
Makan malam yang penuh keseruan karena William tidak pernah berhenti menggoda Karenina berkahir sudah. Saat ini mereka semua sudah duduk di ruang keluarga membicarakan tujuan sebenarnya mereka di undang makan malam.
“Apa tidak sebaiknya pernikahannya di adakan di Lampung saja”, Rina memberi usul, dia bicara dengan sangat lembut pada Mutiara dan Anggoro.
“Kami tidak mau merepotkan kalian, biar semuanya kami saja yang urus”, jelas Mutiara. “ini adalah pernikahan putra kami satu-satunya, kami tentu akan menyiapkan semuanya dengan baik”, lanjut Mutiara lagi.
“Kalau memang seperti itu tentu saja kami akan sangat berterima kasih”, kata Malik.
“Tapi...” ucapan Rina yang masih ingin mengadakan pesta pernikahan di Lampung dengan cepot di potong William.
“Om dan Tante tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Ayah dan Ibuku yang akan mengurus semuanya. Kalian hanya perlu menjaga calon istriku dengan baik”.
Rina menelan ludahnya dengan kasar saat tatapan William lurus tertuju padanya. “Tolong jaga Nina dengan baik, aku tidak akan memafkan siapapun yang menyakitnya. Baik itu hatinya ataupun tubuhnya. Aku akan membuat perhitungan dengan siapapun yang melukainya. Siapapun”.
Peringatan William jelas tertuju untuk Rina, dia sangat menahan dirinya untuk tidak membuat perhitungan dengannya saat melihat keadaan Karenina di Lampung waktu itu.
“Sudah-sudah, kenapa jadi tegang. Lagi pula jika ada yang berani menyakiti calon menantu Ibu, Ibu yang akan maju paling depan melindunginya”. Mutiara tersenyum hangat pada Karenina sampai-sampai Karenina bisa merasakan kehangatan itu sampai di dalam hatinya.
Makan malam itu benar-benar berakhir dengan penetapan tanggal pernikahan untuk William dan Karenina. Dua minggu kedepan, pernikahan mereka akan di langsungkan di Jakarta. Mutiara yang akan megurus segala hal tentang pernikahan itu.
Terlihat raut kecewa di wajah Rina, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua keputusan Mutiara. Bahkan dia tidak dilibatkan dalam hal terkecil sekalipun. Padahal, dia sudah ingin pamer pada semua temannya di Lampung bahwa dia memliki menantu seorang konglomerat. Namun kekecewaannya sedikit terobati ketika William memindahkanya ke hotel mewah dengan kamar vip.
“Terima kasih ya, Nak William”, katanya sangat manis. Karenina hanya mencibir di belakang William.
“Lihatkan Nina, Nak William tidak akan membiarkan orang tuamu tinggal di tempat seperti itu”.
‘Orang tua, siapa. Kamu? Sejak kapan kamu menjadi orang tuaku. Dasar penjilat’.
“Selamat istirahat”, kata William dengan sopan pamit pada Malik.
__ADS_1
“Terima kasih, terima kasih karena mau mencintai Nina'”.
“Terima kasih karena ssudah membesarkannya dengan baik”, balas William. Mereka berdua saling memberi senyum hangat sebelum William meninggalkan hotel itu.
“Harusnya kamu biarkan saja mereka tinggal di hotel itu”, Karenina sejak tadi tidak setuju membiarkan Rina menikmati hotel mewah.
“Sudahlah, toh besok mereka akan kembali ke Lampung”.
“Kalau itu Om Malik aku tidak masalah, tapi Tante Rina”... Karenina membayang semua yang sudah Rina lakukan padanya, membuat kemarahannya pada wanita itu kembali muncul ke permukaan.
“Sudahlah, dari tadi kau cemberut terus. Bibirmu sudah maju berapa centi itu. hahahaa”, satu pukulan yang cukup keras mendarat di lengan William membuat laki-laki itu mengaduh tapi kemudian dia tertawa membuat Karenina semakin memasang wajah cemberutnya.
Mobil William memasuki sebuah tempat yang mulai Karenina kenali. Sebuah restoran di atas dermaga. Tempat favorite William, karena di tempat itu pertama kalinya dia melihat senyum tulus Karenina.
