
Karenia sudah terlihat segar setelah mandi, dia memakai baju tidur yang pernah dia pakai saat menginap di apartemen William.
“Nina”, Karenina mengerjapkan matanya beberapa kali, dia masih merasa aneh saat William memanggilnya seperti itu. “Tolong ambilkan lapotopku di ruang kerjaku”, katanya. Karenina yang sedang tiduran di sofa sambil memainkan ponselnya bangun dan mendekati William, dia duduk di pinggir tempat tidur.
“Kau mau apa dengan laptopmu?” tanya Karenina.
“Ada beberapa laporan yang mau aku periksa”, Karenina mendesah. “Kau kan sedang sakit, tidak usah urusi pekerjaan dulu”, katanya dengan wajah sok galak. William terkekeh, entah sudah seperti apa bentuk hatinya di dalam sana.
Dia sudah benar-benar menyadari bahwa dia bukan lagi hanya sekedar penasaran pada wanita itu, tapi lebih dari itu bahwa dia jatuh cinta, cinta yang bersemi entah sejak kapan dihatinya.
Benar katanya, hanya Karenina yang meninggalkan bekas di hatinya setelah bercinta. William yang awalnya hanya menganggap Karenina seperti perempuan liar yang haus belaian mulai menganggap wanita itu berbeda apalagi mengetahui saat wanita yang meminta untuk di tiduri itu ternyata masih perawan.
Dia jatuh cinta jauh sebelum dia menyadari perasaan yang sebenarnya. Dia akan membuat Karenina mencintainya, sekeras apapun Karenina menolaknya dia akan tetap menerobos masuk ke dalam hatinya.
“Will, aku mau tanya sesuatu, tapi kau harus menjawabku dengan jujur”, Karenina memperbaiki posisi duduknya, dia menyilangkan kakinya di atas tempat tidur sementara William duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan kaki yang memanjang.
“Apa kau memberikan proyek itu pada Dimension karena aku”, William menautkan kedua alisnya diam sejenak, lalu kemudian tertawa setelah mengerti maksud Karenina.
“Kau tahu berapa jumlah proyek itu, aku bukan laki-laki bodoh yang akan mempertaruhkan uang sebanyak itu hanya untuk bermain-main dengan seorang wanita” katanya. William sudah mendengar apa yang terjadi saat di lokasi proyek, juga gosip hangat yang sedang jadi pembicaraan di kantornya. Itu sebabnya dia memaksakan dirinya bekerja dari pagi ke pagi tanpa kenal istirahat agar bisa pulang lebih awal dari yang sudah di jadwalkan sebelumnya.
Dan dengan tubuh yang lemah dia mendatangi Karenina hanya untuk sekedar melihatnya malam itu. Dia bahkan belum kembali ke apartemennya saat mendatangi rumah Karenina karena khawatir padanya. Dia benar-benar sudah jatuh cinta bukan.
“Kau fikir aku memutuskan itu sendiri, kami mengadakan rapat dan menentukan kalau kalian yang paling layak”, William tidak sepenuhnya bohong. Dari dua perusahaan yang bersaing, para petinggi S&M akhirnya memilih Dimension untuk mengerjakan proyek mereka walaupun tentu ada sedikit campur tangan William di dalamnya. Karenina bernafas lega mendengarmya, tapi bukan berarti dia lega sepenuhnya. Masih ada gosip tentang hubungannya dengan William yang meresahkannya. Walau bagaimanapun, pernah ada yang terjadi di antara mereka berdua.
“Will, apa menurutmu ada yang pernah meilhat kita di Bali waktu itu?” ini pertama kalinya Karenina menyinggung tentang liburan itu. Jujur saja kalau dia sangat menyesalinya, untung saja Rendra memanggilnya pulang, kalau tidak dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
“Kenapa? apa yang kau khawatirkan?”
“Tidak ada, aku hanya bertanya”, katanya. Dia turun dari tempat tidur untuk kembali ke sofa namun William menahan tangannya.
“Tidurlah di sini, aku tidak akan menganggumu”
__ADS_1
“Aku tidak mau”
“Kalau begitu biar aku yang di sofa”
“Kau sedang sakit, sudahlah istirahat saja. Jangan banyak bicara lagi” Karenina mau menginap di apartemen dan menjaganya dengan syarat dia akan tidur di sofa, William menyetujuinya walaupun dengan berat hati, padahal dia sangat ingin memeluk wanita itu.
