
Mobil William sudah berhenti di depan rumah kontrakannya.
“Aku ada urusan ke luar negeri, mungkin akan seminggu di sana”, kata William sebelum Karenina keluar dari mobilnya.
“Selama aku pergi, Farel yang akan mengantar dan menjemputmu , dan juga gunakan kartu yang ku berikan padamu. Jika kau butuh sesuatu yang lain kau bisa bilang padanya karena Ryan akan ikut bersamaku”, katanya uanh sudah seperti suami saja mau berpamitan pada istrinya.
“Tidak perlu merepotkan orang lain, Will. Yoga dan Juwita juga bisa mengantar dan menjemputku. Soal kartumu kau jangan khawatir, aku pasti akan menghabiskan uangmu” William tersenyum mendengarnya.
“Sudahlah, jangan membantah. Lebih baik kau merepotkan Farel dari pada merepotkan temanmu” katanya seperti mengatakan jangan bantah aku.
“Baiklah”, katanya terpaksa.
“Kau sangat manis kalau kau menurut begini”. Wiliam memandangi wajahnya cukup lama membuat Karenina jadi salah tingkah.
“Bolehkan aku menciummu?” tanpa menunggu jawaban William langsung mempertemukan bibir mereka. Dia meng*lumnya sangat lembut merasai bibir manis Karenina yang dia rindukan. Dia menyusupkan lidahnya saat Karenina memberi jalan tanpa dia sadari. Mereka lalu saling mencecap merasai bagian dalam masing-masing.
“Masuklah, dan langsung istirahat”, Karenina mengangguk, dia keluar dari mobil William dengan wajah yang memerah. Laki-laki itu baru melajukan mobilnya saat kekasihnya sudah menghilang di balik pintu.
Karenina mendapati Merry sedang makan ice crean kakinya selonjoran di kursi depan televisi. Dia menurunkan kaki Merry dan duduk di dekatnya. Merry menyuapkan ice cream dan Karenina membuka mulurnya lebar.
“Mer”
“Hemm”
“Aku pikir William nggak seburuk yang kamu bilang deh” Merry memasukkan lagi sesendok ice cream ke mulut Karenina.
“Mungkin juga” katanya singkat. Dia lalu menatap Karenina lekat setelah menelan ice cream yang sudah lumer di mulutnya.
“Apa kau suka padanya?”
“Hem?” Karenina terdiam, dia menatap balik Merry dengan wajah bingungnya.
“Nina, apa kau suka padanya?” Merry Menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Karenina.
__ADS_1
“Dia memang menyebalkan, suka seenaknya . Dia menunjukkann sisinya yang lain saat bersamaku. Dia bisa marah dan berbicara kasar pada orang lain, tapi saat di depanku semua sikap arogannya hilang entah kemana” Karenina mengingat-ingat beberapa kejadian di mana William sedang marah pada karyawannya tapi kemarahan itu seolah hilang saat sudah bersamanya.
“Aku tanya apa kau suka padanya, kenapa malah menjelaskan yang lain sih”
“Aku mau bilang kalau dia baik padaku, dan aku mungkin suka padanya” gantian Merry yang terdiam, dia meletakkan mangkuk ice creamnya menunggu cerita selanjutnya dari Karenina.
“Bukan suka seperti yang kau bayangkan, maksudku aku suka sebagai sesama manusia bukan sukanya wanita kepada seorang laki-laki”, jelasnya tapi Merry malah mencibirnya.
“Bedanya cuma tipis tahu, sebentar lagi kamu juga jatuh cinta”
“Nggak mungkin” elaknya dengan tegas.
“Terus kenapa mau menjalin hubungan dengannya?”
“Supaya dia puas dan berhenti mengangguku”
“Tapi kalau dia benar-benar jatuh cinta sama kamu dan tidak mau melepaskan kamu?” Karenina tergelak, Merry memicingkan matanya.
Dia sangat bersih, dia tidak mau berbagi sendok yang sama dengan teman serumahnya, dia juga tidak suka makanannya di sendok dari bekas mulut orang lain. Mungkin itu sebabnya Karenina lebih dekat dengan Merry dari pada Rara.
“Karena hati manusia mudah berbolak balik, Nin. Hari ini kamu bisa cinta banget sama dia tapi besok bisa juga kamu menjadi sangat benci, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya” Merry dengan bijak berbicara, tapi ada yang berubah di raut wajahnya saat mengatakannya. Untung saja Karenina tidak pintar melihat hal yang seperti itu.
Karenina tergelak lagi mendengar kata-kata bijak Merry, “sejak kapan sih kamu jadi pandai bermain kata-kata?” Karenina mencibir, lalu wajahnya berganti mode serius.
