Takut Menikah

Takut Menikah
Datang lagi


__ADS_3

Farel sudah ada di depan rumah Karenina pagi ini, dia sudah menceritakan pada William tentang apa yang terjadi. William kesal bukan main pada ibunya, dia meminta ibunya untuk segera meluruskan kesalahfahaman ini agar Karenina tidak membenci ibunya.


Bukannya menuruti keiningan William, Mutiara bahkan masih ingin sedikit bermain-main dengan wanita yang sudah dia tetapkan sebagai calon menantunya dan melarang keras William untuk ikut campur. William sampai tidak sabar segera pulang untuk menemani Karenina menghadapi keisengan ibunya.


Karenina menyapa Farel dengan senyum yang cerah, Farel sampai bingung di buatnya. Kemarin dia melihat Karenina sangat marah, dia fikir kemarahan Karenina akan bertahan sampai berhari-hari seperti wanita pada umumnya kalau sedang marah.


“Ayok”, Karenina membuka pintu mobil dan duduk manis sementara Farel masih berdiri di samping mobilnya terheran-heran dengan tingkah Karenina.


“Mau di situ aja atau jalan, aku sudah telat” sudah lebih dari beberapa menit  tapi Farel masih belum juga masuk ke dalam mobil hingga Karenina memanggilnya dan membuat kesadarannya kembali.  


“Ohh, iya. Maaf”, Farel masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya menuju Dimension.


“Kamu sudah nggak marah?” dari pada penasaran, Farel akhirnya bertanya.


“Marah? kening Karenina berkerut “karena?”


 “Karena ibu nya William”


“Hoo” Farel melirik Karenina dari kaca spion, wajahnya terlihat sangat santai seperti tidak ada yang mengganjal di hatinya.


“Aku nggak simpan di hati kok, nggak penting”, katanya mengendikkan bahunya.


“Kamu nggak serius sama William?” Farel tentu berfikir seperti itu, Karenina terlihat sangat cuek bahkan setelah Mutiara terang-terangan mengatakan padanya untuk menjauhi William.


“Serius nggak, main-main juga nggak. Jalani saja apa adanya, kayak air yang mengalir” katanya. Farel mengehla nafasnya, sungguh dia tidak bisa menebak fikiran Karenina. Dia berfikir mungkin Karenina tidak serius dalam menjalin hubungan dengan sepupunya.


Sementara Farel tahu kalau William benar-benar serius dengan wanita yang ada di belakangnya itu, William tidak pernah memperlakukan wanita seperti ini jika wanita itu tidak spesial untuknya. Sama halnya yang pernah William lakukan pada Ririn, tapi perhatian William kali ini jauh lebih besar sampai-sampai William meminta Farel menjaga wanitanya itu.


Mereka sampai di Dimension, Farel yang kesal pada Karenina karena menganggap hanya mempermainkan William langsung melajukan mobilnya begitu Karenina menutup pintu mobil.

__ADS_1


Farel tidak tahu saja kalau semalam William sudah memberinya kata-kata yang cukup menenangkan hatinya.


“Maafkan ibuku ya, jangan masukkan ke hati apapun yang dia katakan padamu. Aku akan pulang secepatnya dan menemanimu menemui ibuku. Tunggu aku, aku rindu padamu”.


Setelah mendapat pesan dari William. Karenina melupakan semua ucapan Mutiara padanya dan hanya mengingat apa yang William katakan. Dia terus tersenyum sepanjang perjalanan seperti seorang yang sedang jatuh cinta.


Sementara itu Halim yang sudah mengetahui dimana Karenina bekerja sudah menunggu Karenina di depan gedung Dimension sejak tadi. Wajah tampannya cukup menarik perhatian karyawan Dimension yang lewat di depannya. Di berdiri dengan bersandar di mobilnya dengan kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya.


Awalnya Karenina memang sangat terpesona dengan wajah tampannya, itulah alasan utamanya mau menjadikan Halim kekasihnya saat itu. Selain tampan, Halim juga sangat sayang dan perhatian padanya. Hingga seiring berjalannya waktu, Halim berubah menjadi sangat posesif.


Karenina seakan menjadi tawanannya. Kemanapun Karenina pergi, halim harus bersamanya dan begitu juga sebaliknya. Karenina merasa kebebasannya terenggut secara paksa. Dia bahkan tidak bebas bergaul dengan teman-temannya.


