
Malam yang di nantikan dengan antusias oleh Rina sudah tiba. Dia memilih baju yang seragam dengan suaminya untuk mengahdiri undangan makan malam dari Sebastian dan istrinya. Sedangkan Karenina memakai dress sederhana berlengan panjang yang kembali membuat Rina mencibirnya.
“Kau sudah kerja di kota besar, bergaul dengan orang-orang kaya tapi masih juga tidak bisa memilih pakaian yang pantas kau pakai. Ini undangan makan malam dari calon mertuamu yang kaya raya dan kau memakai baju seperti mau ke mall bersama temanmu. Kau tidak malu di depan keluarga calon suamimu nanti”.
Sudah terbiasa dengan ucapan pedas dari Rina, Karenina hanya mendengarnya saja dan tidak menyimpannya di hati.
‘Cuma mau makan malam, gayanya sudah kayak mau kondangan’, cibir Karenina dalam hatinya. Tentu dia menjaga perasaan Malik sehingga tidak menertawakan pakaian mereka. Yang terlalu resmi.
Sebuah gerbang kayu tinggi terbuka saat Karenina mengatakan kepada dua orang penjaga keamanan yang berjaga di gerbang itu siapa namanya dan ada keperluan apa dia datang ke rumah itu. Tadinya William akan mengirimkan supir untuk menjemput mereka tapi Karenina yang masih kesal dengannya menolak dan hanya meminta alamat rumah orang tuanya.
Taksi yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan pintu utama. Rina yang turun lebih dulu, dia sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam rumah itu. Menyusul Malik dan terakhir Karenina.
‘Gila, rumah orang tua William sudah seperti rumah orang kaya di drama yang biasa aku tonton’, Karenina.
‘Sial, Nina beruntung sekali. Seandainya dia itu calon menantuku, aku akan puasa tujuh hari karena senangnya punya menantu orang kaya seperti ini’, Rina.
“Eh, tamu yang di tunggu sudah datang”, Mutiara keluar dari dalam rumah menyambut tamunya. Hanya dress sederhana yang dia pakai tapi terlihat sangat anggun dan elegan.
“Silahkan masuk”, kata Mutiara mempersilahkan tamunya untuk masuk. Sebastian menghampiri tamunya dan mempersilahkan mereka duduk di ruang keluarga.
Kali ini bukan hanya Rina yang bersikap norak, bahkan Karenina tidak hentinya menatap kagum setiap sudut rumah itu. Rumah yang mewah namun terlihat sangat nyaman. Karenina tidak bisa membayangkan berapa harga setiap perabot yang ada di dalam rumah itu.
“Jangan sungkan, anggap saja di rumah sendiri. Toh sebentar lagi kamu juga akan tinggal di sini”. Karenina jadi salah tingkah dengan ucapan Mutiara.
__ADS_1
‘Tinggal disini, sama orang-orang kaya ini. Aku tidak mau’.
Karenina mengedarkan pandangannya mencari seseorang tapi orang yang dia cari tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
‘Ihh, William mana sih. Harusnya kan dia ada di sini biar aku tidak canggung. Dia pikir aku sudah seakrab apa sama orang tuanya’. Tentu saja orang yang Karenina cari adalah William.
“William sebentar lagi datang, terjebak macet kayanya”, Sebastian sudah menebak kalau yang di cari Karenina pasti William.
Pandangan semua orang tertuju pada gadis cantik yang sedang berjalan menuruni tangga. Gadis cantik itu tak lain adalah Meisya, adik William satu-satunya.
“Ini pasti Kak Nina”, katanya memeluk Karenina dan mencium kedua pipinya saat wanita itu berdiri menyambutnya. Lalu dengan sopan menundukkan kepalanya memberi salam pada Malik dan Rina.
“Kamu sudah pernah ketemu?” tanya Mutiara saat Caca, sapaan akrab Meisya sudah duduk di sampingnya.
“Cuma liat dari jauh”, jawabnya dengan wajah kesal yang di buat-buat. “Waktu itu Kak Will tinggalin Cahca di Mall, katanya mau ketemu sama wanita galak yang sudah berani ninggalin dia. Waktu itu Kak Will sempat tunjukin ke Chaca, tapi dari jauh jadi nggak keliatan jelas”, cerita Chaca saat William meninggalkannya di Mall waktu itu.
