
Karenina tertidur kelelahan di atas mobil saat William akan mengantarnya pulang. Seharian William mengajaknya berkeliling kebun binatang yang di luar dugaan William membuat Karenina sangat senang.
Mobil sudah terparkir di depan kontrakan Karenina, dengan tidak tega William membangunkan wanita itu.
“Sudah sampai ya?” katanya saat membuka mata. “Maaf ya, aku ketiduran”, lanjutnya lagi. Tatapan William yang sangat lembut dan dalam padanya membuatnya salah tingkah.
“Eh, hemm, aku turun yah”, katanya. William tersenyum sangat manis membuat Karenina semakin salah tingkah.
“Tadinya aku dan Ibu ingin mengajakmu mencoba gaun pengantin di butik milik Tante Miranda, tapi karena kau mengamuk makanya batal”, bibir karena mengerucut membuat William gemas dan menciumnya sekilas.
“Besok siang aku akan menjemputmu di Dimension” katanya melanjutkan.
“Tapi besok aku banyak pekerjaan”, William diam sejenak, dia memandang Karenina dengan intens.
“Nina...”
“Heemm”
“Bagaimana kalau kau cuti dulu dan fokus pada acara pernikahan kita saja, aku bisa mengaturnya dengan atasanmu”
“Will, jangan ganggu pekerjaanku yah. Kau tahu kan kalau aku sangat menyukai pekerjaanku. Aku bisa mengatur waktuku, aku bisa fokus pada pekerjaan dan pada acara pernikahan kita juga, yah”.
William menghela nafas, “Jadi setelah kita menikah kau akan tetap bekerja?” Karenina mengangguk pelan.
“Baiklah, terserah kau saja”. Karenina bisa melihat ada raut kecewa yang terlukis jelas di wajah William, tapi dia juga sangat mencintai pekerjaannya.
“Mandi dan istirhatlah, ingat aku akan menjemputmu besok. Ibu sudah membuat janji ulang dengan Tante Miranda jadi aku harap kau bisa menyempatkan waktumu”. Karenina mengangguk, dia mencium pipi William lalu keluar dari mobil.
Karenina melangkah pelan memasuki rumah setelah lama berdiri di depan pintu, di ruang tamu ada Merry dan Rara yang sedang sibuk dengan ponsel mereka. Kedua wanita itu meletakkan ponselnya ketika melihat Karenia melangkah menghampiri.
“Kenapa muka di tekuk begitu”, Karenina menoleh melihat wajah penasaran kedua temannya.
“Kamu habis bertengkar dengan William gara-gara tadi pagi?” Karenina menggeleng pelan. “Lalu kenapa?”
__ADS_1
“Kalian tahu kan kalau aku dengan susah payah menemukan pekerjaan yang aku sukai?”, Merry dan Rara saling pandang.
“Aku belajar sangat keras hanya untuk melakukan pekerjaanku sekarang dan aku sangat menyukainya. Bertemu banyak orang, teman-teman kantorku dan juga menggambar. Aku suka semuanya”.
Sepertinya Rara dan Merry sudah mulai mengerti maksud Karenina, Rara mendekat dan duduk di samping Karenina.
“William mau kamu berhenti kerja?” tanya Rara di ikuti anggukan lemah Karenina sebagai jawaban.
“Secara tidak langsung William mau aku berhenti bekerja”, katanya lebih jelas.
“Lalu apa masalahnya, dia bahkan bisa membeli Dimension untukmu kalau kamu mau. Aku rasa itu bukan masalah yang besar” ucapan Rara itu membuat Karenina terkejut setengah mati. Karenina fikir, Rara dan Merry akan berpihak padanya.
“Aku juga setelah menikah nanti akan berhenti kerja, untuk apa capek-capek cari uang kalau ada yang ngasih uang”, lanjut Rara dengan santainya.
“Bukannya dulu kamu yang bilang kalau mau menyerahkan seluruh hidupmu pada William, kenapa sekarang kau malah ragu hanya karena dia memintamu berhenti bekerja?” lanjut Rara menceramahi Karenina sementara Merry hanya diam saja.
“Aku hanya asal bicara waktu itu karena terlalu senang”, Merry terkekeh, waktu itu Karenina memang seperti bukan Karenina.
