
Seperti yang William katakan padanya semalam, siang ini William datang menjemputnya. Seluruh kantor Dimension jadi heboh saat William menunggu Karenina di loby kantor Dimension.
Karenina berlari kecil saat melihat William, lalu dengan manja bergelayut di lengan calon suaminya membuatnya mendapat sorakan dari teman-temannya.
“Kenapa? Iri ya”, katanya dengan bibir yang di moyongkan.
‘Padahal baru aja semalam ketemu, kenapa aku kangen banget sama laki-laki ini. Mungki ini yang di namakan bucin’.
“Apa yang lucu?” tanya William melihat Karenina tertawa.
“Tidak ada” katanya. William membukakan pintu mobil untuk Karenina lalu ikut masuk di pintu yang satu.
William terlihat fokus pada jalan di depannya, sementara Karenina selalu mencuri pandang pada kekasihnya. Benar, sekarang dia seperti seorang yang tergila-gila pada cinta. bayangkan, tadi malam William baru mengantarnya pulang, dan pagi ini dia sudah begitu merindukannya.
Mereka telah sampai di butik, sudah ada Mutiara dan Miranda yang meunggu mereka.
“Ibu, Tante” sapa Karenina dengan sopan tidak lupa juga cipika cipiki.
“Ayo, Tante udah tidak sabar memakaikan kamu baju rancangan tante” Karenina pasrah saja saat tangannya di tarik Miranda dan Mutiara. Dia berbalik melihat William memintanya ikut dengannya, setidak nya ada yang akan melindunginya dari kedua wanita itu yang entah akan melakukan apa padanya.
“Lihat”, Miranda memperlihatkan dua gaun pengantin pada Karenina, yang satu gaun dengan model putri duyung dan yang satunya lagi model balon yang mengembang di bawahnya keduanya terlihat sangat cantik dan elegan.
“Kalau menurut Tante, aku cocok yang mana?” tanya Karenina.
“Cocok dua-duanya”
“Ya sudah, kita bikin pestanya dua hari jadi kamu bisa pakai kedua baju itu”, seloroh Mutiara.
‘Pesta dua hari, sehari saja aku sudah bisa membayangkan seperti apa capeknya’.
__ADS_1
“Aku coba yang ini aja dulu”, kata Karenina mengambil gaun dengan model balon di bawahnya. Seorang pegawai butik masuk ke ruang ganti dan membantu Karenina memakainya.
Tubuhnya yang mungil sangat pas dengan baju itu, sewaktu Miranda melihatnya hari itu di Mall, dia sudah membuatkan baju untuknya. Hanya dengan melihatnya saja, Mutiara bisa mengetahui ukurannya. Dan benar saja, gaun itu sangan pas di tubuh Karenina.
Karenina keluar dari ruang ganti, baik Mutiara ataupun Miranda begitu terpesona melihatnya. Kulit putihnya tambah bersinar dengan gaun putih yang memperlihatkan sebagian leher dan belahan dadanya.
Miranda membawanya menemui William, sejenak Willaim terpukau dengan penampilan Karenina. Gaun yang sangat indah dengan tubuh mungilnya, rambutnya yang di gulung sampai ke atas mempertontonkan sebagian tubuh Karenina.
“Aku tidak mau kau memakainya”, ketiga wanita itu melongo mencoba memperjelas pendengaran mereka.
“Kenapa, rancangan Tante jelek ya”, kata Miranda kecewa. Dia pikir William akan menyukai gaun yang dia rancang khusus untuk calon istrinya.
“Will, gaunya cantik. Aku suka”, kata Karenina.
“William buru-buru membuka jasnya dan menutup tubuh Karenina bagian atas yang terekspos separuh.
“Aku sudah bilang kan, jaga pakaianmu. Kau mau pamer dadamu pada semua orang dengan memakai baju itu”. kata William yang membuat Miranda merasa tidak enak hati.
Karenina memasang wajah masam pada Miranda, padahal dia sudah sangat menyukai gaun itu. dia kan memang suka pakaian yang agak terbuka.
“Maaf, Tante. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak suka ada orang yang melihat tubuh Karenina. Hanya aku yang boleh melihatnya”, kata William dengan sangat sopan pada Miranda. Dia tahu kalau Miranda tersinggung dengan sikapnya.
