Takut Menikah

Takut Menikah
Ririn kabur...?


__ADS_3

William membawa Karenina tinggal di apartemen yang sama dengannya tapi di unit yang berbeda, William juga menginjinkan Karenina membawa Merry dan Rara tinggal bersamanya. Toh tidak sampai dua minggu lagi mereka akan menikah. Merry dan Rara juga dengan senang hati menemani Karenina tinggal di apartemen.


Karenina sudah pulih walaupun kadang dia masih sering mengigau tengah malam. William juga sudah mengijinkannya kembali bekerja karena tahu Karenina sangat merindukan Dimension, perusahaan tempat Karenina bekerja.


Kedatangan Karenina di sambut haru teman-temannya, mereka tahu kalau Karenina baru saja mengalami kejadian yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Tapi kedatangan Karenina di Dimension bukan lagi untuk bekerja, tapi untuk memberikan surat pengunduran dirinya.


Karenina sadar betul bahwa hanya ini yang bisa dia lakukan untuk William sebagai bukti kalau dia benar-benar mencintai laki-laki itu. Toh, William sudah memberinya banyak bukti kalau dia tulus mencintai Karenina. Berhenti bekerja dan mengurus suami, apa susahnya. Toh dia tidak akan mati bosan karena masih bisa bermain bersama Merry atau Rara atau bahkan Juwita saat mereka punya waktu luang.


“Kamu serius, Karenina?” tanya Luis saat Karenina memberikan surat pengunduran dirinya.


“Iya, Pak. Aku sudah nggak bisa kerja lagi. Sebentar lagi aku kan mau nikah” katanya seraya bercanda.


“Apa Tuan William melarangmu bekerja?” tanya Luis lagi.


“Tidak juga, Pak. Dia kan sudah banyak uang, aku kerja untuk apa lagi. Lebih baik kan aku bantu dia habiskan uangnya” jawab Karenina yang masih bercanda.


“Jangan bilang William yah, Pak. Aku belum bilang kalau aku mau resign dari Dimension, aku mau kasih kejutan soalnya” Karenina memang belum mengatakan keputusannya ini pada William. Dia ingin memberi William kejutan nanti.


“Baiklah...” kata Luis menerima surat pengunduran diri Karenina. Dia juga sama sekali tidak bisa menahan Karenina karena sebentar lagi wanita itu akan menjadi Nyonya muda keluarga Anggoro.


Setelah keluar dari ruangan Luis, Karenina mengunjungi timnya. Dai mengatakan kalau mulai hari ini dia tidak lagi menjadi bagian dari Dimension.


“Calon suamiku kan orang kaya, buat apa kau susah-susah cari uang” kata Karenina dengan sombongnya yang mendapat cibiran dari teman-temannya.


“Kalau kamu kewalahan ngabisin uang Tuan William, panggil aku aja. Biar nanti aku bantu” celoteh Juwita. Dia dan Karenina juga sudah seperti saudara di kantor itu.


“Apa ada acara perpisahan” goda Rendra yang membuat kantor itu menjadi gaduh.


“Traktir dong, makan-makan” teriak Juwi yang di ikuti teriakan dari yang lain.


“Iya, iya. Mau makan di mana memangnya” semua orang bersorak.


“Makan.... makannn” kata mereka.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari Luis, seisi Dimension lalu pergi untuk makan siang di restoran yang cukup mewah.


Mereka memesan banyak makanan yang mahal dan enak, Karenina tidak perduli dengan harganya, toh dia akan membayarnya dengan kartu yang William berikan padanya.


‘Eh tunggu, aku bawa kartunya tidak yah’ Karenina buru-buru memeriksa dompetnya. ‘Astaga...’


Kareinina menggigit bibirnya, wajahnya tiba-tiba terlihat pucat. Dia lupa di mana menyimpan kartu yang William berikan.


‘Aduh, bagaimana ini. Aku sudah pamer lagi sama mereka’ katanya panik.


“Aku ke toilet yah” Karenina lalu buru-buru ke toilet, bukan ingin buang air atau mencuci tangan, tapi dia ingin meminta bantuan William.


