Takut Menikah

Takut Menikah
Karenina di temukan


__ADS_3

Boss mafia yang sangar itu tidak berkutik ketika di apit dua orang bodyguard William. Sementara William yang duduk di samping Ryan yang mengendarai mobil tidak bisa diam dan terus bertanya di mana tepatnya dia akan membawa mereka.


“Kalau kau berani menipuku, aku pastikan kau akan kehilangan kepalamu” ancam William tidak main-main.


“Ini sudah benar jalannya, Tuan” jawabnya. Dia juga sudah babak belur di hantam William tadi.


“Kau berani membawa calon istriku sejauh ini, hahh” William masih terus berteriak di dalam mobil membuat Ryan kesal. Tapi tentu saja dia tidak berani bicara apapun.


‘Kalau kau bukan Tuan William Anggoro, aku pasti sudah dari tadi melemparmu keluar dari mobil ini’ bisik Ryan dengan kesal. Dia sudah lelah menyetir, ada lagi William di samping nya yang duduk tidak tenang membuatnya ingin membuang mobil itu ke jurang.


Tapi bagaimana William tidak kesal, sudah hampir tiga jam perjalanan dan mereka belum sampai juga. Dia sudah tidak bisa lagi membayangkan bagaimana kondisi Karenina di sana.


Mobil-mobil itu memasuki hutan yang sangat jauh dari keramaian. Jauh di dalam hutan itu ada sebuah rumah tua yang tidak terurus. Mobil berhenti di depan rumah itu, William turun dan menarik bos mafia itu.


“Kau menyembunyikan calon istriku di sini, di tempat ini. Bugh” satu hantaman kembali mendarat di wajah laki-laki itu. william membuang saja tubuh laki-laki itu yang di tangkap bodyguardnya. Dia berlari masuk ke dalam rumah itu bersama para polisi dan bodyagurdnya.


Ada satu ruangan yang terkunci yang mereka yakini tempat di mana Karenina di sembunyikan.


“Nina.... Nina, kau ada di dalam?” teriak William. Tapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. William meminta agar jangan mendobrak pintu karena mungkin saja Karenina ada di balik pintu ini. Lalu polisi merusak kunci dan berhasil membuka pintu.


Betepa terkejutnya William mendapatai Karenina, terbujur kaku di belakang pintu.


“Nina, Nina sayang” kata William. Dia mengangkat tubuh kaku Karenina dan membawanya ke mobil.


“Ayo Ryan” Ryan bernafas lega karena mereka sudah berhasil menemukan Karenina, tapi bagaimana kondisi wanita itu tidak ada yang tahu. 

__ADS_1


Ryan bisa melihat bagaimana raut wajah William saat ini, dari kaca spion Ryan melihat bagaimana wajah arrogan itu terlihat ketakutan. Dia memeluk Karenina yang tidak sadarkan diri sambil meneteskan air mata. Terlihat jelas bagaimana William sangat menyayangi Karenina.


Ryan sudah menghhubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang vvip dan menunggu kedatangan mereka di loby rumah sakit.


Para penculik itu sengaja meninggalkan Karenina sendirian di rumah itu untuk menghilangkan jejak dan membiarkar Karenina mati karena lemas dan kedinginan. Tujuan penculikan itu memang untuk melenyapkannya secara perlahan.


Saat sampai di rumah sakit, dokter dan perawat langsung membawa Karenina ke ruang icu untuk mendapatkan pertolongan. Sudah ada orang tua William dan Juga Merry dan Rara yang menuggu. Mereka meninggalkan pekerjaannya begitu mendengar Karenina sudah di temukan.


“Sabar ya sayang, Nina sudah di tangani ahlinya. Nina wanita yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja” Mutiara tidak henti-hentinya memberi dorongan pada William agar dia tidak terlalu cemas.


“Untung dia cepat di bawa, terlambat sedikit saja mungkin sudah tidak bisa tertolong” kata dokter yang menangani Karenina.


Di biarkan di lantai yang dingin tanpa beralas apapun, tidak di beri makan dan minum selama berhari-hari tentu saja membuat kondisi Karenina memburuk. Dia sudah pingsan sejak sehari sebelum di temukan.


