
William berjalan keluar dari gedung S&M setelah menyelesaikan pekerjaannya, di belakangnya ada Karenina yang mengikutinya dengan wajah sudah seperti benang kusut. Penjaga keamanan di depan pintu utama membuka pintu mobil untuknya, dia membunyikan klakson mobil saat Karenina tidak juga masuk kedalam mobil.
“Kau jalan seperti siput saja”, Karenina yang baru masuk ke dalam mobil memanyunkan bibirnya.
“Kenapa kau tidak pernah memakai sabuk pengaman, kau suka ya kalau aku yang pasangkan untukmu”, William memasangkan sabuk pengaman untuknya, Karenina memang tidak sukai memakainya karena membuatnya sesak.
“Aku tidak nyaman banyak karyawanmu memperhatikan ku”, di dalam tadi saat dia berjalan di belakang William banyak pasang mata yang melihatnya tidak suka walaupun mereka tidak mengatakan apa-apa.
“Jangan perdulikan mereka”, William melajukan mobilnya, dia akan membawa Karenina ke suatu tempat yang indah dan romantis.
“Kau mau mengajakku kemana?” pertanyaan yang sama ke sekian kali yang belum juga mendapat jawaban. Karenina berdecak lalu mengambil ponsel dari tasnya untuk mengusir bosan saat William tidak juga menjawab pertanyaannya.
‘Kau baik-baik saja, apa yang Tuan William bicarakan dengan mu?’ pesan dari Rendra, Karenina mulai mengirim pesan balasan.
‘Aku masih baik-baik saja sekarang, tidak tahu kalau sebentar’, jawabnya ambigu. Pesan itu terkirim, satu menit kemudian Rendra mengirim pesan balasan.
‘Apa maksudmu Karenina, bicara yang jelas jangan bertele-tele’ Karenina berdecak, William menoleh sebentar ke arahnya lalu kembali fokus pada jalan di depannya.
‘Aku mau main-main dengan mereka tapi nanti mereka berfikir aku benar-benar dalam bahaya’ Karenina melirik William yang sedang fokus menyetir lalu membalas pesan Rendra.
‘Aku baik-baik saja, jangan khawatir’, membalas dengan benar kali ini.
“Siapa?” tanya William yang masih fokus menyetir.
“Pak Rendra”, jawab Karenina
“Aku lihat dia sangat perhatian padamu, apa dia menyukaimu” Karenina tertawa, William meliriknya, dia tahu Karenina sedang menertawakan pertanyaannya.
“Pak Rendra itu sudah punya anak satu, istrinya cantik banget lagi. Kamu ada-ada aja”.
‘Lihatkan, aku selalu menjawab pertanyaanmu dengan baik. Contohlah aku’
“Will”
“Hemm”
__ADS_1
“Kenapa tadi kau marah-marah pada sekertarismu, dia kan hanya membawakan apa yang kau mau, kenapa malah mengancamnya?” takut-takut Karenina bertanya, dia sampai tidak berani mengunyah di dalam ruangan William tadi.
“Kau tidak lihat caranya memperhatikanmu”
‘Dia menjawabku, aku pikir dia akan mengabaikan pertanyaanku lagi. Hehee’
“Tidak, dia hanya tersenyum padaku dan pergi”
‘Dasar bodoh, kau tidak lihat dia sedang menilaimu dan akan menjadikanmu bahan gunjingan dengan teman-temannya’
“Sudahlah, itu bukan urusanmu” Karenina mendengus kesal, dia tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskannya jika bertanya pada makhluk aneh di sampingnya itu.
‘Dia membuatku gemetar dua kali hari ini, sudah seperti minum obat saja’. Karenina menyandarkan kepalanya di sandaran mobil dan menutup matanya dari pada kesal sendiri memikirkan kemana William akan membawanya.
“Karenina”, William membangunkannya, dia tidur ternyata. Karenina membuka matanya melihat William sudah berdiri di sampingnya.
“Ini dimana?” Karenina keluar dari mobil, dia merasa tidak asing dengan pemandangan di depannya seperti pernah melihatnya tapi entah di mana.
“Kamu suka makan sambil lihat pantai kan”, William membawanya ke sebuah restoran yang terletak di sebuah dermaga. Mereka sudah di suguhi pemandangan malam yang sangat indah dari restoran outdoor itu. Karenina mendongak ke atas melihat hamparan bintang-bintang di langit yang luas. Karenina mengukir senyum di bibirnya. Cantik, pemandangan yang dia lihat saat ini.
“Waktu di Bali kamu tidak makan dengan baik karena takut uang kamu habis kan”, Karenina tersenyum mengingatnya, dia mengangguk.
“Aku tadinya malah cuma mau makan mi siram di kamar hotel” mereka tertawa.