Karenina terjaga beberapa kali melihat William, membenarkan selimutnya dan memeriksa suhu tubuhnya, sudah normal walau dia banyak mengeluarkan keringat. Setelah melap keringat di wajah laki-laki yang kelihatannya tidur sangat nyenyak itu, Karenina kembali ke sofa dan tidur.
William melihat ke arah tempat tidur saat selimut yang menutupi tubuh seseorang merosot turun. Orang yang berada di bawah selimut itu berguling ke kiri dan ke kanan, lalu diam. Dia kemuadian terlonjak saat menyadari dia berada di atas tempat tidur.
‘Kenapa aku bisa ada disini, William pasti memindahkanku. Tapi di mana dia’.
“Kau mencariku?” William mendekatinya, wajahnya terlihat sangat lucu saat bangun tidur. William baru benar-benar memperhatikannya dan dia suka melihatnya.
‘Aku ingin melihatnya setiap hari seperti ini, dia sangat lucu’.
“Kau yang memindahkan aku ya”
“Mungkin kau yang berjalan sendiri ke tempat tidur, aku saja kaget saat bangun melihatmu disampingku”. Karenina menggaruk kepalanya, bingung sendiri. Seingatnya dia tidak penah mengalamai hal seperti itu dalam hidupnya.
‘Dasar, kau ini benar-bena bodoh ya. Kau percaya apa yang aku bilang?’.
“kau sudah baikan?”, Karenina menelisik William, dia melihat laki-laki itu jauh lebih segar dari kemarin. Dia lalu bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Kau sudah minum obat?” William sudah duduk di sofa memangku laptopnya. Ada secangkir kopi di depannya.
“Sudah”, jawabnya tanpa melihat Karenina.
“Karena kau sudah sembuh aku pulang ya”. William masih sibuk di depan laptopnya dan mengabaikannya. Karenina mencebikkan bibirnya lalu meninggalkannya. Karenina menuju dapur, mengambil segelas air hangat dan meminumnya.
“Aku mau membalas budi”, William menyusulnya ke dapur dan sudah ada di belakangnya. Karenina meletakkan gelasnya, dia menghampiri William di meja makan.
__ADS_1
“Membalas budi untuk apa?”
“Karena sudah merawatku kemarin”.
“Ohh, tidak perlu. Aku ikhlas kok”, katanya dengan senyum manisnya.
“Kau tidak mau meminta imbalan dariku, seperti saat kau menolongku di Bali?”
“Aww..” William memekik ketika Karenina memukul bahunya cukup keras. “Aku mau pulang”, katanya. Karenina mengganti bajunya dengan yang dia pakai kemarin, setelahnya dia melihat-lihat jika masih ada barang lainnya yang tertinggal.
“Aku akan mengantarmu”. William mengambil kunci mobil dan jaketnya lalu mengejar Karenina yang sudah lebih dulu berjalan ke luar apartemen.
“Kenapa tidak pernah gunakan kartu yang ku berikan padamu?”. Selama ini William tidak pernah mendapatkan pemberitahuan pemakain kartu yang sudah dia berikan pada Karenina, tentu saja karena Karenina tidak pernah menggunakannya.
“Aku belum butuh untuk apapun”
“Kau bisa gunakan untuk traktir teman-temanmu makan”. Tangan Karenina sudah bersedekap di atas perutnya dan tubuhnya di sandarkan di salah satu sisi di dalam lift.
“Mereka semua punya banyak uang, kenapa aku harus traktir mereka”, katanya dengan ketus. Justru dia yang harus sering di traktirkan. William hanya mendesah, entah bagaimana caranya menyampaikan pada Karenina agar dia tidak tersinggung, dia ingin sekali melihat wanitanya itu hidup dengan baik dan tidak kekurangan apapun
Pintu lift terbuka, William membuka pintu mobilnya untuk Karenina lalu memasangkan sabuk pengaman untuknya. Setelahnya dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil foto mereka melalui ponsel. Setelah mengirimkan hasil jepretannya, orang itu lalu melajukan mobilnya mengikuti mobil William. Ya, Ririn mengirim seseorang untuk memata-matai William.
“Kamu pasti hanya mencari kepuasan dari Wanita itu, Will. Aku tidak akan biarkan siapapun memiliki kamu selain aku”, matanya menatap tajam pada gambar yang menunjukkan William yang sedang memasangkan sabuk pengaman untuk Karenina.
“William Anggoro, aku pasti akan memiliki kamu kembali”. Katanya dengan keyakinan yang sangat kuat.
__ADS_1