Sudah tengah malam dan Karenina belum juga sadarkan diri, William masih setia di sampingnya menggenggam tangannya. Merry dan Rara pun ikut terharu melihat bagaimana William dengan tulus menyanyangi Karenina.


William mengusap pergelangan Karenina yang luka, dia menciumnya berkali kali sambil berjanji akan mmebuat orang yang menyakiti Karenina membayarnya dengan harga yang sangat mahal.


William mengirimkan pesan pada Ryan agar segera memproses secara hukum semua orang yang terlibat dalam kasus penculikan Karenina, tidak perduli siapapun dia.


William terbangun saat merasakan tangan Karenina bergerak dalam genggamannya.


“Nina, sayang” kata William dengan lembut sambil mengusap pipi wanita itu. Karenina terlihat gelisah sambil sesekali mengigau.


“Lepaskan aku, William tolong aku” hati William begitu perih mendengarnya. Dia tidka bisa membayangkan bagaimana takutnya Karenina sendirian di tengah hutan yang sepi.

__ADS_1


“Aku ada di sini, sayang. Buka matamu” bisik William dengan lembut. Karenina sepertinya masih berada dalam pengaruh obat sehingga dia belum bisa membuka matanya. William di samping Karenina terus menggenggam tangannya dan mengusap lembut pipinya.


Pagi sudah menjelang, Mutiara dan Sebastian sudah ada di rumah sakit. Mereka membawakan baju ganti dan makanan untuk William.


“Mandi dulu, biar mama yang menemani Nina” kata Mutaiara “Kau tidak mau kan saat Nina bangun melihatmu seperti itu” sambung Mutiara. William melihat dirinya yang berantaka di cermin, sejak kemarin dia memang belum mandi sama sekali.


Mutiara mengelus lembut pipi Karenina, dia mengutuki siapapun yang sudah tega melakukan hal sekeji ini pada menantunya harus membayarnya setimpal.


“Lihat, tangan dan kakinya sampai memar begini” kata Mutiara memerlihatkan pergelangan tangan dan kaki Karenina yang luka akibat ikatan pada suaminya.


“Aku tidak akan membiarkan orang tuanya memberi jaminan apapun, dia harus membayarnya dengan berada di penjara selama mungkin” Sebastian juga tidak akan tinggal diam, walaupun orang tua Ririn adalah teman sekaligus rekan bisnisnya, itu tidak akan mempengaruhi proses hukum yang berjalan. Tidak akan ada kata maaf walaupun mereka bersujud sekalipun. Mutiara mengangguk setuju.


Melihat bagaimana hancurnya William beberapa hari ini, apa lagi melihat kondisi Karenina sekarang membuat Mutiara dan Sebastian semakin murka. Mereka tentu tidak akan tinggal diam jika ada yang berani menghalangi proses hukun terhadap Ririn.


“Maaf, Yah. Ayah harus kembali mengurus perusahaan” kata William. Ryan mengatakan kalau beberapa hari ini semenjak Karenina di culik, Tuan Sebastian yang turun langsung menangani perusahaan.


“Urus Nina saja, perusahaan biar Ayah yang tangani. Begini-begini juga Ayah masih ahli mengurus perusahaan” William memeluk Ayahnya terharu. Dia sangat terharu Ayahnya begitu memahaminya padahal dulu dia sering sekali mebantah apa yang dikatakan Ayahnya.


Terdengar suara Karenina mengigau, semua orang kembali fokus pada wanita yang sedang terbaring di tempat tidur itu.


“Nina sayang”


“Tolong aku” William mencium keningnya dan mengusap keningnya. Perlahan Karenna membuka matanya, dia melihat William di berdiri di sampingnya. Karenina merasa tidak percaya dengan penglihatannya sehingga dia kembali menutup matanya lalu menangis.


“Will, tolong aku” rintihnya dalam tangisnya.

__ADS_1


“Aku ada di sini sayang, kau sudah aman” mendengar suara William membuat Karenina kembali membuka matanya, perlahan dia membuka mata hingga matanya bisa terbuka sepenuhnya. Karenina melihat juga ada Mutiara dan sebabtian. Karenina lalu bangun dan memeluk William sambil menangis histeris.


__ADS_2