“Sudahlah, nikmati saja menjadi seorang Nyonya muda Anggoro. Kalau kau tidak mau, aku mau menggantikanmu menjadi pengantin William”, Merry baru ikut bicara, sekalinya bicara malah membuat Karenina cemberut.
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, ketiga gadis itu sudah kembali ke kamarnya masing-masing.
Pagi ini bukan William yang menjemput Karenina, dia ada rapat penting pagi-pagi sekali. Karena takut terlambat, William meminta tolong pada Farel untuk menjemput calon istrinya itu.
“Farel...William mana?” tanya Karenina saat melihat yang menjemputnya bukan William tetapi Farel.
“Ada meeting pagi-pagi”, jawab Farel. Entah kenapa Karenina merasakan kecewa di hatinya.
‘Apa mungkin karena semalam’, batinnya.
Karenina hanya diam termenung sepanjang perjalanan, pikirannya terusik oleh permintaan William perihal pekerjaannya. Di satu sisi di sangat menyukai pekerjaannya sedangkan di sisi yang lain dia tidak ingin membuat William kecewa. Dia pasti harus memilih antara William atau pekerjaannya.
“Lagi pikirin apa sih, serius banget” tidak biasanya Karenina hanya diam saja seperti sekarang.
__ADS_1
“Aku dengar dari Tante Mutiara kalau kalian akan menikah yah, selamat yah. William pasti sanagt mencintai kamu sampai mau menikahi kamu. Dia pasti tidak mau kehilangan kamu”.
Karenina terpaku, dia tersentuh mendengar apa yang Farel ucapkan. William sangat mencintainya, William tidak mau kehilangan dirinya.
“Ada yang lagi mengganggu pikiran kamu?” Farel kembali bertanya.
‘Ihh, Farel mengganggu aja. Aku kan lagi mau berfikir’.
“Nggak ada”, katanya dengan ketus. Farel terkekeh, seperti itu Karenina yang dia tahu.
“Mmm...” Farel melirik Karenina dari kaca spion.
“Aku dengar dari William kalau istri kamu juga direktur di anak peruhasaan S&M, apa benar?” tanya Karenina, Farel mengangguk, Karenina bisa melihatnya dari kaca spion.
“Kamu tidak keberatan?”
“Karena?”
“Karena istri kamu bekerja dan tidak tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga seperti Tante Mutiara”.
Farel tertawa, tawanya membuat Karenina merasa kesal sehingga dia memuku-mukul pundak Farel.
“Dia itu tulang punggung keluarga, kalau dia tidak bekerja siapa yang mencari makan untuk kami. Kau tahu sendirikan kalau aku tidak punya pekerjaan”, jelas Farel.
Karenina yang kesal dengan ucapan Farel kembali memukul laki-laki itu, dia tahu siapa Farel jadi walaupun tidak kerja sekalipun dia tidak akan kelaparan.
“Kenapa kau tanya itu, Apakah William mau kau berhenti bekerja?” tanya Farel yang tepat sasaran. Melihat reaksi Karenina yang diam saja membuat Farel yakin dengan dugaannya.
“Ya sudah, berhenti saja. Lagi pula kau akan jadi Nyonya, untuk apa juga masih bekerja”. Karenina tidak mau mengubris Farel, dia malahkembali sibuk dengan pikirannya sendiri hingga merek sampai di Dimension.
Karenina benar-benar bimbang dengan pilihannya. Tapi mengetahui cinta William yang begitu besar padanya membuatnya harus mengambil keputusan untuk masa depan mereka. Dia yakin jika tidka menyelesaikannya sekarang, ini akan selalu menjadi masalah jika kelak mereka sudah menikah.
“William saja mau berkorban untukku, kenapa aku tidak berkorban juga untuknya. Lagi pula kalau aku resign aku kan tidak akan jadi pengangguran, aku harus mengurus suamin, masak, mencuci, membersihkan. Mungkin menyenangkan juga”, katanya bicara pada dirinya sendirii.
__ADS_1
“Eh tapi... aku kan malas masak apalagi memebrsihkan rumah, huaaaa, aku tidak mau tinggal di rumah saja aku mau bekerja di luar rumah saja...”.
Karenina terus berbicara dengan dirinya, hingga dia tidak sadar dia sudah melewati ruangannya kalau saja Pak Rendra tidak menegurnya.