“Sekali lagi aku minta maaf, Tante. Tante masih mau kan membuatkan gaun yan baru untuk calon istriku”, pinta William. Miranda pun tersenyum lalu megiyakan permintaan William setelah laki-laki itu sudah dengan tulus minta maaf padanya.
Dia tahu kalau William hanya ingin menjaga Karenina sehingga tidak membiarkannya memakai gaun terbuka seperti itu.
Setelah acara fitting gaun pengantin gagal, William membawa Karenina kembali ke Dimension.
“Will, kau masih marah. Kau marah padaku?” tanya Karenina dengan berhati-hati melihat suasana hati William sedang tidak baik.
__ADS_1
“Aku janji tidak akan memakai baju seperti itu lagi, aku hanya akan memakainya di kamar saja, saat berdua denganmu”, sepertinya Karenina belajar dengan cepat mengambil hati William.
“Kau belum makan siang kan?” tanya William akhhirnya, suaranya sudah melembut. Wajahnya juga sudah kembali terlihat normal. Amarahnya sudah reda pikir Karenina.
Karenina mengangguk, dia memang lapar tapi takut bilang pada William. Akhirnya mereka singgah di sebuah restoran untuk makan siang sebelum mengantar Karenina kembali ke Dimension.
Hari ini sungguh melelahkan untuk Karenina, pekerjaan yang menumpuk belum lagi memikirkan pernikahannya. Dia jatuh lemas di atas sofa saat tiba di rumah.
“Eh, tapi Merry sama Rara belum pulang?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Saat hendak melihat kamar kedua temanya, tiba-tiba bel berbunyi. Karenina kemudian berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini.
Karenina mundur perlahan ketika ada dua oran laki-laki yang tidak dia kenal menerobos masuk ke dalam rumahnya.
“Aghh...” Karenina jatuh pingsan saat salah satu laki-laki itu memukul lehernya tanpa basa-basi. Mereka memasukkan Karenina ke dalam mobil setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka. Saat ini baru pukul delapan malam tapi suasana kompleks sudah sepi.
Mobil yang membawa Karenina pergi berpapasan dengan mobil yang mengantar Merry, tadi Merry sempat melihat kalau mobil itu keluar dari rumahnya. Dan saat masuk ke dalam rumah, dia terkejut melihat sepatu Karenina berada di depan pintu sebelahnya dan sebelahnya lagi tidak tahu ada dimana.
Buru-buru Merry melihat di dalam kamar, siapa tahu Karenina kecapean dan membuang sepatunya sembarang tempat.
Namun Merry tidak menemukan Karenina di dalam kamarnya, dia juga tidak menemukan Karenina di manapun. Merry mencoba menghubungi ponsel Karenina, ponsel itu berdering. Merry mendengar bunyi ponsel Karenina dan mendapati tas temanya itu ada di atas sofa. Merry semakin khawatir.
Dia segera melihat keluar begitu mendengar ada suara mobil, tapi ternyata itu bukan Karenina. Itu adalah Rara dan Adhit.
“Ada apa Mer, kamu kelihatan panik banget” Rara melihat Merry gemetar dan keringat bercucuran dari keningnya.
“Nina, Ra. Nina tidak ada di mana-mana”, kata Merry gemetaran. Perasaannya sudah tidak enak saat tadi dia berpapasan dengan mobil yang keluar dari rumahnya. Dia melihat ada beberapa orang laki-laki di atas mobil itu.
“Kamu tenag dulu, Mer. Nina mungkin ada sama William”, Rara yang juga ikut khawatir mencoba menenagkan Merry.
__ADS_1
“Dhit, kamu punya nomor telepon Tuan William kan, coba tolong telepon sekarang dan tanyakan Karenina ada sama dia atau tidak”. Adhit dengan cepat mengambil ponselnya di dalam mobil walaupun tidak yakin William akan mejawabnya atau tidak.
Sudah seperti dugaan Adhit, William pasti tidak menjawabnya. Mungkin dia sudah istirahat dan tidak mau di ganggu. Adhit hanya menggeleng saat Rara menoleh padanya bertanya bagaimana dengan William. Rara dan Merry pun mendesah mengetahui William tidak bisa di hubungi.