
“Tumben datang nggak di undang” sindir Mutiara pada anaknya yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Sebastian.
“Kenapa, mau di lamarin Karenina”, tebak Sebastian asal. Mereka terkejut saat melihat William mengangguk dengan pasti.
Mutiara dan Sebastian lalu mengalihkan fokus mereka kepada putra semata wayangnya itu.
“Kamu serius?” tanya Mutiara memastikan. Dia tahu William pasti punya perasaan yang dalam pada Karenina, tapi tidak menyangka putranya itu akan secepat itu memastikan pasangan hidupnya.
“Dia nggak kamu hamilin duluan kan?” harusnya William marah dengan tuduhan kejam yang Ayahnya tunjukkan padanya dengan nada yang tidak bercanda, tapi dengan santainya dia malah menjawab, “Aku mau banget hamilin dia duluan, tapi dia nggak mau”. Jawabannya mendapat pelototan tajam dari Mutiara, selamg tidak lama bantalan sofa ikut terbang mendarat tepat di pipi William.
“Will sudah tidak muda lagi Bu, sudah waktunya untuk menikah bukan”, katanya meletakkan bantalan sofa di belakang punggungnya. “Atau kalian mau lihat aku jadi bujangan tua, kalian nggak mau punya cucu?”.
“Mau dong, sudah tua gini masa belum punya cucu”, seloroh Mutiara berpindah duduk di samping suaminya.
“Memangnya apa yang kamu liat sampai kamu begitu yakin akan menikahinya, Ayah liat dia nggak begitu cantik, biasa aja” William nampak berfikir. Fikirannya berkelana pada awal pertemuannya dengan wanita itu, bagaimana seorang wanita dengan polosnya minta di tiduri oleh lai-laki yang tidak dia kenal sebagai kado ulang tahunnya hanya karena penasaran dengan rasanya.
William mengukir senyum sambil geleng-geleng kepala, Sebastian dan Mutiara saling pandang lalu mengendikkan bahu. Mereka menyadari anaknya itu memang tengah jatuh cinta.
“Kamu sudah bertemu orang tuanya saat menjeputnya di Lampung?”. William menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Ayahnya.
“Nina yatim piatu, dia tinggal bersama Om dan Tantenya”, Sebastian mengangguk, mereka sebenarnya sudah tahu hanya bertanya basa basi saja “Apa dia di perlakukan dengan baik?”. William menghela nafas lagi.
“Dia babak belur di pukuli Tantenya karena menolak menikah dengan orang yang dipilihkan tantenya untuknya”, Mutiara sudah memasang wajah sedihnya. Dia merasa kasihan pada Karenina mendengar cerita William.
“Nikahi dia dan bahagiakan dia, Will”, ucapan tegas Sebastian di ikuti anggukan pasti Mutiara. William tersenyum, dia tahu orang tuanya tidak akan mempersulit dirinya. Orang tuanya pasti tahu betul bahwa dia tidak main-main dalam menjalani hubungannya dengan Karenina.
“Will ingin secepatnya, Will benar-benar tidak tahan berpisah dengannya setiap hari”,
“Tidak tahan berpisah dengannya atau tidak tahan ingin cepat-cepat ehem ehem”, wajah William memerah, Ayahnya tahu saja apa yang ada di otaknya.
__ADS_1
“Tapi kami punya satu syarat Will” William memicingkan matanya “Kau harus cepat memberi kami cucu”. Sambung Mutiara di ikuti gelak tawa Sebastian dan William.
“Tenang saja, Will akan bikin setiap hari. Kalau perlu bikinnya tujuh hari tujuh malam biar cepat jadi, hahaha”.
“Ya nggak gitu juga kali, kalau Karenina kelelahan juga nggak bisa cepat jadi”, tidak di sangka Sebastian juga ikut membahas masalah yang sangat intim itu.
“Jadi nggak sabar pengen punya cucu, rindu juga dengar suara tangis bayi”, kata Mutiara sambil menerawang membayangkan imut dan lucunya seorang bayi.
“Bikin yang banyak, biar rumah ramai”, Sebastian sepertinya ikut-ikutan membayangkan bagaimana ramainya rumah mereka yang akan di penuhi anak William dan Karenina.
“Tenang aja”, balas Will dengan santai. “Makanya Ayah sama Ibu cepetan nikahin Will sama Nina biar cucunya juga bisa cepat jadi”.
“Oke, kami akan urus pernikahan kamu secepatnya”. Di tengah obrolan mereka tentang pernikahan William, Meisya muncul dengan wajah lelahnya. Dia tidak kaget melihat William ada di ruang keluarga, kakaknya itu sudah memberi kabar padanya kalau dia akan mengunjungi rumah orang tuanya sore ini.
“Lagi bahas apa sih”, katanya mendaratkan pantatnya di sofa yang mepuk di samping William.