“Will, tolong aku” katanya dengan suara memelas membuat William panik setengah mati di sebarang sana. William sudah menatap tajam Ryan seolah mengatakan apa yang orang-orang itu lakukan, kenapa mereka tidak bisa menjaga Karenina.


“Ada apa, sayang. Kau di mana. Kau kenapa?” kata William dengan panik.


“Aku ada di restoran, mmm... aku...”


“Ada apa Nina, kau kenapa?” William sudah tidak sabar mendengar Karenina mengatakan ada apa dengan dirinya.


“Di restoran mana, aku akan meminta sekertaris ku ke sana” Karenina lalu menyebut nama restorannya. Dia bernafas lega setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan William.


Dia kembali ke meja di mana teman-temannya sedang makan dengan nikmat.


“Ayo makan, kalau mau tambah, tambah aja” katanya lagi dengan sombong.


‘Untung aku ada dewa penyelamat’ katanya tersenyum.


Saat pulang, Karenina mencari di mana kartu itu. Dia lalu menemukannya di dalam tas yang terakhir kali dia pakai sebelum di culik.


“Aku akan menyimpannya di balik casing ponselku saja” katanya. Dia takut kejadian yang sama terulang lagi.


“Eh, aku kan belum traktri Rara sama Merry. Setelah menikah kita nggak akan tinggal sama-sama lagi” Karenina lalu mengirim pesan pada Merry dan Rara dan mengajak mereka makan malam yang mewah di restoran.

__ADS_1


Sebelum pergi, Karenina lebih dulu meminta izin pada William. Wanita itu bersorak ketika William mengijinkannya.


“Diakan sebentar lagi jadi suamiku, jadi uangnya uangku juga. Hihihii”


“Kita masih bisa kumpul kayak gini kan, Nin” kata Rara. Mereka sudah berada di restoran mewah untuk makan malam.


“Iya, dong. Aku kan masih ada di kota ini” jawab Karenina. Mereka menikmati makam malam yang lezat dengan di iringi gelak tawa.


“Eh, kalian perhatikan dua orang itu. perasaan dari tadi mereka mengikuti kita” Rara menyadari kalau sejak tadi ada dua orang laki-laki yang mengikuti mereka, Karenina berbalik dan melihat mereka tapi orang itu sudah tidak ada di tempatnya.


“Yang mana?” tanya Karenina dan Merry sambil melihat kebelakang, Rara berbalik ingin menunjukkan dua orang itu pada Karenina dan Merry tapi mereka sudah tidak kelihatan lagi.


“Tadi ada kok” kata Rara


“Perasaan kamu aja” kata Merry. Mereka lalu kembali ke apartemen dengan hati senang dan perut yang kenyang.


Sebelum tidur, Karenina menyempatkan diri untuk menemui William di apartemennya, laki-laki itu ternyata memang sedang menunggunya.


“Apa kau bersenang-senang dengan teman-temanmu?” tanya William begitu melihat Karenina duduk di sampingnya.


“Aku habisin uang kamu yah” Karenina sempat berfikir kalau William akan marah dia menghabiskan banyak uang hanya untuk mentraktir makan teman-temannya.


William meletakkan ponselnya, dia merangkul Karenina dan mencium lembut pucuk kepalanya.


“Lakukan apapun yang kau mau, sayang” Karenina tertawa mendengar William terus-terusan memnaggilnya sayang, mungkin panggilan sayang itu adalah panggilang yang paling tulus untuknya. Kata sayang yang memang dari hati William, bukan hanya sekedar ucapan di bibir semata.


Karenina lalu balas memeluk Wimemangyi. Dia juga memberi ciuman lembut di pipi William sebagai ucapan terima kasih untuk semua yang sudah William lakukan untuknya.


“Eh, apa yang menculikku sudah di tangkap” tanya Karenina tiba-tiba.


“Tidak usah kau perdulikan, kejadian itu tidak akan pernah terjadi lagi” Karenina hanya mengendikkan bahunya dan percaya sepenuhnya pada William.


Sementara itu Ririn berhasil mengelabui polisi, di bantu pembantunya, dia berhasil kabur meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


“Aku tidak akan mau di penjara sia-sia. Tunggu aku, Will. Ini belum selesai” kata Ririn sambil berjalan melewati malam yang gelap.


__ADS_2