
Sebastian Anggoro dan istrinya Mutiara sedang duduk di ruang tamunya, mereka kedatangan tamu yang merupakan teman sekaligus partner bisnis mereka.
“Saya datang kemari ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan kalian”, ucap Hartono yang merupakan Ayah Ririn setelah basa basi panjangnya.
Anaknya itu terus merengek padanya agar mengunjungi orang tua William dan membahas perjodohon mereka, satu-satunya senjata yang masih dia punya setelah gagal membujuk William secara langsung, William mungkin tidak akan menolak jika Ayahnya yang memintanya menikahi Ririn.
“Apa yang ingin kamu bicarakan, Har. Sepertinya sangat penting”, kata Sebastian.
“Kita sudah berteman cukup lama kan, kenapa kita tidak mempererat hubungan kita melalui anak-anak kita”. Sebastian dan Mutiara saling pandang dengan wajah yang bingung, lalu keduanya kembali mengalihkan pandangannya pada Hartono.
“Apa maksud kamu, Har? Tanya Sebastian dengan kening yang berkerut.
“Kenapa tidak kita jodohkan saja mereka?” pasangan suami istri itu membelalakkan matanya lalu tergelak setelahnya.
“Aku pikir apa yang akan kamu katakan”, kata Sebastian, gantian Hartono yang mengkertukan keningnya.
“Kenapa, bukankah itu akan semakin mempererat hubang kita, dan juga tidak akan ada yang menandingi kita jika bisnins kita bersatu”.
“Hahahaaa, S&M masih mampu berdiri sendiri, Har. Aku tidak mau mengorbankan anakku untuk kepentingan bisnis”
“Baiklah, kita tidak perlu mencampurnya dengan bisnis, tapi aku serius dengan menjodohkan Ririn dan William. Mereka juga dulu pernah sangat dekat sebelum William ke luar negeri”. Hartono masih mencoba membujuk Sebastian, sedangkan Mutiara hanya mendengar saja.
Ini tentu bukan yang pertama kali ada orang yang datang menawarkan anak gadisnya untuk menjadi menantu keluarga Anggoro, tapi akan selalu berakhir dengan penolakan Sebastian dan Mutiara.
“Kami memang orang tua William, kami yang membesarkannya dengan segala cinta dan kasih sayang, tapi kami sudah memutuskan tidak akan mencampuri urusan pribadi anak-anak kami, kami akan membiarkan mereka memilih sendiri pasangan hidupnya”. ucap Sebastian dengan bijak.
“Bagaimana kalau kita mencobanya?”
“Kami tidak mau, Har. Kami tidak mau anak-anak kami menyalahkan kami jika suatu saat mereka tidak bahagia dengan pasangan yang kami pilihkan untuknya. Bukannya mendoakan yang tidak baik untuk anak-anak kami, tapi seandainya mereka gagal dengan pasangan yang kami pilihkan, setidaknya kami tidak akan merasa bersalah untuk itu”. lanjutnya lagi.
Hartono menghela nafas. Dia sudah mendengar dari teman-temannya bahwa Sebastian tidak mau menjodojkan anaknya dengan siapapun, tapi demi anaknya dia mau mencoba melakukannya. Sebastian mengatakan semuanya dengan baik tanpa mencoba menyinggung temannya ini.
__ADS_1
“Kenapa tidak suruh Ririn mendekati William, aku pikir itu akan lebih mudah jika William yang menginginkannya”, ucap Mutiara.
Hartono menghela nafas lagi, “sepertinya William sudah punya kekasih” katanya.
“Benarkah, dasar anak kurang ajar, setiap aku bertanya dia selalu menyangkal”, oceh Mutiara dengan kesal tapi juga wajahnya terlihat senang, dia lupa kalau barusan ada orang yang meminta mereka menjadi besan.
“Maafkan aku, Har”, katanya setelah melihat perubahan wajah Hartono. “Masih kekasih kan, masih ada kesempatan Ririn untuk merebut hati William. Suruh dia berusaha lebih keras lagi, aku juga sebenarnya sudah tidak sabar punya menantu”. Katanya di setujui suaminya.
“Aku fikir itu tidak akan sulit mengingat hubungan masa lalu mereka?” lanjut Mutiara lagi. Mereka semua tahu William dan Ririn pernah menjalin hubungan yang sangat dekat sebelum William pindah ke luar negeri, tapi Sebastian dan Mutiara tidak tahu kalau Ririnlah penyebab William meninggalkan kuliahnya di Indonesia dan melanjutkannya di luar negeri.
Berbeda dengan Hartono yang tahu semuanya, dia tahu kekecewaan William pada putrinya karena Ririn sudah menceritakan pada Ayahnya, saat itu Hartono juga sangat marah padanya sampai menamparnya. Tapi kesalahan seorang anak tidak akan merubah kasih sayang orang tua, oleh sebab itu Hartono mencoba keberuntungannya walau sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya kali ini.
