Takut Menikah

Takut Menikah
Permohonan Ririn


__ADS_3

William terlihat sangat lelah saat dia datang ke rumah sakit, dia bahkan masih mengenakan setelan jas yang tadi pagi dia pakai.


“Will, kau sudah makan?” tanya Karenina begitu William menjatuhkan diri di sampingnya. Seperti William yang sangat malas menjawab pertanyaan Karenina.


“Will, mandi dulu. Aku pesankan makanan yah” kata Karenina. William menurut, dia membawa masuk baju ganti yang tadi di bawakan Ryan masuk ke kamar mandi. Karenina lalu memesan makanan dari restoran.


‘Huh, aku jadi tidak tega bertanya tentang manta-mantannya yang lain. padahal aku sudah semangat menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. Tapi melihatnya lelah begitu aku hanya ingin memeluk dan mengelus kepalanya’


William sudah keluar dari kamar mandi, dia sudah segar dan wangi. Dia kembali merebahkan dirinya di samping Karenina. Karenina memeluknya dan mengusap lembut kepalanya seperti apa yang dia pikirkan tadi.


“Bagaimana tadi di kantor polisi?” Karenina tidak tahan, dia ingin tahu apa yang terjadi pada Ririn. Apakah dia sudah di hukum dan benar tidak akan lagi menyakitinya. William masih diam, alih-alih menjawab dia malah menenggelamkan wajahnya di curuk leher Karenina dan balik memeluk wanita itu dengan erat.


“Will, leherku” leher Karenina masih merah akibat cekikan Ririn. William yang mendengar Karenine merintih segera melepaskan pelukannya.


“Maaf”, kata William mencium kening Karenina dan mengusap rambutnya.


“Masih sakit” katanya mengusap lembut leher Karenina yang memerah. Karenina menggeleng, padahal sebenarnya lehernya masih memang masih terasa sakit.


“Maafkan aku, sayang. Semua karena aku sampai kau yang harus merasakan kemarahan Ririn” William benar-benar merasa bersalah. Harusnya dia tidak lengah dan tetap memperketat penjagaan Karenina selama Ririn belum di tangkap. Tapi dia malah melonggarkan keamanan Karenina  karena berfikir Karenina akan aman di apartemen.


“Kenapa minta maaf, kan bukan salahmu” Karenina berfikir ini adalah saat yang tepat bertanya tentang mantannya yang lain.


“Tapi aku tidak akan memaafkanmu kalau ada mantanmu yang lain yang menyerangku seperti ini” katanya melihat reaksi William. Laki-laki itu mengkerutkan keningnya.


“Mantanku yang lain? aku tidak punya, aku buka playboy yang suka berganti-ganti pasangan” kata William dengan jujur. Dengan jujur? Dia mungkin lupa ada banyak wanita yang sudah dia one night stand selama dia berada di luar negeri.


“Kau yakin” tanya Karenina.”Laki-laki seperti mu pasti punya banyak wanita. Ayo katakan ada berapa banyak lagi biar aku mempersiapkan diri. Seperti latihan karate atau apa itu yang pakai pedang”

__ADS_1


“Kau ada-ada saja” William menarik hidung Karenina karena gemas.


“Aku memnag pernah mencintai Ririn, tapi itu sudah sangat lama. Sudah bertahun-tahun sejak aku memutuskan hubunganku dengan Ririn dan sejak itu aku tidak pernah lagi menjalin hubungan yang serius dengan siapapun sampai aku bertemu denganmu” cerita William.


“Siapa lagi yang mengatakan padamu kalau aku punya banyak mantan kekasih?” William yakin pasti ada yang mengkompori Karenina.


“Apa teman-temanmu itu” tebaknya. Siapa lagi kalau bukan mereka.


“Jangan sembarang yah” kata Karenina membela temannya. Bukan membela tapi menutupi kalau memang salah satu temannya yang mengatakannya.


“Sudahlah, jangan pikir yang macam-macam lagi. Istirahat saja” kata William membaringkan Karenina dan menyelimutinya.


“Aku pesan makanan untukmu, kalau datang bangunkan aku yah”


“Kau belum makan?”


Dua hari sudah Karenina di rawat di rumah sakit, perban di kepalanya sudah di lepas dan dia sudah di perbolehkan pulang.