“Kita mau apa ke sini? Kita kan sudah makan tadi di rumahmu?” kening Karenina berkerut, tapi tetap saja ikut saat William menarik tangannya.
Restoran yang sudah beberapa kali mereka kunjungi itu terlihat berbeda dari biasanya. Lampu hias yang biasa menghiasi setiap sudut restoran terlihat jauh lebih cantik saat mereka datang terkahir kali. Juga ada yan berbeda selain lampu hias, tidak ada satupun pengunjung yang terlihat berada di restoran. Padahal ini adalah malam minggu, harusnya kursi-kursi sudah penuh dengan orang-orang yang sedang menikmati makanan juga pemandangan indah dari laut luas yang menjadi salah satu ciri khas restoran itu.
“Will, kita pulang saja. Kita kan juga sudah makan, untuk apa datang ke sini lagi”. Langkah William terhenti saat Karenina menarik tangannya dari genggaman William.
“Sudah jangan berisik, kau akan tahu nanti”, William kembali menarik tangan Karenina dan wanita itu dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh kembali mengikuti langkah William dengan terpaksa.
Mereka sampai di ujung dermaga, sudah ada meja dan dua kursi yang sudah di hias sedemikan rupa di sana. Karenina melihat ke air yang begitu tenang di bawahnya, ternyata ada banyak lilin yang entah sejak kapan mulai ada di sana.
Karenina menaikkan alisnya, meminta jawaban dari pertanyaan yang dia gambarkan lewat sebuah tatapan penuh tanya. William terkekeh lalu menuntun wnaita itu duduk di kursi.
“Kau suka?” tanya William. Karenina masih saja terlihat kebingungan.
“Kamu yang menyiapkan semua ini?” Karenina balik bertanya.
__ADS_1
“Bukan, aku mana ada waktu melakukan semua ini”, kata William melihat dengan puas restoran yang di sulap menjadi tempat yang sangat romantis.
“Aku tahu, maksudku kau yang meminta mereka menyiapkan semua ini” katanya kesal, “Jangan bilang kau membooking restoran ini?”. William tertawa renyah membuat Karenina semakin kesal.
“Untuk apa kau buang-buang uang. Pasti sangat mahal kan”
“Untuk apa kau memikirkan hal tidak penting seperti itu”. William lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam jasnya, membuka kotak itu lalu mengulurkannya pada Karenina.
“Aku ada kejutan untukmu”.
Karenina terlihat sangat terkejut melihat cicin berlian yang masih berada di lama kotaknya itu. dia menatap William dengan penuh tanda tanya.
William berdiri dari kursinya, mengambil cincin berlian itu lalu memasangkannya di jari manis Karenina.
“Terima kasih sudah mau menikah dengan ku, mau menjadi bagian dari masa depanku. Aku mencintaimu Karenina”. William memberikan ciuman yang begitu lembut di kening Karenina. Ciuman lembut itu mengalir sampai ke relung hati Karenina. Dia menunduk menitikan air mata.
“Hey, kau menangis? Kenapa?” William yang panik melihat Karenina menangis seketika terdiam saat Karenina berdiri dan memeluknya.
“Aku yang harusnya berterimakasih kau sudah mau mencintaiku, sudah mau menjadi masa depanku”
“Kalau begitu aku mau minta imbalan karena sudah mencintaimu”, rasa haru yang menjalar di sekujur tubuh Karenina berterbangan di langit luas.
“Jadi kau memang ada maunya” William tertawa, dia mencubit gemas hidung Karenina. Entah kenapa melihat wajah merajuk Karenina membuat William selalu ingin melahap habis bibir merah wanita itu.
“Aku mau kau membalas cintaku, pokoknya kau harus mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Jangan melebihi aku mencintaimu”
“Kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa, aku hanya tidak mau kau menandingi cintaku padamu. Kalau sama besar sih tidak apa-apa”.
__ADS_1
Karenina tersenyum, dia kembali memeluk William.
Kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu menghabiskan hampir separuh malam di dermaga itu. suasana romantis membuat mereka enggan mengakhiri pertemuan mereka.