Hartono meninggalkan kediaman Anggoro dengan rasa kecewa, bukan kecewa pada kaluarga Anggoro yang menolak putrinya, tapi kecewa pada dirinya sendiri yang tida bisa menjaga putinya dengan baik sehingga dia melakukan kesalahan yang membuatnya kehilangan laki-laki yang di cintainya.
“Bagaimana, Pa” Ririn sudah dengan cemas menunggu ayahnya pulang sejak tadi.
“Maafkan Papa, Rin. Papa tidak berhasil membujuk Om Sebastian untuk menjodohkan kamu dengan William”, Ririn menunduk, air matanya jatuh membasahi lantai. Ibunya memeluk anaknya itu.
“Tapi Ririn cuma mau William, Ma”
“Sebaiknya kamu mengubur cinta kamu itu, Rin. Mungkin kalian memang tidak berjodoh” Hartono kembali meyakinkan anaknya dengan cara yang halus agar tidak semakin menyakiti hatinya.
“Nggak, Pa. Ririn akan mencoba terus sampai William mau menerima Riirn kembali”, wanita itu masih kekeh untuk merebut kembali William.
“Apa kamu tidak punya harga diri, kenapa masih mau mengemis. Lima tahun ini kamu juga bisa hidup bahagia tanpa dia kan, jadi seterusnya kamu masih bisa hidup bahagia walau tanpa dia”, Hartono sudah mulai meninggikan suaranya, dia mulai kesal anaknya masih ingin memperjuangkan William.
Ririn berlari masuk ke kamarnya meninggalkan orang tuanya yang berusaha membujuknya untuk melupakan William.
“Aku akan melakukan apapun supaya kamu mau memaafkan aku, Will. Kamu hanya harus jadi milikku”, katanya di sela tangisnya.
Farel sudah dengan manis bersandar di mobilnya untuk menjemput Karenina seperti yang di perintahkan William padanya. Setelah menunggu tiga puluh menit lebih, akhirnya dia melihat Karenina keluar dari pintu kaca. Karenina hanya bisa pasrah saat Farel membawanya masuk ke dalama mobil.
__ADS_1
“Mulai besok nggak usah antar jemput lagi deh?” ucapnya agak ketus, Farel meliriknya dari kaca spion, wajah lelah terpampang sangat nyata membingkai wajahnya. Dia duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil.
“Kenapa, William bisa ngamuk”
“Aku nggak mau jadi bahan gosip”
“Siapa yang berani gosipin kamu?” tatapan mereka saling bertemu lewat kaca spion. “Memangnya aku siapa sampai nggak ada yang berani gosipin aku, aku cuma remahan biskuit di dalam kaleng, mana kalengnya sudah karatan lagi ”. Farel tertawa, dia melirik lagi Karenina dari kaca spion lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mau singgah makan dulu nggak”, Farel menawarkan melihat wajah lelahnya, mungkin dia butuh asupan energi.
“Masih tanggal tua, aku lagi krisis keuangan” Farel mengkerutkan keningnya lalu terkekeh setelah mengeri maksud Karenina.
“Aku yang traktir”
“Aku bukan orang yang nggak tahu diri ya, masak aku minta di traktir sama kamu. Kita kan sama aja orang susah”, Farel tertawa dengan suara keras membuat Karenina terkejut.
‘Orang ini benar-benar polos, apa dia tidak bisa melihat pakaian dan jam tangan yang kupakai ini. Hahaa, pantas saja sepupuku sangat tergila-gila padanya, dia memang manis’.
“Kenapa ketawa sih”,
“Aku dapat bonus dari Tuan William, makanya aku mau traktir” katanya berkilah.
“Tidak usah, simpan untuk dirimu saja”, Farel diam dan tidak lagi memaksa. Jalanan cukup macet malam itu, entah apa penyebabnya. Karenina yang kelelahan tanpa terasa mulai memejamkan matanya dan tertidur. Farel yang melihatnya tidur menambah suhu ac di dalam mobil agar Karenina bisa tidur dengan nyaman.
Farel menunggu sekitar dua puluh menit sampai Karneina bangun saat mereka sudah sampai di depan rumah, dia tidak tega membangunkannya.
“Kta sudah lama sampai ya”, tanyanya meregangkan ototnya.
“Baru saja”, jawab Farel bohong.
“Besok nggak usah jemput ya, please”, Karenina sampai memohon dengan mengatupkan kedua tangannya di depan Farel, dia tidak mau gosip tentang dirinya dan William semakin besar bila Farel yang dia tahu supir William masih menjemput dan mengantarnya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan bilang sama William nanti. Masuk dan istrihatlah”, Karenina melambaikan tangannya pada Farel saat Farel mulai melajukan mobilnya.