“Hihihii, di larang sama Kak Will” katanya. Sebastian mengacak rambut putrinya itu dengan senyuman di bibirnya. Terlihat sangat ramah, berbeda dari yang selama ini terlihat dari luar sana.
Diam-diam, Malik dan Rina juga Karenina memperhatikan keluarga itu. Mereka terlihat sangat harmonis dan saling menyayangi. Walaupun bergelimang harta, tidak sedikitpun kesombongan yang mereka tunjukkan.
Dalam hati, Malik sangat merasa bersyukur Karenina akan mendapatkan keluarga sehangat Keluarga Anggoro. Tadinya dia sempat ragu untuk memberi restu karena takut Karenina hanya akan jadi debu dalam keluarga elite itu. Tapi melihat keramahan Sebastian dan istrinya dalam menyambut mereka membuatnya mesasa lega dan tenang memberikan Karenina pada keluarga itu.
“Maaf, jalanan sangat macet tadi” tokoh utama pria yang di nanti-nantikan sudah tiba. Karenina tadi yang sangat menunggu kehadirannya mendecih saat melihatnya. Wajahnya berubah kesal mengingat liburannya yang gagal. Karenina memang masih sangat mempermasalahkan liburannya yang di hancurkan Tuan William.
__ADS_1
Perubahan wajah Karenina sempat di lihat Sebastian, bukannya kesal karena Karenina mendecih saat melihat anaknya, Sebastian malah terkekeh karena dia tahu kalau William memang sengaja memintanya mengundang Malik hari ini agar Karenina tidak jadi pergi liburan bersama temannya.
Bukan hanya Sebastian, William juga terkekeh melihatnya. Ingan rasanya William ******* bibir merah Karenina yang terlihat menggairahkan ketika sedang merajuk seperti sekarang.
“Ayo kita makan, pasti semua sudah lapar kan?” Mutiara mengajak mereka semua ke ruang makan, sekali lagi Rina dan Karenina di buat takjub. Bukan hanya dengan interior di ruang makan itu yang sangat berkelas, tapi juga hidangan yang tertata rapi di atas meja. Hanya sekedar jamuan makan malam, tapi makanan yang di siapkan sudah seperti pesta para bangsawan.
William menarik Karenina agar duduk di sampingnya, lalu Malik di samping Karenina dan Rina di samping Malik.
“Ayo silahkan di makan Pak Malik dan Bu Rina. Semoga kalian suka dengan masakan saya”,
“Suatu kehormatan buat saya bisa makan masakan Nyonya Mutiara” kata Rina.
“Jangan panggil Nyonya dong, sebentar lagi kita kan jadi keluarga”. Rina tersenyum canggung.
William mengisi piring Karenina dengan semua jenis makanan yang terhidang di atas meja, Karenina yang kesal mencubit pahanya di bawah meja, lalu saat William berbalik sambil meringis, matanya melotot tajam pada laki-laki itu.
‘Kamu pikir aku serakus itu sampai kamu taruh makanan sebanyak itu di piringku’, begitu arti pelototan Karenina. William hanya tersenyum, begitu juga dengan yang lainya kecuali Rina tentu saja. Dia masih tidak bisa menerima Karenina yang mendapatkan calon suami seperti William Anggoro yang terlihat sempurna dari segala sisi.
“Makan yang banyak, aku tidak mau orang-orang bilang kalau istriku kurus kerempeng”. Karenina menggenggam erat garpu di tangannya. Dengan kesal dia mulai makan semua yang ada di piringnya.
“Kak Nina tahu nggak kalau Kak Nina pacar pertama Kak Will yang di ajak makan malam sama Ayah dan Ibu”, celetuk Chaca.
“Tapi bukan pacar pertama kan”, balas Karenina yang duduk berhadapan dengan Chaca.
__ADS_1
“Bukan sih”, jawab Chaca lalu tertawa kecil.
“Tapi aku bisa pastikan kalau kamu akan menjadi yang terakhir”. Dasar Karenina, bukannya terharu mendengar ucapan tulus William, dia malah mencibirnya. Begitupun William, dia hanya terkekeh melihat Karenina mencibirnya.