
Hari yang di tunggu-tunggu Karenina sudah tiba, hari ini dia akan berlibur dengan seluruh karyawan Dimension. Sejak semalam, Karenina sudah mempersiapkan seluruh keperluannya selama liburan nanti. Pakaian yang akan dia pakai dan aksesorisnya sudah terpaking rapi di dalam koper. Karenina bahkan tidak bisa tidur karena membayangkan suasana menyenangkan selama liburan di sana nanti.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Karenina keluar dari kamar dengan penampilan kasualnya, dia menarik kopernya dan menaruhnya di ruang tamu lalu berjalan menuju dapur mencari sesuatu untuk dia makan.
Ternyata sudah ada Merry dan Rara di sana. Di atas meja makan juga ada sepiring nasi goreng yang pastinya di persiapkan untuk dirinya.
“Siapa yang masak?” tanya Karenina menyendoki nasi goreng yang wangi itu ke dalam mulutnya. Merry menunjuk Rara dengan matanya lalu di ikuti anggukan Karenina.
“Makasih”, katanya tersenyum imut pada Rara yang di tanggapi gadis itu dengan senyum alakadarnya.
“Ingat bawa oleh-oleh ya”, kata Merry sambil mengunyah. Karenina memanyunkan bibirnya “Nggak ada uang, Mer. Kalau mau titip sesuatu sekalian titip uangnya juga”. Karenina tergelak saat tissu yang baru saja di pakai Merry melap bibirnya mendarat di wajahnya.
“Buat apa kartu ajaib William kamu simpan kalau nggak kamu pakai” Rara ikut berkomentar
“Buat jadi penjaga dompet”, jawab Karenina terkikik geli. Mereka melanjutkan makan sambil saling bercanda dan mengejek lalu suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.
“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” mereka saling melirik seolah berkata ‘kamu saja yang buka pintunya’. Dan pada akhirnya Karenina yang mengalah, dia memasukkan sesuap nasi goreng di mulutnya sebelum berdiri untuk membuka pintu.
Beberapa saat setelah Karenina beranjak, dari arah dapur terdengar teriakan Merry yang bertanya siapa yang datang tapi tidak kunjung ada jawaban. Penasaran, Merry dan Rara menyusul Karenina. Kedua gadis itu makin penasaran melihat Karenina yang membeku di depan pintu.
“Siapa, Nin?” Merry mengekerutkan alisnya melihat tamu yang tidak di undang itu, lalu melihat ekspresi terkejut Karenina.
“Nin...” Kesadaran Karenina lansung kembali saat Merry menepuk pundaknya.
“Kamu kenapa sih, liat Om sama Tante kamu kaya liat setan saja”. Seperti biasa, Rina selalu bicara dengan nada ketus pada Karenina.
‘Om, Tante?’ Merry dan Rara saling pandang. Mereka langsung mengerti kenapa Karenina sampai terkejut seperti itu.
__ADS_1
“Masuk, Om, Tante” Rara dengan sopan mempersilahkan kedua tamu itu masuk ke dalam rumah. Lalu Karenina dengan cepat menyusul.
“Kok Om ke Jakarta nggak kabarin Nina dulu”, Karenina sudah duduk di samping Malik. Kesadarannya sudah seutuhnya kembali walaupun dia masih sangat terkejut melihat Malik dan Rina datang.
“Mendadak, Nin. Ada hal penting yang harus Om lakukan di Jakarta ”, kata Malik mengelus lembut jemari Karenina yang memegang lengannya. Karenina tanpa sengaja melihat jam yang tergantung di dinding lalu melihat kopernya yang tadi dia simpan di dekat pintu.
“Nina mau li.....”
“Beberapa hari yang lalu orang tua Nak Willian datang ke Lampung”, kata Malik dengan cepat yang membuat Karenina tidak jadi melanjutkan apa yang akan dia katakan.
“Tante Mutiara sama Om Sebastian?” tanya Karenina tidak percaya. “Buat apa?” tanyanya lagi.
“Melamar kamu”, Rina yang menjawab. Dia bicara dengan sangat ketus seolah tidak rela anaknya kalah dari keponakan suaminya itu. Karenina terkejut bukan main, dia menatap Malik dengan mata membulat tidak percaya. Dan anggukan pelan Malik membuatnya ambruk di sofa.
