
Karenina keluar dari gedung S&M, di depan pintu utama seorang laki-laki tampan sudah menyambutnya. Laki-laki itu membukakan pintu mobil untuknya ,dan tanpa banyak protes seperti biasanya dia dengan manis duduk di kursi penumpang.
‘Aku kira jantungku sudah berhenti berdetak tadi, kenapa dia tambah hari tambah baik. Dia tidak mungkin benar-benar menyukaiku kan. William Anggoro, dia William Anggoro CEO S&M Company, semua orang juga tahu bagaimana keluarga Anggoro memimpin bisnis di negara ini. Dimension saja hanya seujung kukunya, apalagi aku yang hanya remahan kerupuk. Dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia mau, yang sederajat dengannya pasti. Huh, aku benar-benar harus menjaga jarak dengannya sebekum aku mati muda’.
“Anda baik-baik saja, Nona?” Karenina melihat dari kaca spion laki-laki yang sedang mengemudi itu, dia ingat laki-laki itu pernah membuat heboh di depan rumahnya beberapa minggu yang lalu.
“Aku mau singgah beli minum dulu ya” dia butuh minum untuk menormalkan detak jantungnuya. Mobil itu menepi, ada minimarket di dekatnya. Karenina sudah mau turun untuk keluar tapi supir yang bernama Farel itu menahannya.
“Biar saya saja, Nona. Anda mau minum apa?” tanyanya dengan sopan.
“Air mineral aja” , jawab Karenina. Dia menurut lagi dan tidak menolak.
“Yang dingin atau yang biasa?” tanya Farel lagi, “yang dingin”. Seperti itu saja, menjadi wanita manis yang penurut.
Farel meninggalkannya sendiri di mobil dan berjalan masuk ke dalam mini market.
“Ini, Nona”, Farel yang sudah kembali duduk di belakang kemudi memberikannya botol air mineral dingin yang sudah dia buka tutupnya terlebih dahulu. Karenina meneguk air itu hampir setengah botol. Melihat Karenina sudah menutup botol air mineralnya, Farelpun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
‘Aku sudah menurunkan Karenina tepat di depan pintu utama Dimension’ Farel mengirimkan hasil laporan pekerjaannya pada William.
‘Dia tidak berontak saat kau mau mengantarnya’ tidak seperti biasanya, kali ini William membalas pesannya walaupun hanya sebuah pertanyaan.
‘Tidak, dia terlihat sangat manis’.
Di sebrang sana William menggebrak meja saat membaca pesan balasan dari Farel sampai membuat beberapa orang yang sedang membawa laporan ke ruannganya terlonjak.
‘Kurang ajar, bisa-bisanya dia memuji wanitaku. Dasar Farel brengsek’
“Tu-tuaan, apa ada yang salah dengan laopran kami?” kata salah satu staf keuangan yang sedang berdiri di hadapannya dengan gemetar. Tadinya mereka sudah senang melihat William puas dengan laporan mereka yang terlihat dari kepala yang mengangguk.
“Tidak ada masalah, kalian keluarlah. Terima kasih sudah bekerja keras”, William menyerahkan kembali map yang tadi dia baca pada stafnya. Mereka menunduk sopan dan meninggalkan William.
“Apa maksudmu bilang Karenina manis, kau suka padanya?” William langsung memberondong Farel dengan pertanyaan begitu panggilannya terhubung. Dia sangat marah saat Farel bilang Karenina manis.
“Maksudku, Karenina jadi penurut dan tidak banyak memberontak. Aku juga sudah punya istri dan anak, aku laki-laki setia Will”. William langsung mematikan sambugan teleponnya setelah mendengar penjelasan Farel.
__ADS_1
‘Hanya aku yang boleh memujinya. Tapi Farel bilang dia tidak berontak, apa dia sudah mau menerimaku’ William tersenyum membayangkan Karenina benar-benar menjadi kekasihnya.
“Sepertinya aku memang suka padanya, bahkan aku sudah tergila-gila padanya”.
“Done”, kata Karenina meletakkan map berisi surat-surat yang sudah di tanda tangani William di atas meja Rendra.
“Thankyou”, balasnya. Karenina kembali duduk di kursinya, dia memegangi dadanya memeriksa bagaimana keadaan di dalamnya.
“Sepertinya sudah normal lagi”, Karenina menghela nafasnya, diam sejenak lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Nin, nggak mau beli motor baru dari pada naik ojek terus”, Juwita datang membawakan secangkir mocacino favoritenya.
