang di sampingku ini’.
“Saya dan Karenina akan langsung kembali ke Jakarta hari ini. Nina akan menghubungi kalian untuk menagbari kapan orang tua saya akan datang melamar Nina secara resmi”, kata William.
“Memangnya kami sudah setuju kalau kamu…”
“Sudahlah Rina, biarkan Nina menentukan hidupnya”, potong Malik sebelum istrinya menyelesaikan kalimatnya.
“Kamu tidak bisa menikah dengan dia Nina, aku yang lebih dulu mengenal kamu, aku yang lebih dulu mencintai kamu”.
William dan Karenina pamit, tidak memperdulikan Halim yang terus meneriaki mereka.
“Kamu bilang tawarannya sudah tidak berlaku”, mereka sudah sampai di hotel, William membantu Karenina mengemasi baju-bajunya.
“Tawaran lamanya sudah tidak berlaku, sekarang aku perbaharui lagi. Nina, kamu maukan menikah denganku?” Karenina tersenyum, ketakutannya pada sebuah ikatan pernikahan ternyata tidak ada apa-apanya di bandingkan ketakutannya akan kehilangan laki-laki yang entah sudah sejak kapan mengisi seluruh hatinya itu.
Karenina mengangguk, dia tersenyum. William ikut tersenyum lalu senyumnya semakin melebar menjadi tawa renyah. Mereka berpelukan sangat erat, William melepaskan pelukan mereka dan mendekatkan wajahnya.
Bibir mereka menyatu, mereka saling mengulum dengan mesra mengalirkan semua perasaan bahagia yang tercipta.
__ADS_1