“Kamu memang tinggal di jakarta sejak kecil?” tanya William memulai percakapan yang agak pribadi dan berharap Karneina menjawabnya dengan jujur. Karenina menggeleng, “Aku dari Lampung, aku merantau ke sini sendirian”, jawabnya dengan jujur.
Saat ini Karenina nampak berbeda dari biasanya, senyum yang terukir di bibirnya seperti sebuah ketulusan dari hatinya. Dia senang William membawanya ke tempat ini. Dia ingat di mana pernah melihat tempat ini, di internet. Dia selalu ingin datang kemari tapi tidak berani datang sendrian. Mengajak Merry atau Rara? Mereka pasti hanya akan mencibirnya habis-habisan.
“makanya cari pacar”, pasti itu yang akan mereka katakan.
“Kau tinggal dengan siapa di lampung?”
“Om dan Tanteku”
“Lalu kenapa kau meninggalkan mereka?” William terus bertanya dan Karenina tidak keberatan menjawabnya.
__ADS_1
“Aku ingin hidup bebas”, jawabnya lagi. Tidak sepenuhnya di jawab jujur kali ini. Ada alasan lain yang membuatnya meninggalkan kota kelahirannya.
“Aku mengirimkan mereka uang setiap bulan, aku tidak melepaskan tanggung jawabku pada mereka” katanya seolah ingin memberi tahu William kalau dia bukan orang yang tidak tahu terima kasih.
“Om dan Tantemu memperlakukanmu dengan baik?” Karenina diam, dia memandang pantulan rembulan di air yang bergelombang.
“Omku sangat baik, dia sudah seperti Ayah untukku. Om tidak pernah membedakan aku dengan anaknya, tapi Tante…” Karenina memberi jeda pada kalimatnya. Suasana di tempat itu sangat indah pun suasana hatinya yang sedang sangat baik, dia tidak ingin semua itu hilang jika membicarakan orang yang paling banyak menyusahkan sepanjang hidupnya.
“Nggak usah di bahas deh”, katanya kemudian. William mengangguk, dia bisa menebak kalau hubungan Karenina dengan Tantenya tidak sebaik hubungannya dengan Omnya. Pesanan mereka datang, William sudah memesan makanan saat dia mereservasi tempatnya tadi.
“Kau megirimkan mereka uang dan juga menabung untuk liburanmu, apa gajimu cukup. Maaf aku tidak bermaksud…”
“Tidak apa-apa. Aku cukup kok, malah kemarin aku masih bisa bayar cicilan motor ku yang kau buang”
“Maaf”, Karenina menggeleng “nggak apa-apa, aku sudah lupa”. Sikapnya benar benar manis hari ini dan entah kenapa dia mau banyak bercerita pada William.
“Aku jadi sering makan malam karena kamu”, katanya masih dengan senyum. William memperhatikannya sejak tadi, Karenina yang seperti sekarang mungkin akan lebih manis dari pada Karenina yang biasanya. Dia tampak lebih dewasa dan terbuka, bukan Karenina yang suka mengomel, banyak protes dan memaki dalam hati.
“Aku akan luangkan waktu setiap malam jika bisa melihat kamu yang seperti ini”, Karenina terkekeh. “Memangnya aku yang sekarang kenapa?”
“Manis”, Karenina terkekeh lagi “Jadi yang setiap hari aku pahit ya”. Kali ini William yang tergelak, dia mengangguk “mungkin” katanya. Mereka lalu tertawa bersama.
Sejak pertama kali bertemu, baru kali ini mereka menghabiskan waktu berbicara dengan normal. Tidak ada ejekan, sindiran atau kata-kata tidak jelas yang sering mereka perdebatkan.
‘Dia memang tampan, dan dia semakin tampan dengan senyumnya itu’, Karenina.
‘Manis, dia semakin manis dengan senyum tulusnya’. William.
“Pulang yuk, besok masih harus kerja kan. Lagian kenapa ajaknya nggak malam minggu aja, biar bisa tinggal lama-lama”
“Kalau begitu aku akan mengajakmu lagi hari sabtu nanti, kita bisa sampai pagi ada di sini”,
“Nggak sampai pagi juga kali”, mereka tertawa lagi, tawa yang murni tanpa di buat-buat. “Tunggu sebentar, aku selesaikan pembayarannya dulu”.
William meninggalkannya sendiri, dia memandang punggung laki-laki yang terus melangkah meninggalkannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu baik sama aku sih Will, kenapa kamu selalu mengingat apa yang sudah kita lakukan di Bali. Aku sudah berharap tidak pernah lagi melihat kamu setelah hari itu, tapi kenapa kamu seperti sedang menjeratku dalam kehidupan kamu”. Karenina mengehela nafas, sepertinya dia memang harus menerima William menggaggu hidupnya sampai laki-laki itu menemukan wanita lain yang membuatnya benar-benar jatuh cinta dan melupakannya.