Mutiara dan Caca datang menjemputnya, setelah perdebatan sengit dengan William yang di menangkan oleh William, Karenina akan tinggal di rumah keluarga Anggoro sampai mereka menikah. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan terjadi sampai hari pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi.


“Maaf ya, Bu. Aku jadi merepotka terus” kata Karenina tiak enak hati melihat seorang Mutiara harus datang menjemputnya.


“Jangan bilang begitu, kamu kan juga sudah jadi anak Ibu sekarang” kata Mutiara dengan lembut.


“Kak Nina tenang aja, aku akan temani Kak Nina di rumah biar tidak bosan” kata Caca. Mereka bertiga meninggalkan rumah sakit menuju kediaman utana keluarga Anggoro.


Sementara itu Ririn yang keadaannya juga sudah membaik sudah di pindahkan ke dalam tahanan khusus wanita. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain menerima hukuman atas segala perbuatannya. Bukan hanya dirinya, bahkan kedua orang tuanya juga harus menanggung akibat perbuatannya.

__ADS_1


S&M mencabut semua kerjasama dengan perusahaan Hartono, bukan hanya S&M saja tapi beberapa perusahaan yang menjalin kerjasama dengannya juga menarik diri dari perusahaannya setelah kasus ini di umumkan ke publik.


keluarga Anggoro tidak lagi menyembunyikan hal ini dan sengaja mempublikaskannya agar tidak ada ang berani macam-maca dengan mereka.


Hartono dan istrinya juga sudah tidak bisa lagi melakukan apapun, mereka sudah menerima dans siap bertanggung jawab atas semua perbuatan yang sudah anak mereka lakukan. Juga kesalahan mereka karena tidak menyerahkan Ririn saat polisi mencarinya ke rumah.


Hari ini William datang mengunjunginya di penjara. William ingin memastikan dengan matanya wanita itu sudah benar-benar mendapatkan hukumannya.


Saat melihat William, Ririn langsung berlutut di depan laki-laki itu.


“Will, aku mohon lepaskan orang tuaku. Mereka tidak bersalah. Aku yang melakukan semuanya sendiri, mereka tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua yang aku lakukan” mohon Ririn dengan air mata yang menetes.


Dia benar-benar memohon pada William agar melepaskan orang tuanya. Dia menyadari ini adalah kesalahannya sendiri, jadia biarkan saja dia yang menanggungnya sendiri.


“Ingatlah hubungan kita yang dulu, aku mohon bebaskan orang tuaku. Jangan bawa mereka dalam masalahku” pintanya lagi.


“Bukan aku yang membawa mereka ke dalam masalahmu, tapi kau sendiri yang membawa mereka. Kau yang membuat orang tuamu harus menanggung akibat dari kesalahanmu sendiri” kata William dengan tenang.


Dia memperhatikan Ririn, wanita itu sudah nampak lusuh dan pucat. Sudah bukan lagi dirinya yang dulu.


“Dan apa kau bilang, mengingat hubungan kita yang dulu. Aku bahkan menyesal pernah memiliki hubungan dengan wanita jahat sepertimu, dan kau mau aku meningatnya” kata William masih dengan tenangnya, sementara Ririn masih berlutut di depannya.


“Aku tidak ikut campur dalam proses hukum orang tuamu, Ayahku yang melakukan semua itu. Kau tahu Ayahku kan. Dia tidak akan memaafkan siapapun yang berani mengusik keluarganya” William lalu berdiri, Ririn ikut berdiri. Wanita itu malah memegang tangan William tapi William dengan cepat menyentak tangannya hingga dia terhuyung mundur beberapa langkah.


“Berani sekali kau menyentuhku” teriak William membuat polisi yang menjaga Ririn mendekat dan memegang kedua tangannya ke belakang.


“Aku datang kemari hanya untuk memastikan kau mendapatkan hukumanmu dengan benar. Karena kalau tidak aku yang akan memberikan hukuman itu padamu” teriak William tanpa belas kasihan sedikitpun.

__ADS_1


“Will, maafkan aku” Ririn ikut teriak dengan berurai air mata. William sudah tidak lagi mau mendengar dan melihatnya. Sementara Ririn hanya terus menangis menyesali perbuatannya.


__ADS_2