Pergi kuliah Halim yang mengantarnya, pulang kuliah Halim juga yang menjemputnya. Jika tidak bisa bertemu Halim akan menelponnya sepanjang waktu, belum lagi video call sebelum tidur bahkan sampai salah satu dari mereka ketiduran. Karenina baru bisa merasakan kebebasannya saat dia memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya.


Saat pertama kali Karenina menginjakkan kakinya di Jakarta, saat itulah dia merasakan kebebasan yang sebenarnya. Tidak ada Halim,tidak ada tante yang selalu menyusahkannya. Karenina benar-benar hidup seperti burung yang bebas terbang kemanapun. Tidak ada yang mengaturnya, tidak ada yang melarangnya berteman dengan siapapun.


“Kok belum pulang, tunggu jemputan?”, tanya Rendra, Karenina sudah pamit pulang padanya sejak setengah jam yang lalu.


“Pak, nebeng boleh nggak”, Rendra memicingkan matanya tidak biasanya Karenina mau ikut di mobilnya.


“Pliss” kata Karenina dengan mengatupkan kedua tangannya. Rendra lalu mengangguk. “Ayok”, katanya.


“Tapi boleh nggak aku tunggu di depan pintu aja” Rendra mengamati ekpresinya yang terlihat panik.


 “Kamu mau sembunyi dari Tuan William, memangnya Tuan William sudah pulang dari luar kota”, Rendra refleks berjalan keluar dan mencari di mana William berada.


Ada berkas penting yang sangat membutuhkan tanda tangan William secepatnya, itu sebabnya Rendra sangat berharap William bisa secepatnya pulang dan menandatangai beberapa dokumen yang masih menyangkut kerja sama mereka.


Mata Rendra tidak sengaja menangkap sesosok laki-laki yang terlihat sangat keren sedang melihat ke arah pintu tempat Rendra sedang berdiri saat ini. Dia lalu kembali di mana Karenina berdiri.

__ADS_1


“Siapa dia? Kenapa kamu ketakutan seperti itu?” Rendra menebak kalau laki-laki itulah yang sedang di hindari Karenina saat ini.


“Panjang ceritanya, yang jelasnya aku nggak boleh ketemu sama dia”,


“Ya sudah, kamu tunggu di sini aku ambil mobil dulu”.


Karenina menunduk saat mobil Rendra melewati Halim yang masih menunggunya di depan gedung Dimension karena kaca mobil Rednra yang tidak terlalu gelap dan masih bisa terlihat dari luar.


“Sudah lewat”, kata Rendra melihat Karenina yang masih menunduk padahal mobilnya sudah melewati Halim.


“Huhhft”, Karenina mengusap peluh di keningnya.


“Aku turun di sini aja Pak”


“Biaraku antar sampai di rumah”. Karenina menatap Rendra. Dia di kelilingi orang-orang baik yang perduli padanya tanpa perduli siapa dirinya dan dari mana asal usulnya. Teman di kantor dan teman di rumah tidak ada yang mengabaikannya saat dia dalam masalah, mereka semua akan selalu ada untuk mengulurkan tangan dan membantunya tanpa pamrih.


Seperti sekarang saat dia ingin menghindari Halim, Rendra membantunya tanpa banyak bertanya ini dan itu.


“Kalau dia menggangu kamu, kabari aku secepatnya”, Karenina mengangguk, dia berlari kecil masuk ke dalam rumah saat Rendra sudah melajukan mobilnya.


“Aku nggak bisa tinggal disini lagi, aku harus secepatnya pergi. Dia pasti sudah tahu di mana aku tinggal”.


Belum selesai keterkejutannya karena Halim, detak jantung Karenina kembali hampir berhenti saat melihat tamu yang sudah duduk dengan manis di ruang tamunya.


“Nyonya Mutiara”, katanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Di samping Mutiara ada Rara dan Merry, di atas meja ada teh yang kelihatannya sudah di minum setengahnya, juga ada kue kering kiriman dari orang tua Rara.


Sepertinya Rara dan Merry melayani tamu terhormat mereka dengan baik. Tapi bukankah Karenina sudah menceritakan pada Merry bagaimana Mutiara yang sebenarnya, bagaimana dia dengan angkuhnya menawarkan sejumlah uang padanya agar meninggalkan William. Tapi kenapa tidak terlihat kekesalan di raut wajah Merry.


Ketiga wanita itu menoleh ke arah Karenina, Mutiara berdehem lalu memasang kembali topeng yang pernah dia pakai saat pertama kali bertemu Karenina.

__ADS_1


__ADS_2