“Kakak kamu yang nyebelin ini minta kawin”, kata Mutiara melirik William. Meisya hanya manggut-manggut, tidak ada terkejutnya sama sekali. Hampir setiap hari mereka berkomunikasi dan William selalu menceritakan padanya tentang kemajuan hubungannya denan Karenina.
“Makan yuk”, ajak Mutiara pada suami dan anak-anaknya.
Pukul sembilan malam William meninggalkan rumah orang tuanya dengan perasaan lega. Akhir minggu ini rencananya orang tua William akan berkunjung ke Lmapung untuk melamar Karenina secara resmi kepada Omnya.
Tidak butuh waktu lama untuk William sampai di apartemennya, dia memang agak ngebut tadi. Jujur saja tubuhnya memang sedang sangat lelah dan butuh banyak istriahat. William menyimpan kunci mobilya di atas nakas, mengeluarkan dompet dan ponselnya, membuka dasi, jas dan pakaian yang lain lalu membersihkan dirinya di kamar mandi.
Mobil William sudah parkir di depan kontrakannya saat Karenina membuka pagar, dia membuka pintu mobil dan mendapati William sedang serius dengan ponselnya di balik kemudi. Karenina menyandarkan sikunya pada dasboard mobil dan menopang dagunya. Dia pandangi William dengan seutas senyum di bibirnya.
‘Apa Tuhan tidak salah mengirimkan jodoh untukku, apa aku yang seperti ini pantas berdiri di sampingnya’, Karenina menghela nafas pelan ‘Aku pikir ini tidak adil untuk kamu jatuh cinta dengan orang jelek dan miskin sepertiku. Tapi bagaimana aku kalau kau meninggalkanku’.
“Apa yang kau khayalkan, ini masih pagi Nina dan kau sudah mengkhayal”. William membuyarkan lamunannnya, Karenina memperbaiki posisi duduknya dan memesang sabuk pengaman. Melihatnya sudah duduk dengan nyaman, William pun melajukan mobilnya.
__ADS_1
“Apa yang kau khayalkan, hemm”.
“Will…”
“Hemm…”
“Maaf ya”, William menautkan kedua alisnya dan sekilas memalingkan wajahnya pada Karenina.
“Karena?”
“Karena jodohmu aku, karena kau malah jatuh cinta padaku”, William semakin tidak mengerti maksud perkataan Karenina.
Karenina menghela nafas, “kamu tuh perfect banget, sudah ganteng, kaya lagi. Masak iyya sih kamu harus nikah sama aku”.
William masih menautkan alisnya “memangnya kenapa?”
“Ya sayang aja. Harusnya kamu nikahnya sama model, artis atau nggak anak konglomerat juga yang cantik, begitu baru serasi”. Tiba-tiba rasa percaya diri Karenina anjlok padahal dia sendiri yang membandingkan dirinya dengan orang lain. Karenina tidak tahu kalau sudah ada puluhan artis atau model bahkan anak konglomerat yang menginginkan kekasihnya itu.
Tapi William menolak mereka semua bahkan sebelum William bertemu dengan Karenina. Tidak ada satupun di antara mereka yang sanggup menggetarkan hatinya, memunculkan rindu yang kadang datang di tengah kesepiannya. Hanya pada Karenina dia merasakan rasa yang seperti itu. Ia selalu merasakan rindu pada wanita itu. Awalnya William berfikir kalau dia hanya menginginkan tubuh Karenina dan hanya penasaran dengan waita yang sudah meninggalkannya setelah mereka bercinta.
Namun semakin hari perasaan itu semakin nyata hingga akhirnya William menyadari kalau Karenina telah mengisi sebuah tempat istimewa di hatinya. Tempat yang sudah dia tutup dengan rapat setelah dia berhasil menyembuhkannya dulu. entah bagaimana caranya seorang Karenina bisa memasuki tempat istimewa di hati seorang William Anggoro.
“Makanya jangan suka melamun pagi-pagi, bicara kamu jadi ngelantur kan” Karenina memayunkan bibirnya, dia kesal William tidak menanggapi perkataannya.
Mereka sudah sampai di Dimension, William melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan dirinya pada Karenina, dia menangkup kedua pipi wanita itu, mengecup bibirnya sekilas dan tersenyum hangat padanya.
“Menurut aku kamu paling sempurna buat aku. Aku selalu bilang padamu kan, jangan pernah merendahkan dirimu di depanku karena aku selalu menganggap kau wanita yang paling istimewa”.
Wajah Karenina memerah, William tersenyum dan melepaskan tangannya dari pipi Karenina. Wanita itu mengecup bibir William sebelum keluar dari mobil.
__ADS_1
“Dasar wanita bodoh, dia tidak tahu sebesar apa aku mencintainya”.