
Saat ini Rendra sedang berada di ruangan Luis dan menceritakan apa yang sudah terjadi kemarin, Luis berfikir sejenak setelah mendengar cerita Rendra. Dia malah semakin yakin bahwa Karenina dan William memang menjalin hubungan. Terbukti dari semua kemudahan yang di berikan pihak S&M pada Dimension. Juga mereka menunjuk langsung Karenina sebagai perwakilan dimana mereka tidak pernah mengalami hal yang seperti itu.
“Bagaimana Pak? Saya merasa Karenina sudah tidak bisa lagi sering berada di gedung S&M dengan gosip yang beredar di sana”. Rendra baru mengetahui dari temannya yang bekerja di S&M kalau gosip yang beredar sudah semakin meluas, seperti api yang menjalar sangat cepat. Dan itu sangat tidak menguntungkan Karenina.
“Tuan William sedang berada di luar negeri saat ini, aku akan membicarakan dengannya ketika beliau pulang nanti” kata Luis. Rendra mengangguk mengerti kemudian pamit dan keluar dari ruangan Luis.
“Apa kata Pak Luis”, tanya Juwita begitu melihat Rendra memasuki ruangan mereka.
“Pak Luis akan bicara dengan Tuan William saat beliau pulang dari luar negeri”, kata Rendra seperti apa yang di katakan Luis.
“Tapi, Nina, betulkan tidak ada apa-apa antara kau dan Tuan William”. Karenina membuang nafas kasar, entah bagaimana dia menjelaskan tentang hubungannya pada teman-temannya ini.
“Aku memang sudah kenal dengan nya sebelum presentasi hari itu, aku malah sudah tidur dengannya”.
“Kenapa kau tidak pernah bilang”, kata Juwita, Rendra memicingkan mata menatapnya.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Karenina seperti seorang tersangka yang sedang di hakimi.
‘Hiks hiks, bagaimana kalau sampai ada yang tahu apa yang kulakukan dengan William di Bali dan juga memang ada yang sering kamu lakukan di ruangannya, tidak bukan kami hanya dia. Aku kan juga sering menolak kalau dia mau menciumku. Hiks hiks’.
“Apa kalian juga percaya kalau kita mendapatkan proyek itu karena aku?”
“Itu karena kerja keras kita, karena kita memang layak” Yoga bersuara sudah seperti pahlawan untuk Karenina yang tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tahu hubungan William dan Karenina tapi tidak ingin menambahkan bensin ke dalam api. Atau dia hanya ingin menjaga kedamain di tempatnya bekerja. Entahlah.
“Ayo kembali bekerja, buktikan pada orang-orang di S&M kalau kita memang hebat”. Semua kembali bekerja, Karenina menarik nafas lega melihat temannya yang lain sudah kembali ke mejanya masing-masing.
“Jadi sejauh apa hubunganmu dengan Tuan William?” Juwita semakin penasaran, dia tidak perduli gosip yang ada, yang ingin dia tahu hubungan temannya itu dengan seorang laki-laki karena dia tidak pernah melihat Karenina dekat dengan laki-laki manapun semenjak mereka berteman.
“Kerja Juwita”, Juwita menjulurkan lidahnya pada Yoga, dia kembali ke mejanya dengan wajah masamnya. Yoga memang lebih menakutkan dari pada Rendra.
“Nina, aku antar pulang ya”, lanjutnya menaik turunkan alisnya.
“Nggak” jawab Karenina tanpa mengeluarkan suara, dia tahu Juwita pasti akan memberondongnya dengan banyak pertanyaan dan dia tidak mau memuaskan keingin tahuan temannya itu.
Sudah empat hari semenjak malam itu Farel benar-benar tidak mengantar atau menjemputnya. Dia juga menolak Yoga dan hanya mau bila Juwita yang menawarkan. Selebihnya dia naik ojek online seperti biasa.
__ADS_1
Hari ini Karenina pulang sendiri, Juwita sudah pulang sejak tadi.
“Karenina”, Karenina yang baru sampai di rumah begitu terkejut melihat William sudah berdiri di belakangnya.
“William, kenapa kau ada di sini?”
“Boleh aku masuk?”
“Haa??”.
William menarik tangan Karenina masuk ke dalam melihat wanita itu masih melongo di depan pagar.
‘Kenapa aku senang melihatnya, seperti penyelamatku yang sesungguhnya sudah ada’.