‘Sayang uang, palingan ntar di buang juga sama William. William…’
“Di tanya kok malah melamun”
“Ngga dulu deh, Juwi”, katanya menyesap mocacinonya. “Aku nggak punya uang” lanjutnya. Memang dia tidak punya uangkan, yang ada di rekeningnya sekarang hanya uang seratus juta yang di berikan William dan sedikit untuk kebutuhan sehari-harinya sampai akhir bulan.
“Pakai uang aku aja dulu”, Karenina mengeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
“Nggak usah, aku naik ojek saja dulu sambil nabung lagi”
“Memangnya motor kamu kemana?” Yoga yang tidak sengaja mendengar percakapan Karenina dan Juwita ikut nimbrung, tidak seperti biasanya dia yang malah suka marah melihat dua wanita itu bergosip. Dia ternyata baru tahu kalau motor Karenina hilang. Karenina hanya bilang hilang, tidak mungkin kan dia bilang motornya di buang William.
“Hilang”, Juwita yang menjawab.
“Kenapa bisa, sudah lapor polisi?” Karenina dan Juwita saling pandang terkejut karena reaksi tidak terduga Yoga.
“Sudah aku ikhlasin” kata Karenina. Walaupun Yoga tidak terlalu banyak bicara dan kadang cuek tapi dia memiliki hati yang hangat. Tapi tentu saja sangat jarang dia menunjukkannya.
“Terus kamu ke kantor naik apa?” tanyanya lagi.
“Naik ojek”
“Kalau pulang?”
__ADS_1
“Naik ojek juga atau nggak nebeng sama Juwi. Eh, kenapa kamu jadi banyak tanya?”. Yoga diam sebentar seperti sedang berfikir, dia melihat Karenina seperti memperhatikan entah apa.
“Aku yang akan jemput kamu setiap hari, biar Juwita yang mengantar kamu pulang. Atau sebaliknya bisa juga”
“Haa”, Karenia dan Juwita teriak bersama, mereka lagi-lagi terkejut melihat perhatian Yoga pada Karenina.
“Kamu nggak lagi pdkt sama aku kan?” Karenina bertanya dengan hati-hati sambil menatap lekat ekpresi Yoga.
“Aku nggak mungkin suka sebagai lawan jenis sama salah satu dari kalian, aku cuma perhatian sebagai partner kerja aja. Jadi jangan berfikir terlalu jauh. Dan aku nggak mau kamu tolak tawaran aku, Nin”. Yoga melanjutkan pekerjaannya setalah dengan tegas mengatakan tidak mau tawarannya di tolak.
‘Tsssh, ternyata bukan cuma William saja yang baik padaku, hehehee. Yoga yang pelit bicara ini juga baik padaku. Aku kok senang ya banyak yang perhatian padaku, padahal aku bukan anak manis’
“Nina”, karenina berbalik melihat siapa yang memanggilnya.
‘Tadi William juga panggil aku seperti itu, apa ada yang salah dengan telingaku. Kenapa waktu William menyebut namaku seperti itu jantungku seperti mau berhenti berdetak’
“Nina, selesaikan ini dan berikan pada Yoga kalau sudah selesai”, kata Rendra memberika flasdisk kepada Karenina.
“siap”, jawabnya.
Karyawan Dimension sudah merapikan mejanya, tidak ada lembur di malam minggu. Semua karyawan akan pulang tepat waktu.
“Nin, kamu ikut aku kan”, entah sudah berapa kali sehari ini Juwita mengatakannya sampai Karenina bosan mendengarnya dan tidak mau lagi menjawabnya.
“Ayok” ajak Karenina setelah dia sudah merapikan mejanya.
“Nin, ingat hari senin aku jemput. Jangan naik ojek”. Yoga mengingatkan sekali lagi sebelum masuk ke mobilnya.
“Aneh banget nggak sih Yoga, dia mau jemput kamu padahal kan lebih dekat dia langsung ke kantor. Kalau dia jemput kamu dia harus putar dulu”, tidak ada yang akan melarang mereka bergosip ketika itu hanya ada mereka berdua di dalam mobil.
“Iya juga sih”, Karenina sok berfikir apa motif Yoga mau memberikannya tumpangan gratis setiap hari.
“Mungkin dia suka sama aku tapi malu untuk mengakui”, Juwita tertawa, dia ingat perkataan Yoga tadi kalau dia tidak mungkin tertarik pada mereka berdua.
“Yoga itu sukanya sama cewek yang manis, pendiam nggak pecicilan kayak kamu”. Karenina berdecak, tidak terima.
__ADS_1
“Apa lagi sama kamu, ganti pasangan sudah kayak ganti baju aja”, balasnya.
“Biarin, dari pada kamu jomblo”. Mereka terus saling meledek dan hingga tidak terasa mobil Juwita sudah sampai di depan rumah Karenina.