“Tapi kenapa kamu benci banget sama Ryan?” giliran Karenina yang ingin mendengar setelah dia merasa selesai di dengar. Sudah lama dia ingin bertanya tapi selalu teralihkan oleh pertanyaan menyudutkan Merry.
“Dia mantan pacar aku”, jawabnya, Karenina tidak terlihat terkejut karena sudah bisa menebaknya.
“Aku males banget bahas dia, Nin. Menurutku dia hanya sebuah buku yang sudah selesai aku baca, dan di buku itu ada bagian yang bikin aku sakit hati sama kisahnya jadi aku memutuskan untuk membakar buku itu karena aku nggak mau membacanya lagi kalau aku melihatnya”.
Walaupun Karenina tidak terlalu pintar mengartikan kata-kata pujangga atau semacamnya tapi dia mengerti maksud Merry kali ini. Dia berhenti sampai di situ dan tidak mau lagi membahasnya. Bukankah semua orang punya lukanya masing-masing, dan banyak orang yang tidak mau lagi membahas penyebab dari luka mereka, mungkin Merry salah satu dari mereka yang pernah terluka dan memilih melupakan luka itu selamanya.
Pembicaraan mereka selesai, masuk di kamar masing-masing dan terlelap mengistirahatkan tubuh yang lelah.
__ADS_1
Seperti yang karenina katakan kemarin, hari ini dia sudah ada di lokasi proyek pembangunan perumahan yang berada di pinggir kota. Ada Rendra, Juwita dan juga Yoga yang ikut bersamanya. Pembangunan sudah mulai di lakukan dengan membuat pondasi yang kuat sebagai awalnya.
Siang yang terik dan debu yang beterbangan tidak membuat mereka kehilangan semangatnya. Bersama beberapa karyawan S&M mereka menyusuri lokasi proyek yang sangat luas.
“Aku dengar Karenina ada hubungan spesial dengan Tuan William, apa karena itu proyek ini jatuh ke tangan kalian”. Semua mata beralih memandang Karenina, wanita itu membiarkan botol minuman mengambang di depan bibirnya. Dia yang melihat semua orang sedang memperhatikannya tidak jadi minum dan menutup kembali botol minumannya.
“Apa maksudmu?” Rendra bertanya menggantikan Karenina.
“Apa kalian sudah mengenal sebelum proyek ini, kalian terlihat sangat intim berdua. Dia bahkan sering sangat lama berada di ruangan Tuan William, apa yang kalian lakukan di dalam?”.
Laki-laki itu memandang Karenina dengan seringai seolah merendahkannya, dia juga memindai penampilan Karenina dari atas ke bawah.
“Apa yang kau coba katakan, brengs*k” Rendra tidak tahan melihat temannya di lecehkan seperti itu menarik kerah baju laki-laki itu.
“Pak, hentikan”, semua yang ada di sana mencoba melerai, Rendra melepas kerah bajunya ketika anggotanya menarik tangannya.
“Jangan bicara sembarangan, kami memenangkan proyek ini karena Tuan William menyukai presentasi kami. Itu semua murni dari usaha dan kerja keras kami, bukan karena alasan lain yang ada di otak kotor kamu”. Juwita dengan lantang mengatakannya di depan orang itu. Dia menarik Karenina yang sudah berwajah pias menjauh dari laki-laki itu, lalu kemudian Rendra menyusulnya.
“Anda harusnya bekerja saja sesuai dengan tugas anda, tidak usah mengurusi yang bukan bagian dari pekerjaan anda. Saya harap anda tidak akan lagi mengatakan hal-hal bodoh kedepannya” setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Yoga menyusul ketiga temannya.
Karenina nampak sangat berat membawa langkahnya, selama ini dia tidak pernah berfikir sampai ke sana bahwa mungkin memang alasan proyek ini jatuh ke tangan Dimension adalah karena dirinya.
‘Tapi apa mungkin William mau bermain-main dengan proyek besar ini hanya untuk menggangguku, siapa aku memangnya’.
“Nggak usah di fikir kata-kata yang tadi, kita memenangkan proyek ini karena kita memang mampu”, kata Yoga. Mereka sudah di dalam mobil kembali ke Dimension, lebih cepat dar yang mereka perkirakan.
Juwita mengangguk setuju dengan Yoga “Iya, karena kita mampu” ucapnya.
“Aku nggak nyaman banget di liatin kayak gitu, seperti aku perempuan murahan aja”, katanya akhirnya buka suara.
“Aku akan minta Pak Luis bicara dengan Tuan William untuk mengganti kamu dengan Yoga sebagai perwakilan Dimension, biar kamu ngga usah ke S&M lagi”, Karenina mengagguk cepat.
Otak bodohnya pasti tidak akan berfikir kalau William mungkin akan marah setelah mendengar apa yang terjadi tadi.
__ADS_1