Rara dan Merry secepat kilat sudah ikut nimbrung di ruang tamu, mereka memang menguping pembicaraan ketiga orang itu sejak tadi. Dan saat mendengar tentang orang tua William yang hendak melamar temannya, kedua gadis itu langsung saja menunjukkan dirinya.
Karenina yang masih sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Malik dan istrinya dengan membawa berita yang entah harus bagaimana dia mengekspresikannya, tidak terlalu perduli apa yang Rina katakan. Sedangkan Rara dan Merry meliriknya tajam, mereka akhirnya melihat sendiri bagaimana menjengkelkannya Rina.
“Nina harus pergi sekarang, Om. Dua hari lagi Nina baru pulang. Om....”
“Kamu nggak akan kemana-mana Nina”, lagi, Malik menghentikan Karenina berbicara.
“Maksud, Om?”
“Orang tua William mengundang kita makan malam di rumahnya malam ini”.
Deg, Karenina yang tadinya sudah bersiap mengambil langkah seribu meninggalkan pembicaraan yang belum dia siapkan materinya sama sekali kembali terhempas ke sofa. Makan malam dengan orang tua William? Tidak, Karenina sama sekali belum siap.
__ADS_1
“Kamu tidak serius menjalani hubungan kamu dengan Nak William?” tanya Malik melihat Karenina yang berwajah pias.
“Kalau kamu belum siap menikah, ya sudah, jangan di paksakan. Nanti kamu tidak bahagia”, Rina sengaja mengatakannya, dia memang iri melihat William yang mencintai Karenina.
“Jangan sia-siakan orang sebaik William, Nin. Dia tulus banget cinta sama kamu” Rara yang bijak mulai ikut berkomentar. Merry ikut mengangguki.
“Bukan nggak serius, Om. Nina Cuma tidak menyangka William akan secepat ini mau menikah, Nina belum siap”, Rina mendengus mendengarnya. Malik memegang jemari Karenina dan mengelusnya dengan lembut.
“Selama ini Om tidak bisa memberikan kasih sayang yang layak padamu, kau bahkan harus dewasa jauh sebelum usiamu. Ada seseorang yang datang dengan niat yang tulus untuk membahagiakanmu, Om juga sudah melihat bagaimana dia melindungi kamu. Om akan merasa terlepas dari rasa bersalah yang selalu menghantui sepanjang hidup Om, kalau kamu sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang yang benar-benar mencintai kamu”.
Karenina terenyuh mendengarnya, dia tahu kalau selama ini Malik sangat menyayanginya dan selalu menjaganya. Tapi dia tidak tahu kalau Omnya itu ternyata memiliki penyesalan karena tidak bisa memberikan kasih sayang layaknya orang tua padanya dan Karenina tahu dengan jelas alasannya.
Dering ponsel Karenina membuyarkan suasana hening itu, wanita itu merogoh tasnya dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Nama Rendra tertera di layarnya.
“Halo, Pak” Karenina melihat Rara dan Merry dengan wajah yang sedih. Liburan yang dia nanti-nantikan hancur berantakan.
“Maaf, Pak”, katanya lagi masih menempelkan benda pipih itu di telinganya, lalu beberapa detik kemudian menyimpannya di atas meja masih dengan wajah masam.
“Bukannya William tahu kamu mau liburan hari ini?”, Karenina terlihat berfikir setelah Merry bicara tadi.
‘Benar, William kan tahu aku mau liburan. Jangan-jangan dia sengaja biar aku nggak jadi pergi, dia kan nggak suka aku liburan bareng teman kantor. Dasar William brengsek’. Wajah masam Karenina berubah kesal, dia yakin William adalah penyebab utama gagalnya rencana liburan yang sudah dia bayangkan akan semenyenangkan apa.
“Sudahlah Nin, abis nikah kan kamu bisa liburan kemana aja yang kamu mau, tinggal bilang aja sama William”. Karenina tetap tidak terima, dia harus membuat perhitungan dengan William.
Maaf beribu maaf ya baru bisa up lagi, Insya Allah kedepannya gak akan putus lagi..
Makasih banyak yang masih mau menunggu kelanjutannya.. sayang kalian banyak-banyak.
__ADS_1