Karenina membuka pintu, ada Merry dan Rara yang duduk di sofa depan televisi. Ruangan itu terhubung langsung dengan ruang tamu jadi mereka bisa melihat ada tamu yang datang ke rumah mereka. atau lebih tepatnya, Karenina datang membawa tamu.
Karenina mempersilahkannya duduk, dia memanggil Merry dan Rara untuk memperkenalkannya secara lanssung. Untung pakaian mereka masih wajar dan sopan, padahal mereka biasanya hanya memakai hotpants dan singlet kalau lagi santai di rumah.
“Kenalin teman-teman aku, kalian sudah pernah ketemu kan” William berdiri, meunduk sopan pada kedua wanita itu. setelahnya mereka masuk ke kamar masing-masing, memberi privasi pada William dan Karenina setelah sempat menggoda Karenina dengan bahasa bibir.
“Barusan” wanita itu membelalakkan matanya, “Barusan, kenapa tidak istirahat?”
“Aku rindu padamu, kenapa tidak pernah menghubungiku?”
“Kau juga tidak pernah menghubungi ku”
“Kau menunggu kabarku?” William tersenyum, dia menaikkan alisnya menunggu jawaban Karenina.
“Tidak juga”, elaknya. “Kau mau minum apa? kau sudah makan?”
“Aku jadi ingin menciummu kalau kau seperti itu?” Karenina langsung memasang wajah kesalnya mengingat gosip yang ada, tapi dia tidak mau mengadukannya pada Wiliam, biar saja William tahu dari orang lain.
“Apa saja” jawab William. Karenina meninggalkkannya ke dapur mengambil minuman dingin yang ada di kulkas.
“Kau pasti lelah, istirahatlah. Aku akan pulang” William mengelus pipinya dengan lembut.
__ADS_1
“Kau sudah mau pulang?”
“Kenapa, kau masih mau aku di sini?”, Karenina jadi salah tingkah, dia menjauhkan tangan William yang sudah meraba bibirnya.
“Pulanglah, dan istirahat. Kau pasti yang lebih lelah setelah melakukan perjalanan yang jauh. Lihat, wajahmu sampai pucat begitu”. William tersenyum, dia senang mendengar sedikit saja perhatian dari Karenina.
“Farel akan menjemputmu besok”, kata William saat sudah di depan pintu.
“Aku tidak mau, jangan memaksaku, ya”. Kali ini Karenina ingin tetap pada pendiriannya, dia tidak mau semakin menampakkan pada orang-orang tentang hubungan mereka.
“Kalau begitu aku yang menjemputmu”,
“Tidak perlu, jangan khawatirkan aku, aku bukan anak kecil aku bisa menjaga diriku dengan sangat baik. Aku menyayagi diriku lebih dari apapun”, katanya seraya menipiskan bibirnya dan mengangkat dagunya.
“Ternyata kau keras kepala ya”, William mengelus rambutnya, dia memberi kecupan di kening Karenina sebelum meninggalkannya. Karenina mengantarnya sampai di depan pagar, dia baru masuk saat mobil William sudah hilang dari pendangannya.
“Wah, setelah sekian lama akhirnya ada laki-laki yang kau kenalkan pada kami”, Rara dan Merry ternyata sudah menunggunya, Karenina memanyunkan bibirnya dan berjalan masuk ke kamarnya. Tapi tidak semudah itu karena Rara sudah menahannya dan mendudukkannya di sofa.
“Aku dengar dari Adhit dia itu CEO S&M. wah kau hebat Karenina”, Merry yang sudah tahu lebih dulu hanya senyum-senyum saja mendengar Rara.
“Aku capek banget, mau mandi terus bobo” katanya meninggalkan Rara dengan rasa penasarannya.
“Nina, cerita dulu”, Rara masih merengek, dia ingin dengar cerita lebih banyak bagaimana Karenina yang biasa-biasa saja bisa bertemu dengan seorang CEO yang tampan.
“Ini seperti cinderela modern kan, gadis biasa bertemu dengan pangeran tampan dan akhirnya mreka menikah dan hidup bahagia” kata Rara membayang film cinderela yang pernah ia tonton.
“Ini bukan film, Ra. Dan Karenina juga bukan cinderela, kita nggak tahu bagaimana hubungan mereka nantinya”, kata Merry, belakangan ini Merry menjadi lebih bijak. Dia juga sudah memutuskan untuk tidak lagi mencari teman kencan. Dia mau menajdi seperti Karenina, hidup dengan bebas tanpa ada yang mengaturnya.
Rara mengendikkan bahunya kemudian masuk kamarnya, begitpun dengan Merry.
__ADS_1